Masa depan itu sering kali terasa seperti kabut di atas perbukitan Semarang; samar, dingin, dan sedikit menakutkan sebelum kita benar-benar melangkah ke dalamnya. Hari itu, di bawah terik matahari yang menyengat, siswa-siswi saling semprot dengan cat pilox, dan riuh suara tangis haru di lapangan sekolah, kami resmi dinyatakan lulus.
Kami berhasil melewati kelas 3. Aku berhasil melewati setahun penuh di IPS 2 sendirian, meski sebenarnya aku tidak pernah benar-benar sendiri karena Rizki selalu ada di depan pintu setiap bel istirahat berbunyi.
Namun, setelah pesta kelulusan usai. Realita dunia nyata memukul kami dengan keras. Kami bukan lagi remaja yang pusing memikirkan rumus, kami adalah manusia dewasa yang harus memilih jalan hidup masing-masing.270Please respect copyright.PENANAKTz62Dx2PD
Realita mulai memisahkan kami secara fisik.
Rizki, dengan otak cemerlangnya, berhasil menembus salah satu universitas paling bergengsi di negeri ini. Dia diterima di UGM, Yogyakarta. Saat dia menunjukkan bukti penerimaannya, aku senang setengah mati, tapi di sudut hati yang lain, ada rasa sakit yang menyelinap. Jogja memang tidak jauh dari Semarang, tapi bagi dua orang yang biasanya menempel setiap hari, jarak dua atau tiga jam perjalanan terasa seperti ribuan mil.
Bayu, si juragan konter HP, memilih jalan yang lebih pragmatis. Dia tidak mau melangkah keluar dari Semarang. Baginya, bisnis konter orang tuanya adalah masa depan yang nyata. Dia mendaftar dan diterima di Universitas Negeri Semarang (UNNES). "Biar gampang kalau mau ngecek stok casing baru," katanya santai, meski aku tahu dia hanya tidak ingin kehilangan zona nyamannya.
Iqbal, sahabat masa kecilku yang paling konyol, mengambil keputusan yang paling berani di mataku. Dia memutuskan untuk tidak kuliah. Dia memilih untuk segera terjun ke lapangan, membantu bapaknya berjualan di pasar. "Dunia nggak cuma butuh sarjana, Lin. Dunia juga butuh martabak dan pedagang jujur," kelakarnya suatu pagi saat kami tidak sengaja bertemu di persimpangan jalan.
Dan aku? Aku berada di posisi yang paling sulit. Aku tidak punya kemewahan untuk langsung kuliah. Aku mulai mencetak tumpukan surat lamaran kerja, memasukkannya ke dalam map cokelat yang rapi, dan menebar jaring ke sana-sini. Dari toko baju di mall sampai menjadi administrasi di kantor kecil, aku datangi satu-satu di bawah terik matahari Semarang yang membakar kulit.270Please respect copyright.PENANAmd6t6VeDGI
Satu sore di bulan Juli, sebelum Rizki berangkat menetap di Yogyakarta, kami sepakat untuk berkumpul kembali. Bukan di kantin sekolah, bukan di Simpang Lima, tapi di teras rumahku yang sederhana.
Mbak Haryanah sudah menyiapkan teh hangat (kurang manis, tentu saja, karena Rizki yang memesan) dan beberapa pisang goreng. Raka dan Riki sedang asyik bermain bola plastik di halaman depan, sementara kami berempat duduk melingkar di kursi rotan.
Suasananya berbeda. Tidak ada lagi seragam putih abu-abu. Iqbal datang dengan kaos lusuh sisa kerja di pasar, bau keringat dan aroma rempah masih samar-samar tercium dari tubuhnya. Bayu datang dengan motor barunya dan sibuk memamerkan brosur gadget terbaru. Rizki... dia masih tetap sama. Kalem, bersih, dengan tatapan yang selalu membuatku merasa aman.
"Jadi, besok kamu beneran berangkat ke Jogja, Ki?" Tanya Iqbal sambil mencocol pisang goreng ke selai coklat. Suaranya tidak lagi seberisik dulu, ada nada kedewasaan yang mulai menetap di sana.
Rizki mengangguk. "Iya, Bal. Kost-an sudah siap. Besok pagi aku berangkat naik motor."
"Jangan lupa kalau sudah jadi anak UGM, jangan sombong. Kalau pulang, traktirannya harus level mahasiswa ya, jangan level kantin sekolah lagi," sahut Bayu sambil menyeringai.
Rizki tertawa, lalu melirikku. Genggaman tangannya di bawah meja memberikan kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. "Selama Lina masih di Semarang, aku pasti bakal sering balik. Tenang saja."
Iqbal menghela napas panjang, menatap kami satu per satu. "Gila ya, kerasa banget bedanya. Kemarin kita masih ribut soal siapa yang harus bayar es teh, sekarang kita sudah ngomongin cicilan, kuliah, sama kerjaan. Aku kadang kangen jadi anak SMA yang bodoh."
"Kita tetap bodoh kalau lagi kumpul berempat, Bal," kataku menimpali, membuat mereka semua tertawa.270Please respect copyright.PENANAtagZjFzjuO
Malam makin larut, lampu-lampu di gang rumahku mulai menyala satu per satu. Di teras itu, kami menyadari bahwa dinamika persahabatan kami telah berevolusi.
Awalnya, aku takut hubunganku dengan Rizki akan menciptakan jarak. Aku takut Iqbal dan Bayu akan merasa seperti "orang ketiga" dalam lingkar pertemanan kami. Namun, nyatanya tidak. Mereka justru menjadi saksi yang paling setia. Mereka adalah penjaga rahasia kami.
"Lin," panggil Rizki pelan saat Iqbal dan Bayu asyik berdebat soal harga hape bekas di pojok teras. "Nanti kalau aku di Jogja, dan kamu capek nyari kerja, jangan pernah ngerasa sendiri ya? Kamu punya aku. Dan kamu punya dua curut itu yang siap sedia kalau kamu butuh bantuan."
Aku tersenyum, menyandarkan kepalaku sejenak di bahunya. "Aku tahu, Riz. Aku cuma lagi belajar buat berdiri sendiri dulu. Biar pas kita bareng nanti, aku sudah jadi versi diriku yang lebih kuat."
Bayu tiba-tiba menoleh, memergoki momen manis kami. "Hoi! Ingat, ini area publik! Pajak jadiannya sudah lewat, tapi pajak kemesraan di depan jomblo tetap berlaku ya!"
"Berisik, Yuk!" Teriakku dan Rizki berbarengan, yang disambut tawa terbahak-bahak dari mereka berdua.
Di titik itu, aku tahu. Persahabatan ini tidak akan pernah berakhir. Biarpun Rizki akan bergelut dengan tugas kuliah di Jogja, biarpun Bayu sibuk dengan dunia kampus UNNES dan bisnis konternya, dan biarpun Iqbal harus berkutat dengan hiruk-pikuk pasar setiap subuh, kami akan selalu memiliki titik temu.
Kami adalah empat orang dengan empat jalan berbeda, namun terikat oleh satu benang merah yang sama: masa lalu yang pernah hancur namun berhasil dirajut kembali di malam tahun baru itu.270Please respect copyright.PENANAV0XIxXFmco
Aku menatap langit Semarang yang bertabur bintang malam itu. Hatiku hangat, meski ada sedikit rasa cemas tentang hari esok. Masa sekolah sudah usai, bab tentang remaja yang bimbang telah kututup dengan rapi.
Namun, ini bukanlah akhir. Ini hanyalah jeda sebelum aku menceritakan bagian yang lebih gila lagi. Tentang bagaimana aku berjuang di antara tumpukan lamaran kerja, tentang bagaimana rasanya menjalani hubungan jarak jauh dengan Rizki, dan tentang konflik-konflik dewasa yang mulai mengetuk pintu kehidupan kami.
Persahabatan kami tidak hanya soal tawa lagi. Akan ada air mata yang lebih deras, pengkhianatan yang lebih menyakitkan, dan kemunculan orang-orang baru yang akan menguji kesetiaan kami berempat.
Apakah Rizki tetap menjadi pelindungku saat dia berada di kota lain? Apakah Iqbal dan Bayu akan tetap menjadi sahabat yang bisa kuandalkan saat badai utang dan ancaman Harris mulai menghantuiku?
Semua jawaban itu ada di lembaran berikutnya.
Terima kasih sudah mengikuti perjalananku, Lina, si gadis SMA, bersama tiga lelaki hebat dalam hidupku. Persiapkan hatimu, karena drama yang sebenarnya baru saja akan dimulai.
Bersambung ke Novel Lanjutan:
Series 2: "Me And My Three Boyfriends"
ns216.73.217.128da2


