Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan. Kelas 3 IPS 2 yang dulu terasa seperti neraka kecil, sekarang malah jadi lebih menyenangkan.
Geng Ismi semakin besar. Cindi dan Ningrum ikut gabung, Lia yang dulu pendiam sekarang sering ikut ketawa, Doni cowok yang suka bercanda kasar, dan aku tentunya.
Di kelas kami sering iseng bareng, lempar kapur ke anak-anak kuper, ganti bangku seenaknya, godain Finda yang masih sangean. Tapi di luar kelas, aku tetap Lina yang sama. Masih pulang bareng Rizki, masih nongkrong santai sama Bayu dan Iqbal.
Hari ini ujian terakhir mid semester baru saja selesai. Begitu bel pulang berbunyi, Nita langsung nyamperin mejaku sambil nyengir lebar.
“Malam Minggu kita happy-happy yuk! Karaokean di Family Karaoke Jl. Sriwijaya. Cewek-cewek aja. Kamu ikut kan, Lin?”
Aku ragu sebentar, tapi akhirnya ngikut. “Boleh deh.”
Sabtu siang, pas Rizki antar aku pulang bareng naik motor, aku cerita di tengah jalan. Sorenya kami kebetulan lagi bantu Mbak Har bikin keripik singkong di teras belakang.
“Riz… Nanti malam Ismi ngajak karaoke cewek-cewek di Sriwijaya. Boleh nggak?”
Rizki berhenti iris singkong, tatap aku lama. Matanya masih khawatir, meski sudah lima bulan terakhir nggak ada kejadian aneh lagi sama geng Ismi. “Lin… aku masih mikir. Kamu tahu sendiri mereka kadang… liar.”
Aku pegang tangannya yang lengket getah. “Aku janji hati-hati. Cuma karaoke biasa kok.”
Rizki diam sebentar, lalu menghela napas. “Nanti malam aku kesini ya. Aku pertimbangkan dulu.”
Malam Minggu, Rizki datang ke rumah Pringgondani jam 7 lewat. Kami duduk di teras sambil ngobrol pelan. Setelah mikir panjang, akhirnya dia mengangguk.
“Ya udah… kamu boleh pergi. Lima bulan ini aman-aman aja, dan ini acara cewek-cewek. Tapi aku nggak anter. Kamu bawa motor aku aja.” Dia kasih kunci Vixion-nya, lalu ambil dompet dari saku jaket. “Ini dompet aku. Isinya kartu debit sama uang cash. Kalau ada apa-apa, pakai kartu debit. PIN-nya tanggal lahir kamu.”
Aku peluk dia erat. “Makasih ya Riz… udah izinin. Aku janji nggak lama.”
Rizki cium keningku lama. “Aku nunggu di sini sama Mbak Har, Mas Suryanto. Kabari kalau ada apa-apa.”
Aku naik Vixion Rizki, jantung berdegup kencang. Motornya besar dan berat, tapi aku bisa. Aku tancap gas pelan ke Family Karaoke di Jl. Sriwijaya.
Sampai sana, ruangan VIP sudah penuh suara. Ismi, Nita, Nixi, Galuh, Lia, Cindi sudah datang. Ningrum nggak bisa ikut karena ada acara keluarga. Musik dangdut koplo kenceng, lampu warna-warni berkedip, meja penuh botol Soju, Bir Bintang, Anggur Merah sama camilan.
Awalnya biasa aja. Kami nyanyi-nyanyi, goyang bareng. Ismi nyanyi “Goyang Dombret” sambil goyang pinggulnya yang liar. Nita nyanyi “Jandaku” sambil angkat tangan. Aku ikut ketawa, minum Soju campur es sedikit demi sedikit.
Tapi semakin malam, suasana semakin panas.
Ismi tiba-tiba berdiri di atas sofa, buka kancing bajunya satu per satu. Bra hitamnya kelihatan, lalu dia lepas begitu saja. Dada telanjangnya terpampang di bawah lampu merah. Tato mawar di pinggulnya kelihatan jelas. “Malam ini bebas! Mid semester udah selesai, ayo happy!”
Semua ketawa ngakak. Nita ikut buka bajunya. Payudaranya putih, putingnya pakai piercing kecil berbentuk hati yang berkilau. Aku kaget banget, tapi mereka sudah terbiasa. Galuh, Nixi, Cindi, Lia lama-lama ikut buka baju. Semua telanjang dada, goyang-goyang sambil nyanyi, tangan saling pegang, saling usap dada sendiri.
Aku masih pakai kaos lengkap. Mereka mulai godain. “Lin… ayo dong! Jangan sok polos! Kita semua temen kan?”
Karena sudah agak mabok, otakku mulai kabur. Aku nurut. Aku buka kaos, lalu bra. Dada 38D-ku langsung terpampang. Dingin AC kena kulit, tapi panas di dalam dada. Mereka tepuk tangan, tarik aku ke tengah.
Semakin malam, semakin gila.
Ismi duduk di pangkuan Nita, tangannya main di dada Nita sambil cium lehernya. Nixi goyang pinggul di depan Cindi, tangan saling usap. Galuh sama Lia saling peluk, dada mereka nempel, gerakan naik-turun pelan. Aku cuma ngikut-ngikut aja, bibirku kena ciuman ringan dari Ismi.
Suara desahan kecil mulai terdengar di antara lagu. Ismi, Nita, Nixi sampai klimaks satu per satu, tubuh mereka gemetar, napas memburu, tangan pegang sofa erat. Aku nggak sampai klimaks, tapi hasratku naik banget. Aku cuma bisa gigit bibir, nahan.
Malam makin larut. Beberapa sudah mabok berat, ada yang muntah di luar gedung. Aku masih cukup sadar. Aku stopin taksi buat Ismi, Cindi, sama Lia yang nggak bawa motor. “Pulang yang bener ya,” kataku sambil bantu mereka naik taksi.
Aku sendiri pulang naik Vixion Rizki. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Angin malam dingin, tapi tubuhku masih panas. Sepanjang jalan aku nahan hasrat yang membara setelah lihat tingkah mereka semua di karaoke tadi.
Sampai rumah Pringgondani, lampu teras masih nyala. Rizki sudah tidur di sofa ruang keluarga, tangannya memeluk bantal, napasnya pelan. Mbak Har dan Mas Suryanto sudah masuk kamar, Raka-Riki tidur di kamar belakang.
Aku masukin motor Rizki ke dalam rumah pelan-pelan, lalu tutup pintu. Aku mandi air dingin sebentar, ganti baju tidur, lalu naik ke kasur. Rizki masih tidur nyenyak di sofa. Aku pandangi sebentar wajahnya, rasanya damai banget wajah Rizki.
Aku masuk kamar. Aku tutup mata, tapi pikiran masih penuh kejadian di karaoke malam tadi.
Besok siang baru aku cerita semuanya ke Rizki.
ns216.73.216.250da2


