Malam itu, gerbang besi rumah Rizki berderit keras. Bayu muncul dengan motornya, disusul Januar yang membonceng seorang cewek yang penampilannya sangat rapi. Aku menyipitkan mata, mencoba mengenali siapa di balik helm itu. Begitu dia turun dan melepas pelindung kepalanya, aku hampir melompat.
“Sofi?!” Teriakku tidak percaya.
Sofi, teman sekelas kami yang kalau di sekolah terlihat sangat kalem dan manis, ternyata adalah "ratu" di hati Januar. Mereka membawa logistik tempur yang tidak main-main: sekarung batok kelapa dan dua kardus besar.
Iqbal, dengan mulut tanpa filternya, langsung menyambar. “Wah, batok sekarung banyak amat? Mau buat bakar kamu, Yuk? Jadi tumbal tahun baru?” Iqbal cengengesan sambil memandangi karung itu.
“Anjrit! Ikanmu mana, Bal? Jangan-jangan cuma teri sekilo!” Balas Bayu sambil turun dari motor, wajahnya sudah penuh keringat meski udara malam itu agak dingin.
Iqbal mengangkat baskom aluminium dengan bangga. “Nih, ikan segar dari Bangetayu. Dijamin kenyang sampai pagi!”
Aku mengabaikan urusan ikan dan langsung menghambur ke Sofi. Kami berpelukan dan melakukan tradisi cipika-cipiki yang heboh. “Sofi, sumpah ya, aku nggak nyangka kamu pacaran sama Januar! Sejak kapan, wey? Kok nggak ada suaranya di kelas?”
Sofi tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan tangan, gaya anggun yang sangat kontras denganku. “Ih, Lina... kita mah sudah lama jalan kali, kamunya saja yang kuper, kebanyakan main di parkiran belakang,” ejeknya manja. “Mainnya sama cowok melulu sih, makanya sesekali main sama kita-kita, nanti aku kenalin sama cowok cakep biar kamu nggak jomblo terus.”
Aku berkacak pinggang, pura-pura tersinggung. “Enak saja jomblo! Nih, kamu hitung,” aku menunjuk Iqbal, Bayu, dan Rizki bergantian. “Selain cowokmu, mereka semua ini 'peliharaanku' tahu! Hahaha!”
Kami semua bergerak ke halaman belakang. Suasana jadi sangat privat karena pagar tinggi Rizki benar-benar menutup akses dari dunia luar. Iqbal mulai beraksi dengan api dan batok kelapa, asap mulai mengepul membawa aroma khas pedesaan di tengah kota. Sementara itu, Januar membuka "harta karun" di kardusnya.
Ternyata isinya full minuman keras; ada Bir, Anggur Merah (Amer), dan beberapa minuman botol kemasan lainnya. Januar mulai beraksi bak barista pro, mencampur semuanya di teko besar, ditambah es batu yang banyak.
“Nih, racikan spesial buat menyambut 2009. Dijamin tidur nyenyak tapi bangunnya bahagia!” Seru Januar sambil membagi gelas.
Sambil menunggu ikan matang, kami menenggak gelas demi gelas. Cairan dingin itu mengalir di tenggorokan, membakar dada, dan perlahan-lahan membuat saraf-sarafku terasa lebih rileks. Pipiku mulai terasa panas, dan aku tahu, kalau sudah begini, mulutku bakal makin nggak terkontrol.
“Jujur deh,” Bayu mulai memancing, matanya sudah agak sayu karena alkohol. “Siapa di sini yang punya guilty pleasure paling aneh soal lawan jenis? Yang bikin kalian mendadak pengen ngokop?”
Sofi memutar bola matanya sambil memegang gelas. “Bay, baru juga duduk, langsung nanya yang 'iya-iya' saja. Sabar napa!”
Januar menyela sambil merangkul Sofi. “Halah, Sof. Padahal dirimu yang paling semangat kalau bahas beginian. Ngaku ayo, masih suka cowok yang tangannya uratan doang kan?”
“Itu mah standar, Jan!” Iqbal menyahut sambil mengipasi ikan. “Kalau aku... entah kenapa, cewek kalau lagi ngomel itu ada vibes seksinya gimana gitu. Marah-marah cantik, pengen aku bungkam pakai mulut.”
Aku tertawa kencang mendengarnya. “Hah? Kamu agak masokis ya, Gel? Kalau aku sih simpel, tapi mungkin agak aneh... aku suka cowok yang pakai kacamata, terus kalau dia lagi mikir atau serius, kacamatanya melorot dikit. Rasanya pengen aku benerin, atau sekalian aku copot biar dia nggak bisa lihat apa-apa kecuali aku.”
Seketika, tawa Bayu meledak. “Wah, Lina kode keras nih buat yang ngerasa pakai kacamata di sini!”
Semua mata langsung tertuju pada Rizki. Seperti dikomando, Rizki refleks membetulkan posisi kacamatanya yang memang sedikit turun karena keringat. Wajahnya yang putih mendadak merah padam sampai ke telinga. Dia hanya diam, pura-pura sibuk membolak-balik ikan, tapi aku tahu jantungnya pasti sedang marathon.
Malam semakin larut. Kembang api mulai menghiasi langit Semarang dari arah Soekarno-Hatta. "Selamat tinggal 2008!" Teriak kami bersamaan.
Di atas karpet tebal yang dibentangkan Rizki, semua orang mulai tumbang. Hanya Iqbal yang masih setia di depan panggangan, volume perutnya memang tidak manusiawi.
Saat itulah, kulihat Bayu memberi kode rahasia pada Januar. Mereka menarik Rizki ke pojok halaman, berbisik-bisik serius. Rizki terlihat menggelengkan kepala berkali-kali, wajahnya menunjukkan ketidaksukaan, tapi Bayu terus mendesaknya sampai akhirnya Rizki mengangguk pasrah.
Bayu menghampiriku dengan langkah pelan. “Lin, sini bentar,” bisiknya.
Aku mengikuti Bayu menjauh dari kerumunan. “Ada apa sih, Yuk? Bisik-bisik kayak mau ngerampok bank saja?”
Bayu terkekeh, matanya melirik ke arah Januar dan Sofi yang sedang berduaan. “Gini Lin, ini rencana kami bertiga. Si Janu pengen 'main' sama Sofi malam ini. Tapi dia takut kalau ngajak langsung, si Sofi bakal marah atau kaget. Dia minta bantuan kamu buat manasin atau ngerayu Sofi biar dia mau.”
Aku melotot. “Duh, dasar mesum! Terus aku harus gimana? Aku kan bukan germo!”
Bayu menaruh jari di bibirnya. “Sst! Pelan-pelan. Terserah kamu bagaimana caranya, yang penting terlihat alami. Jangan sampai dia curiga kalau ini sudah direncanakan.”
Aku memijat pelipis, efek alkohol membuatku agak lambat berpikir. “Ih, brengsek! Kamu tahu aku lemot kalau disuruh mikir strategi begini. Apa aku tanya langsung saja sama Sofi, 'Sof, kamu mau digituin Januar nggak?' gitu?”
Rizki muncul di belakang kami, wajahnya tampak tidak enak hati. “Gimana, Lin? Aku sebenarnya nggak setuju rencana ini, tapi mereka memaksa pakai alasan solidaritas cowok.”
Bayu langsung menyambar, menatapku dengan tatapan negosiasi paling maut. “Lin, kalau misi ini berhasil, utangmu sejuta buat hape E63 kemarin... kuanggap lunas! Sumpah, aku nggak akan tagih lagi!”
Mataku langsung berbinar. Sejuta itu besar banget buat ukuran uang jajanku! Tapi aku menyipitkan mata penuh curiga. “Beneran nih? Aku kok curiga kamu antusias banget, Yuk? Pasti ada udang di balik bakso, kan? Kamu dapat apa?”
Bayu nyengir nakal, memperlihatkan sisi "buayanya". “Aku dibolehin 'berbagi' sama Januar, Lin. Buat nyicipin Sofi juga kalau dia mau nanti. Hihihi.”
“Anjrit! Dasar kalian siluman buaya darat!” Umpatku. “Ya sudah, begini saja. Kalian beli minuman lagi yang banyak. Buat Sofi lebih mabuk dari sekarang. Kalau dia sudah mulai melayang, sisanya biar aku yang atasi!”
Bayu dan Januar langsung tancap gas berangkat beli tambahan minuman. Aku menatap Sofi dari kejauhan. Meskipun dia terlihat sopan dan imut, aku tahu dari Fitria kalau Sofi itu aslinya hyper. Mungkin malam ini, topeng "cewek manis" itu bakal lepas di rumah Rizki.
Dan aku? Aku hanya perlu jadi "sutradara" kecil demi lunasnya utang sejuta. Strategi sudah disusun, kembang api masih menyala, dan malam 2009 ini sepertinya baru saja dimulai.
1645Please respect copyright.PENANAivtCIi2w9a


