Kamis pagi, 1 April 2010, kelas IPS 2 terasa lebih pengap dari biasanya. Pak Harjo, guru Geografi yang suaranya selalu lantang seperti sedang bicara di lapangan upacara, berdiri di depan papan tulis dengan kapur di tangan.
“Anak-anak, saya beri kalian tugas kelompok akhir semester,” katanya tegas. “Masing-masing kelompok terdiri dari 5 anggota. Saya sudah bagi menjadi 8 kelompok sesuai nomor absen ya!”
Dia baca daftar kelompok dari kertas di tangannya. Begitu sampai nomor absenku, aku langsung merasa dunia berhenti sejenak.
“Kelompok 4: Ismi, Lina, Nanang, Nixi, Nita.”
Aku tersentak, cuma bisa geleng-geleng kepala dalam hati. “Kelompokku Ya ampun… ini beneran? Ismi, Nixi, Nita, tiga dari geng yang paling liar. Nanang cowok pendiam tapi suka ikut-ikutan kalau sudah diajak.”
Lia, temen sebangkuku, aman di kelompok lain karena huruf depan namanya "R".
Ismi langsung tepuk meja, nyengir lebar ke arahku. “Wah mantap nih kelompoknya! Kita bakal jadi yang paling heboh!”
Aku cuma senyum kaku, tapi dalam hati sudah ngerasa berat. Ismi berkali-kali dapat nilai nol di tes pelatihan, sampai Bu Cici wali kelas kesel banget. “Ismi, belajar yang sungguh-sungguh dong!! Koleksi telur terus mau di dadar di rumah?” kata Bu Cici waktu itu, dan kelas langsung ketawa ngakak.
Pak Harjo lanjut jelasin tugas. “Pilihlah satu jenis bencana yang paling sering terjadi di lingkungan sekitar kalian. Analisis penyebabnya. Kalian punya waktu satu minggu. Senin depan kita gunakan jam pelajaran untuk sesi konsultasi. Jadi kalau kelompok kalian mentok di bagian ide, kita bisa diskusikan bersama di kelas.”
Bel istirahat berbunyi. Aku langsung lari ke kantin belakang. Rizki dan dua sahabatku sudah ada di meja pojok favorit kami. Meski aku sekarang makin akrab sama geng Ismi, aku tetap paling nyaman di sini, bareng Rizki, Bayu, Iqbal. Mereka seperti rumah buat aku.
Rizki langsung senyum pas liat aku datang, tarik kursi di sebelahnya. Iqbal lagi main HP sambil cerita game, Bayu cuma nyengir sambil corat-coret meja.
Aku duduk, langsung cerita. “Eh kelas kalian dapat tugas kelompok dari Pak Harjo nggak?”
Bayu yang jawab duluan dengan nada nggak semangat. “Sudah kemarin. Aku dapat kelompok yang… ah sudahlah.”
Iqbal nyengir muram. “Mendingan kamu Bay. Masih ada Abbas. Kelompokku? Sepertinya aku paling pintar di antara mereka huh…”
Rizki cuma senyum, matanya nggak lepas dari aku. “Kalau kamu, gimana sayang?”
Aku menghela napas panjang. “Kelompokku… Ismi, Nanang, Nixi, Nita.”
Bayu langsung melotot. “Serius? Wah, itu kelompok neraka Lin.”
Iqbal ikut. “Pasti bakal rame, tapi nilai akhirnya… entah deh.”
Rizki pegang tanganku di bawah meja, jempolnya usap pelan. “Kamu bisa kok Lin. Kalau mentok, bilang aku. Kita cari ide bareng.”
Aku tersenyum kecil. “Makasih Riz.”
“Kalau kamu, Gimana sayang?” Tanya ku pada Rizki.
Dia jawab kalem, tenang seperti biasa. “Tugasku sudah selesai, Lin”
Bayu nimpalin lagi. “Rizki, (Siti) Fitriani, (Salsabila) Aida mereka satu kelompok. Tiga siswa peringkat atas di kelas jadi satu, tugas belum di kasih, mereka sudah selesai duluan lah. Aku nggak habis pikir, gimana caranya si mata empat itu atur kelompok.” Nada Bayu sedikit kecewa, karena pembagian kelompok yang dia anggap nggak adil.
Rizki coba menenangkan Bayu. “Jangan begitu Bay, kamu juga pintar sebenernya . Nggak ada anak bodoh, asalkan punya niat belajar sungguh-sungguh dengan metode belajar yang benar.”
Tapi Iqbal tetap ngeyel. “Nggak Ki. Otakmu itu beda dengan milik kita-kita. Kamu cuma perhatiin sekali sudah paham, sedangkan aku?”
Siang itu di kantin aku cuma senyam-senyum nggak ikut-ikutan debat bareng mereka.
Pulang sekolah, seperti biasa aku mampir ke Nogososro. Kami berdua duduk di sofa ruang keluarga lantai atas, AC nyala pelan, angin dingin bikin badan segar. Rizki bikin es teh manis gulanya sedikit, kebiasaan dia yang nggak pernah lupa aku suka manis tapi nggak kelewatan.
Aku tagih janjinya semalam. “Yang, katanya mau apa?”
Rizki pura-pura lupa. “Emang mau apa, Lin?” Sambil senyum, wajahnya mendekat ke wajahku.
Aku langsung buka kancing kemeja seragam satu per satu, lalu BH. Payudaraku terpampang bebas, putingnya sudah tegang, tegak menantang. Aku naik ke pangkuannya, peluk lehernya.
“Sedot sayang… aku kangen banget sama kamu,” bisikku makin genit.
Rizki tersenyum lembut, tangannya langsung melingkar di pinggangku. Dia tarik aku lebih deket, kepalanya bersandar di dada aku. Bibirnya pelan menyentuh puting kiri, lalu hisap pelan-pelan. Aku mendesah kecil, tangan aku usap rambutnya.
Rizki lepaskan hisapannya dari putingku, dan menyandarkan kepalanya di sofa. “Lin, enak nggak sayang?” Aku angguk-angguk hebat. “Geli tapi enak sayang, lanjutin.” Sambil terus pandang wajahnya.
Kedua tangan Rizki merayap pelan di tubuhku, mulai dari pinggul yang ia genggam erat, naik menyusuri lekuk pinggang, lalu berhenti di sisi luar payudaraku. Telapaknya mengusap lembut, meremas dengan penuh perasaan, sebelum jari-jarinya menari di gumpalan sebelah kiri. Telunjuknya berputar perlahan mengelilingi areola, menggoda tanpa tergesa.
“Riz… hssstt… geli, sayang,” erangku setengah tertawa, setengah menikmati getaran yang menjalar.
Aku menyodorkan puting kananku ke arah mulutnya. Rizki menangkapnya dengan lembut, bibirnya melingkari, lalu mulai menghisap pelan. “Hisap sayang… yang kencang,” pintaku sambil tanganku mengusap rambutnya, sesekali menekan kepalanya lebih dalam ke dadaku.
Kugoyang tubuh sedikit mundur hingga putingku terlepas dari mulutnya dengan bunyi kecil yang menggoda, plooop. Napas Rizki tersengal-sengal, dada naik-turun cepat seperti habis berlari.
“Hah… hah… kamu nakal sekali, sayang,” katanya sambil tersenyum lelah tapi penuh cinta.
“Sayang, lanjutin di kamar yuk,” bisikku lembut.
Dia mengangguk patuh, lalu dengan mudah mengangkat tubuhku dan membopongku masuk ke kamar. Kami duduk di pinggir kasur. Aku bisa merasakan kekerasan penisnya menekan pahaku melalui kain celana.
“Aku sayang kamu, Lin. Banget,” ucapnya tulus.
“Aku juga… lebih sayang sama kamu, Riz.” Dahi kami menempel erat, mata saling bertaut. Kucium bibirnya berkali-kali, lembut dulu, lalu semakin dalam. Lidahnya menjulur, kusambut dengan rakus. Kusodorkan lidahku, menyedotnya pelan. Slurp… slurp… slurp…
“Ehmmm…” Hanya itu suara yang keluar dari mulutnya, penuh kepasrahan.
Kulepaskan ciuman, lalu mendesah pelan di telinganya. “Aku kangen banget sama ‘kesukaanku’, sayang.”
Aku bangkit dari pangkuannya, mulai melepas kancing kemejanya satu per satu, menurunkan celana, hingga celana dalamnya ikut melorot. Rizki kini telanjang bulat di hadapanku, tubuhnya terlihat sempurna di bawah cahaya lampu kamar yang redup.
Tanganku menjelajah dada bidangnya, berhenti di puting kecilnya. Kujilat satu, lalu yang lain. “Geli nggak, sayang?” Tanyaku sambil tersenyum nakal.
Rizki hanya mengangguk, napasnya semakin berat.
Tanganku meluncur ke bawah, mengusap sela-sela selangkangannya, lalu menyentuh lubang anusnya dengan tekanan ringan. Tubuhnya menggeliat hebat. Lidahku turun mengikuti garis perutnya, mencium dan menjilat kulit yang hangat.
“Ehmm… ahh… Lin, kamu bikin aku gila, sayang,” desahnya, suara parau penuh nikmat.
Aku turun dari kasur, berlutut di depannya. Genggaman tanganku melingkari penisnya yang sudah keras sempurna, sementara tangan kiriku membelai testisnya dengan lembut.
“Ini milikku, sayang. Kesukaanku,” bisikku sebelum mencium ujungnya, menjilat pelan, lalu melahapnya hingga pangkal.
Mulutku penuh dengannya. Kusodorkan kuat sambil menarik mundur, lalu mendorong lagi masuk—ritme yang stabil, basah, dan panas. Sluuurp… sluurp… sluurp…
Tubuh Rizki menggeliat tak karuan, tangannya mencengkeram seprai. “Lin… aahh… nikmat banget… aku nggak tahan…”
Kulepaskan mulutku sejenak. “Tahan dulu, sayang. Ayo masukin.”
Aku naik ke atas tubuhnya dalam posisi woman on top. Kugenggam penisnya, membimbingnya masuk ke liang vaginaku yang sudah basah. Penisnya ambles masuk hingga pangkal dalam satu dorongan halus.
Kugoyang pinggulku pelan naik-turun. Kedua tangan Rizki mencengkeram payudaraku, ibu jarinya menggosok puting. “Sambil nyusu, sayang…” Pintaku.
Dia patuh, mulutnya bergantian mengulum kedua putingku, hisapannya semakin kuat seiring goyanganku yang makin cepat.
Saat gelombang orgasme mendekat, gerakanku menjadi liar. Plak… plak… plak… Paha kami beradu keras. Vaginaku berkedut hebat, mencengkeram penisnya erat saat aku mencapai puncak. “Riz… aku keluar…!”
Kami diam sejenak, hanya napas tersengal yang saling bercampur. Rizki menunggu dengan sabar sampai getaranku reda.
Setelah itu, ia menarik penisnya perlahan. “Gimana, Lin? Masih mau lanjut?”
Aku mengangguk, tersenyum lelah tapi bahagia. Kami berganti posisi, kini Rizki di atas, aku di bawah. Ia masuk kembali dengan pelan, hati-hati, lalu mulai menggerakkan pinggulnya maju-mundur.
“Aahh… Riz, goyang terus… aku cinta kamu, sayang,” erangku tak terkendali.
Ia mempercepat irama, semakin dalam, semakin kuat.
“Aahh… aahh… Riz… ought…”
Setiap hujaman membuatku mendesah lebih keras. Tubuh kami berpadu sempurna. Dan setelah beberapa menit penuh gairah, kami mencapai klimaks bersamaan.
“Lin… oh… aku keluar!!”
“Keluarin di dalam, sayang… aku aman… aku juga keluar lagi…”
Napas kami sama-sama tersengal. Rizki ambruk lembut di atasku, penisnya masih di dalam vaginaku. Kugenggam punggungnya erat.
“Aku sayang kamu, Riz. Selamanya. Terima kasih, sayang.”
Dia mengangkat wajah, tersenyum lelah tapi penuh kebanggaan. “Lin… makasih udah kasih aku segalanya. Aku sayang kamu… lebih dari apapun di dunia ini.”
Siang itu, di atas ranjang kamar Rizki, kami berpelukan erat. Keringat bercampur, napas perlahan tenang, dan hasrat yang baru saja kami lepaskan justru semakin mengikat cinta kami, lebih dalam, lebih nyata, lebih abadi.
ns216.73.216.250da2


