Malam Minggu itu, Rizki datang ke Pringgondani lebih awal dari biasanya. Jam 6 sore dia sudah parkir motor di depan rumah. Aku lagi bantu Mbak Har nyapu lantai pas dia masuk, langsung salaman ke Mbak Har dan Mas Suryanto yang lagi duduk di ruang tamu sambil ngobrol dan minum kopi.
“Assalamualaikum Mbak Har, Mas Suryanto,” sapa Rizki sambil berdiri di depan kursi kayu sebelah Mas Suryanto.
“Waalaikumsalam Rizki. Duduk dulu, sini ngopi,” jawab Mas Suryanto sambil tawarin Rizki kopi. Mbak Har langsung ambil cangkir baru dari dapur.
Rizki duduk, mulai ngobrol sama Mas Suryanto tentang ternak sapi. Mas Suryanto lagi cerita pengalaman dulu waktu masih punya dua ekor sapi, Rizki dengerin serius sambil sesekali tanya. “Jadi pakan tambahannya apa Mas? Konsentrat atau rumput gajah aja?”
Aku dari dapur denger mereka ngobrol, senyum sendiri. Rizki memang selalu bisa akrab sama siapa aja, termasuk keluargaku. Aku masuk ruang tamu, Rizki lirik aku, lalu bicara pelan ke aku. “Lin… malam ini aku mau ajak kamu nonton bioskop. Filmnya Get Married 2. Mau nggak?”
Aku langsung melongo. Bioskop? Aku belum pernah masuk bioskop seumur hidup. Paling banter dulu kecil nonton layar tancap di lapangan kampung, itupun cuma sekali-dua kali. Tanpa pikir panjang aku langsung angguk-angguk hebat.
“Mau! Mau banget Riz!”
Dia tersenyum lebar. “Sip. Kita nonton di Citra21, Citraland. Kita berangkat jam setengah delapan, ya.”
Aku langsung berdiri, lari ke kamar ganti baju. Aku pakai sweater lengan panjang warna belang cokelat-hitam yang agak longgar, celana jeans ketat. Rambut aku ikat ekor kuda tinggi supaya nggak gerah. Keluar kamar, aku langsung ke dapur cari Mbak Har.
“Mbak… aku mau nonton bioskop sama Rizki. Nanti aku nginep ya di rumah Rizki.”
Mbak Har lagi cuci piring, berhenti sebentar, lalu senyum. “Ya udah, hati-hati ya Lin. Jangan ngerepotin Rizki.”
Aku peluk Mbak Har dari belakang. “Makasih Mbak. Iya aku janji.”
Kami berangkat jam 7.15 WIB. naik motor Rizki. Jalan ke Citraland lumayan macet karena malam minggu, tapi Rizki sabar banget nyetir pelan. Aku peluk pinggangnya erat, kepalaku bersandar di punggungnya, nikmati angin malam Semarang yang mulai dingin.
Sampai Citra21, Citraland jam 7.45. Rizki beli tiket film Get Married 2 jam tayang 8.15. Kami masuk studio, duduk di baris tengah. Lampu studio redup, aku deg-degan banget. Ini pertama kalinya aku masuk bioskop beneran. Layar gede banget, kursi empuk, AC dingin, bau popcorn nyebar di mana-mana.
Film mulai. Aku duduk deket Rizki, tangan kami saling genggam. Sepanjang film aku sesekali lirik dia, dia juga lirik aku. Pas adegan lucu kami ketawa bareng, pas adegan romantis dia peluk bahuku pelan. Aku seneng banget. Nonton film bareng Rizki rasanya beda, kayak lagi jalan-jalan ke dunia lain, tapi tetap aman karena dia ada di sisiku.
Film usai pukul 22.30. Kami keluar bioskop sambil tetap bergandengan. Rizki mengajak mampir ke warung steak kecil dekat Nogososro yang masih buka sampai larut. Kami pesan dua porsi steak medium rare, dan dua gelas jus alpukat spesial. Duduk di meja kayu sederhana, cahaya lampu kuning temaram membuat wajah kami terlihat hangat.
“Seru ya tadi bioskopnya?” Tanya Rizki sambil memotong steak-nya.
Aku mengangguk antusias. “Seru banget, Riz! Layarnya gede, suaranya menggelegar, filmnya bagus. Makasih ya udah ajak aku.”
Dia tersenyum, menyodorkan potongan steak ke mulutku. “Nanti kita nonton lagi ya. Film apa saja, asal bareng kamu.”
Pipiku memanas. Aku hanya bisa tersenyum malu-malu.
Pulang ke Nogososro pukul 23.30. Rumah sepi, hanya lampu ruang keluarga yang masih menyala redup. Kami masuk pelan. Rizki mematikan lampu, lalu aku menarik tangannya naik ke lantai dua, ke kamarnya. Pintu ditutup pelan.
Kami duduk di tepi kasur. Rizki menatapku lama, matanya penuh kasih. Aku memeluknya erat, wajahku bersembunyi di lehernya yang harum aroma khas parfumnya.
“Riz… malam ini aku mau nginep di sini. Sama kamu.”
Dia membalas pelukanku, napasnya hangat di rambutku. “Iya Lin, Malam ini cuma milik kita berdua.”
Kami saling peluk lama, lalu perlahan berbaring. Lampu kamar dimatikan, hanya cahaya bulan samar dari celah jendela. Rizki memelukku dari belakang, tangannya melingkar lembut di perutku, bibirnya mencium tengkukku pelan.
Ciuman pertama kami mulai dari bibir pelan, hangat, penuh rasa cinta. Bibirnya lembut, lidahnya menyapa lidahku dengan penuh kelembutan. Aku membalasnya, tanganku merangkul lehernya. Ciuman semakin dalam, napas kami bercampur.
Rizki bergerak pelan, mencium leherku, lalu turun ke dada. Dia membuka bajuku perlahan, mencium setiap inci kulit yang terbuka. “Nyaman, Lin?” Tanyanya lembut setiap kali aku menghela napas.
Aku mengangguk, birahiku mulai meninggi. “Iya… lanjutkan, Riz.”
Dia turun lebih rendah, mencium perutku, lalu membuka celanaku. Bibirnya menyentuh bagian paling intim dengan penuh perhatian. Lidahnya bergerak lembut, ritmenya sabar, mengeksplorasi hingga aku menggelinjang. Tanganku mencengkeram seprei, napasku tersengal. Rizki tak berhenti, tangannya memegang pinggulku pelan, membantuku merasakan setiap sensasi. Sampai akhirnya gelombang kenikmatan datang. Aku orgasme dengan tubuh bergetar, namanya terucap pelan dari bibirku.
Setelah napasku tenang, aku tersenyum genit. Giliranku.
Aku mendorongnya berbaring, mencium bibirnya lagi, lalu turun ke dadanya, perutnya. Aku membuka celananya perlahan, tanganku bergerilya mengusap lalu menggenggam penisnya yang sudah keras. Aku geser posisi, wajahku tepat di selangkangan Rizki. Aku hirup dalam aroma kejantanan nya yang khas. Mencium ujung penisnya pelan, lalu menjilat sepanjang batangnya. Mulutku menelannya perlahan, gerakanku naik-turun ritmis. Rizki mendesah, tangannya mengusap rambutku lembut.
“Lin… Aahh… Enak banget…” Bisiknya, penuh kenikmatan.
Aku tersenyum, melepaskan sebentar. “Tahan dulu ya, sayang. Belum boleh keluar.”
Dia tertawa pelan, mengangguk patuh.
Aku naik ke atasnya, memposisikan diriku. Perlahan aku menurunkan pinggul, memasukkan penisnya ke dalam vaginaku. Sensasinya penuh, hangat, sempurna. Kami bergerak pelan dulu, aku naik-turun ritmis, tangannya memegang pinggulku membimbing.
Lalu kami ganti posisi, Rizki gantian di atas, gerakannya dalam dan pelan, matanya tak pernah lepas dari mataku. “Aku sayang kamu, Lin,” bisiknya setiap kali mendorong.
Kami mencoba beberapa gaya, dari samping, aku meringkuk di dadanya. Lalu doggy, tangannya memelukku dari belakang. Kembali missionary, kaki-ku melingkar di pinggangnya. Setiap gerakan penuh perasaan, penuh tanya “nyaman?”, “mau lebih cepat?”.
Akhirnya ritme semakin cepat, napas kami sama-sama tersengal. Aku merasakan gelombang kedua datang, bersamaan dengannya. Kami orgasme bareng, tubuh kami saling menegang, namaku dan namanya terucap dalam desahan panjang. Kami bergetar bersama, lalu ambruk saling memeluk erat.
Rizki selalu pelan, selalu tanya aku nyaman atau nggak. Aku merasa dicintai sepenuhnya, bukan cuma badan, tapi jiwa. Kami saling bisik kata-kata manis, saling peluk erat, saling cium lama.
Setelahnya, kami berbaring diam, Rizki menyandarkan kepalanya di dadaku, aku mengusap rambutnya pelan. Napas kami perlahan tenang.
“Lin… aku sayang kamu,” bisik lembut sebelum matanya terpejam.
“Aku lebih sayang kamu, Riz,” jawabku sambil mencium puncak kepalanya.
Malam itu aku tertidur dengan hati penuh. Setelah pengalaman pertamaku nonton bioskop sungguhan, yang begitu indah bersama orang yang kucinta sepenuh jiwa.
ns216.73.216.250da2


