Setelah Rizki pulang jam 8 malam, aku masih berdiri di depan pagar rumah, ngeliatin motornya sampai hilang di tikungan jalan kampung. Lampu teras yang kuning temaram bikin bayangan panjang di tanah.
Aku baru mau masuk rumah, tiba-tiba suara motor mendekat dari arah gang belakang. Dua cewek boncengan, satu nyetir satu di belakang, langsung berhenti pas lihat aku.
“Woi Lin, ternyata di sini rumah kamu?” suara Ismi menggelegar kaya toa, langsung bikin aku kaget sampai loncat kecil.
Aku mundur selangkah, tangan pegang pagar. “Eh Ismi, Nita. Kalian darimana, kok nyasar sampai sini?”
Nita yang di belakang turun duluan, rambutnya acak-acakan karena angin. “Kita habis pulang dari hunting foto sama temennya Ismi. Karena nggak pakai helm, takut razia, terpaksa lewat jalanan kampung. Eh ternyata nemu rumah kamu.”
Ismi matiin mesin motor, nyengir lebar. “Beneran rumah kamu di sini? Kok sepi banget.”
Aku masih kaget, tapi pura-pura santai. “Iya nih. Eh mampir yuk, betul ini rumah aku.”
Aku cuma basa-basi, nggak nyangka mereka malah beneran mampir dan ikut masuk. Ya sudah, aku ajak mereka ke ruang tamu. Lampu ruangan kuning redup, Mbak Har lagi di dapur nyiapin makan malam.
Aku ambil gelas tinggi dari lemari, bikin es sirup dari sisa sirup melon kemarin, tambah es batu dari freezer kecil. Sisa jajan Rizki tadi sore risol mayo dan pastel aku taruh di piring kecil.
“Silahkan Is, Nit. Jangan malu-malu,” kataku sambil taruh es sirup dan jajan di meja kayu.
Ismi langsung ambil gelas, minum setengah langsung. “Jangan repot-repot Lin, keluarin saja semua.” Dia bercanda sambil cengengesan, tapi matanya keliling ruangan. “Rumah kamu nyaman juga ya, Lin. Sederhana tapi rapi.”
Nita duduk di kursi kayu, ambil risol. “Tumben Lin nggak bareng sama Rizki kamu? Biasanya kan lengket terus.”
“Baru saja pulang,” jawabku sambil duduk di seberang mereka. “Aku lagi ngelihatin di depan rumah pas kalian nongol.”
Ismi ketawa kecil, suaranya masih kenceng. “Ih mesra banget kalian berdua, makin lengket nih ye. Rizki emang sabar banget ya ngadepin kamu yang sekarang mulai genit.”
Aku cuma senyum tipis, nggak mau komentar. Kami ngobrol-ngobrol santai. Mereka cerita soal hunting foto tadi sore. Ismi jadi model, pose di atas motor gede temennya, difoto sama fotografer freelance.
Pose-nya lumayan panas, pakai tangtop, celana pendek, posisi duduk membungkuk di jok motor, tangan angkat rambut. Katanya dapet bayaran 250 ribu sekali jalan.
“Wah gede juga,” gumamku dalam hati. Uang segitu sama besarnya dengan uang jajanku sebulan dari bantuin mbak Har bikin keripik.
Nita nambahin sambil nyengir. “Ismi sudah biasa sih. Uangnya buat tambah-tambah jajan. Kalau aku mah cuma foto biasa, nggak berani pose panas kayak gitu.”
Ismi angkat bahu. “Ya namanya juga cari duit tambahan. Ibu aku di rumah nggak tahu. Mereka pikir aku cuma main foto-foto doang.”
Aku cuma angguk-angguk sambil minum es sirup. Dalam hati aku mikir, mereka emang beda banget sama aku. Aku nggak bisa bayangin kalau aku harus pose panas buat dapat uang. Tapi aku nggak mau judge. Mereka punya jalan hidup masing-masing.
Jam setengah dua belas malam mereka pamit pulang. Ismi peluk aku sebentar. “Makasih ya Lin, rumah kamu nyaman. Besok-besok boleh mampir lagi ya.”
Nita ikut peluk. “Iya Lin, jangan lupa ya. Kita kan temenan sekarang.”
Aku antar mereka sampai pagar. Motor mereka nyala, lampu belakang merah menyala di gang gelap. Aku masuk rumah, langsung ke dapur beresin gelas. Ternyata Mbak Har belum tidur, lagi duduk di kursi dapur sambil pegang gelas teh hangat.
“Tadi siapa Lin, kok pakaiannya seperti anak-anak nakal?” Tanya Mbak Har pelan. Mereka memang tampil vulgar malam itu cuma pakai tangtop tipis yang pendek, bahkan mirip BH dan celana pendek.
Aku taruh gelas di bak cuci. “Mereka temen sekelasku Mbak. Itu loh, yang pernah aku ceritain sama Mbak. Aku pernah berantem sama dia.”
Mbak Har mengangguk pelan. “Jangan deket-deket mereka Lin, sepertinya mereka anak-anak nggak bener.”
“Iya Mbak, aku juga nggak deket-deket amat sama mereka. Cuma sekedar temen sekelas.”
Mbak Har matiin lampu dapur. “Sudah tidur ya. Besok sekolah.”
Aku masuk kamar, ganti baju tidur, lalu tidur dengan pikiran campur aduk.
Esok harinya di kantin sekolah, aku cerita kedatangan Ismi dan Nita ke Rizki. Kami lagi duduk di meja pojok belakang, Bayu dan Iqbal juga ada.
“Semalem mereka mampir ke rumahku,” kataku pelan. “Habis hunting foto, nyasar lewat gang katanya.”
Rizki langsung angkat muka dari gelas es teh. “Mereka mampir ke rumah?”
Aku mengangguk. “Iya, aku ajak mampir. Ngobrol-ngobrol bentar, minum es sirup. Mereka cerita dapet 250 ribu dari foto itu. Ismi pose panas di atas motor.”
Iqbal langsung nyengir. “Wah, berani banget. Kamu nggak ikutan kan Lin?”
Aku geleng kepala. “Nggak. Aku cuma dengerin aja.”
Rizki pegang tanganku di bawah meja, jempolnya usap punggung tanganku pelan. “Hati-hati sama mereka, Lin. Pergaulannya kelewat batas.”
Bayu mengangguk. “Iya Lin. Mereka liar banget. Untung kamu punya Rizki yang bisa nahan kamu.”
Aku tersenyum kecil. “Iya… untung ada Rizki.”
Sepulang sekolah, Rizki bungkus nasi pecel dari warung langganan deket sekolah. Kangkung, kacang panjang, kol, tauge, irisan timun, semuanya disiram sambal kacang pedas manis, tambah bakwan goreng renyah.
Kami makan berdua di rumah Nogososro. Sambil lesehan di ruang keluarga lantai bawah, cuma kami berdua. Makanan sederhana, tapi bareng Rizki jadi terasa romantis dan spesial. Kami ketawa kecil pas sambal kacangnya kelewat pedas, minum air putih bareng dari gelas yang sama.
Setelah makan, Rizki ambil laptopnya dari kamar. Dia duduk di sofa, buka layar, lalu tarik aku duduk di sebelahnya.
“Sini sayang, aku ajarin kamu tentang bisnis online dan Internet marketing seperti yang aku jalani,” katanya sambil buka browser.
Dia mulai jelasin pelan. Buka website UserTesting, nunjukin cara review website orang, kasih feedback, dan dapat bayaran Dollar. Lalu buka website pribadinya, nunjukin dashboard Google Adsense, berapa visitor, berapa klik iklan, berapa penghasilan bulan ini.
Aku sebenarnya nggak terlalu fokus ke layar laptop. Mataku malah pandangin wajah Rizki yang lagi serius ngejelasin. Matanya fokus, alisnya sedikit berkerut, bibirnya gerak pelan waktu bicara. Aku senyum sendiri, tangan aku pelan usap pipinya.
“Gimana, sampai sini sudah paham belum, Lin?” Tanyanya sambil menoleh.
Aku nggak jawab, tetap pandang wajahnya. Rizki ketawa kecil, lalu cium pipiku cepat. “Lagi diajarin nggak fokus.”
Dia gelitik pinggangku pelan, aku kegelian langsung meronta kecil. “Riz… hahaha… jangan!”
Aku peluk dia erat, lalu cium bibirnya pelan. “Sayang otak ku nggak nyampe kalau suruh mikir gini.”
Rizki tersenyum lembut. “Ya udah aku nggak maksa, kalau memang gitu.”
Dia memang pengertian sekali. Nggak pernah memaksa aku ngerti hal-hal yang rumit buat aku. Aku tarik dia lebih deket, lepas seragam atas ku sendiri, biarkan dia menikmati “kesukaannya”. Kami duduk begitu sampai sore, aku nemenin dia ngurus website-nya. Aku duduk di pangkuannya, tangan dia di keyboard, aku usap rambutnya pelan, sesekali cium pipinya.
Sore harinya Rizki antar aku pulang ke Pringgondani. Di tengah jalan, ada pedagang Jasuke (jagung susu keju) dorong gerobak. Aku langsung ngerengek.
“Riz… mau Jasuke. Boleh beli?”
Dia ketawa kecil, langsung berhenti. “Boleh dong, mau berapa?”
Akhirnya kami beli empat gelas buat aku, Rizki, Raka, dan Riki. “Ini jajan anak-anak Mbak Har sama Mas Suryanto nggak usah di belikan,” kataku sambil nyengir.
Rizki bayar, lalu kami lanjut jalan. Aku bawa gelas Jasuke yang di bungkus kantong plastik sambil tersenyum lebar.
Sampai rumah, aku kasih dua gelas ke Raka dan Riki yang lagi main di halaman. Mereka langsung seneng, “Makasih Bulek Lina! Makasih om Rizki!”
Rizki cium keningku sebentar sebelum pulang. “Besok ketemu lagi ya, Lin.”
Aku mengangguk. “Iya Riz. Hati-hati pulang. Jangan ngebut.” Aku masuk rumah setelah memastikan motor Rizki hilang dari pandangan.
ns216.73.216.250da2


