Malam Rabu di penginapan dekat Borobudur terasa damai sekali. Kamar kecil kami cuma punya satu kasur, kipas angin tua yang berderit pelan, dan jendela yang menghadap ke arah candi samar-samar dari kejauhan. Rizki tidur di sebelahku, peluk aku dari belakang seperti biasa, napasnya teratur di tengkukku. Aku nggak bisa tidur nyenyak. Seneng banget mikirin besok pagi.
Jam 5 pagi alarm HP Rizki berbunyi pelan. Dia langsung bangun, nyalain lampu kecil di samping kasur.
“Lin… bangun yuk. Kita ke Borobudur sebelum sunrise,” bisiknya sambil cium pipiku.
Aku menggeliat, mata masih berat, tapi langsung senyum. “Iya… aku siap.”
Kami mandi cepat pakai air dingin, pakai jaket tipis karena udara pagi Magelang dingin menusuk tulang. Rizki bawa tas kecil berisi air mineral, roti, dan selimut tipis. Kami naik ojek dari penginapan ke pintu masuk Candi Borobudur. Jam 6 pagi, tiket masuk dibayar, lalu kami mulai naik tangga-tangga candi yang masih sedikit gelap.
Langkah kami pelan, tangan saling genggam erat. Udara dingin, kabut tipis menyelimuti candi. Kami naik ke stupa paling atas, di level tertinggi. Belum banyak orang, cuma beberapa turis asing dan lokal yang juga mau lihat sunrise. Kami duduk di pinggir stupa, selimut tipis kami bagi berdua. Rizki peluk aku dari belakang, dagunya bersandar di bahuku.
“Lin… ini pertama kali aku ke sini bareng kamu,” bisiknya pelan.
Aku balik kepala, cium pipinya sebentar. “Aku juga Riz. Makasih udah bawa aku ke sini.”
Langit mulai berubah warna. Dari ungu lembut, lalu oranye tipis. Matahari pelan-pelan muncul di ufuk timur, sinarnya menyentuh puncak stupa satu per satu. Kabut yang tadinya tebal perlahan hilang, candi Borobudur terlihat megah di bawah kami. Aku nggak bisa berkata-kata. Air mata menggenang karena indahnya.
Rizki peluk aku lebih erat. “Lin… aku janji ya. Setiap momen indah kayak gini, aku mau kita lalui bareng. Sampai kita tua nanti.”
Aku angguk, air mata jatuh pelan. “Aku juga janji, Riz. Selamanya bareng kamu.”
Kami duduk lama di sana, sampai matahari naik tinggi. Rizki ambil roti dari tas, suapin aku pelan. Aku suapin dia balik. Kami ketawa kecil pas ada burung kecil hinggap di stupa sebelah kami.
Setelah sunrise, kami turun pelan-pelan, foto-foto di relief candi. Rizki pegang tanganku sepanjang jalan, nggak lepas. Kami mampir ke warung kecil di bawah, pesen wedang ronde panas. Duduk lesehan di tikar, nikmati hangatnya minuman sambil liat candi dari bawah.
“Riz… makasih ya. Liburan ini… terbaik banget,” kataku pelan.
Dia usap rambutku yang masih wangi setelah treatment kemarin. “Ini baru awal, Lin. Masih banyak tempat yang mau aku ajak kamu. Nanti kalau sudah nikah, kita jalan-jalan lagi. Ke Bali, ke Labuan Bajo, ke mana aja. Selama kamu mau.”
Aku peluk lengan dia erat. “Aku mau. Selama sama kamu, aku mau ke mana saja.”
Siang itu, setelah puas keliling candi Borobudur dan foto-foto di relief-relief indahnya, kami kembali ke penginapan kecil dekat area candi. Kamar kami sederhana, tapi nyaman, kasur yang empuk, kipas angin berderit pelan, dan jendela menghadap ke arah stupa-stupa yang samar-samar terlihat di kejauhan. Aku duduk di tepi kasur sambil minum air mineral dingin dari botol, rambutku masih sedikit basah karena keringat siang tadi. Rizki duduk di sebelahku, tangannya pelan mengusap punggungku.
“Lin,” panggilnya pelan, suaranya lembut tapi ada nada serius. “Malam tahun baru mau di mana? Di sini aja apa kita balik ke Semarang?”
Aku langsung berhenti minum, tatap dia. Malam tahun baru 2010 jatuh di hari kamis, sekarang masih hari Rabu. Aku bingung sebentar, karena selama ini tahun baru selalu di Semarang, nggak pernah di luar kota. Tapi sekarang ada Rizki. Dan rasanya, tahun baru kali ini ingin aku habiskan sama dia.
“Aku ikut kamu aja, sayang,” jawabku pelan, sambil senyum kecil. “Kemanapun kamu bawa aku. Aku mau. Aku yakin kamu pasti ajak aku bahagia.”
Rizki tersenyum lebar, matanya berbinar. Dia tarik aku ke pelukannya, cium keningku lembut sekali. Bibirnya hangat di kulitku, napasnya pelan. “Makasih Lin… aku janji tahun baru ini bakal spesial buat kita berdua.”
Dia diam sebentar, mikir. Lalu matanya cerah lagi. “Kita rayain di alun-alun kota Magelang aja yuk. Nggak ada acara besar kayak di Semarang, tapi pasti ramai. Kembang api, musik, orang-orang seneng-seneng. Kita berdua aja, nggak perlu rame-rame.”
Aku langsung angguk hebat. “Setuju! Aku belum pernah malam tahun baru di luar kota. Pasti seru banget.”
Kami habiskan sisa siang itu istirahat di penginapan. Rizki pesen makanan dan minuman dari warung depan. Kami makan sambil nonton TV tabung yang gambarnya agak blur, tapi cukup buat nemenin. Malamnya kami tidur pelukan, Rizki bisik-bisik janji kecil di telingaku sampai aku ketiduran dengan senyum.
Malam Tahun Baru Kamis malam, 31 Desember 2009.
Kami berangkat dari penginapan jam 9 malam naik ojek ke alun-alun kota Magelang. Tempatnya nggak terlalu luas, tapi sudah ramai. Lampu warna-warni digantung di pohon-pohon, panggung kecil di tengah lagi main musik campursari, orang-orang duduk lesehan di tikar, ada yang bawa anak kecil, ada pasangan muda kayak kami. Bau sate ayam dan jagung bakar nyebar di udara.
Kami cari tempat duduk di pinggir alun-alun, deket pohon besar yang rindang. Rizki bawa tikar kecil dari penginapan, kami duduk lesehan. Dia peluk aku dari samping, jaketnya kami pakai bareng karena angin malam mulai dingin.
“Lin… ini pertama kali kita tahun baru berdua di luar kota,” bisiknya di telingaku.
Aku bersandar di bahunya, tangan kami saling genggam. “Iya Riz… aku bahagia banget. Nggak ada acara besar, nggak ada kembang api megah kayak di TV, tapi… ini lebih dari cukup. Karena ada kamu.”
Jam 11.55 malam, orang-orang mulai berdiri. Musik berhenti, MC di panggung hitung mundur. “Sepuluh… sembilan… delapan…”
Aku dan Rizki berdiri bareng. Dia peluk aku dari belakang, tangannya melingkar di perutku, dagunya di bahuku. Kami hitung mundur bareng orang-orang di alun-alun.
“Tiga… dua… satu… SELAMAT TAHUN BARU 2010!”
Langit malam langsung pecah kembang api berhamburan dari beberapa titik. Nggak megah, tapi indah. Suara orang-orang sorak-sorai sambil rekam, musik dangdut kembali kenceng. Aku balik badan, peluk Rizki erat. Dia angkat muka aku pelan, lalu cium bibirku lembut di tengah keramaian itu. Ciuman pertama tahun baru kami, hangat, manis, penuh janji.
“Selamat tahun baru, calon istriku,” bisiknya di bibirku.
“Selamat tahun baru, calon suamiku,” jawabku sambil tersenyum, air mata bahagia menggenang.
Kami duduk lagi, nikmati sisa malam. Rizki suapin aku sate ayam dari pedagang keliling, aku suapin dia jagung bakar. Kami ketawa kecil pas ada anak kecil lari-lari bawa balon helium. Jam 12.30 malam, kami pulang ke penginapan naik ojek.
Keesokan harinya, Jumat pagi, kami bangun pagi-pagi. Rizki ajak aku ke Borobudur lagi, kali ini pas matahari sudah naik tinggi. Kami foto-foto, jalan pelan di sekitar candi, beli oleh-oleh kecil: batik Magelang, getuk lindri, dan geplak untuk Mbak Har, Raka, Riki, dan keluarga.
Siang harinya kami naik bis pulang ke Semarang. Aku tidur di bahu Rizki sepanjang perjalanan, tas oleh-oleh di pangkuan kami. Malam tahun baru pertama kami berdua di luar kota, sederhana, nggak mewah, tapi penuh cinta.
Dan aku tahu, tahun 2010 ini akan jadi tahun terbaik dalam hidupku.369Please respect copyright.PENANAljuFiP7zUH
Karena ada Rizki di sampingku.


