Liburan semester berlalu seperti angin. Dua minggu itu penuh momen manis: Liburan di Borobudur, tahun baru sederhana di alun-alun Magelang, pelukan Rizki yang membuat hangat, dan janji-janji yang kami bisikkan di bawah bintang.
Tapi Senin pagi, alarm HP sudah berdering jam 5.30 seperti biasa. Aku bangun dengan perasaan campur aduk. Senang karena akan bertemu Rizki, tapi juga berat karena harus kembali ke kelas 3 IPS 2.
Rizki jemput seperti biasa. Motor Vixion-nya berhenti pelan di depan rumah Pringgondani. Aku keluar sambil bawa tas ransel yang sudah penuh buku-buku. Dia turun, lalu peluk aku sebentar di teras sebelum Mbak Har keluar.
“Pagi, calon Istriku,” bisiknya sambil cium keningku cepat.
“Pagi, calon suamiku,” jawabku sambil tersenyum kecil. Aku naik ke boncengan, peluk pinggangnya erat. Sepanjang jalan ke Kokrosono, angin pagi Semarang Utara bertiup sejuk, tapi dadaku sudah mulai berdegup tidak karuan.
Sampai parkiran sekolah, Rizki matiin mesin. Dia turun, bantu aku turun, lalu pegang tanganku sebentar di balik tas. “Nanti istirahat aku ke kelasmu ya. Kita ke kantin bareng, jangan sendirian terus.”
Aku mengangguk. “Iya Riz… aku tunggu.”
Dia jalan ke gedung IPS 1, aku ke IPS 2 dengan langkah yang lebih berat dari sebelum liburan.
Aku duduk diam, tangan pegang pensil sambil corat-coret buku catatan tanpa tujuan. Lia di sebelahku lagi baca komik kecil yang disembunyiin di bawah meja. Tapi geng Ismi di belakang mulai rame sendiri.
Ismi duduk selonjoran, kakinya naik ke meja depannya. Nita lagi sibuk ngecat kuku jempol pake spidol hitam seperti biasa, sementara Nixi berdiri di belakang sambil nyanyi lagu dangdut pelan. Galuh lagi main HP jadul, Cindi sama Doni duduk deket mereka.
Nixi tiba-tiba ketawa kecil, suaranya cempreng tapi sengaja keras biar kedengeran.
“Kalian gila banget sih Is, Nit. Waktu itu di karaoke kalian langsung buka baju, aku sampe kaget sendiri. Tapi seru juga ya, hahaha.”
Ismi nyengir lebar, bahunya digoyang-goyang genit. “Ya iyalah Nix. Hidup cuma sekali. Kalau nggak sekarang, kapan lagi? Lagian kan cuma kita-kita doang. Nggak ada cowok yang liat… kecuali kalau ada yang ngintip, ya bonus lah.”
Nita ikut ketawa, sambil angkat tangan biar kuku hitamnya kelihatan. “Iya nih. Aku sampe pakai piercing di puting, biar lebih seksi. Kalau nggak, kapan lagi coba-coba? Lina aja ikut-ikutan buka, kan? Lucu banget mukanya pas buka bra, merah banget kayak tomat.”
Semua ketawa kecil. Cindi ikut nimbrung, “Iya Lin, kamu kok bisa tahan nggak sampe klimaks? Aku aja udah dua kali. Gila sih, tapi enak banget.”
Aku cuma senyum tipis, pura-pura sibuk corat-coret. Tapi dalam hati aku deg-degan. Aku tahu mereka lagi ngerumpi soal malam karaoke itu. Aku ikut-ikutan buka baju karena mabok dan suasana panas, tapi aku nggak sampe klimaks seperti mereka. Aku cuma nahan, dan pulang dengan badan panas yang nggak tertahankan.
Nixi melirik ke arahku, nyengir. “Eh Lin, kamu kok diem? Atau malu ya?”
Aku angkat muka, pura-pura santai. “Kalian emang gila. Tapi ya… seru juga sih.”
Ismi langsung tepuk tangan kecil. “Nah gitu dong! Besok-besok lagi yuk karaoke. Kali ini ajak yang cowok-cowok, biar lebih rame. Sekalian ajak Rizki ya.”
Semua ketawa lagi. Aku cuma ikut senyum tipis, tapi dalam hati aku nggak setuju. Aku nggak mau ajak Rizki ke dunia mereka. Rizki punya sisi lain, sisi yang tenang, yang tulus, yang nggak perlu pamer atau liar buat bahagia. Aku nggak mau campur aduk.
Lia di sebelahku bisik pelan, “Lin… kamu gak apa-apa?”
Aku angguk kecil. “Gapapa. Cuma… kadang mereka kelewatan.” Lia mengangguk pelan, nggak bilang apa-apa lagi.
Seragamku yang dulu selalu rapi, kancing atas sampai bawah dikaitkan penuh, sekarang kancing atas dua dilepas. Rok abu-abu aku angkat sedikit lebih pendek dari standar, biar kelihatan lebih gaul. Pas jalan ke depan kelas, aku sengaja goyang pinggul kecil-kecilan, seperti Nixi. Aku sadar itu genit, tapi rasanya… bebas.
Geng Ismi bilang aku cantik, payudaraku besar “senjata mematikan”, tubuhku tinggi “kayak model”, dan aku mulai percaya. Aku mulai suka perhatian mereka.
Tapi untungnya, ada Rizki.
Setiap istirahat, dia selalu datang ke kelas IPS 2. Berdiri di pintu, senyum ke arahku, lalu aku langsung lari ke dia. Dia pegang tanganku pelan, jalan bareng ke kantin belakang. Di sana dia selalu bilang hal yang sama dengan nada lembut tapi tegas:
“Lin… kancingnya dikaitkan lagi ya. Roknya diturunin sedikit. Kamu cantik apa adanya, nggak perlu begitu.”
Aku selalu manyun, tapi akhirnya patuh. Rizki nggak pernah marah, nggak pernah ngomel keras. Dia cuma usap rambutku, cium keningku, lalu bilang, “Aku sayang kamu yang biasa, bukan yang lagi nyoba jadi orang lain.”
Suatu hari, di jam kosong ketiga. Reno siswa cowok yang duduk di bangku belakangku, tiba-tiba nyamperin mejaku. Dia tinggi sama denganku, rambut gondrong sedikit, mata sipit, dan selalu pakai seragam yang agak kusut. Dia berdiri di depan mejaku, tangan di saku celana, mukanya merah.
“Lin… boleh ngomong sebentar?” tanyanya pelan.
Aku angkat muka, angguk kecil. Lia di sebelahku langsung pura-pura sibuk nulis catatan.
Reno tarik napas dalam. “Aku… suka sama kamu, Lin. Dari lama. Kamu cantik, tinggi, baik, dan… ya… aku suka banget sama kamu.”
Aku kaget. Tapi nggak terlalu kaget. Aku tahu Reno sering lirik aku dari belakang, sering nyanyi-nyanyi pelan pas aku lewat. Entah dia beneran suka atau cuma nafsu karena payudaraku dan tinggi badanku yang sering jadi omongan.
Aku diam sebentar. Lalu jawab pelan, “Maaf Reno… aku sudah punya pacar. Rizki.”
Reno mengangguk pelan, mukanya merah semakin dalam. “Aku tahu. Tapi aku cuma mau bilang. Nggak harapin apa-apa. Cuma… pengen kamu tahu.”
Dia balik ke bangkunya tanpa nunggu jawaban lagi. Aku nggak jawab apa-apa lagi. Aku hiraukan dia. Karena aku sudah punya Rizki yang tulus, yang nggak pernah lihat aku cuma dari fisik, yang selalu jaga aku dari jauh maupun dekat.
Istirahat berikutnya, aku langsung ke kantin belakang. Rizki sudah nunggu sama Bayu dan Iqbal. Begitu liat aku, dia berdiri, tarik aku duduk di sebelahnya.
“Lin… kenapa mukanya gitu?” Tanyanya langsung, tangannya pegang tanganku di bawah meja.
Aku cerita pelan soal Reno. Rizki dengerin tanpa memotong, matanya tenang tapi ada sedikit gelap di dalamnya.
“Dia cuma bilang suka. Aku bilang aku sudah punya kamu,” kataku di akhir.
Rizki mengangguk pelan. “Iya... Iya… Iya. Aku percaya kamu, Lin. Tapi kalau dia godain kamu lagi, bilang aku ya.”
Bayu dan Iqbal langsung ikut komentar. Bayu nyengir, “Eh Reno itu ya? Cowok dekil di belakang Lina? Kalau dia nakal, aku kerjain aja.”
Iqbal ketawa. “Biar aku yang gebukin. Aku benci cowok yang nggak tahu diri.”
Rizki geleng kepala. “Sabar-sabar, gak papa mungkin dia cuma terobsesi sama Lina.”
Aku bersandar di bahu Rizki. “Aku nggak mau ribut. Aku cuma mau sama kamu.”
Dia cium keningku pelan. “Aku juga cuma mau sama kamu, Lin. Selamanya.”
Hari itu berlalu biasa saja. Reno nggak ngomong lagi ke aku. Dia cuma lirik dari belakang, tapi nggak lebih dari itu. Geng Ismi juga nggak komentar apa-apa. Mungkin mereka tahu aku tetap setia sama Rizki.
Tapi di dalam hati aku, ada satu hal yang semakin jelas setiap hari.
Aku nggak tahu apa jadinya aku kalau nggak pacaran sama Rizki. Mungkin aku sudah seperti Ismi. Berani, liar, nggak peduli omongan orang. Mungkin aku sudah punya tato, sudah minum-minum tiap akhir pekan, sudah pakai baju yang terlalu terbuka.
Tapi karena ada Rizki, yang selalu meredam kebinalanku dengan cara lembut, yang selalu ingetin aku, siapa aku sebenarnya. Aku masih Lina yang dulu. Lina yang manja, yang polos, yang ingin dicintai apa adanya.
Rizki nggak pernah memaksa aku berubah. Dia cuma ada. Selalu ada. Dan itu cukup buat aku kembali ke jalan yang benar setiap kali aku mulai melenceng.
Siang itu, seperti biasa, kami pulang bareng. Aku naik bonceng Rizki, peluk pinggangnya erat. Sepanjang jalan pulang, aku bersandar di punggungnya, mata tertutup, merasakan wangi tubuh Rizki yang khas.
“Riz…” Bisikku pelan.
“Hm?”
“Makasih ya… udah selalu jaga aku.”
Dia ketawa kecil, tangannya pegang tanganku di perutnya. “Selalu, Lin. Kamu calon istriku. Aku yang makasih, karena kamu mau pulang ke aku setiap hari.”
Kami sampai di Pringgondani. Rizki turun, lalu peluk aku sebentar di teras sebelum pulang ke Nogososro.
Aku masuk rumah dengan hati penuh. Kelas 3 IPS 2 masih berat, geng Ismi masih ada, Reno mungkin masih suka diam-diam. Tapi aku nggak hiraukan lagi.
Karena aku punya Rizki. Dan selama ada dia, aku tahu aku akan baik-baik saja.
312Please respect copyright.PENANAsCZADhYQnB


