Minggu pagi, aku bangun jam setengah tujuh. Sengaja nggak nyalain alarm, biar bisa molor sedikit setelah seminggu sibuk di sekolah. Badan masih pegal, tapi hati ringan. Aku menggeliat di kasur, lalu keluar kamar sambil menguap kecil.
Langkahku langsung berhenti di ruang tamu. Disana, motor Vixion Rizki sudah terparkir rapi di samping sepeda Mbak Har. Aku melongo. Loh kok motor Rizki di sini? Sejak kapan? Kok nggak bilang-bilang sama aku?
Aku langsung cari-cari ke seluruh sudut rumah. Ruang tengah, dapur, teras belakang, bahkan ke kamar mandi, nggak ada. Rumah sepi, hanya suara ayam yang berkokok dari kejauhan.
Aku keluar rumah, langsung nemu Mbak Har dan duo bocil Raka-Riki lagi nunggu tukang sayur lewat di depan rumah. Raka lagi main bola kecil, Riki ikut lari-larian sambil ketawa di halaman.
“Mbak, motor Rizki di sini. Tapi di mana orangnya?” Tanyaku penasaran.
Mbak Har noleh, tatap aku sambil senyum kecil. “Rizki lagi pergi sama Mas Suryanto ke pasar hewan. Berangkat habis subuh naik motor Mas Suryanto. Katanya mau lihat-lihat sapi buat investasi. Kamu masih tidur pulas tadi, makanya dia nggak bangunin.”
Aku mengangguk pelan, tapi dalam hati senyum sendiri. Ternyata lagi ada rencana diam-diam.
Sambil nunggu Rizki pulang, aku langsung sibuk. Nyuci baju seragam sekolah yang numpuk, beberes rumah, nyapu teras, dan ngepel lantai ruang tamu. Setelah selesai, aku mandi, keramas pakai shampoo wangi yang Rizki beliin kemarin, lalu dandan cantik-cantik.
Kaos lengan pendek warna krem yang agak pas di badan, rok pendek rumah yang nyaman, rambut aku sisir rapi dan semprot parfum tipis. Aku mau nyambut “Arjunaku” dengan tampilan terbaik.
Jam 10 pagi, suara motor Mas Suryanto terdengar dari jauh. Aku langsung lari ke depan rumah. Mas Suryanto masuk duluan naik motornya sendirian, tapi di belakangnya ada mobil pick-up L300 warna hitam yang pelan-pelan masuk ke halaman. Rizki duduk di kursi penumpang, tangannya melambai ke aku.
Mobil berhenti. Pintu belakang dibuka. Dari dalam turun seekor sapi betina besar, warna cokelat kehitaman, badannya gagah. Rizki langsung turun, bantu Mas Suryanto dan sopir nurunin sapi itu dengan tali.
Aku langsung nyamperin Rizki yang lagi pegang tali sapi. “Kok nggak bilang aku sih, Sayaang? Aku kan mau ikut!”
Rizki nyengir lebar, tangan kanannya langsung cubit hidungku genit. “Tadi kamu masih tidur pules banget. Mukanya damai gitu, makanya aku nggak tega bangunin. Lagian ini urusan cowok-cowok, nanti kamu capek.”
Aku manyun pura-pura, tapi dalam hati meleleh. Rizki selalu seperti ini, mikirin aku dulu sebelum mikirin dirinya sendiri.
Setelah sapi berhasil diturunkan dan diikat di halaman belakang, kami semua ngumpul di ruang tamu. Mbak Har siapin makan siang spesial: sate kambing dan tongseng yang dibeli dari pasar hewan tadi, plus sambal kecap yang menggoda. Aku bantu Mbak Har bikin es teh manis karena cuaca panas sekali.
Saat kami lagi makan bersama, Mas Suryanto tiba-tiba buka pembicaraan. “Emang caranya gimana sih Riz dapet duit dari internet itu? Dari tadi di pasar hewan mas masih nggak mudeng, Riz.”
Rizki tersenyum, meletakkan sendoknya pelan. Dia coba jelaskan dengan sabar. “Awalnya aku diajarin sama Mas Sumbodo Malik, Mas. Jadi reviewer blog di website UserTesting. Kita kasih nilai, kritik, saran ke website orang, terus dibayar. Bayarannya dollar, Mas.”
Mas Suryanto mengangguk pelan, tapi mukanya masih bingung. Rizki lanjut, “Terus aku bikin website sendiri. Daftar ke Google Adsense. Kita dibayar saat ada orang yang kunjungi website kita dan klik iklan yang ada di situ.”
Mas Suryanto bengong sebentar, lalu tertawa ngakak. “Aduh aku sama sekali nggak mudeng Riz. Yang aku tahu cuma HP buat nelpon sama SMS doang.”
Mbak Har ikut nimbrung sambil bawa sambal kecap. “Mas Suryanto main HP aja kalau penting. Kaya begituan mah nggak nyambung sama sekali Riz, hehehe.”
Kami semua tertawa bareng. Bahkan Raka dan Riki yang nggak ngerti apa-apa ikutan nyengir lebar.
Mbak Haryanah nambahin sambil nyendok tongseng ke piring Rizki. “Kamu hebat Riz. Masih sekolah, masih muda, tapi sudah punya penghasilan ribuan dollar. Berkali-kali lipat dari gaji Mas Suryanto di toko kaca.”
Rizki cuma tersenyum malu-malu, kepalanya menggeleng pelan. “Biasa aja Mbak… yang penting bisa bantu keluarga dan… bantu Lina juga.”
Aku cuma bisa mengagumi dia dari seberang meja. Rizki memang luar biasa. Masih 19 tahun, tapi pikirannya sudah sangat dewasa. Dia nggak cuma pintar cari uang, tapi juga selalu mikirin masa depan kami berdua.
Mas Suryanto nyeletuk sambil nyengir ke aku. “Kamu belajar Lin, sama Rizki.”
Aku cengengesan sambil garuk kepala. “Wah aku nggak bisa Mas. Sama sekali nggak mudeng. Apalagi pakai bahasa Inggris, aku cuma bisa Yes sama No doang.”
Semua tertawa lagi. Suasana ruang tamu penuh kehangatan.
Hari itu Rizki melakukan sesuatu yang bikin aku semakin yakin. Dia belikan Mas Suryanto seekor sapi betina seharga 15 juta sebagai investasi. Mas Suryanto yang ngerawat, nanti anaknya dibagi dua. Mereka memang sudah ngobrolin ini semenjak seminggu lalu.
Rizki bilang pelan ke aku, “Biarkan Mas Suryanto punya penghasilan tambahan, Lin. Aku mau bantu keluarga kamu juga.”
Aku nggak bisa berkata-kata. Rizki memang selalu seperti itu. Bukan cuma memikirkan aku, tapi juga orang-orang di sekitarku. Meskipun dia lebih muda dariku, pikirannya jauh lebih dewasa. Aku tambah yakin, dia sangat cocok jadi suamiku kelak.
Sore harinya, setelah sapi sudah tenang di halaman belakang, Rizki peluk aku pelan di teras. “Seneng nggak hari ini?”
Aku mengangguk, tatap wajahnya penuh cinta. “Seneng banget. Kamu selalu bikin aku kagum, Riz.”
Dia cium keningku lama. “Aku cuma mau kamu bahagia, Lin. Selamanya.”
Malam itu kami duduk di teras bareng Mbak Har dan Mas Suryanto, ngobrol santai sambil minum teh hangat. Aku bersandar di bahu Rizki, tangan kami saling genggam di bawah meja.
Aku tahu, dengan Rizki seperti ini, masa depan kami akan indah. Bukan karena uang atau harta, tapi karena kebaikan hatinya yang tak pernah habis.
319Please respect copyright.PENANAvMUE99Y2uZ


