Setelah malam Minggu yang penuh kehangatan di rumah, dengan martabak, mainan buat Raka dan Riki, obrolan sama Mbak Haryanah dan Mas Suryanto, plus kejutan Iqbal yang datang tiba-tiba. Rasanya hubungan kami makin mantap.
Iqbal udah bilang “selamat” dengan caranya sendiri, dan Bayu chat singkat: “Oke lah, asal tetep traktir.” Kami resmi pacaran sekarang, meskipun masih pelan-pelan.
Rizki ajak kencan kedua seminggu kemudian, hari Sabtu sore. Dia bilang: “Kita ke pantai Marina aja, Lin. Main pasir, nonton sunset. Cuma berdua, nggak ada gangguan.” Aku langsung setuju, meskipun deg-degan lagi. Pantai Marina di Semarang emang romantis, terutama pas senja, langit jingga, angin laut sepoi-sepoi, dan suara ombak yang bikin tenang.
Aku pakai dress putih sederhana dan celana jeans panjang, rambut dibiarkan terurai karena angin pantai pasti enak. Rizki jemput jam 4 sore, naik motornya. Dia pakai kemeja linen biru muda yang digulung pas dilengan, celana pendek, dan bawa tas ransel gede. “Ini bekal piknik dari aku,” katanya sambil senyum.
Sepanjang jalan, aku bonceng erat. Angin sore bawa aroma garam laut, rambutku beterbangan. Aku menyandarkan kepalaku di punggungnya sebentar, rasanya aman.
Sampai pantai, Rizki parkir motor di area yang agak sepi. Kami jalan ke spot favoritnya. Hamparan rumput pendek dekat bibir pantai, nggak terlalu ramai. Dia gelar tikar kecil, keluarin isi tas: Beberapa snack, buah segar, dua botol air dingin, dan sekotak cokelat favoritku. Terakhir, dia keluarin speaker kecil Bluetooth, putar playlist lagu-lagu slow seperti “Perfect” Ed Sheeran dan “Can’t Help Falling in Love” versi Elvis.
Kami duduk berdampingan, kaki selonjor ke arah laut. Matahari mulai turun, langit jingga-oranye.
“Riz, ini romantis banget,” kataku pelan sambil ambil biskuit.
Dia senyum, tatap aku lama. “Aku pengen malam ini spesial. Karena setelah malam di rumahmu, aku ngerasa kita udah lewatin satu tahap besar. Keluarga kamu nerima aku, Iqbal nerima kita. Sekarang… aku mau fokus ke kita berdua.”
Seketika, hatiku hangat. “Aku juga. Aku ngerasa aman sama kamu, Riz. Kamu nggak cuma manis, tapi kamu berpikir panjang. Kamu jagain aku tanpa bikin aku ngerasa terkekang.”
Dia ambil tanganku, jemari kita saling kait. “Lin, aku mau bilang sesuatu. Aku nggak pernah bilang ini ke siapa-siapa sebelumnya. Aku… sayang kamu. Bukan cuma suka, tapi sayang beneran. Aku sayang cara kamu ketawa pas Iqbal bercanda garing, cara kamu peluk Riki pas dia nangis, cara kamu tetep kuat meskipun keluarga berantakan. Aku sayang semua bagian kamu, termasuk yang rapuh.”
Aku ngerasa mata panas, mau nangis, tapi hati senang. “Riz… aku juga sayang kamu. Dari dulu aku notice kamu selalu ada, meskipun diem. Kamu nggak pernah maksa, tapi selalu bikin aku ngerasa dipilih. Aku sayang kamu karena kamu liat aku apa adanya. Bukan cuma gadis tinggi berdada besar yang sering diledekin, tapi Lina yang kadang takut sendirian.”
Dia tarik aku pelan ke pelukannya. Aku menyandar di dadanya, denger detak jantungnya yang cepat. Ombak terdengar ritmis, matahari hampir tenggelam.
“Janji ya,” katanya pelan di atas kepalaku. “Kita jaga ini bareng. Kalau ada hari aku salah, kamu bilang. Kalau kamu capek, aku yang pegang tanganmu. Kita nggak harus sempurna, tapi kita harus saling pilih setiap hari.”
Aku angkat kepala, tatap matanya yang cokelat hangat. “Janji. Setiap hari aku pilih kamu, Riz.”
Dia tersenyum, lalu pelan-pelan mendekat. Bibirnya menyentuh bibirku lembut. Bukan yang buru-buru atau panas, tapi yang penuh perasaan, seperti janji diam-diam. Aku balas pelan, tangan di bahunya. Angin laut bertiup, ombak berbisik, dan dunia kayak berhenti sebentar.
Pas kami pisah, wajahnya merah, matanya berkilau. “Aku nggak mau malam ini berakhir,” katanya.
Aku ketawa kecil. “Masih panjang kok. Kita nonton bintang dulu.”
Kami rebahan di tikar, tangan saling gandeng. Matahari hilang, langit gelap penuh bintang. Playlist masih nyanyi pelan. Aku bersandar di bahunya, dia usap rambutku lembut.
Malam itu, di pantai Marina, kami nggak cuma kencan. Kami bangun sesuatu yang lebih dalam. Cinta yang dewasa, yang nggak takut bilang sayang, yang siap jaga satu sama lain.
Pas pulang, Rizki anter aku sampe depan rumah. Di depan pagar, dia peluk aku lagi.
“Terima kasih malam ini, Lin. Besok ketemu lagi ya.”
Aku mengangguk, cium pipinya pelan. “Besok ketemu. Aku tunggu.”
Dia naik motor, tapi sebelum pergi, dia balik badan. “Aku sayang kamu.”
Aku senyum lebar. “Aku juga sayang kamu, Riz.”
Motornya menjauh pelan, lampu belakang merah kecil di malam Semarang. Aku masuk rumah dengan hati penuh. Rasanya seperti mimpi yang nyata.
ns216.73.217.15da2


