Sore itu, Semarang terasa gerah, seolah ikut memanaskan suhu di dalam dadaku. Sepulang sekolah, aku dan Iqbal langsung memacu FizR menuju Pasar Bangetayu. Beruntung ada Bapaknya Iqbal, jadi kami dapat stok ikan segar dengan harga miring. Dengan dua kantong plastik besar berisi ikan yang masih bau amis, kami meluncur ke rumah Rizki.
Suasana di sana sudah mulai sibuk. Bagas dan Jaroni, yang baru kukenal namanya hari itu, sedang sibuk menata tungku pembakaran di halaman.
“Eh, Mbak Lina, Mas Iqbal! Jam segini sudah sampai? Kan acaranya nanti malam?” Sapa Bagas sambil menyeka keringat di dahinya.
“Iya, Gas. Biar santai, nggak grusa-grusu,” Sahut Iqbal sambil meletakkan ikan.
Aku yang merasa belum sah kalau belum kenalan, langsung menjulurkan tangan ke arah teman Bagas yang sedari tadi cuma senyum-senyum malu. “Kenalan dulu dong! Kita sudah ketemu dua kali loh tapi belum tahu nama masing-masing, nih!”
“Hehe, maaf Mbak. Nama saya Jaroni, temannya Bagas. Saya juga sering bantu-bantu di sini di rumah Mas Rizki,” jawabnya sopan.
Ternyata, Bagas dan Jaroni ini sudah seperti asisten pribadi keluarga Rizki. Karena Nenek Rizki sudah sepuh dan badannya gemuk sekali (maaf ya Riz, ini kenyataan), mereka bertigalah yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Rizki benar-benar mandiri; menyapu, mengepel, sampai mencuci piring sudah jadi santapan sehari-harinya sejak SMP.
Tak lama kemudian, sang tuan rumah keluar. Rizki muncul membawa nampan berisi camilan dan minuman. Begitu matanya menangkap sosokku, senyumnya langsung mengembang.
“Eh... Ibu Karlina sudah datang ternyata,” candanya sambil tertawa renyah.
Aku refleks memukul bahunya manja. “Enak saja panggil ibu-ibu! Memangnya aku setua itu?” Sahutku pura-pura ngambek, padahal dalam hati aku sudah punya rencana nakal.
Kami pun mulai sibuk. Aku kebagian tugas menyiapkan bumbu. Di tengah riuhnya suara piring dan obrolan cowok-cowok, otak mesumku mulai bekerja. Aku melirik ke arah sweater yang kukenakan. Hari ini aku sengaja tidak memakai BH, dan ritsleting sweater-ku sengaja kupasang tinggi di awal.
“Kasih surprise kecil ah, biar semangat kerjanya,” gumamku sedikit nakal.
Sambil pura-pura sibuk mengiris bawang merah, perlahan tanganku menurunkan ritsleting sweater itu. Terus ke bawah, sampai melewati batas dada. Alhasil, belahan payudaraku terpampang nyata, bergoyang sedikit setiap kali tanganku bergerak memotong bawang.
Efeknya instan.
Jaroni dan Bagas yang tadinya semangat menggotong kursi, mendadak berhenti di tengah jalan. Mereka berdiri mematung seperti patung pancoran, mata mereka tidak bisa lepas dari pemandangan di depanku. Iqbal? Dia cuma melirik sekilas lalu lanjut kerja, sudah kebal dia.
Tapi Rizki? Dia yang tadinya sedang membersihkan sisik ikan, langsung menghentikan kegiatannya. Matanya melotot, napasnya mulai terlihat agak pendek. Dia tidak malu-malu lagi menatap asetku yang nyaris tumpah itu.
Rizki sepertinya sudah tidak tahan. Dia meletakkan pisaunya, mencuci tangan secepat kilat, lalu menghampiriku dengan langkah pasti. Wajahnya memerah, suaranya terbata-bata karena menahan gejolak.
“Lin... eh... kamu seksi banget. Boleh nggak aku... aku...?” Bisiknya sambil matanya terus melirik ke arah dadaku.
Aku hanya tersenyum tipis dan mengangguk pelan. Tidak perlu banyak kata. Rizki langsung menyambar tanganku, menarikku masuk ke dalam rumah, menaiki anak tangga menuju lantai dua, dan masuk ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar yang tertutup rapat, suasana menjadi sangat intens. Dengan tangan gemetar, Rizki menarik ritsleting sweaterku hingga lepas sama sekali. Dia menyingkap kain itu, menatap tubuhku dengan pemujaan yang luar biasa. Sore itu kami menghabiskan waktu dengan cara kami sendiri. Permainan panas yang meski tanpa penetrasi, sukses membuat napas kami berdua habis.
Setelah badai itu mereda, Rizki tidak langsung menjauh. Dia bangkit, lalu memelukku dengan sangat erat. Seolah-olah kalau dia melepaskanku, aku akan menghilang.
Dia menciumi kedua pipiku dengan sangat lembut, berkali-kali.
“Terima kasih, Lin. Aku sayang kamu,” bisiknya lirih tepat di telingaku.
Aku terdiam dalam pelukannya. Rasa hangat menjalar ke seluruh tubuhku. Bukan hangat karena nafsu, tapi hangat karena merasa dicintai. Ucapan Iqbal pagi tadi terngiang-ngiang kembali; Rizki benar-benar baper padaku. Dan jujur, melihat sisi lembutnya ini, pertahananku mulai goyah.
Tak terasa hari sudah mulai gelap. Kami berdua turun dengan wajah yang (berusaha) tampak biasa saja. Di ruang tengah lantai bawah, kami berlima berkumpul. Rizki, dengan segala kemandiriannya, membuatkan kami jus buah spesial. Lima macam buah dicampur jadi satu, rasanya luar biasa segar. Seperti permen Nano-Nano, ada manis, asam, dan segarnya.
Tak hanya itu, dia juga menggoreng lumpia isi mie dan telur yang gurih banget. Aku cuma bisa melongo. “Duh, Rizki... sudah ganteng, tajir, protektif, pinter 'main', pinter masak pula. Paket lengkap ini mah!” Batinku sambil mengunyah lumpia buatannya.
Malam semakin larut, dan kami tinggal menunggu kedatangan Bayu, serta si Januar yang menjadi sumber kekhawatiran Rizki.
ns216.73.217.15da2


