Senin pagi, kami berdua pulang dari Nogososro ke Pringgondani. Motor Vixion Rizki melaju pelan di jalan yang mulai ramai. Aku bonceng di belakang, peluk pinggangnya erat seperti biasa, daguku bersandar di bahunya.
Angin pagi masih sejuk, hawa sejuk setelah hujan semalam menempel di udara. Rizki nggak banyak bicara, cuma sesekali tangannya usap tanganku yang melingkar di perutnya, gerakan kecil yang selalu bikin aku merasa aman.
Sampai rumah Pringgondani sekitar jam 10 siang. Mbak Har sudah di teras belakang, lagi bikin keripik singkong seperti biasa. Wajan besar di atas kompor gas mengeluarkan asap harum bawang putih dan singkong. Raka dan Riki lagi main bola kecil di halaman, ketawa-ketawa sambil kejar-kejaran.
“Assalamualaikum, Mbak Har,” sapa Rizki sambil turun dari motor, langsung bantu aku turun juga.
“Waalaikumsalam, Rizki, Lina. Cepat sekali pulangnya. Nenek gimana?” tanya Mbak Har sambil usap tangan ke celemek.
“Nenek sehat kok Mbak, masih bisa cerita-cerita lucu,” jawab Rizki sambil senyum. Kami langsung bantu bikin keripik di dapur.
Aku langsung ambil pisau, duduk di sebelah Mbak Har, mulai iris singkong tipis-tipis. Rizki ambil ember, cuci singkong yang sudah dikupas. Kami bertiga kerja bareng dalam diam yang nyaman. Bau minyak panas dan aroma singkong goreng menyebar ke seluruh halaman.
Di sela-sela pekerjaan, Rizki tiba-tiba berhenti mengaduk wajan, tatap Mbak Har pelan.
“Mbak… boleh nggak aku ngajak jalan-jalan Lina ke Borobudur? Liburan semester kan masih panjang. Kami mau berangkat Besok pagi. Boleh ya, Mbak?”
Mbak Har berhenti menggoreng, tatap Rizki lama. Matanya lembut, tapi ada sedikit air mata di sudutnya. Dia tersenyum pelan, lalu mengangguk.
“Riz… kamu anak baik. Sebenernya nggak usah kamu ijin sama Mbak. Mbak sudah izinin dari dulu. Mbak sudah yakin sama kamu, bisa jaga Lina. Kamu jaga dia baik-baik ya. Hati-hati di jalan.”
Rizki langsung usap kepalanya sendiri, pipinya merah malu-malu. “Makasih banyak Mbak… aku janji.”
Aku kaget banget. Biasanya Rizki selalu ngomong ke aku dulu sebelum minta izin ke Mbak Har. Tapi kali ini dia langsung surprise. Aku lirik dia, senyum kecil. Dia balas lirik aku, mata kami ketemu sebentar penuh arti.
Selasa paginya, kami berangkat naik bis ekonomi jurusan Semarang-Magelang. Aku duduk di sebelah jendela, Rizki di sebelahku, tangannya genggam tanganku sepanjang perjalanan. Bis agak goyang, tapi aku nggak peduli selama tangan Rizki pegang aku, semuanya terasa aman.
Sampai Magelang sekitar jam 11 siang. Rizki langsung ajak aku mampir dulu ke tempat temannya di desa Menowo, nggak jauh dari Borobudur. Kami naik ojek dari terminal.
Rumahnya dua lantai, bukan tempat tinggal biasa, tapi lebih mirip kantor kecil. Di lantai bawah ruangan penuh komputer dan laptop, ada sekitar 8-10 orang lagi duduk fokus di depan layar. Suara keyboard dan obrolan pelan terdengar. Rizki langsung disambut hangat oleh dua orang yang kelihatan paling senior: Mas Tomo dan Mas Toni namanya.
“Rizki! Lama nggak mampir!” kata Mas Tomo sambil tepuk pundak Rizki.
Mas Toni nyengir dari belakang, lagi ngajarin seseorang coding. “Eh, bawa pacar nih? Cantik banget!”
Rizki ketawa kecil, tangannya langsung pegang pinggangku pelan. “Iya Mas, ini Lina. Insya Allah calon istriku.”
Mas Toni langsung angkat jempol. “Jangan lupa undangannya ya Riz! Awas kalau nggak ngundang kami.”
Semua orang di ruangan tertawa bareng. Aku ikut tertawa sambil peluk tangan Rizki lebih erat. Aku baru tahu hari itu, ternyata Rizki adalah seorang “Blogger”. Dia dapat penghasilan dari internet. Paid review di website UserTesting bayarannya Dollar, dan website pribadinya dapat dari Google Adsense.
Aku kaget banget. Pacarku yang kelihatan pendiam, kalem, ternyata punya circle orang-orang hebat dan pintar. Dia nggak pernah pamer, nggak pernah cerita. Tapi semua itu membuat aku semakin percaya, Rizki adalah masa depanku.
Rizki tanya ke Mas Toni, “Mas Sembodo nggak kelihatan, Mas?”
Mas Toni geleng kepala sambil ketawa. “Lagi keluar kota Riz. Sayang sekali, pingin ketemu malah lagi pergi hahaha.”
Rizki ikut ketawa. “Wah sayang banget. Padahal aku mau kenalin Lina ke beliau.”
Kami nimbrung sebentar. Aku duduk di sebelah Rizki, dengerin mereka ngobrol soal blog, SEO, dan cara dapat traffic. Aku nggak ngerti banyak, tapi aku seneng liat Rizki bersinar waktu bicara soal passion-nya.
Sore harinya kami pamit. Mas Tomo dan Mas Toni peluk Rizki, lalu peluk aku juga. “Jaga Rizki ya Lina. Dia anak baik,” kata Mas Tomo.
Aku mengangguk sambil senyum. “Insya Allah Mas.”
Kami cari penginapan di sekitar Borobudur. Akhirnya dapat losmen sederhana tapi bersih, dekat area candi. Kamarnya kecil, cuma ada kasur single dan kipas angin. Tapi buat kami berdua, itu sudah lebih dari cukup.
Malam itu kami duduk di teras losmen, liat langit malam penuh bintang. Rizki peluk aku dari belakang, dagunya di bahuku.
“Besok pagi kita ke Borobudur ya, Lin. Aku mau liat sunrise bareng kamu.”
Aku balik badan, peluk dia erat. “Aku nggak sabar, Riz.”
Kami tidur pelukan di kasur kecil itu. Napas Rizki hangat di tengkukku. Aku tahu, besok akan jadi hari yang indah.
Karena selama ada Rizki, setiap hari terasa seperti awal dari sesuatu yang lebih besar.
ns216.73.216.250da2


