Hari-hari di kelas 3 IPS 2, terasa seperti neraka kecil yang berbeda banget sama dulu waktu kelas 1 dan 2. Waktu itu kami berlima: Aku, Rizki, Bayu, Iqbal, Fitria, selalu sekelas.
Tiap hari rame, ketawa bareng, saling goda, saling ejek dan pulang bareng. Sekarang? Semuanya hilang. Kelas ini dingin meski rame, dan aku cuma bisa bertahan karena Rizki yang selalu jemput pas pulang.
Teman sebangkuku Lia. Siswi biasa-biasa aja, nggak mencolok, rambutnya selalu diikatnya asal, pakai kacamata, dan ngobrol sekedarnya. “Lin, buku Matematika pinjem dong,” katanya pelan. Aku kasih tanpa banyak omong. Dia nggak jahat, tapi juga nggak cukup deket buat jadi temen curhat. Aku tetap merasa sendirian.
Dan semenjak aku ikut ketawa pas sidak "vibrator" kemarin, aku jadi sasaran utama geng Ismi.
Mereka tahu aku pacaran sama Rizki, cowok paling tampan se angkatan, tajir, pintar. Aku sendiri tinggi 176 cm, langsing bak model, payudara gede yang selalu jadi bahan omongan, wajah lumayan cantik yang katanya “cocok banget sama Rizki”. Itu justru bikin mereka semakin kesel, semakin iri. Mereka nggak berani langsung ganggu Rizki, tapi aku? Aku jadi target empuk.
Hari ini, jam kosong, mereka mulai lagi.
Ismi berdiri di depan mejaku, tangan disilang, nyengir sinis. Galuh, Nita, Nixi, Finda mengelilingi dari belakang. Lia langsung pura-pura sibuk nulis catatan, takut ikut kena.
“Lin… kamu sudah ‘puas’ kan sama Rizki?” Kata Ismi sengaja keras biar semua denger. “Gantian kita-kita dong. Kasih Rizki pinjem sebentar aja, nggak bakal lama kok.”
Gengnya ketawa kecil. Finda tambah, “Iya Lin, dada kamu gede gitu pasti Rizki capek sendiri. Aku gantiin Rizki ya.”
Aku cuma diam membisu. Takut salah ngomong. Kalau ngomong dikira ngelawan, kalau diem dikira ngeledek. Aku pegang pinggiran meja erat, mata ke bawah.
Ismi marah. “Diajak ngomong nggak nyaut! Sok cantik ya sekarang?”
Aku angkat muka pelan, suaraku gemetar tapi lebih berani dari sebelumnya. “Aku nggak sok apa-apa. Aku cuma nggak mau ribut.”
Ismi langsung maju, tangannya naik cepat. tampar pipiku keras sekali. Suaranya nyaring di ruangan hening. Pipiku langsung panas, mata aku berkaca-kaca.
Tapi kali ini aku nggak diem.
Aku berdiri, tangan aku balas tampar pipi Ismi balik dua kali, keras. Dia kaget, matanya membelalak. Lalu kami langsung berantem. Satu lawan satu.
Aku tarik rambutnya, dia tarik rambutku. Aku dorong Ismi hingga jatuh ke lantai, tubuh dan tenagaku lebih besar. Lebih unggul dari Ismi.
Gantian kutarik kerah seragam Ismi, mata kami saling tatap. Gengnya Ismi cuma berdiri melingkar, nggak berani ikut campur karena tahu Rizki bakal marah.
Suara ribut bikin guru tahu. Bu Cici langsung lari dari kantor, masuk kelas pisahin kami. Kami berdua ditarik ke ruang BP.
Di ruang BP, Pak Usman duduk di kursi, muka serius.
“Ismi, Lina… kalian ini kenapa sih? Sudah besar kok masih berantem kayak anak SD.”
Ismi cuma nyengir sambil pegang kedua pipinya yang merah. “Dia yang duluan, Pak. Tampar saya.”
Aku langsung angkat suara, “Dia yang tampar saya duluan, Pak. Saya cuma bales.”
Pak Usman menghela napas panjang. “Kalian berdua salah. Tapi karena ini pertama kali, sekarang baikan. Saling minta maaf, sekarang.”
Ismi melirikku kesal, tapi akhirnya bilang pelan, “Maaf ya Lin.”
Aku mengangguk, suara kecil. “Maaf juga, Is.”
Pak Usman unjuk jari keluar ruangan. “Sudah!! Pulang kelas!! Jangan ulangi lagi. Kalau terjadi lagi, saya panggil orang tua kalian.”
Kami keluar ruang BP dengan pipi masih panas. Ismi dan gengnya langsung pergi ke belakang kelas. Aku kembali ke bangku, tangan gemetar. Lia cuma lirik aku pelan, bisik, “Lin… kamu berani banget.”
Aku cuma senyum tipis, tapi air mata sudah jatuh diam-diam.
Jam istirahat, aku langsung lari ke kantin. Rizki lagi duduk di kantin belakang sama Bayu. Begitu liat aku, dia langsung berdiri, mukanya khawatir.
“Lin? Pipimu merah… kenapa?”
Aku langsung peluk dia erat, nangis di dadanya. “Riz… Ismi tampar aku… aku bales… kami berantem… aku takut banget…”
Rizki peluk aku lebih erat, tangannya usap punggungku pelan. Matanya gelap, tapi suaranya tetap lembut buat aku. “Gapapa… kamu nggak salah. Aku ada di sini. Mulai sekarang tiap istirahat aku ke sini ya. Aku nggak mau kamu sendirian lagi.”
Dia bawa aku ke belakang kantin yang sepi, usap air mataku pakai jempolnya. “Kamu kuat, Lin. Kamu pacarku. Dan aku bakal jagain kamu.”
Sepulang sekolah aku cerita sama Mbak Har. Dia khawatir, tapi gak bisa apa-apa. “Lebih baik ngalah Lin, nggak usah cari ribut. Kita orang biasa, aku takut kalau ada masalah sama kamu di sekolah.”
ns216.73.216.250da2


