Hari sabtu sore, aku nggak ngapa-ngapain. Nunggu malam mingguan terasa lama, aku ke dapur nemuin Mbak Har. “Mbak, hari ini bikin keripik?” Tanyaku sambil taruh sapu lantai.
Mbak Har geleng-geleng kepala sambil nyuci piring. “Singkongnya belum dianter sama Mbak Sum, paling besok baru ada. Kamu mau kemana?”
“Kalau begitu aku main ke rumah Rizki ya, Mbak.”
Mbak Har cuma senyum kecil, usap tangan ke celemek. “Ya udah, hati-hati di jalan. Jangan malam-malam pulangnya.”
Aku ketawa kecil. Aku pinjam sepeda Mbak Har karena hari ini nggak punya duit sama sekali, habis buat beli Make Up tadi siang. Jarak Pringgondani ke Nogososro nggak jauh, cuma dua puluh menit kalau lewat jalan tikus di belakang kampung. Lebih cepet dari pada naik angkot lewat Jl. Wolter Monginsidi. Angin siang panas, tapi aku seneng. Semakin deket Nogososro, dada aku semakin ringan.
Sampai di depan rumah mewah dua lantai Rizki, aku langsung parkir sepeda di halaman depan. Pintu pagar nggak dikunci, sudah biasa. Aku ngeloyor masuk kayak rumah sendiri. Dari halaman belakang terdengar suara Rizki lagi ngobrol sama Bagas sambil ngerapihin tanaman di pot.
Aku jalan mengendap-ngendap, kaki pelan biar nggak ketahuan. Bagas liat aku duluan, tapi dia cuma nyengir diam-diam, nggak bilang apa-apa. Aku langsung berdiri di belakang Rizki, tutup matanya pakai dua tangan.
Rizki ketawa kecil, langsung pegang tanganku. “Siapa nih yang nakal dateng diam-diam?” Dia sudah tahu kalau itu aku.
Dia balik badan, langsung angkat aku gendong erat. Aku jerit kecil kegelian, tangan peluk lehernya. Rizki berputar-putar sambil gendong aku di halaman belakang, rumput hijau berputar di sekitar kami. Kepala aku puyeng setelah dia berhenti.
Aku ketawa sambil pegang pipinya. “Kok tahu aku yang dateng?”
Rizki nggak jawab, cuma tersenyum lembut, lalu cium keningku lama sekali. Napasnya hangat di kulitku. Bagas nyengir lihat kami dari kejauhan, lalu pamit pulang. “Mas aku pulang dulu ya. Mari Mbak Lina.” Dia mengangguk sopan ke aku, lalu pergi. Bagas memang pengertian kalau aku sama Rizki lagi berduaan.
Kami masuk ke rumah. Rizki langsung ke dapur, ambil jus mangga dingin dari kulkas besar, lalu kentang goreng krispi dari dapur. Aku langsung ambil satu, gigit pelan. “Enak Riz… kamu bikin sendiri?”
“Iya, tadi iseng sama Bagas. Buat cemilan,” jawabnya sambil duduk di sebelahku di sofa ruang keluarga.
Kami makan sambil ngobrol pelan. Aku cerita lagi soal berantem sama Ismi kemarin. Suaraku kecil, tangan pegang gelas jus erat. “Aku takut Riz… di kelas nggak ada kamu, nggak ada siapa-siapa. Mereka liat aku kayak… sasaran empuk.”
Rizki taruh gelasnya, tarik aku ke pelukannya. “Kamu kuat Lin. Nggak usah takut. Kamu nggak salah. Kalau mereka keterlaluan lagi, aku yang turun tangan. Aku nggak bakal biarin kamu sendirian.”
Aku sandar di dadanya, dengar detak jantungnya yang tenang. Bersama Rizki, aku selalu merasa aman. Dia satu-satunya yang bisa manjain aku, yang cinta aku apa adanya, dan semua kekurangan aku. Dia nggak pernah malu, nggak pernah bandingin aku sama orang lain.
Hari berubah petang. Setelah Rizki mandi, dia keluar dari kamar dengan kaos oblong dan celana pendek. “Lin, kita makan di luar yuk? Kamu pingin makan apa?”
Aku nyengir, kedip-kedip manja. “Terserah kamu aja. Aku ngikut.”
Rizki ketawa kecil, ambil kunci motor. Kami keluar naik motornya pelan-pelan, nikmati malam Semarang yang mulai dingin. Angin malam bertiup lembut, rambutku beterbangan. Rizki berhenti di warung tenda pinggir jalan Sukarno-Hatta. “Kita makan ini aja ya Lin? Ayam bakar kampung.”
“Terserah kamu,” jawabku sambil peluk pinggangnya dari belakang.
Kami makan di meja kayu sederhana, cahaya lampu neon kuning menyinari wajah kami. Rizki suapin aku potongan ayam, aku suapin dia sambil ketawa kecil. Rasanya hangat, sederhana, tapi penuh.
Pulangnya, Rizki lihat toko mainan kecil yang rame banget di pinggir jalan. Lampu warna-warni nyala terang, masih diskon besar karena baru buka. Kami berhenti penasaran.
Rizki masuk, pilih-pilih mainan. Akhirnya ambil robot yang bisa berubah jadi mobil otomatis. Harga normal 150 ribu, karena diskon 200 dapat dua. Dia nyengir. “Buat Raka sama Riki. Mereka pasti seneng.”
Aku senyum liat dia. Raka anak Mbak Haryanah yang lagi umur empat tahun jalan, lincah banget. Riki adikku yang di rawat Mbak Har dari bayi. Usia mereka sama, sering dikira kembar sama orang.
Rizki antar aku pulang ke Pringgondani. Aku naik sepeda Mbak Har, dia di belakang naik motornya pelan, jaga jarak biar aku nggak takut. Sampai rumah, Mbak Haryanah sama Mas Suryanto lagi duduk di teras ngopi. Mereka langsung senyum liat kami.
“Nak Rizki, masuk dulu yuk. Minum kopi,” kata Mbak Har.
Rizki turun dari motor, duduk di kursi teras bareng kami. Kami ngobrol-ngobrol santai. Mbak Har cerita soal Raka dan Riki yang mulai bandel dan sering berantem, Mas Suryanto tanya Rizki soal sekolah. Rizki sudah akrab dengan keluargaku. Aku duduk di sebelah Rizki, tangan kami saling genggam di bawah meja.
Malam itu terasa hangat. Meski hari-hari di kelas 3 berat, pulang ke rumah seperti ini, ke pelukan Rizki, ke keluarga yang saling sayang, membuat semuanya terasa nyaman.
ns216.73.216.250da2


