Malam Kamis, langit Semarang sudah gelap sejak jam 6 sore. Aku lagi duduk di kamar sambil mainin HP, nunggu Rizki yang tadi bilang mau telpon malam ini setelah aku pulang dari rumahnya. Tiba-tiba Mbak Har keluar dari dapur, celemek masih nempel di pinggang, tangan basah karena cuci piring.
“Lin, kamu lagi apa?” Tanyanya sambil berdiri di ambang pintu kamarku.
“Nggak ngapa-ngapain Mbak, ada apa ya?” Jawabku sambil tanya balik.
Mbak Har senyum kecil. “Mas Suryanto habis gajian, kali ini mau belikan anak-anak baju baru di pasar malam. Kamu mau ikut?”
Aku langsung semangat. “Boleh! Kebetulan aku juga mau beli daleman Mbak. Beliin juga ya.”
Mbak Har mengangguk. “Ya sudah, ganti baju dulu. Pakai yang santai saja.”
Aku buru-buru buka lemari, ganti kaos polos warna abu-abu yang agak ketat di dada (sudah kekecilan sejak tahun lalu), rok pendek santai sampai paha atas, dan sandal jepit. Keluar kamar, Mbak Har sudah siap sama Raka dan Riki yang digandeng tangan kanan-kiri.
Kami berempat jalan kaki ke pasar malam, nggak jauh, cuma nyebrang gang ke sebelah. Pasar malam ini muncul setiap Kamis malam, deretan tenda lampu-lampu berkilauan sangat terang, suara pedagang teriak-teriak nawarin dagangan. Ramai sekali, orang berdesak-desakan, anak kecil lari-larian bawa balon dan mainan.
Tubuhku sekarang semok berisi depan belakang, tinggi 176 cm, kulit putih bersih setelah treatment kemarin, wajah yang makin terang karena perawatan rutin yang Rizki biayain.
Aku sadar banget, banyak mata melirik. Kaos ketatku membuat gumpalan dada terlihat jelas, celah kancing atas yang sengaja aku lepas satu membuat sedikit kulit terbuka. Rok pendek membuat paha terlihat panjang. Aku biasanya cuek, tapi malam ini rasanya beda.
“Cantik mau kemana nih? Boleh dong abang temenin?” Goda mas-mas penjual kaset DVD bajakan sambil nyengir lebar.
Aku cuma senyum tipis, nggak jawab. Lanjut jalan.
“Wuih cantik amat, siapa tuh aku baru lihat. Mirip model,” kata seorang pengunjung cowok yang lewat, matanya turun ke dada aku tanpa malu.
Aku percepat langkah, tapi dalam hati ada perasaan aneh. Risih, tapi… juga bangga. Jantung deg-degan, campur malu dan seneng.
Sampai di tempat pakaian anak-anak, Mbak Har lagi pilih-pilih baju buat Raka dan Riki. Pedagangnya ikut-ikutan godain aku.
“Mbak boleh kenalan nggak?”
“Ini siapa mbak, kok aku baru lihat?”
Mbak Har langsung jawab santai sambil angkat baju kecil. “Ini adikku, memang baru kali ini ngikut main ke pasar malam.”
“Wah cantik banget kaya model. Sering-sering di ajak dong Mbak.”
“Masa cantik seperti bidadari gini di simpen di rumah, rugi atuh.”
Aku cuma ketawa kecil, pipiku panas. “Ih apaan sih Mas, gombal.”
Risih sih dilirikin banyak orang, tapi ada kebahagiaan tersendiri dari pujian mereka. Entah kenapa rasanya aneh. Aku merasa dilihat, diinginkan, dan itu bikin tubuhku panas pelan-pelan.
Selesai beli baju anak-anak, kami bergeser ke abang jualan daleman. Mbak Har beli beberapa celana dalam dan BH baru, aku ikut pilih-pilih.
“Mas ada yang ukuran 38 cup D?” Tanyaku tanpa ragu-ragu.
“Ada Mbak, sebentar saya ambilkan.” Penjual cari-cari di tumpukan, lalu nyodorin BH ukuran 38D.
Aku coba pas-pasin di dada, tapi rasanya kekecilan. “Kayaknya yang ini kekecilan Mas.”
Mas penjual nyengir. “Iya Mbak, cup D kekecilan. Coba yang ini, 38 cup L.”
Aku ambil, pas-pasin lagi. Pas. “Wah sekarang tetekku makin besar nih,” gumamku dalam hati, agak kaget tapi juga senang.
Aku ambil tiga, Mbak Har juga ambil tiga dengan ukuran lebih besar. Total 200 ribu, tapi Mbak Har nawar. “150 ya semua, diskon dong Mas.”
“Ya udah Abang kasih diskon, karena yang beli cantik. Eh tapi minta foto bareng ya.”
Mas penjual angkat HP-nya, ajak aku selfie berdua. Aku ikut senyum, tapi agak risih. Mbak Har cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil.
Kami pulang jam 9 malam. Pas sampai rumah, motor Rizki sudah parkir di halaman. Ternyata dia main ke rumah, lagi ngobrol sama Mas Suryanto di ruang tamu.
Aku masuk, Rizki langsung berdiri, salaman sama Mbak Har. “Kok nggak ngomong mau main?” celetukku pada Rizki sambil pura-pura cemberut.
Rizki tersenyum, lalu tanya. “Emang dari mana?”
Mbak Har yang jawab. “Dari pasar malam Riz, beliin anak-anak baju baru.”
Aku langsung tarik Rizki ke teras, rangkul dia (kebetulan aku lebih tinggi). “Sayang… Aku pingin,” rengekku penuh hasrat.
Entah kenapa perhatian cowok-cowok di pasar malam tadi bikin vaginaku basah dan sedikit gatal, puting payudaraku mengeras di balik kaos. Birahi naik seketika, mungkin karena pujian mereka, mungkin karena aku merasa “dilihat”.
Rizki cuma tersenyum, tatap wajahku lama. “Besok sepulang sekolah ya, di Nogososro biar aman.”
Aku angguk, peluk dia lebih erat. Rizki selalu cari tempat privat. Rumahnya satu-satunya tempat yang aman buat kami intim. Bahkan saat nginep di penginapan atau hotel, dia nggak pernah ngajak lebih dari peluk dan cium. Baginya, itu hal intim yang harus di ruang pribadi.
Malam itu aku tidur dengan hati berdebar. Perhatian di pasar malam tadi bikin aku sadar, aku mulai menikmati dilihat, tapi aku juga tahu, aku punya Rizki. Pemilik “hak paten” penuh atas tubuhku, mau lihat dimana saja dan kapan saja.
ns216.73.216.250da2


