Sore itu, setelah pulang dari Ungaran, kami langsung ke Nogososro rumah Rizki. Angin sore Semarang masuk lewat jendela besar lantai bawah, membawa aroma wangi bunga dari halaman.
Aku, Rizki, Bagas, dan Jaroni siang itu kebetulan kami sedang bekerja sama beberes rumah. Kami sudah terbiasa seperti ini setiap akhir pekan kalau aku datang.
Aku ambil sapu panjang, mulai nyapu lantai marmer ruang tamu yang luas. Debu tipis menari di udara setiap sapuan. Rizki di sebelahku, ambil kain pel dan ember air sabun, mulai ngepel dengan gerakan rapi dan cepat.
Dia pakai kaos oblong putih yang sudah agak basah keringat, lengan digulung sampai siku. Bagas dan Jaroni naik ke lantai dua, Bagas ngepel kamar Rizki, Jaroni ngelap kaca jendela besar yang menghadap halaman belakang.
“Lin, jangan lupa pojok-pojoknya ya,” goda Rizki sambil nyengir, tangannya memelintir kain pel.
Aku pura-pura manyun. “Iya-iya, Mas Rizki. Kamu juga jangan lupa ngepel di bawah meja TV, suka kotor tuh.”
Kami ketawa kecil. Rumah ini besar sekali, ruang tamu luas, tangga besar ke lantai dua, empat kamar tidur, dapur modern, dan halaman belakang yang penuh tanaman. Orang tua Rizki yang menanam semuanya dulu, termasuk men-cangkok pohon durian yang sekarang sudah berbuah lebat.
Kami berempat kerja sama seperti keluarga kecil. Bagas dan Jaroni sudah kayak adik-adik Rizki, dan aku… aku sudah dianggap bagian dari rumah ini.
Setelah selesai, kami semua duduk lesehan di ruang keluarga lantai bawah. Lantai marmer dingin terasa enak di telapak kaki. Bagas langsung nyetel DVD player, masukin VCD karaoke lawas. Layar TV tabung menyala, lagu-lagu dangdut lama muncul.
Aku ambil mic pertama. Lagu “Bukan Tak Mampu” dari Mirnawati. Aku nyanyi sambil berdiri di depan Rizki, sengaja goyang pinggul pelan, mata genit ke arahnya.
“Bukan… tak mampu… mencari yang lain… Tapi melihat dirimu… Ku sudah bahagia… hatiku bahagia…” aku nyanyi sambil menunjuk Rizki, lalu pura-pura jatuh ke pangkuannya.
Rizki ketawa ngakak, tangannya langsung peluk pinggangku dari belakang. “Lin… jangan godain terus, nanti aku nggak kuat.”
Bagas dan Jaroni tepuk tangan sambil teriak, “Mas Rizki, Mbak Lina, mesra banget nih!”
Bagas bangun, tarik Jaroni ke dapur. “Kita bikin jus jambu yuk. Jambunya lagi banyak di halaman.”
Kami semua ikut ke halaman belakang, pohon jambu biji penuh buah. Kami metik sambil ketawa-ketawa. Lalu Rizki nunjuk pohon durian cangkokan yang ditanam orang tuanya setahun lalu. Buahnya sudah matang, kuning keemasan menggantung.
“Ambil empat Gas, biar cukup buat kita,” kata Rizki sambil ambil galah panjang.
Kami petik empat buah durian besar yang baunya sudah harum. Kembali ke ruang keluarga, Bagas dan Jaroni blender jambu jadi jus segar. Kami duduk lesehan lagi, makan durian sambil nyanyi-nyanyi. Aroma durian manis bercampur jus jambu segar, suasana hangat sekali.
Malam harinya kami berempat keluar makan ke Simpang Lima. Pesan paket seafood 200 ribu yang isinya: cumi goreng tepung, kepiting cukup besar, kerang dara, udang besar seperti lobster, potongan jagung pakai bumbu saus padang plus empat nasi dan empat es teh manis.
Kami makan di warung tenda pinggir jalan, lampu neon kuning menyinari meja. Rizki suapin aku cumi, aku suapin dia kerang. Bagas dan Jaroni ribut rebut kepiting paling besar.
Selesai makan, kami pulang. Aku naik boncengan di belakang Rizki, peluk pinggangnya erat sekali. Angin malam dingin, tapi badanku hangat karena dekat dengannya. Di tengah jalan, Bagas dan Jaroni langsung pamit pulang ke rumah masing-masing. “Kami nggak mampir lagi ya Mas Rizki, Mbak Lina. Selamat malam!”
Kami sampai di Nogososro jam 10 malam. Rumah sepi, lampu ruang keluarga masih nyala. Rizki nyetel lagi DVD karaoke. Kali ini lagu-lagu campursari. Aku ambil mic, pilih lagu “Cinta Tak Terpisahkan” dari Cak Sodiq.
Aku nyanyi pelan, suara lembut:
“Cinta kita tak terpisahkan… walau di akhir jaman…”
Aku mendekat ke Rizki yang duduk di sofa. Aku peluk dia dari depan, badan kami menempel erat. Kepalaku bersandar di dadanya, tanganku melingkar di lehernya. Rizki peluk pinggangku balik, dagunya di atas kepalaku. Dia tatap mataku lama, lalu sesekali cium keningku pelan, bibirnya hangat di kulitku.
Lagu selesai. Ruangan hening sejenak, hanya suara napas kami yang terdengar.
Rizki tiba-tiba bicara, suaranya dalam dan serius.
“Lin… denger baik-baik ya.”
Aku angkat muka, tatap matanya yang penuh tekad.
“Cita-cita aku kedepan sederhana. Selesai SMA, aku mau lanjut kuliah di UGM. Ambil dua jurusan sekaligus, aku yakin mampu.
Habis itu magang satu-dua tahun di kantor Bapak buat cari pengalaman, sambil lanjut S2 kalau bisa. Setelah itu… aku mau nikahin kamu, Lin. Hidup bersama denganmu.
Kita jaga anak-anak kita. Rumah kita nggak perlu besar, yang penting hangat. Yang penting ada kamu di samping aku setiap hari.”
Aku terdiam. Air mata menggenang di mataku. Aku tahu Rizki selalu serius kalau bicara masa depan. Dia nggak pernah main-main soal impian. Semua dia hitung dengan matang, kuliah, kerja, nikah. Dia nggak cuma bilang “nanti kita nikah”, tapi sudah punya rencana jelas.
Aku peluk lehernya lebih erat, air mata jatuh ke bahunya. “Amin… aku amin-in semua cita-cita kamu, Riz.”
Dia usap punggungku pelan. “Kamu percaya aku kan?”
Aku angguk di dadanya. “Aku percaya banget. Dari dulu aku tahu, apapun impian kamu pasti terwujud. Kamu orang yang paling tekun yang aku kenal.”
Kami diam lama, saling peluk di sofa ruang keluarga itu. Lampu kuning redup, suara jangkrik dari halaman luar terdengar samar. Aku terus bersandar di dadanya, dengar detak jantungnya yang teratur. Rasanya hangat, tenang dan nyaman.
Semenjak saat itu, aku pasrahkan segala kehidupanku pada Rizki. Biarkan dia menjalani rencana hidupnya. Hingga kami menikah nanti, seperti yang dia impikan. Karena aku tahu, selama ada Rizki, aku nggak akan pernah kehilangan arah.
Malam itu kami tidur di kamarnya. Rizki peluk aku dari belakang, tangannya melingkar di perutku. Napasnya hangat di tengkukku.
“Selamat malam, calon istriku,” bisiknya pelan.
“Selamat malam, calon suamiku,” jawabku sambil pegang tangannya erat.
Dua minggu libur mid semester baru dimulai. Tapi rasanya, masa depan kami sudah terasa begitu dekat.
ns216.73.216.250da2


