Jumat siang, bel pulang sekolah berbunyi lebih merdu dari biasanya. Bu Guru kelas 3 IPS 2 baru saja mengumumkan di depan kelas: “Libur mid semester dua minggu penuh mulai besok. Istirahat yang cukup, tapi jangan lupa belajar untuk ujian akhir semester ya.”
Ruangan langsung ramai sorak-sorai. Ismi dan gengnya tepuk tangan paling keras, Lia di sebelahku cuma senyum kecil, sementara aku… aku langsung memandang ke luar jendela, ke kelas IPS 1. Rizki pasti sudah tahu. Dua minggu tanpa sekolah berarti dua minggu lebih banyak waktu bersamanya.
Begitu keluar kelas, Rizki sudah menunggu di parkiran seperti biasa. Motor Vixion-nya mengkilap di bawah matahari siang. Aku langsung lari kecil ke arahnya, tas ransel bergoyang di punggung.
“Riz! Libur dua minggu!” seruku sambil memeluk pinggangnya dari samping.
Dia ketawa pelan, tangannya langsung usap rambutku. “Iya, aku dengar tadi. Seneng ya?”
Aku angguk hebat. “Banget!” Sambil terus tatap wajah Rizki.
Rizki tersenyum, matanya lembut. Di jok belakang sudah ada dua pot bunga besar, mawar merah dan anggrek putih. Dia beli di depan sekolah tadi pagi.
Potnya lumayan berat dan besar, hampir seukuran badan anak kecil. Nggak mungkin aku suruh bopong itu sambil bonceng. Rizki memang selalu mengerti aku. Beda banget sama Iqbal yang dulu pernah nyuruh aku bopong lima karton gula merah sendirian.
Kata Iqbal waktu itu. “Lin kamu yang bonceng sambil bopong gula ya. Biar aku yang nyetir.” Katanya waktu itu sambil ketawa. Rizki? Dia malah bilang. “Cewek nggak boleh bawa beban seberat ini. Kamu nyetir aja, aku yang bonceng.”
Aku naik di depan pegang kemudi, Rizki duduk di belakang sambil memeluk pinggangku pelan. Tangan kanannya memegang dua pot bunga yang dia sandarkan di jok.
Motor agak oleng di awal, tapi aku cepat terbiasa. Kami melaju pelan melewati Jl. Piere Tendean, angin siang menerpa wajahku. Rambut panjangku yang sudah mencapai pinggang beterbangan di belakang, sesekali menyapu lengan Rizki.
Di tengah jalan, Rizki tiba-tiba bisik di telingaku. “Rambut kamu sekarang panjang banget ya, Lin. Sampai pinggang.”
Aku tersenyum kecil. “Iya… udah lama nggak potong.”
Kami sampai di Nogososro. Aku parkir motor di halaman depan, Rizki turun duluan dan bawa kedua pot bunga ke teras. Kami masuk ke ruang keluarga lantai 2 yang sejuk.
Angin semilir masuk lewat jendela besar yang terbuka. Aku duduk di sofa panjang, Rizki duduk di sebelahku sambil membuka dua kancing baju seragamnya karena panas.
Dia tatap aku lama, tangannya pelan menyentuh ujung rambutku yang tergerai. “Kenapa nggak pernah potong sih, Lin? Kamu bilang dulu suka rambut panjang, tapi sekarang… kelihatan ribet banget.”
Aku menghela napas panjang. “Sebenernya aku mau potong kok, Riz. Tapi… nggak punya duit, hehehe. Ribet banget rambut panjang ini. Tiap mandi harus pakai dua kali sampo, keringnya lama, sisirnya suka kusut kalau kena angin. Kalau tidur, rambutnya suka kejepit di bawah badan, sakit. Di sekolah juga, pas olahraga rambutnya lengket di leher, gerah. Tapi aku nggak mau minta uang ke Mbak Har, dia lagi susah juga. Jadi ya… aku tahan aja.”
Rizki mendengarkan tanpa memotong. Matanya lembut, tangannya masih memainkan ujung rambutku. Dia nggak bilang apa-apa yang berat, cuma tersenyum kecil dan bilang. “Aku ngerti, Lin. Kamu kuat banget.”
Sore itu kami habiskan waktu berdua di Nogososro, nonton TV sambil makan mie instan yang aku masak. Rizki nggak bahas rambut lagi, tapi aku tahu dia lagi mikir sesuatu.
Keesokan harinya, Sabtu siang jam 10 pagi, Rizki sudah datang ke Pringgondani naik motor. Aku lagi bantu Mbak Har nyapu teras. Dia turun, senyum lebar.
“Lin, siap-siap yuk. Aku ajak kamu ke salon di Kaligawe.”
Aku melongo. “Salon? Buat apa?”
“Potong rambut. Sekalian treatment. Aku yang bayar.”
Aku hampir protes, tapi Rizki sudah tarik tanganku lembut. “Nggak usah nolak. Aku mau lihat kamu seneng.”
Kami berangkat ke salon kecil tapi lengkap di pinggir Jl. Kaligawe. Namanya Salon Ratu. Begitu masuk, aroma lavender dan shampo langsung menyambut.
Rizki bicara sama mbak-mbak salon, “Full treatment ya Mbak, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Rambut panjangnya mau dipotong rapi, tapi jangan terlalu pendek.”
Aku duduk di kursi salon. Prosesnya dimulai.
Pertama, cuci rambut. Mbak salon menuangkan shampoo wangi, jari-jarinya memijat kulit kepalaku pelan-pelan. Aku merasakan semua ketegangan seminggu ini hilang.
Lalu conditioner, masker rambut yang dingin dan wangi, dibiarkan 20 menit sambil kepalaku dipijat. Rambutku yang kusut lama-lama terasa lembut.
Setelah itu, potong rambut. Hanya dipangkas ujungnya yang rusak, dibuat layer ringan supaya nggak terlalu berat. Panjangnya sekarang sampai punggung. Masih panjang, tapi lebih ringan dan rapi.
Lalu treatment tubuh. Aku dipindah ke ruang belakang. Body scrub gula merah dicampur kopi, digosok pelan dari kaki sampai bahu. Kulitku yang tadinya kasar karena sering kerja keras langsung terasa halus.
Dilanjutkan massage oil lavender selama 45 menit. Tangan mbak salon menekan titik-titik pegal di pundak, punggung, dan kaki. Aku hampir ketiduran karena enaknya.
Facial treatment berikutnya. Wajahku dibersihkan, pakai masker lumpur, lalu serum vitamin C, dan akhirnya pelembab. Kulitku yang tadinya kusam karena sering kepanasan di sekolah langsung cerah.
Terakhir, makeup ringan. Bedak tipis, blush on natural, lip tint merah muda, dan eyeliner tipis. Rambutku dikeringkan dan diberi serum shine supaya berkilau.
Total hampir tiga jam. Rizki duduk di ruang tunggu, akhirnya ketiduran di kursi karena lama menunggu.
Saat aku keluar, Rizki langsung bangun. Matanya melebar, mulutnya terbuka tanpa suara beberapa detik.
“Ini… Lina kan? Pacarku?” Katanya pelan, suaranya campur kaget dan takjub. Dia berdiri, mendekat, tangannya pelan menyentuh ujung rambutku yang sekarang lembut dan wangi. “Kamu… cantik banget, Lin. Aku… nggak bisa ngomong.”
Aku tersipu, pipiku merah. Rizki memeluk aku pelan di depan salon itu, bisik di telingaku, “Kamu selalu cantik buat aku, tapi sekarang… rasanya kayak mimpi.”
Dia nggak cuma bayar potong rambut. Dia tambah paket lengkap:
- Perawatan rambut keratin (supaya lurus dan berkilau)
- Perawatan badan whitening scrub + massage
- Perawatan wajah acne treatment + brightening
- Paket makeup dasar + lip care
- Serum rambut, krim wajah dan body lotion khusus dibawa pulang
Total tagihan: Rp 3.300.000.
Aku bengong pas mbak salon bilang angkanya. Tiga juta tiga ratus ribu. Duit sebanyak itu buat aku… seperti jatah bulananku untuk setahun lebih. Aku nggak bisa berkata-kata. Rizki cuma senyum, ambil kartu debitnya, bayar tanpa ragu.
Di perjalanan pulang, aku peluk pinggangnya erat dari belakang. Air mata menggenang di mataku, tapi aku tahan. Sampai rumah Nogososro, aku tarik dia duduk di sofa.
“Riz… duit segitu gede banget. Kamu nggak usah gitu. Aku… aku nggak tahu harus bilang apa.”
Rizki pegang kedua tanganku, matanya lembut sekali. “Lin, aku lakuin ini karena aku sayang kamu. Dari kelas satu sampai sekarang, aku selalu lihat kamu berjuang. Kamu bantu Mbak Har bikin keripik, bantu masak, nyuci baju, nyapu rumah. Kamu perempuan tangguh, pekerja keras dan rajin. Aku suka itu. Dan sepantasnya mendapat apresiasi. Aku cuma mau bikin kamu seneng, Lin. Cuma itu.”
Aku nggak bisa tahan lagi. Air mata jatuh. “Kamu… kamu selalu traktir aku jajan di kantin sejak kelas satu. Kamu antar jemput tiap hari. Kamu bantu kupas singkong di Pringgondani sampai malam. Kamu nggak pernah marah kalau aku capek. Kamu… kamu bikin aku merasa dicintai apa adanya. Bukan cuma aku, Mbak Har sama Mas Suryanto juga tahu. Mereka bilang kamu pilihan yang tepat buat aku. Buat masa depan aku kelak.”
Rizki tarik aku ke pelukannya. “Aku nggak mau jadi yang terbaik di dunia, Lin. Aku cuma mau jadi yang terbaik buat kamu. Selamanya.”
Kami pelukan lama di sofa ruang keluarga itu. Angin semilir masuk lewat jendela, bau bunga mawar dan anggrek yang dia beli kemarin masih menempel di udara. Aku bersandar di dadanya, dengar detak jantungnya yang tenang.
Rizki memang bukan cuma pacar.402Please respect copyright.PENANA2SUQ6UoFnk
Dia adalah rumah.402Please respect copyright.PENANAiE7Yw5J4mN
Dia adalah kebaikan yang tak pernah habis.402Please respect copyright.PENANAqMicQ6M46C
Dan aku… aku beruntung sekali bisa dicintai oleh orang sebaik dia.


