Rabu pagi, Rizki jemput aku seperti biasa di depan rumah Pringgondani. Motornya berhenti pelan, dia turun, lalu menghampiriku. Matanya langsung tahu aku masih tegang dari kemarin.
“Lin… hari ini pasti lebih baik,” katanya pelan sambil usap rambutku sebentar sebelum aku naik boncengan. Aku cuma mengangguk, peluk pinggangnya lebih erat dari biasa sepanjang jalan ke Kokrosono, sekolah kami.
Begitu masuk kelas IPS 2, suasana langsung tegang. Belum lima menit, Pak Usman. Guru BP yang galak tapi adil, masuk bersama wali kelas Bu Cici dan dua guru lain. Sidak tas seperti biasa tiap awal tahun pelajaran. Dulu waktu aku naik kelas 2 juga sama persis.
“Semua berdiri di depan kelas! Tas diletakkan di meja masing-masing!” suara Pak Usman menggelegar.
Kami semua buru-buru berdiri di depan pintu kelas. Aku berdiri di barisan tengah, tangan dingin. Pak Usman mulai dari ujung kiri, membuka tas satu per satu, cek bawaan siswa di tas mereka, ada rokok, ada HP, ada apa saja.
Sampai di depanku, beliau berhenti. Matanya langsung lembut.
“Lina… gimana kabar bapakmu, Lin?”
Aku menunduk sebentar, suaraku kecil. “Baik, Pak… sekarang Bapak tinggal sama istri barunya, semenjak Ibu meninggal.”
Pak Usman mengangguk pelan, tangannya tepuk pundakku ringan. “Iya… Bapakmu dulu temen masa muda saya, Tomo… Tomo. Kalau ketemu, bilang salam ya dari Pak Usman.”
“Iya Pak…”
Beliau lanjut ke tas siswa lain. Suasana kelas hening banget. Sampai tiba di tas Ismi yang diletakkan di meja paling belakang.
Pak Usman membuka ritsleting tas itu… lalu langsung membeku.
Semua mata langsung tertuju.
Di dalam tas Ismi, tergeletak jelas sebuah vibrator warna pink kecil dan sekotak kondom Durex yang masih segel.
Ruangan mendadak hening total.
Bu Cici langsung bertanya dengan suara tegas, “Ismi… ini apa?”
Ismi malah nyengir lebar, bahunya digoyang-goyang genit. “Itu buat garuk punggung, Bu… lagi gatel banget belakangan ini.”
Gengnya langsung meledak ketawa ngakak. Finda, Nixi, Galuh, Nita, Iyus, semuanya terbahak. Pak Usman cuma geleng-geleng kepala sambil senyum tipis, Bu Siti cuma menghela napas panjang.
Dan kesalahanku… aku ikut tertawa kecil. Cuma sebentar, tapi jelas terdengar.
Ismi langsung berhenti ketawa. Matanya menatapku tajam, penuh kesal. Tatapan yang bikin bulu kudukku berdiri.
Sidak selesai. Guru-guru keluar. Jam kosong berikutnya… aku tahu ini belum selesai.
Jam kosong ketiga, aku lagi duduk sendiri di bangku dekat jendela, pura-pura baca buku. Tiba-tiba Ismi dan gengnya sudah mengelilingi mejaku.
Ismi langsung tarik kerah baju seragamku dari belakang dengan keras. Kancing atas putus dua, kancing ketiga nyaris copot. Dada 38D-ku hampir terlihat. Aku langsung nutup dada dengan tangan, muka panas banget, malu setengah mati.
“Berani ketawa tadi ya, Lin?” suara Ismi dingin. “Pacar Rizki sih, berani banget.”
Nixi ikut tarik rambutku pelan. “Pake baju ketat terus, dada gede, sok polos, mau pamer?”
Aku cuma bisa diam, air mata sudah menggenang. Mereka ketawa lagi, lalu pergi begitu saja. Aku buru-buru nutup kancing yang masih bisa, tapi bajuku sudah berantakan. Aku nggak berani berdiri, takut semua orang liat.
Jam istirahat akhirnya datang. Aku langsung lari ke kelas IPS 1, cari Rizki. Aku nemu dia lagi di kantin belakang sama Bayu dan Iqbal. Begitu liat aku, Rizki langsung berdiri, muka khawatir.
“Lin? Kenapa? Mata kamu merah…”
Aku langsung peluk dia erat di depan semua orang, nggak peduli. Suaraku bergetar, “Riz… geng Ismi… mereka tarik bajuku… kancingnya putus… aku malu banget…”
Rizki langsung peluk aku lebih erat, tangannya usap punggungku pelan. Dia lihat bajuku yang berantakan, matanya langsung gelap. Tapi suaranya tetap lembut buat aku.
“Gapapa… aku ada di sini. Kita tukar baju ya. Kamu pakai bajuku, aku pakai seragammu.”
Kami berdua masuk ke WC belakang kantin yang sepi. Rizki lepas seragam putih abu-abunya, kasih ke aku. Aku pakai bajunya yang masih hangat dan bau parfumnya. Kebesaran, tapi langsung bikin aku merasa aman. Rizki pakai baju tipisku yang ketat di badannya, tapi dia cuma senyum kecil.
Dia peluk aku lagi di dalam WC itu, dahi kami saling tempel.
“Maaf ya Lin… aku nggak bisa jagain kamu di kelas. Tapi mulai sekarang, tiap istirahat aku di sini ya. Aku nggak bakal biarin mereka ganggu kamu lagi.”
Aku mengangguk di dadanya, air mata akhirnya jatuh. “Aku takut, Riz… tapi kalau sama kamu… aku kuat.”
Rizki cium keningku lama. “Kamu kuat, Lin. Kamu pacarku. Dan aku akan menjagamu. Kita hadepin bareng.”
Kami keluar WC dengan tangan saling genggam erat. Baju Rizki yang kebesaran di badanku terasa seperti pelukan dia yang terus-terusan.
Hari ini berat. Tapi aku tahu, sore nanti pulang bareng Rizki ke Nogososro… semuanya akan terasa lebih baik.
ns216.73.217.128da2


