Minggu pagi, rumah Pringgondani terasa lebih hidup dari biasa. Raka dan Riki lagi lari-larian kejar-kejaran di halaman depan, tawa mereka kecil tapi riang. Aku lagi bantu Mbak Har nyusun kardus keripik di teras ketika Rizki datang naik motornya. Dia parkir rapi, turun, lalu langsung salaman ke Mbak Har yang sedang nyapu di teras depan.
“Assalamualaikum, Mbak Har,” sapa Rizki sopan, senyumnya lembut seperti biasa. “Mbak, saya mau minta izin. Hari ini saya ajak Lina ke Ungaran, jenguk Nenek. Boleh nggak, Mbak?”
Mbak Har berhenti nyapu, tatap Rizki lama, lalu senyum kecil. “Ya udah, Riz. Mbak izinin. Rizki kan sudah kayak keluarga di sini. Yang penting hati-hati di jalan, jangan ngebut.”
Aku langsung peluk Mbak Har dari belakang. “Makasih Mbak! Aku janji hati-hati.”
Rizki tersenyum lega, tangannya pelan usap punggungku sebentar ketika Mbak Har nggak liat. “Kita berangkat sore ya, Lin. Biar nggak kepanasan.”
Sore harinya kami packing ringan. Aku cuma bawa tas kecil berisi baju ganti, sikat gigi, dan keripik buat oleh-oleh Nenek. Rizki sudah nunggu di depan rumah dengan Vixion-nya yang mengkilap. Aku naik boncengan, peluk pinggangnya erat. Angin sore Semarang bertiup lembut saat kami melaju ke arah Ungaran.
Di tengah perjalanan, saat melewati jalan yang mulai menanjak dan udara mulai sejuk, Rizki pelan-pelan mengurangi kecepatan. Dia tahu aku lagi ingat-ingat masa lalu. Karena setiap kali kami ke Ungaran, cerita yang sama selalu muncul di kepala kami.
Aku bersandar lebih erat ke punggungnya, bisik pelan, “Riz… kamu ingat nggak, waktu Nenek pingsan dulu?”
Rizki diam sebentar, lalu mengangguk. Suaranya pelan, tapi aku bisa dengar jelas meski angin bertiup.
“Ingat banget, Lin. Waktu itu… kita belum jadian. Masih sahabatan berempat sama Bayu sama Iqbal. Aku lagi di Nogososro sendirian sama Bagas dan Jaroni. Tiba-tiba Nenek jatuh pingsan di ruang tamu. Aku panik banget. Tangan aku gemetar. Aku langsung ambil HP, dan tanpa mikir panjang… aku hubungi kamu duluan.”
Aku tersenyum kecil di punggungnya, mata mulai berkaca-kaca mengingat kejadian itu.
***
Malam itu hujan deras. Aku lagi di rumah Pringgondani, baru selesai bantu Mbak Har packing keripik. HP-ku bergetar. Nama “Rizki” muncul di layar.
“Lin… tolong… Nenek pingsan…” Suara Rizki pecah, hampir nggak kedengeran karena tangis. Aku langsung berdiri. Itu pertama kalinya aku dengar Rizki menangis.
Aku lari ke rumah Rizki di Nogososro naik angkot. Begitu masuk, suasana sudah kacau. Bagas dan Jaroni berdiri bingung di pojok, nggak tahu harus ngapain. Rizki duduk di lantai sambil memeluk Nenek yang sudah pingsan, air mata mengalir deras di pipinya. Wajahnya pucat, badannya gemetar.
“Riz… kita bawa ke rumah sakit sekarang,” kataku tegas, meski jantung aku juga berdegup kencang. Aku nggak kasih kesempatan dia mikir. Aku ambil kunci motor Rizki, bantu angkat Nenek ke jok tengah. Aku yang nyetir di depan, Nenek di tengah, Rizki di belakang memeluk Nenek supaya nggak jatuh.
Hujan deras, jalan licin, tapi aku ngebut seperti Valentino Rossi. Motor meliuk-liuk melewati genangan air, klakson aku bunyikan terus. Rizki di belakang cuma bisa bilang pelan, “Lin… hati-hati… tapi cepet ya…” Suaranya masih bergetar.
Kami sampai RS Kariadi dalam waktu rekor. Dokter langsung tangani Nenek. Ternyata drop karena darah rendah. Malam itu juga, orang tua Rizki, langsung pulang dari Jakarta. Bibi Rizki langsung datang dari Ungaran. Paman Rizki yang dari Demak juga datang.
Besok paginya, ketika Nenek sudah sadar, Bibi Rizki memeluk aku erat. “Makasih ya Lina… kamu yang selamatin Nenek. Kalau nggak ada kamu, kami nggak tahu harus gimana.”
Paman Rizki tepuk pundak Rizki. “Kamu beruntung punya sahabat kayak Lina.”
Orang tua Rizki juga memuji kami berdua. Dari situ, aku mulai dekat dengan keluarga besar Rizki. Karena Nenek butuh perawatan khusus, akhirnya diputuskan Nenek tinggal bareng Bibi di Ungaran supaya ada yang rawat setiap hari.
***
Rizki menghela napas pelan, tangannya usap tanganku yang melingkar di perutnya. “Dari hari itu… aku tahu kamu beda, Lin. Kamu bukan cuma sahabat. Kamu orang yang selalu ada pas aku butuh.”
Aku cium bahunya pelan. “Dan kamu juga selalu ada buat aku, Riz.”
Kami sampai di rumah Bibi di Ungaran sore hari. Rumahnya klasik tapi asri, halaman luas penuh bunga dan pohon mangga. Begitu motor berhenti, Nenek sudah duduk di teras dengan kursi roda, wajahnya langsung cerah melihat kami.
“Lina… Rizki… akhirnya kalian datang juga!” Suara Nenek lemah tapi penuh bahagia.
Bibi Rizki langsung keluar menyambut. Bibi memeluk aku erat, seperti ibu sendiri. “Lina… kamu makin cantik. Makasih ya masih mau jenguk Nenek.”
Kami diterima dengan hangat sekali. Malamnya kami makan malam bareng, ayam goreng, lalapan, dan sambal kesukaan Nenek. Nenek cerita masa kecil Rizki, Bibi cerita lucu-lucu tentang anak-anaknya. Aku dan Rizki saling pandang sesekali, senyum kecil, tangan kami saling genggam di bawah meja.
Saat malam semakin larut, Nenek pegang tanganku pelan. “Lina… kamu sudah kayak cucu sendiri buat Nenek. Jagain Rizki ya… dia anak baik.”
Aku mengangguk, air mata hampir jatuh. “Iya Nek… aku janji.”
Rizki memeluk aku dari belakang saat kami berdiri di teras malam itu, angin Ungaran yang sejuk menerpa wajah kami.
“Terima kasih udah mau ikut ke sini, Lin,” bisiknya di telingaku.
Aku balik badan, peluk dia erat. “Aku yang terima kasih, Riz. Karena kamu selalu bawa aku ke tempat-tempat yang bikin aku merasa… pulang.”
Kami berdiri lama di teras itu, saling peluk, mendengar suara jangkrik dan angin malam. Dua minggu libur mid semester baru saja dimulai, tapi rasanya sudah jadi liburan paling indah.
Karena di mana pun, selama ada Rizki… aku selalu merasa di rumah.
ns216.73.216.250da2


