Aku membuka mata pelan-pelan, jam dinding di kamar menunjukkan pukul 08.00 pagi. Kepalaku masih sedikit pusing, sisa-sisa semalam yang penuh tawa, lagu, dan minuman yang mengalir deras di karaoke Sriwijaya.
Tubuhku terasa lengket, tapi ada kehangatan aneh di dada, campuran antara penyesalan kecil dan rasa bahagia yang nggak bisa dijelaskan. Aku bangkit dari tempat tidur, rambut masih acak-acakan, memakai kaos oversize milikku yang longgar. Langkahku pelan menuju ruang tamu.
Aku keluar kamar pelan-pelan. Di ruang keluarga, Rizki sudah duduk di sofa sambil memeluk bantal, nonton Dragon Ball di TV. Raka dan Riki duduk di pangkuannya, ketawa-ketawa sambil nunjuk-nunjuk Goku yang lagi bertarung.
Rizki sendiri ikut ketawa kecil, mukanya polos kayak bocil umur 12 tahun. Aku senyum sendiri dari ambang pintu. “Pacarku yang satu ini… selalu bisa bikin aku luluh.” Gumamku dalam hati.
Aku mendekat dari belakang, tanpa suara. Tanganku menyentuh bahunya pelan, lalu cepat aku menunduk dan mencium pipinya. Ciuman singkat, lembut, penuh kasih. Rizki langsung kaget, badannya sedikit tersentak. Matanya membulat, tapi dia nggak bergerak karena bocil-bocil itu masih di sana.
“Sudah bangun, Sayang? Bagaimana semalam? Kamu pulang jam berapa?” tanyanya pelan, suaranya lembut seperti biasa, penuh perhatian. Aku bisa lihat dia khawatir, tapi berusaha santai supaya anak-anak nggak curiga.
Aku usap rambutnya pelan. “Nanti kuceritain ya. Aku mandi dulu, habis itu kita ke rumah kamu. Ceritanya panjang, Riz.”
Rizki bengong sebentar, matanya menatap aku dari atas ke bawah. Aku sengaja kedip genit, lalu putar badan pelan sambil berjalan ke kamar mandi. Aku tahu dia lagi ngeliatin aku, dan itu bikin aku senyum sendiri.
Di dapur, Mbak Har lagi bikin teh hangat. Begitu liat aku, dia langsung nyengir. “Semalam kemana aja sih Lin? Kasihan Rizki sendirian sampe tertidur di sofa loh. Raka sama Riki juga nanyain kamu terus.”
Aku ketawa kecil sambil ambil gelas. “Ada acara sama temen-temen cewek, Mbak. Karaokean di Sriwijaya. Maaf ya, pulangnya agak malam.”
Mbak Har geleng-geleng kepala tapi matanya penuh sayang. “Ya udah, yang penting aman. Rizki baik banget nungguin kamu semalaman.”Aku mandi cepat, air dingin mengalir di tubuhku, membersihkan sisa malam tadi.
Pikiranku melayang ke Rizki, cara dia selalu sabar nungguin aku, cara dia mencintai aku tanpa syarat. Setelah selesai, aku pakai dress santai berwarna krem yang Rizki suka, rambut basah aku biarin tergerai. “Riz, yuk ke rumah kamu,” ajakku sambil menarik tangannya pelan. Bocil-bocil protes sebentar karena Dragon Ball belum selesai, tapi Rizki janji nanti lanjutin bareng.
Kami boncengan naik Vixion-nya. Sebelum sampai rumah, Rizki berhenti di warung bubur ayam langganannya. “Sarapan dulu yuk, Lin. Kamu pasti belum makan.”
Kami duduk di bangku kayu, Rizki suapin aku bubur ayam yang masih hangat. Aku balas suapin dia sambil ketawa kecil. Rasanya seperti biasa, hangat, tenang, dan penuh sayang.
Sampai rumah mewah Nogososro yang sepi, aku langsung tarik Rizki masuk. Pintu kamar tamu aku tutup pelan. Aku duduk di sofa ruang keluarga, tarik Rizki duduk di sebelahku. Aku buka kaosku pelan, tinggal tank top tipis. Rizki diam saja, matanya lembut tapi penuh perhatian.
Selesai sarapan, kami lanjut ke rumah. Begitu pintu tertutup, aku langsung tarik Rizki ke sofa ruang keluarga. “Ini dompet kamu, Sayang,” kataku sambil ngasih dompet miliknya yang semalam aku bawa. “Kok nggak dipakai, Lin?” Tanyanya heran.
Aku duduk di pangkuannya, tanganku memeluk lehernya. “Semalam Nita yang traktir semua, Riz. Dia lagi seneng banget, jadi aku nggak perlu keluar duit. Tapi… ada yang lebih penting dari itu.” Aku buka baju pelan-pelan, dress kremku meluncur ke lantai.
Payudaraku yang masih kencang dan penuh terpapar di depannya. Rizki duduk diam di sofa, matanya nggak berkedip.
498Please respect copyright.PENANAkLwNPOVg0R
“Ayo, Sayang… sedot payudaraku. Aku sudah sange banget dari semalam,” bisikku sambil memaksa kepalanya mendekat. Rizki tersenyum malu-malu, tapi matanya penuh nafsu. “Kamu selalu bikin aku gila, Lin. Aku cinta banget sama kamu,” katanya lembut sebelum mulutnya menyentuh putingku.
Satu jam penuh Rizki main dengan payudaraku. Lidahnya menari pelan di sekitar puting, mengisap lembut lalu kuat, tangannya meremas yang satu lagi dengan penuh kasih. Aku mendesah panjang, tubuhku melengkung. “Riz… lebih dalam, Sayang… aku milikmu selamanya,” gumamku di antara desahan.
Akhirnya aku klimaks pertama kali pagi itu, tubuhku bergetar hebat, cairan hangat mengalir. Enak banget, seperti semua ketegangan semalam hilang dalam pelukannya.
Aku baru cerita semuanya ke Rizki. Tentang karaoke yang semakin panas, tentang mereka buka baju satu per satu, tentang aku yang akhirnya ikut-ikutan karena sudah agak mabok, tentang desahan dan suasana yang liar. Aku cerita sambil sembunyi di lehernya, suaraku kecil.
“Pantesan kamu pulang begini, Lin. Kamu kuat banget, Sayang. Aku bangga sama kamu,” kata Rizki sambil meringis pelan, tangannya mengusap rambutku. Aku mengangguk, mencium bibirnya dalam. “Iya… tapi aku nahan. Aku cuma pengen pulang ke kamu.”
Rizki bangun mau mandi, tapi aku rangkul pinggangnya dari belakang sebelum dia masuk kamar mandi. “Cepetan ya, Sayang… nanti aku kasih sesuatu yang spesial,” bisikku di telinganya, napasku hangat.
Rizki bengong, badannya langsung tegang. “Kamu nakal banget hari ini, Lin. Tapi aku suka… aku suka semua sisi kamu.”
Setelah Rizki selesai mandi dan keluar dari kamar mandi dengan handuk di pinggang, aku langsung bilang sambil tertawa genit, “Nggak usah pakai baju, gitu aja! Aku mau liat tubuh kamu yang indah seharian.” Rizki kaget, tapi cuma angguk-angguk malu, lalu mendekatiku. Handuknya jatuh, penisnya sudah setengah tegang.
Aku servis Rizki dengan penuh cinta. Aku dorong dia duduk di sofa lagi, lututku di lantai. Tangan kananku memegang batang penisnya yang panjang dan tebal, mengocok pelan dari bawah ke atas dengan gerakan memutar. “Lihat ini, Sayang… ini milikku sepenuhnya,” kataku romantis sambil menatap matanya.
Lidahku mulai menjilat ujungnya pelan, lingkaran kecil di kepala penis, rasa asin manisnya bikin aku semakin basah. Rizki mendesah, “Lin… kamu bikin aku gila… aku cinta kamu lebih dari apa pun.”
Lalu aku masuk ke bagian yang dia suka, oral di sekitar anus. Aku angkat kakinya pelan, posisi dia setengah rebahan di sofa. Lidahku turun ke bawah, menjilat perineumnya dengan gerakan lambat, naik-turun seperti gelombang. “Rileks, Sayang… biar aku kasih kenikmatan yang belum pernah kamu rasain,” bisikku.
Gerakan lidahku makin dalam: aku tekan ujung lidah ke anusnya, memutar pelan searah jarum jam, lalu berlawanan.
Tangan kiriku tetap mengocok penisnya ritmis, naik-turun, kadang squeeze pelan di pangkal. Aku hisap lembut kulit di sekitar anus, lidahku menari masuk sedikit, keluar, sambil napasku meniup hangat ke area itu. Rizki menggelinjang, tangannya memegang rambutku, “Lin… Ya ampun… kamu luar biasa… aku nggak tahan… aku milikmu selamanya.”
Sambil lidahku sibuk di anus, aku geser tubuhku naik. Payudaraku yang besar dan lembut aku cepit di penisnya. Aku tekan kedua payudara ke tengah, penisnya masuk di antara lembah itu, kulit halus payudaraku membungkusnya rapat.
Aku gerakkan tubuhku ke atas-bawah, payudaraku naik-turun menggesek batangnya, putingku sesekali menyentuh kepala penisnya yang basah. Lidahku tetap menjilat ujungnya setiap kali naik.
Gerakan tubuhku sinkron: pinggulku bergoyang pelan, tangan kananku memegang payudara kiri untuk tekan lebih erat, sementara mulutku hisap dan jilat tanpa henti. “Rasain ini, Sayang… payudaraku cuma buat kamu… aku mau kamu lepas di sini,” kataku dengan suara serak penuh cinta.
Rizki orgasme pertama kali, tubuhnya menegang, sperma hangat menyembur ke payudaraku, beberapa tetes ke leherku. “Lin… aku cinta kamu… kamu bikin hidupku sempurna,” desahnya sambil napas tersengal.
Gantian aku yang diservis. Rizki baringkan aku di sofa, lidahnya menjelajah seluruh tubuhku. Dia mulai dari leher, turun ke payudara, mengisap putingku lagi dengan lembut. Lalu ke perut, dan akhirnya ke vaginaku yang sudah basah kuyup. “Kamu selalu enak, Sayang… aku bisa nikmatin ini seumur hidup,” katanya romantis.
Lidahnya menari di klitorisku, gerakan memutar cepat, lalu hisap pelan, jarinya masuk dua ke dalamku sambil melengkung cari titik G. Aku orgasme lagi, lebih kuat, jeritanku penuh namanya, “Rizki… aku milikmu… selamanya!”
Setelah itu, kami berhubungan intim di sofa ruang keluarga dengan berbagai gaya. Pertama Rizki di atasku, matanya menatap dalam sambil dorong pelan tapi dalam. “Aku sayang kamu, Lin… setiap detik,” bisiknya setiap dorongan. Aku orgasme sekali, sampai kuku mencakar punggungnya.
Lalu aku berlutut, Rizki dari belakang, tangannya meremas pinggulku sambil dorong kuat. “Kamu indah banget dari sini, Sayang… aku nggak pernah bosan,” katanya. Aku orgasme lagi, tubuhku gemetar.
Kami ganti posisi lagi, kali ini aku di atas, gerak pinggulku naik-turun pelan, tanganku di dadanya. “Lihat aku, Riz… aku lagi bikin kamu bahagia,” kataku sambil tersenyum. Rizki pegang pinggangku, bantu gerakan.
Dia orgasme kedua kalinya di dalam, hangat dan penuh. Aku orgasme ketiga dan keempat kali, tubuh kami menyatu sempurna.
Kami berbaring kelelahan, napas saling bercampur. Rizki memelukku erat, “Lin, terima kasih udah cerita semuanya. Aku percaya sama kamu, dan aku cinta kamu lebih dari apapun. Kita akan selalu begini, terbuka, saling kasih, saling nikmatin.”
Aku balas pelukannya, air mata bahagia mengalir pelan. “Aku juga, Riz. Kamu adalah segalanya. Malam karaoke kemarin cuma bikin aku sadar, nggak ada yang lebih baik dari pelukan kamu. Kita lanjut cerita hidup kita yang romantis ini selamanya ya?” Rizki tersenyum bahagia. "Deal, selamanya. Aku Janji."
Kami menghabiskan sisa pagi dengan pelukan, cerita kecil, dan janji-janji manis. Cinta kami semakin matang, semakin panas, semakin romantis.
ns216.73.216.250da2


