Beberapa hari setelah Reno nembak aku, dan langsung aku tolak, suasana di kelas 3 IPS 2 mulai terasa agak berbeda. Geng Ismi masih rame seperti biasa, tapi mereka nggak lagi terlalu agresif ke aku. Mungkin karena mereka tahu aku tetap deket sama Rizki, atau mungkin karena aku sudah mulai bisa menjaga jarak tanpa terlihat sombong.
Hari Rabu, pas istirahat di kantin belakang, kami lagi duduk berempat: aku, Rizki, Bayu, Iqbal. Bayu lagi cerita soal motornya yang baru dipasang stiker baru lagi, Iqbal godain dia. “Stiker doang mah biasa, motor Rizki tuh lebih keren.” Rizki cuma ketawa kecil sambil suapin aku sebutir bakso dari mangkoknya.
Tiba-tiba Ismi muncul dia nyamperin kami di kantin, diikuti Nita dan Nixi. Mereka langsung mendekat ke meja kami.
“Eh Riz, Lin!” Sapa Ismi sambil nyengir lebar. “Malam Minggu aku ajak Lina karaokean lagi ya? Kali ini rame-rame, pesta-pesta nih. Kalian cowok-cowok boleh ikut juga kok, biar lebih seru.”
Rizki langsung angkat muka, senyumnya sopan tapi tegas. “Aduh maaf Is. Bukannya nolak ya, aku bisa karaokean sendiri di rumah.”
Ismi manyun pura-pura kecewa. “Karaokean di rumah mah nggak seru Riz. Eh tapi aku boleh kan ajak Lina?”
Rizki tatap aku sebentar, lalu balik ke Ismi. “Itu terserah Lina aja. Kalau Lina mau ya silahkan.”
Bayu langsung nyeletuk sambil nyengir lebar. “Aku ikut boleh Mi? Aku suka karaoke, tapi kalau ada cewek-cewek cantik ya makin asyik.”
Ismi ketawa. “Boleh dong Bay! Malam Minggu ya, jangan lupa!”
Istirahat selesai. Kami semua masuk kelas masing-masing. Pas aku mau duduk, Reno dari bangku belakang tiba-tiba nyamperin lagi. Dia berdiri di samping mejaku, suaranya pelan tapi jelas.
“Lin… kamu ikut kan nanti malam Minggu?”
Aku angkat muka, tatap dia sebentar. “Lihat aja nanti,” jawabku singkat, lalu balik fokus ke buku.
Reno nggak bilang apa-apa lagi, cuma balik ke bangkunya dengan muka agak kecewa. Reno, dia siswa yang dari kelas dua selalu memandang aku terus-terusan (Bab2).
Sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Rizki di Nogososro seperti biasa. Kami berdua langsung melepas lelah di ruang keluarga lantai bawah. Aku duduk di sofa panjang, kaki selonjoran, kepala bersandar di sandaran. Rizki ke dapur, bikin es teh manis gulanya sedikit buat aku. Sangat perhatian dia, nggak pernah lupa kesukaanku.
Dia kembali sambil bawa dua gelas tinggi, kasih satu ke aku, lalu duduk di sebelahku. “Minum dulu Lin, panas tadi di sekolah.”
Aku ambil gelas, minum pelan sambil tatap dia. Rizki tatap balik, matanya lembut tapi ada sedikit tanda tanya.
“Eh… kamu ikut Lin nanti malam Minggu?” Tanyanya pelan, suaranya nggak memaksa, tapi aku tahu dia lagi nunggu jawaban.
Aku pandang wajahnya lama. Di mata Rizki terlihat seolah dia nggak mengizinkan, meski dia nggak bilang langsung.
Aku geleng kepala pelan. “Nggak Riz.”
Rizki angkat alis. “Loh kenapa?”
Aku taruh gelas di meja, lalu geser lebih deket ke dia. Aku peluk pinggangnya, wajahku bersembunyi di lehernya. Bau keringat bercampur parfumnya langsung tercium, bikin aku tenang.
“Karena kamu nggak ikut.”
Rizki diam sebentar, lalu peluk aku balik. Aku bisa rasain senyumnya di atas kepalaku.
“Nggak apa-apa kalau kamu mau ikut, aku izinin kok,” katanya pelan.
Aku angkat muka, tatap matanya. “Nggak Riz. Malam Minggu yang akan datang… aku mau berduaan sama kamu aja.”
Dia tersenyum lebar, matanya berbinar. Dia tarik aku lebih erat, cium puncak kepalaku lama sekali.
“Makasih Lin… aku seneng banget denger itu.”
Kami diam lama di sofa itu, saling peluk tanpa banyak bicara. Hanya suara kipas angin dan detak jantung kami yang terdengar. Rizki usap rambutku pelan, aku usap punggungnya pelan. Nggak perlu kata-kata panjang, kami sudah paham satu sama lain.
Sore itu, jam 5, Rizki antar aku pulang ke Pringgondani. Di perjalanan, dia berhenti di warung kecil deket rumahnya, beli kue pukis hangat buat Raka dan Riki. “Mereka pasti seneng,” katanya sambil nyengir.
Sampai rumah, Mbak Har lagi masak kepala ikan kerapuh. Bau kuah kuning dan rempah nyebar ke seluruh rumah. Kami sekeluarga makan bersama di ruang keluarga sambil nonton TV. Raka dan Riki rebutan kue pukis dari Rizki, ketawa-ketawa. Mbak Har sama Mas Suryanto duduk di sebelah kami, ikut ngobrol santai.
Mas Suryanto tiba-tiba bilang, “Rizki ini luar biasa ya. Umur baru 19 tahun sudah mandiri. Urus rumah, sekolah, apa-apa sendiri. Salut deh.”
Rizki cuma senyum malu-malu. “Biasa aja Mas. Yang penting ada Lina.”
Mbak Har mengangguk, matanya penuh sayang. “Itu yang bikin Mbak yakin. Kamu orang baik, Riz. Lina beruntung punya kamu.”
Rizki pulang jam 10 malam. Aku antar dia sampai depan rumah. Dia peluk aku sebentar di bawah lampu jalan, cium keningku pelan.
“Selamat malam, calon istriku. Besok ketemu lagi ya.”
“Selamat malam, calon suamiku. Hati-hati pulang, jangan ngebut.”
Dia naik motor, aku liat sampai lampu motornya hilang di tikungan. Aku masuk rumah dengan hati penuh.
Malam itu aku habiskan di rumah bareng Mbak Har, Mas Suryanto, Raka, dan Riki. Kami nonton TV, makan kue pukis yang Rizki beli, ketawa-ketawa kecil. Aku nggak ngerasa kehilangan apa-apa.
Karena malam Minggu terbaik buat aku bukan karaoke rame-rame atau pesta liar. Malam Minggu terbaik adalah malam di mana aku bisa pulang ke pelukan Rizki, ke rumah yang hangat, ke orang-orang yang sayang aku apa adanya.
Dan aku tahu, selama ada Rizki, setiap malam Minggu akan selalu terasa spesial.
377Please respect copyright.PENANAtheHKulxQt


