Beberapa hari setelah kencan kedua di pantai Marina, hidup terasa lebih ringan. Aku dan Rizki resmi pacaran, tapi kami sepakat nggak mau terlalu mesra di depan orang lain, terutama Iqbal dan Bayu. Kami masih ingin geng berempat tetep seperti dulu, ribut, ejek-ejekan, dan saling jaga. Jadi, sore itu sepulang sekolah, Rizki usul sesuatu yang sederhana tapi bikin aku seneng.
“Lin, sore ini ke taman kota aja yuk? Bawa Iqbal sama Bayu. Kita piknik kecil, makan-makan, cerita-cerita. Biar mereka nggak ngerasa kita ninggalin mereka.”
Aku langsung setuju. “Ide bagus. Aku bawa bekal dari rumah, nanti aku minta mbak Har untuk bikin risol mayo yang banyak.”
Jam 3 sore, kami berempat kumpul di gerbang sekolah. Iqbal dan Bayu naik motor masing-masing, Rizki juga. Aku bonceng Iqbal seperti biasa. Rumah kami deket, jadi nggak aneh. Rizki cuma senyum tipis pas liat aku naik bonceng Iqbal, nggak cemburu, malah bilang, “Aman kok, Bal. Antar Lina pelan-pelan ya.”
Iqbal nyengir lebar. “Tenang, calon ipar. Aku jagain mbakku ini.”
Kami sampai taman kota dalam 15 menit. Taman ini favorit kami dari dulu, ada rumput hijau luas, pohon-pohon rindang, dan danau kecil di tengah. Sore itu matahari masih hangat, angin sepoi-sepoi, orang-orang lagi jogging atau main bola kecil di kejauhan.
Rizki gelar tikar gede yang dia bawa dari rumah, Iqbal langsung selonjoran sambil buka tasnya yang isinya keripik dan minuman soda. Bayu duduk cuek, tapi langsung ambil risol dari kotak yang aku bawa.
“Wah, risolnya Mbak Haryanah emang juara,” kata Bayu sambil ngunyah.
Iqbal langsung rebut satu. “Eh, jangan abisin! Lina bawa buat kita semua.”
Aku ketawa, duduk di sebelah Rizki. Jaraknya pas, nggak terlalu deket tapi cukup buat aku ngerasa nyaman. Rizki kasih aku botol air dingin dulu, seperti biasa.
Obrolan mulai mengalir santai. Iqbal cerita soal guru matematika yang lagi marah-marah tadi pagi, Bayu ngeledek Iqbal yang nilai ulangan jelek lagi. Rizki ikut ketawa, tapi matanya sering lirik aku pelan.
“Eh, kalian berdua sekarang gimana sih?” tanya Iqbal tiba-tiba, selonjoran sambil tatap langit. “Udah resmi pacaran kan? Nggak usah malu-malu lagi lah.”
Pipiku langsung terasa panas, tapi Rizki jawab duluan dengan tenang. “Iya, resmi. Tapi kami nggak mau berubah. Kami tetep sahabat kalian. Kalau kalian ngerasa canggung atau kecwa, bilang aja. Kami mundur kalau perlu.”
Bayu nyengir sinis. “Mundur apaan. Aku sih nggak masalah. Asal kalian nggak tiba-tiba gandengan tangan di depan aku terus. Aku mual.”
Iqbal ketawa ngakak. “Hooh! Aku setuju. Tapi serius deh, aku seneng liat kalian berdua. Rizki yang pendiam tapi perhatian, Lina yang kuat tapi kadang manja. Cocok banget. Cuma… jangan lupa ajak aku kalau lagi butuh temen curhat ya, Lin. Aku masih sahabat nomor satu loh.”
Aku senyum, mata agak panas. “Kalian tetep nomor satu, Bal. Kalian berdua. Rizki tau itu.”
Rizki mengangguk, pegang tanganku pelan di bawah tikar, nggak keliatan sama yang lain. “Iya... Kalian keluarga buat kami. Makasih udah nerima kami berdua.”
Suasana jadi hangat. Kami makan risol, keripik, minum soda sambil cerita masa kecil. Waktu Iqbal jatuh dari pohon pas main layangan, waktu Bayu pernah ketahuan nyontek tapi malah nyalahin gurunya, waktu aku nangis di belakang kelas karena kangen ibu. Rizki cerita sedikit soal rumahnya yang sepi, dan Iqbal langsung bilang, “Mulai sekarang, kalau lagi kesepian, langsung ke rumahku aja. Pintu selalu terbuka.”
Matahari mulai turun, langit jingga cantik. Kami rebahan di tikar, liat awan bergerak pelan. Iqbal mulai nyanyi fals lagu-lagu lawas, Bayu ikut-ikutan meskipun suaranya lebih parah. Rizki cuma ketawa, tangannya diam-diam genggam tanganku erat.
Aku bisik pelan ke dia. “Terima kasih ajak mereka, Riz. Ini kencan terbaik.”
Dia balas bisik. “Ini bukan cuma kencan kita. Ini kencan geng. Karena aku sayang kamu, aku juga sayang sahabat-sahabat kita.”
Sore itu di taman kota, kami berempat nggak cuma nongkrong biasa. Kami buktiin kalau cinta nggak harus bikin sahabat menjauh, malah bisa bikin semuanya lebih lengkap. Matahari tenggelam pelan, tapi hati kami terasa terang.
Pas pulang, Iqbal anter aku bonceng seperti biasa. Rizki naik motor di belakang kami, Bayu di samping. Kami jalan pelan, ketawa-ketawa sepanjang jalan. Geng berempat masih utuh, dan sekarang ada tambahan manis di dalamnya.
mau lanjut novel disini ya : https://victie.com/app/books/4811
ns216.73.217.15da2


