Sepulang sekolah hari itu, Iqbal langsung pamit pulang setelah bonceng aku sampe depan rumah. “Lin, nanti sore kamu jadi ke rumah Rizki? Naik angkot gapapa kan? Aku mau Futsal bareng anak-anak.”
Aku mengangguk, tanda menyetujuinya. “Ya udah gapapa Bal, lagian deket kok ke rumah Rizki.”
Setelah aku mengganti seragam dan bantu beres-beres rumah, aku pamit sama mbak Har untuk main Rizki.
Aku naik angkot kesana dan berhenti tepat di depan rumahnya. Pintu depan udah terbuka sedikit, Rizki nunggu di teras sambil pegang dua gelas es teh. Dia senyum pas liat aku, langsung tarik tanganku masuk tanpa banyak omong.
Rumah sepi, Bagas yang bantu-bantu Rizki di rumahnya udah pulang. Cuma suara AC pelan dan angin dari jendela terbuka. Rizki bawa aku ke ruang keluarga lantai bawah, tapi bukan ke meja belajar. Dia ajak ke sofa panjang deket jendela yang menghadap taman kecil belakang rumah. Kami duduk berdampingan, dia tarik aku lebih deket sampai bahuku menyandar di dadanya.
Aku menyandar lebih dalam, tutup mata sebentar. “Riz… aku sedih banget. Kelas sendirian di IPS 2, nggak ada kalian. Aku takut nggak bisa fokus, takut nilai jelek lagi, takut ngerasa sendiri setiap hari.”
Rizki peluk aku dari samping, tangannya usap punggungku pelan-pelan. “Lin… liat aku.”
Aku angkat kepala, tatap matanya yang cokelat hangat, penuh perasaan.
“Kamu nggak sendirian,” lanjutnya, suaranya tegas tapi lembut. “Aku tahu rasanya takut sendirian. Dulu pas orang tua aku di Jakarta, rumah ini selalu sepi. Aku sering duduk di sofa ini sendirian, mikir ‘apa ada yang peduli kalau aku nggak ada?’ Tapi sekarang… setiap kali aku liat kamu, aku nggak ngerasa gitu lagi. Kamu bikin rumah ini hidup. Kamu bikin aku ngerasa dibutuhkan.”
Aku ngerasa sesak di dadaku karena haru. “Riz… aku juga takut kamu capek nemenin aku yang selalu butuh bantuan. Aku lambat nangkep pelajaran, nilai pas-pasan, sekarang kelas sendirian lagi. Kamu pasti mikir ‘kenapa aku pilih cewek kayak gini?’”
Rizki geleng kepala keras, tangannya angkat daguku pelan supaya aku tatap dia langsung.
“Jangan pernah bilang gitu lagi. Aku pilih kamu karena kamu Lina. Bukan karena nilai 90 atau pintar. Aku pilih kamu karena kamu berusaha meskipun susah, karena kamu ketawa lepas pas Iqbal bercanda garing, karena kamu peluk Riki pas dia nangis, karena kamu tetep maju meskipun takut. Itu yang bikin aku jatuh cinta setiap hari. Nilai bisa naik, pelajaran bisa dipelajari, tapi hati kamu yang hangat kayak gini… nggak bisa diganti sama siapa pun.”
Air mataku jatuh pelan. Aku pegang tangannya erat. “Aku juga sayang kamu, Riz. Kamu selalu ada pas aku butuh, selalu sabar, selalu bikin aku ngerasa aku cukup. Meskipun kelas sendirian, aku nggak takut lagi karena aku tau kamu nunggu di luar. Kamu nunggu di depan kelas, di kantin, di rumah ini. Kamu bikin aku ngerasa… rumah itu ada di mana pun kamu ada.”
Rizki senyum, mata berkilau. Dia tarik aku lebih dekat, sampai wajah kami hampir bersentuhan. Napasnya hangat di bibirku.
“Lin… aku janji, mulai hari ini, setiap sore kalau kamu butuh, kamu datang ke sini. Kita nggak harus belajar terus. Kadang cuma duduk kayak gini, pelukan, cerita, atau diem aja bareng. Aku mau kamu tau, rumah ini bukan lagi rumah sepi. Ini rumah kita berdua sore-sore. Tempat kamu bisa nangis kalau sedih, ketawa kalau seneng, atau cuma pelukan kayak gini tanpa omong apa-apa.”
Aku mengangguk, air mata jatuh ke pipinya. “Aku mau, Riz. Aku mau sore-sore kayak gini terus. Cuma kita berdua. Aku mau kamu jadi tempat aku pulang…”
Dia tarik aku ke pelukannya erat, tangannya usap rambutku pelan. “Kamu udah pulang, Lin. Setiap kali kamu di sini, kamu udah pulang.”
Kami diem sebentar, cuma pelukan. Tapi Rizki pelan-pelan angkat wajahku, tatap mata aku dalam-dalam.
“Boleh aku cium kamu lagi?” bisiknya, suaranya serak penuh perasaan.
Aku angguk kecil, jantung berdegup kencang.
Dia mendekat pelan, bibirnya menyentuh bibirku lembut dulu, seperti sentuhan ringan, penuh hati-hati. Tapi kali ini nggak berhenti di situ. Dia mendekat lebih lagi, bibirnya menekan lebih dalam, lembut tapi pasti. Aku balas pelan, tangan di lehernya, rasanya waktu berhenti. Ciumannya pelan-pelan jadi lebih dalam, lebih panjang, seperti dia mau bilang semua yang nggak bisa diucapin dengan kata-kata.
Aku ngerasa bibirnya hangat, napasnya bercampur sama napasku, tangannya usap punggungku pelan-pelan, tarik aku lebih dekat sampai badan kami saling menempel. Aku ikut mendekat, jari-jari di rambutnya, rasanya seperti gelombang hangat nyebar dari bibir ke seluruh tubuh. Ciuman itu nggak buru-buru, nggak kasar, tapi penuh, penuh rasa sayang, penuh janji. Kami pisah sebentar buat ambil napas, dahi saling nempel, napas tersengal pelan.
“Riz…” bisikku, suara serak.
Dia cium keningku dulu, lalu turun lagi ke bibirku. Kali ini lebih lambat, lebih dalam lagi. Bibirnya gerak pelan, seperti lagi ngerasain setiap detik.
Aku ikut gerak bareng dia, tangan di pipinya, rasanya dunia cuma kami berdua di sofa ini. Ciuman itu berlangsung lama, nggak terburu-buru, setiap kali kami pisah sebentar buat ambil napas, langsung balik lagi seperti nggak mau lepas. Bibirnya lembut, hangat, dan setiap sentuhan bikin aku ngerasa dicintai sepenuhnya.
Akhirnya kami pisah pelan, napas sama-sama tersengal. Dahi nempel erat, mata saling tatap deket banget.
“Aku sayang kamu, Lin,” bisiknya, suara bergetar. “Lebih dari apa pun. Aku mau kamu tau itu setiap hari.”
“Aku juga sayang kamu, Riz,” jawabku, suara pelan. “Selamanya. Kamu bikin aku ngerasa… lengkap.”
Kami rebahan di sofa, aku di pelukannya, kepala di dada dia. Dia usap rambutku pelan-pelan, cium keningku lagi. Kami diem lama, cuma denger detak jantung masing-masing, angin dari taman belakang, dan suara kota di kejauhan. Nggak ada kata-kata lagi yang dibutuhkan. Cukup kehadiran satu sama lain, pelukan hangat, dan rasa sayang yang nggak perlu diucapin lagi.
Malam itu, pas aku pulang, hati aku penuh. Kelas sendirian nggak lagi terasa menakutkan. Karena aku punya Rizki. Tempat pulang yang selalu ada, selalu hangat, selalu milikku.
ns216.73.216.250da2


