Hari pengumuman kenaikan kelas tiba dengan udara yang terasa lebih berat dari biasanya. Aku duduk sebangku dengan Fitria, jemariku dingin dan jantungku berdegup tidak keruan. Bu Slamet masuk membawa tumpukan rapot tebal, wajahnya serius saat mulai membacakan nama-nama yang berhasil lolos ke kelas 3.
Satu per satu nama disebut. Fitria lolos dengan nilai rata-rata 88 yang gemilang. Bayu 77. Iqbal 75, pas-pasan seperti biasanya, tapi dia tetap bersorak dalam hati. Rizki? Tentu saja dia lolos dengan nilai sangat bagus dan menduduki peringkat kedua.
Lalu, namaku disebut.
“Karlina… naik ke kelas 3 dengan nilai rata-rata 72. Selamat, kamu lolos!”
Aku langsung mengembuskan napas lega yang panjang. Mataku panas, rasanya ingin menangis karena senang. Tidak ada remedial! Nilai pelajaranku memang selalu di zona kuning, tapi itu cukup untuk membuatku tetap bertahan. Bu Slamet menatapku dengan senyum tipis yang penuh arti.
“Lina, kamu naik, tapi harus lebih giat lagi di kelas 3. Jangan puas dulu, ya.”
“Iya, Bu. Makasih, Bu,” jawabku cepat sambil mengangguk mantap.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa detik. Bu Slamet melanjutkan membacakan pembagian kelas baru.
“Kelas 3 IPS 1: Fitria, Bayu, Iqbal, Rizki, dan beberapa nama lain… Kelas 3 IPS 2: Karlina dan siswa lain…”
Duniaku serasa runtuh seketika. Aku langsung menoleh ke belakang dengan mata membelalak. Iqbal, Rizki, Fitria, dan Bayu... mereka semua berkumpul di IPS 1. Sementara aku? Aku terlempar sendirian ke IPS 2. Tidak ada satu pun dari geng kami yang menemaniku di kelas baru nanti.
Fitria langsung menggenggam tanganku erat, wajahnya cemberut. “Lin… kita terpisah? Aku kira kita bakal bareng terus sampai lulus.”
Iqbal berbisik pelan dari bangkunya, “Wah, serius? Aku pikir kita bakal satu kelas lagi buat bikin ribut. Kamu sendirian nih, Lin.”
Bahkan Bayu yang biasanya cuek sampai mengangkat tangan pelan ke arahku. “Ini nggak adil. Lina sendirian, kita berempat bareng di IPS 1.”
Saat Bu Slamet keluar kelas, Rizki langsung bangkit dari kursinya. Dia berjalan mendekat dan duduk di kursi kosong tepat di depanku. Dia menatap mataku dengan tatapan yang sangat serius, seolah ingin menyalurkan seluruh kekuatannya padaku.
“Lin… lihat aku.”
Aku mengangkat kepala, air mata mulai menggenang di pelupuk. “Riz… aku sendirian. Nggak ada kalian di sana. Aku takut nggak bisa. Kamu tahu sendiri aku lambat menangkap pelajaran. Biasanya kalian yang bantu; Fitria mengajariku, Iqbal bikin aku tertawa supaya nggak bosan, kamu kasih semangat... sekarang gimana?”
Rizki meraih tanganku dan menggenggamnya erat di bawah meja.
“Hey, kamu nggak sendirian beneran. Kita masih satu angkatan, satu sekolah. Pagi sebelum masuk kelas, kita ketemu di kantin. Istirahat kita bareng. Pulang sekolah tetap bareng. Kalau ada PR yang susah, kamu chat aku langsung, aku bakal ke kelasmu atau kita belajar di rumahku sore-sore. Aku janji, Lin, aku nggak bakal membiarkan kamu merasa sendirian di kelas 3.”
Fitria ikut memelukku dari samping, "Aku juga bakal bantu, Lin. Tiap sore kita kerjakan PR bareng. Kita tetap tim, meskipun ada tembok kelas di antara kita."
Siang itu, kami berlima berkumpul di kantin untuk terakhir kalinya sebagai siswa kelas 2. Iqbal memesankan bakso untuk semua orang, sementara Bayu mentraktir es teh sebagai perayaan naik kelas. Kami duduk melingkar, namun suasana kelas baru tetap menjadi topik utama.
Iqbal mengangkat gelas es tehnya tinggi-tinggi. “Buat kelas 3! Meskipun Lina sendirian di IPS 2, kita tetap satu geng. Nggak ada yang berubah!”
“Dan aku janji bawa camilan ke kelasmu tiap istirahat supaya kamu nggak kelaparan mikirin rumus,” tambah Bayu sambil nyengir.
Rizki menatapku lekat, lalu berbisik sangat pelan, hanya untuk telingaku. “Aku selalu ada, Lin. Setiap hari. Kalau kamu merasa down di kelas baru, ingat saja: aku bakal nunggu di depan kelasmu setiap jam istirahat. Kamu bisa lewati kelas 3 sendirian di dalam ruang kelas, tapi kamu nggak akan pernah sendirian di hati aku.”
Aku mengangkat gelasku, tersenyum meski mataku masih agak sembap. “Buat kita. Naik kelas bareng, meskipun aku harus berjuang di IPS 2. Tetap satu tim.”
Clink!
Gelas kami beradu.
Kelas baru mungkin akan terasa asing, dan aku mungkin akan merindukan candaan mereka di tengah pelajaran, tapi aku sadar: sahabat dan pacarku tidak pergi ke mana-mana. Mereka tetap ada di luar pintu kelas, menungguku di depan kelas, di kantin, dan di masa depan yang sedang kami susun pelan-pelan. Dan bagiku, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku berani melangkah maju.
ns216.73.216.250da2


