Semakin hari, aku makin akrab dengan geng Ismi. Awalnya cuma salaman dan senyum tipis, tapi lama-lama mereka mulai ajak ngobrol biasa. Ismi sering pinjam catatan, Nixi suka komentar rambutku “Lin rambutnya lurus banget, iri nih”, Nita ajak foto bareng pas istirahat.
Bahkan Lia, temen sebangkuku yang biasa-biasa aja itu, ikut-ikutan. Dia mulai duduk lebih deket ke kami, ketawa kecil kalau Ismi bercanda. Kelas IPS 2 yang dulu terasa dingin, sekarang jadi lebih ramai, meski masih agak aneh buat aku.
Malam Sabtu, Rizki lagi di rumah Pringgondani. Kami bantu-bantu Mbak Har bikin keripik singkong di teras belakang. Raka sama Riki lagi main bola kecil di ruang keluarga, ketawa-ketawa sambil lari-larian.
Rizki duduk di sebelahku, tangannya penuh getah singkong, bantu iris tipis-tipis. Mbak Har lagi goreng di wajan besar, bau minyak panas nyebar ke mana-mana.
Aku ambil kesempatan pas Mbak Har ke luar rumah ambil keripik mentah.
“Riz… besok malam Ismi ngajak aku sama Lia nongkrong di Simpang Lima. Boleh nggak?” Tanyaku pelan, sambil lirik matanya.
Rizki berhenti iris, tatap aku lama. Matanya khawatir, tapi nggak langsung nolak. “Lin… aku masih ragu. Geng Ismi itu… kamu tahu sendiri kan kemarin gimana. Aku takut mereka cuma pura-pura baik.”
Aku pegang tangannya yang lengket getah. “Aku tahu Riz. Tapi mereka udah minta maaf, udah baikan. Aku cuma mau coba liat dulu. Kalau nggak enak, aku pulang sendiri.”
Rizki diam sebentar, lalu menghela napas. “Ya udah… tapi aku anterin kamu. Kita jalan bareng sekalian pacaran hehehe. Biar aku liat sendiri.”
Aku langsung senyum lebar, peluk lehernya sebentar. “Makasih pangeranku. Aku janji hati-hati.”
Minggu malam, Rizki jemput aku jam 7.30. Kami naik motornya pelan-pelan ke Simpang Lima. Aku pakai kaos longgar sama celana jeans, rambut ku ikat ekor kuda. Rizki pakai jaket hitam simpel, tapi tetap kelihatan ganteng seperti biasa.
Sampai di Simpang Lima, tempatnya rame banget. Lampu neon warna-warni, musik dangdut koplo kenceng dari panggung kecil, warung-warung tenda penuh orang.
Ismi dan gengnya sudah nunggu di salah satu warung lesehan. Lengkap: Ismi, Nita, Nixi, Galuh, Finda, Iyus. Ada juga Cintya sama Rara dari IPS 3, Aida yang sekelas sama Rizki di IPS 1, plus beberapa anak komunitas motor yang aku nggak kenal namanya. Mereka lagi duduk lesehan di tikar, pesen es teh manis sama roti bakar.
Ismi langsung lambaikan tangan. “Lin! Rizki! Sini dong!”
Kami duduk di pinggir. Aku agak kikuk, Rizki juga. Ini bukan dunia kami, kami lebih suka nongkrong santai di Nogososro atau Pringgondani. Makan ayam bakar di warung tenda kecil, bukan di keramaian Simpang Lima yang penuh asap rokok dan musik kenceng.
Ismi sama Nita pakai baju berani banget: crop top ketat, celana pendek, bahu terbuka. Pas Ismi angkat tangan ambil es teh, bajunya naik sedikit. Kelihatan tato kecil di pinggulnya, gambar bunga mawar hitam. Aku kaget, tapi pura-pura nggak notice.
Rizki cuma pegang tanganku di bawah meja, jempolnya usap punggung tanganku pelan, kasih tahu aku kalau dia “selalu ada” untukku.
Mereka bercanda rame. Ismi cerita soal motor baru Finda, Nixi godain Aida yang lagi PDKT sama cowok dari SMA lain. Rara sama Cintya ketawa ngakak pas Galuh cerita kejadian konyol di sekolah.
Aku sama Rizki cuma ikut senyum, sesekali jawab kalau ditanya. Bukan kami nggak bisa bercanda, tapi… ini bukan vibe kami. Kami lebih nyaman berdua, atau bareng Bayu-Iqbal yang lebih santai.
Jam 11.30 malam, aku mulai ngantuk. Rizki langsung paham, bisik di telingaku, “Pulang yuk Lin?”
Aku mengangguk. Kami pamit ke Ismi dan gengnya. Ismi peluk aku sebentar. “Makasih ya Lin udah dateng. Besok-besok lagi ya!”
Kami naik motor pulang. Rizki pelan-pelan, angin malam dingin bikin aku peluk pinggangnya lebih erat. Sebelum sampai Pringgondani, Rizki berhenti di Warmindo deket rumahku yang masih buka.
“Kita makan dulu yuk, Lin. Aku laper,” katanya sambil nyengir.
Kami pesen mie rebus sama es teh manis. Duduk di meja pojok, cahaya lampu kuning bikin wajah kami hangat. Kami ketawa kecil ingat malam tadi.
“Asyik juga ternyata mereka,” kataku pelan. “Tapi… bukan dunia kita ya Riz.”
Rizki angguk, matanya lembut. “Iya Lin. Asyik buat sekali-kali. Tapi kamu tetap hati-hati ya. Kalau ada apa-apa lagi, langsung bilang aku. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa.”
Aku pegang tangannya di atas meja. “Aku janji. Makasih udah anterin aku malam ini.”
Dia cium keningku pelan. “Selalu, Lin. Kamu Pacarku.”
Kami pulang pelan-pelan. Rizki antar aku sampai depan rumah Pringgondani, peluk aku sebentar di teras sebelum pulang ke Nogososro. Malam itu aku tidur dengan hati lebih tenang.
Geng Ismi mungkin mulai jadi temen.451Please respect copyright.PENANAn0c585YWZH
Tapi persahabatan aku, Rizki, Iqbal dan Bayu tetap yang paling penting.


