Siang itu matahari Nogososro bersinar terik, tapi di kamar Rizki lantai dua, udara terasa sejuk karena AC menyala pelan. Kami naik ke atas setelah mandi bareng tadi pagi, tubuh masih hangat karena kenangan intim yang baru saja kami bagi.
Rizki cuma pakai celana pendek hitam yang longgar dan kaos oblong putih tipis yang nempel di dada bidangnya. Dia kelihatan santai tapi tetap seksi, otot lengannya kelihatan jelas setiap kali dia gerak.
Aku sengaja pilih outfit yang bikin dia nggak bisa lepas pandang, celana jeans ketat yang nempel di pinggulku, tapi atasnya? Telanjang dada sepenuhnya. Payudaraku yang kencang dan penuh terpapar bebas, putingnya sedikit mengeras karena angin AC.
Aku mau dia lihat “kesukaannya” sepanjang hari, mau dia terus ingat bahwa tubuh ini miliknya.
“Kamu nakal banget sih, Lin,” kata Rizki sambil tersenyum sambil naik ke tempat tidur. Matanya nggak bisa bohong, langsung tertuju ke payudaraku. “Sepanjang hari liat ini… aku bisa gila, Sayang.”
Aku naik ke atas kasur, merangkak mendekatinya lalu memeluk pinggangnya erat. “Biarin aja, Riz. Ini hadiah buat bayi tua kesayangan aku. Kamu suka kan? Liat payudara aku yang selalu siap buat kamu hisap kapan saja.”
Aku sengaja goyangkan tubuh pelan, payudaraku bergoyang lembut di depan wajahnya. Rizki tertawa pelan, tangannya langsung meraih pinggangku dan menarik aku ke pelukannya.
“Kamu tahu aku nggak pernah bisa nolak, Lin. Aku cinta kamu… cinta semua bagian tubuh kamu. Kamu bikin aku merasa paling beruntung di dunia,” bisiknya romantis sambil mencium keningku.
Kami berbaring saling memeluk, kakinya menyilang di kakiku. Aroma tubuhnya yang segar setelah mandi bikin aku tenang. “Tidur siang yuk, Sayang. Nanti sore kita lanjut… apa pun yang kamu mau.”
Aku mengangguk, kepalaku bersandar di dadanya yang bidang. “Iya, Riz. Tapi janji… kalau kamu bangun duluan, jangan ragu ambil apa yang jadi milik kamu.” Kami tertidur dalam pelukan, napas kami selaras, hati kami semakin dekat setelah cerita malam karaoke kemarin.
Jam menunjukkan pukul 3 sore saat aku merasakan sensasi geli-geli yang nikmat di putingku. Rasanya hangat, basah, dan lembut. Aku mengerang pelan dalam tidur, tubuhku sedikit menggeliat.
Saat aku membuka mata pelan-pelan, pemandangan di depanku bikin hatiku meleleh sekaligus panas. Rizki lagi nyusu di payudaraku! Mulutnya mengulum puting kiriku dengan lembut, matanya masih merem, seperti bayi yang lagi nyari kenyamanan. Lidahnya bergerak pelan tanpa sadar, menghisap ringan tapi cukup buat bikin aku basah lagi di bawah sana.
“Bayi tua yang tampan… terus hisap, Sayang,” gumamku pelan sambil mengusap rambutnya dengan penuh kasih. Tangan kiriku memeluk kepalanya lebih dekat, jari-jari aku masukkan ke rambutnya yang lembut.
Rizki nggak langsung bangun, tapi hisapannya jadi lebih dalam, seperti mimpi indah yang nggak mau dia lepas. “Kamu lucu banget gini… tapi bikin aku sange lagi, Riz. Aku milikmu, terus aja… hisap milik kamu yang indah ini.”
Beberapa menit kemudian Rizki benar-benar bangun. Matanya terbuka pelan, tapi mulutnya masih nempel di putingku. Dia tersenyum malu-malu, pipinya merah. “Lin… aku mimpi nyusu kamu lagi. Eh beneran… maaf, Sayang. Kamu enak banget rasanya.”
Aku tertawa kecil, tanganku menarik wajahnya naik supaya kami bertatapan. “Nggak usah minta maaf, Riz. Ini milik kamu. Aku sengaja telanjang dada biar kamu bisa kapan saja. Hasratku belum sepenuhnya padam dari pagi tadi. Aku masih mau kamu… mau servis kamu lagi.”
Rizki matanya langsung berbinar penuh api cinta dan nafsu. “Kamu serius, Lin? Aku juga… aku nggak pernah cukup sama kamu. Aku cinta kamu lebih dari apa pun. Kamu bikin aku merasa hidup.”
Aku dorong tubuhnya pelan supaya dia telentang, lalu aku naik ke atasnya. Tangan aku langsung turun ke celana pendeknya, menarik resletingnya pelan sambil menatap matanya dalam-dalam. “Lepas dulu ini, Sayang. Aku mau oral lebih ganas hari ini. Aku mau bikin kamu kelojotan minta ampun.”
Celana pendeknya aku buang ke lantai. Penis Rizki sudah setengah tegang, langsung berdiri sempurna saat aku pegang dengan tangan kananku. Aku turunkan kepalaku, napasku hangat meniup ujungnya dulu. “Lihat ini, Riz… penis kesayangan aku yang besar dan enak. Aku mau lahap semua milik kamu.”
Aku mulai oral lebih ganas. Lidahku menjilat dari pangkal sampai ujung dengan gerakan cepat, basah, dan penuh nafsu. Mulutku mengulum kepalanya dalam, hisap kuat sambil lidah berputar di dalam. “Ampun sayang… Aahhh… Geli banget sumpah,” erang Rizki, suaranya serak penuh kenikmatan. Erangannya bikin aku semakin binal.
Aku dorong mulutku lebih dalam, sampai penisnya tenggelam sepenuhnya di tenggorokanku. Aku diam sejenak, biar dia rasain panas dan basah mulutku sepenuhnya, tapi lidahku tetap aktif di dalam, bergerak naik-turun, memijat batangnya dari dalam.
Rizki terus menggelinjang hebat. Tangannya mencengkeram sprei sampai kusut, pinggulnya naik-turun tanpa kendali. “Lin… ampun… oh… kamu bikin aku gila… aku cinta kamu… tapi ini… terlalu enak!” Aku puas banget dalam hati, liat cowok tampan aku ini kelojotan karena mulutku.
Penisnya masih di dalam mulutku sepenuhnya, tanganku bergerayang di sekitarnya, meremas testisnya pelan, jari telunjukku sesekali menyentuh anusnya yang masih basah dari pagi. Beberapa kali Rizki mengangkat pinggulnya tinggi, mendorong lebih dalam ke tenggorokanku. “Lin… Ampun… aku nggak tahan lagi, Sayang!”
Aku rasain penisnya berdenyut-denyut, hampir orgasme. Tapi aku lepaskan tepat waktu, mulutku lepas dengan suara “plop” yang basah. Aku tersenyum nakal sambil naik ke atas tubuhnya. “Belum boleh keluar dulu, Riz. Aku mau kita keluar bareng.”
Aku buka kancing celana jeansku cepat, tarik resletingnya, lalu geser celana itu ke bawah bersama celana dalamku. Vaginaku sudah basah kuyup, siap menyambutnya. Aku pegang penis Rizki yang basah oleh ludahku, arahkan ke lubangku, lalu turun pelan sampai masuk sepenuhnya. “Aahh… Riz… penismu pas banget di vaginaku,” desahku sambil mulai goyang pinggulku naik-turun dengan ritme lambat dulu.
Rizki pegang pinggangku, matanya menatapku penuh cinta. “Lin… kamu luar biasa… gerakkan aja sesuka kamu, Sayang. Aku mau liat kamu bahagia.”
Aku sodorkan payudaraku ke wajahnya. “Terus Riz, hisap yang kenceng. Ini milikmu selamanya… hisap sambil aku goyang buat kamu.” Rizki langsung mengulum putingku kiri dengan kuat, tangan kanannya meremas yang kanan.
Hisapannya sinkron dengan goyanganku, setiap aku naik-turun, dia hisap lebih dalam. Aku percepat gerakan, pinggulku bergoyang liar, vagina ku kepit penisnya erat setiap turun. “Iya… gitu Sayang… hisap lebih kenceng… bikin aku klimaks bareng kamu!”
Kami bergerak semakin cepat. Keringat kami bercampur, napas kami saling berkejaran. “Lin… aku mau keluar… bareng kamu ya?” erang Rizki di antara hisapan. “Keluar di dalam, Riz… isi aku penuh… aku cinta kamu!” jawabku sambil goyang lebih ganas.
Kami orgasme bersamaan. Tubuhku menegang hebat, vagina ku berdenyut kuat menggenggam penisnya. Rizki menyembur hangat di dalamku, dalam-dalam, sambil erang panjang namaku.
Aku ambruk di atas dada Rizki, tapi vagina ku masih nggak aku lepas, masih menjepit penisnya yang masih berdenyut. Aku cium terus wajahnya yang tampan, ciuman bibir yang dalam, lidah kami bermain liar. “Kamu hebat, Sayang… aku bahagia banget sama kamu,” bisikku di antara ciuman.
Rizki balas memelukku erat, tangannya mengusap punggungku. “Aku yang bahagia, Lin. Kamu kasih aku segalanya. Cinta aku sama kamu nggak akan pernah habis.”
Kami berbaring sebentar, saling memandang dengan senyum puas. Lalu aku tarik dia bangun. “Yuk mandi bareng lagi, Riz. Biar kita segar buat malam nanti.”
Di kamar mandi, air hangat mengalir di tubuh kami. Kami sabunan satu sama lain dengan penuh kasih, tangan Rizki membersihkan payudaraku dengan lembut, aku membersihkan penisnya yang masih setengah tegang. “Kamu cantik banget basah gini, Sayang,” katanya sambil mencium leherku. “Dan kamu tampan banget, Riz… milik aku yang paling sexy,” balasku nakal sambil mencium dadanya.
Setelah mandi, kami turun ke bawah. Aku pakai kaos oblong Rizki yang longgar (masih telanjang di dalam), dia pakai celana pendek lagi. Kami bikin minum di dapur, es teh manis dingin buat berdua. Duduk di meja makan, kami ngobrol kecil sambil minum. “Lin, hari ini aku merasa paling lengkap. Kamu bikin setiap detik jadi spesial,” kata Rizki sambil pegang tanganku.
Sore berlalu dengan pelukan di sofa, cerita ringan tentang masa depan kami. Malam harinya, jam 7 lewat, kami jalan-jalan kaki di sekitar Nogososro. Udara malam sejuk, tangan kami saling genggam erat. “Jalan sama kamu kayak gini… rasanya seperti mimpi, Sayang,” kataku sambil bersandar di bahunya.
Rizki mencium punggung tanganku. “Ini bukan mimpi, Lin. Ini nyata. Aku mau jalan sama kamu setiap malam, selamanya.”
Kami mampir ke kafe kecil deket rumah Rizki, tempat favorit lokal yang romantis dengan lampu-lampu kuning hangat. Kami pesan cah kangkung yang segar dengan saus tiram yang pas, dan gurame bakar ukuran besar yang masih mengepul panas, dagingnya empuk, kulitnya kriuk, disiram sambal kecap pedas yang nendang. Kami duduk di meja pojok, cahaya lilin kecil di tengah meja bikin suasana semakin intim.
“Gurame ini enak banget, Riz. Tapi nggak seenak kamu,” kataku nakal sambil suapin dia. Rizki tertawa, matanya penuh cinta. “Kamu juga lebih enak dari apa pun, Lin. Tapi malam ini kita makan dulu… nanti di rumah aku traktir lagi yang lebih panas.”
Kami makan sambil ngobrol panjang. Rizki cerita tentang rencana masa depan kami, aku cerita tentang mimpi-mimpiku. “Aku mau bangun setiap pagi liat kamu, Riz. Mau tidur setiap malam di pelukan kamu. Kamu adalah rumah aku,” kataku tulus.
Dia pegang tanganku di atas meja. “Dan kamu adalah segalanya buat aku, Lin. Cinta aku sama kamu semakin hari semakin besar. Terima kasih udah percaya sama aku, udah bagi semua cerita, semua hati, suatu kebahagiaan buatku.”
Makan malam selesai dengan perut kenyang dan hati penuh. Kami pulang berjalan kaki lagi, tangan saling peluk pinggang. Di rumah, kami naik ke kamar lagi, tapi malam itu kami cuma pelukan dan ciuman lembut, karena kami tahu, besok masih ada hari baru untuk cinta yang lebih dalam.
“Selamat malam, Sayangku. Aku cinta kamu,” bisik Rizki sambil memelukku dari belakang.
“Selamat malam, Riz. Kamu adalah napas aku,” balasku sambil mencium tangannya.
Malam itu aku menginap di rumah Rizki, kami tidur dengan damai, tubuh saling menempel, hati semakin menyatu. Cinta kami bukan cuma panas di siang hari, tapi juga hangat dan romantis di malam yang tenang. Besok? Kami akan buat kenangan baru lagi, karena bersama Rizki, setiap hari adalah petualangan cinta yang sempurna.
ns216.73.216.250da2


