Beberapa minggu setelah Reno menyatakan perasaannya, dia nggak lagi cuma lirik dari belakang bangku. Dia mulai berani.
Awalnya kecil-kecilan. Pas jam kosong, dia sering tiba-tiba duduk di bangku kosong sebelahku saat Lia lagi ke toilet. Dia nggak langsung bicara soal perasaan, cuma mulai dengan obrolan ringan.
“Lin, catatan kemarin boleh lihat?” Tanyanya suatu hari sambil nyodorin buku catatan dia yang masih kosong.
Aku kasih tanpa banyak pikir. “Ambil aja.”
Dia duduk lebih lama dari yang diperlukan, matanya sesekali naik ke wajahku, ke leher, ke dada. Nggak terang-terangan seperti Finda, tapi cukup buat aku merasa tidak nyaman. Aku geser sedikit ke samping, pura-pura fokus ke buku.
Hari lain, pas aku lagi ngobrol sama Lia di belakang kelas, Reno lewat sambil bawa botol air mineral dingin. Dia berhenti, nyodorin satu botol ke aku.
“Panas ya hari ini. Minum ini, aku beli dari kantin,” katanya sambil senyum tipis.
Aku ambil karena nggak enak nolak. “Makasih ya Reno.”
Dia nggak langsung pergi. “Lin… kamu suka minum apa sebenarnya? Biar besok aku beliin yang kamu suka.”
Aku cuma senyum kaku. “Nggak usah, aku biasa minum air putih aja.”
Dia mengangguk, tapi matanya nggak lepas dari aku. “Oke. Tapi kalau ada apa-apa, bilang aku ya. Aku ada di belakangmu.”
Kata-kata itu terdengar biasa, tapi nada suaranya… ada sesuatu yang terasa lebih dari sekedar teman sekelas.
Tapi Reno nggak berhenti di situ.
Hari Kamis, pas jam kosong panjang, aku lagi duduk sendirian di bangku karena Lia ke UKS. Reno datang, duduk di bangku Lia, badannya agak mendekat ke aku supaya bisa ngobrol pelan.
“Lin… aku serius kemarin. Aku suka sama kamu. Bukan cuma karena fisikmu, tapi karena kamu baik, kamu pintar, kamu… beda dari yang lain di kelas ini.”
Aku diam, tangan pegang pensil erat. “Reno, aku sudah bilang. Aku punya pacar.”
Dia mengangguk pelan, tapi matanya nggak mundur. “Aku tahu. Rizki, kan. Tapi… dia nggak sekelas sama kamu. Dia di IPS 1, kamu di IPS 2. Kalau aku, kita satu kelas, bisa bareng terus. Aku bisa jagain kamu setiap hari.”
Aku angkat muka, tatap dia tajam. “Reno, aku nggak butuh dijagain setiap hari. Aku sudah punya orang yang jagain aku. Dan dia lebih dari cukup.”
Dia diam sebentar, lalu tersenyum kecil. “Oke. Aku nggak maksa. Tapi aku nggak akan berhenti suka sama kamu. Kalau suatu hari kamu bosan sama Rizki… aku ada di sini.”
Dia berdiri, balik ke bangkunya tanpa nunggu jawaban. Aku duduk diam, dada naik-turun cepat. Aku nggak takut, tapi aku kesal. Reno nggak kasar, nggak kasar seperti Finda, tapi kata-katanya terasa seperti racun pelan yang merayap.
Sore itu, pulang sekolah, aku mampir ke Nogososro. Rizki langsung duduk di sofa ruang keluarga lantai bawah, aku langsung duduk di pangkuannya, peluk lehernya erat.
“Riz… aku nggak suka Reno,” kataku pelan.
Rizki peluk pinggang ku erat. “Aku tahu. Aku juga nggak suka dia deket-deket kamu. Tapi selama kamu masih pilih aku, aku nggak takut apa-apa.”
Aku cium bibirnya pelan. “Aku selalu pilih kamu. Selamanya.”
Dia balas cium aku lembut, tangannya usap punggungku. “Aku juga, Lin. Selamanya.”
Malam itu kami habiskan waktu berdua di Nogososro. Aku masak mie rebus kesukaan Rizki, kami makan sambil nonton TV. Setelah itu kami duduk di sofa, saling peluk, saling bisik cerita kecil. Aku bersandar di dadanya, dengar detak jantungnya yang tenang.
Reno mungkin saingan baru. Tapi aku tahu, dia nggak akan pernah menang. Karena Rizki bukan cuma pacar. Dia rumahku, masa depanku, dan segalanya buatku. Aku nggak akan pernah lepas darinya.
***
Keesokan harinya, aku keluar kelas IPS 2 lebih dulu karena Bu Cici membebaskan kami 10 menit sebelum bel pulang. Aku langsung menuju parkiran motor di tempat biasa Rizki menunggu. Udara masih sejuk, tapi matahari sudah sangat terik. Aku berdiri di bawah pohon beringin besar, tas ransel aku letakkan di tanah, tangan aku lipat di dada sambil nunggu.
Aku tahu Rizki pasti keluar sebentar lagi. Dia selalu tepat waktu, selalu muncul dengan senyum kecil yang bikin aku lupa semua kekesalan di kelas. Tapi hari ini, sebelum Rizki datang, Reno muncul duluan.
Dia naik motor Suzuki Satria FU yang kinclong dan penuh dengan modifikasi, berhenti tepat di depanku. Mesin masih menyala, dia nggak turun, cuma mencondongkan badan ke samping, helmnya sudah dilepas dan digantung di stang.
“Lin, ayo aku anterin kamu pulang,” katanya pelan, suaranya datar tapi matanya nggak bisa bohong. Tatapan itu, tatapan yang aku tahu bukan cuma suka, tapi nafsu.
Aku mundur setengah langkah, tangan aku langsung pegang tali tas. “Maaf Ren, aku pulang bareng Rizki. Bentar lagi paling dia keluar kelas.”
Reno nggak pergi. Dia tetap di posisinya, mesin motor masih hidup, matanya turun ke seragamku. Kemeja yang sudah kekecilan dari tahun lalu, kancing atas sengaja aku lepas satu dari tadi, karena panas dan karena aku mulai ikut-ikutan geng Ismi. Celah kecil di antara kancing membuat belahan dada terlihat samar, dan aku tahu itu yang dia lihat.
Dia diam sebentar, lalu bicara lagi, suaranya lebih rendah. “Kamu tahu nggak Lin, semenjak kelas dua, aku selalu perhatikan kamu, karena aku sudah jatuh cinta.”
Aku nggak jawab. Aku cuma tatap ke arah gedung IPS 1, berharap Rizki cepat keluar.
Reno melanjutkan, kini blak-blakan. “Kamu cantik, tinggi dan… payudaramu itu, besar banget.”
Spontan tanganku naik menutup dada dengan tas ransel. Pipiku panas, bukan karena malu, tapi karena kesal. Aku nggak suka kata-kata itu. Nggak suka cara dia bicara seolah aku cuma objek.
“Ren, cukup!” Kataku tegas, suara aku gemetar sedikit.
Dia nggak mundur. Malah tersenyum kecil, seperti orang yang sudah terbiasa ditolak tapi nggak menyerah. “Aku tahu perempuan sepertimu birahinya tinggi. Aku juga nggak maksa kamu harus suka sama aku. Tapi please, tolong terima aku jadi temen deket kamu. TTM kalau boleh.”
Aku bangkit dari tempat duduk batu di bawah pohon, tas aku gendong cepat. “Aku nggak mau.”
Aku berbalik, berjalan cepat menuju depan gedung IPS 1. Langkahku cepat, hampir lari kecil. Kata-kata Reno tadi seperti nyala api kecil yang menyentuh sesuatu di dalam diriku.
Hasrat yang dulu aku pendam dalam-dalam semenjak resmi pacaran sama Rizki. Hasrat yang aku kira sudah terkubur rapi, tapi ternyata masih ada, masih hidup, dan Reno tadi seperti membukanya sedikit.
Aku sampai di depan kelas IPS 1, napas ngos-ngosan. Pintu kelas masih tertutup, tapi aku tahu Rizki pasti sebentar lagi keluar. Aku berdiri di depan kelasnya, tangan pegang dada sendiri, mencoba menenangkan detak jantung yang kencang.
Beberapa menit kemudian, bel pulang berbunyi. Pintu kelas IPS 1 terbuka, siswa-siswa berhamburan keluar. Rizki muncul terakhir, tas di bahu, matanya langsung berbinar setelah lihat aku berdiri di depan kelasnya.
“Lin? Kamu kenapa disini?” Tanyanya langsung, tangannya pegang lengan aku pelan.
Aku tarik napas dalam. “Reno… tadi di parkiran. Dia ngomong lagi. Lebih blak-blakan. Dia bilang… payudaraku besar, bilang aku pasti birahi tinggi, minta jadi temen deket… TTM katanya.”
Rizki diam sejenak. Matanya gelap, rahangnya mengencang. Tapi dia nggak langsung marah. Dia tarik aku ke samping gedung kelas, ke tempat yang lebih sepi, lalu peluk aku pelan.
“Kamu nggak apa-apa kan?” Tanyanya, suaranya lembut tapi tegas.
“Aku nggak apa-apa. Cuma… kesel. Dan… entah kenapa, kata-katanya bikin aku… ingat sesuatu.” Jawabku pelan.
Rizki lepaskan pelukan, tatap mataku. “Ingat apa?”
Aku menunduk, suara kecil. “Hasrat… yang dulu aku pendam. Setelah kita resmi pacaran. Aku takut, Riz. Aku takut kalau aku nggak sama kamu, aku bakal jadi kayak geng Ismi. Liar, nggak bisa kontrol diri.”
Rizki tarik aku kembali ke pelukannya. “Lin… kamu nggak akan jadi kayak mereka. Kamu punya aku. Dan aku nggak akan pernah ninggalin kamu, apapun yang terjadi.”
Dia usap air mataku dengan jempolnya. “Aku juga cuma mau sama kamu. Kalau Reno ganggu lagi, bilang aku. Aku yang akan bicara sama dia.”
Aku geleng kepala. “Nggak usah. Aku bisa atur sendiri. Aku cuma butuh kamu di samping aku.”
Rizki cium keningku lama. “Aku selalu di samping kamu, Lin. Selalu.”
Kami jalan ke parkiran bareng. Bayu dan Iqbal sudah nunggu. Kami jalan bergandengan, tanganku genggam tangannya erat. Aku nggak cerita ke Bayu dan Iqbal soal Reno, aku cuma mau Rizki yang tahu.
Aku tetap lepas kancing atas seragam, tapi setiap kali aku sadar, aku kaitkan lagi. Karena aku tahu, Rizki suka aku apa adanya. Bukan versi “gaul” yang aku coba-coba ikutin dari geng Ismi.
ns216.73.216.250da2


