“Lin... Lin... Lina! Bangun, sudah siang! Jadi perempuan kok malas sekali, itu Iqbal sudah nunggu di depan!”
Suara Mbak Har dibarengi goyangan maut di bahuku sukses membuat nyawaku terkumpul paksa. Aku mengerjap, melihat jam, lalu buru-buru keluar kamar. Benar saja, di teras sudah ada Iqbal yang duduk anteng. Pagi itu Semarang sedang syahdu, gerimis tipis membasahi kampung kami.
“Tumben pagi bener, Gel!” Seruku, sukses membuat Iqbal jengkel sekaligus kaget.
Seperti biasa, dia cuma cengengesan. “Gimana semalam kencanmu sama Rizki? Sukses?” Tanyanya penuh selidik.
“Hah... kencan?” Aku mengernyit bingung.
“Iya, Tom. Sebenarnya kemarin sehabis dari pasar, aku mau langsung balik jemput kamu. Tapi Rizki SMS aku, katanya dia mau ajak kamu jalan dan dia sendiri yang bakal antar kamu pulang. Ya sudah, aku kan setia kawan, jadi aku kasih jalan,” jelas Iqbal panjang lebar.
Aku terdiam sejenak, mencerna informasi itu. “Oh, pantas saja semalam dia santai banget dan Iqbal nggak muncul-muncul. Ternyata Rizki sudah 'booking' aku duluan,” batinku. Ada rasa hangat yang menjalar, ternyata Rizki punya niat sedalam itu buat berduaan denganku.
“Betul kan? Aku curiga dia punya perasaan lebih ke kamu, Tom!” Seru Iqbal lagi.
“Ah, nggak mungkinlah. Kita kan sahabatan dari kelas satu, mana mungkin dia baper,” sanggahku, meski dalam hati aku mulai ragu. “Ya sudah, tunggu bentar, aku mandi dulu!”
Sebelum masuk kamar mandi, aku menyempatkan diri memberi "sarapan mata" buat Iqbal. Kuangkat handuk yang melilit tubuhku sekejap, sebuah tradisi nakal yang sudah biasa antara aku dan dia. Iqbal cuma nyengir melihat "pemandangan pagi" itu, lalu aku melesat mandi dan cuci baju.
Sepanjang perjalanan ke sekolah, obrolan kami nggak jauh-jauh dari Rizki dan hape baru. Bayu memang "bandar" gadget kami. Iqbal pamer N-Gage QD barunya yang sudah full game hasil tukar tambah, sementara aku sudah nggak sabar menagih E63-ku. Urusan lagu, film bokep, sampai aksesori hape, Bayu adalah menteri komunikasinya Geng Koplak.
Sesampainya di sekolah, kami melewati lorong kelas 2 IPS 3 yang gaduh bukan main. Dari jendela, terlihat pemandangan yang bikin geleng-geleng kepala. Ismi, cewek yang dijuluki 'toilet umum' sekolah, sedang dikerubungi dua cowok di pojokan kelas sambil disoraki teman-temannya.
Kenakalanku rasanya masih level anak TK kalau dibanding Ismi. Dia punya geng hits bernama 'Lopika' yang kemana-mana pakai jaket varsity. Mereka penguasa circle kekinian di sekolah kami.
Begitu sampai di kelas, aku langsung cipika-cipiki dengan Fitriani, sahabat sebangkuku yang sudah siap dengan gosip-gosip terbaru. Bayu dan Rizki belum kelihatan, sepertinya aku berangkat terlalu rajin hari ini.
Bel istirahat berbunyi. Tiga serangkai (Bayu, Rizki, dan Iqbal) langsung merapat ke mejaku. Bayu menyodorkan kardus kecil dengan bangga. “Nih, Lin, pesananmu. Nokia E63.”
Aku menerimanya dengan mata berbinar, lalu menyerahkan hape lamaku padanya. Qwerty, man! Rasanya level gaulku langsung naik drastis.
“Eh, dengerin dulu,” Bayu membuka obrolan serius. “Malam Tahun Baru besok aku rencana mau bakar-bakaran. Pada mau ikut nggak?”
“Ikut dong!” Sahutku dan Iqbal kompak.
“Tapi kali ini agak beda. Januar sama pacarnya mau gabung. Dia yang mau modalin minuman sama rokok. Kita tinggal pikirin tempat sama apa yang mau dibakar,” lanjut Bayu.
Suasana yang tadinya ceria mendadak agak tegang. Rizki, yang sedari tadi diam, langsung memotong dengan nada tidak suka. “Jangan ajak Januar, Bay. Aku tahu betul kelakuannya kayak apa. Dia itu suka mainin cewek, apalagi di sini ada Lina. Mending ajak Bagas saja yang sudah jelas akrab sama kita.”
Aku agak terkejut mendengar proteksi Rizki yang begitu frontal. Januar memang teman basket Bayu dan dulu sempat sekelas sama kami di kelas satu, tapi aku nggak begitu tahu sifat aslinya.
“Tenang, Riz. Nanti aku yang jagain, aku bilangin dia supaya nggak macam-macam,” bujuk Bayu.
Setelah debat panjang, akhirnya diputuskan, acara diadakan di rumah Rizki. Halamannya luas, pagarnya setinggi tiga meter, dan yang paling penting: privat. Tetangga nggak akan terganggu kalau kami sedikit "ribut".
Meski Rizki masih terlihat masam dengan kehadiran Januar, dia tetap menjalankan tugas sebagai donatur utama. Aku dan Iqbal kebagian jatah beli ikan di pasar, Bayu beli arang, dan Bagas diperbantukan buat urusan alat-alat.
Malam Tahun Baru jatuh di hari Kamis. Sekarang masih hari Senin, tapi atmosfer di geng kami sudah seperti mau bikin konser. Bayu sudah siap mengirim arang ke rumah Rizki sepulang sekolah nanti, tapi kalau anaknya nggak lupa.
Aku melihat ke arah Rizki yang masih tampak sedikit gelisah. Ada sesuatu tentang Januar yang sepertinya benar-benar membuat Rizki khawatir. Tapi di sisi lain, aku justru penasaran... akan jadi seperti apa malam Tahun Baru kami nanti? Apakah akan ada "jatah" yang akhirnya tuntas, atau justru konflik baru yang muncul?
ns216.73.217.15da2


