Malam Minggu ini terasa spesial dari pagi. Rizki chat sore-sore: “Lin, aku main ke rumahmu malam ini ya? Bawa martabak sama mainan buat Raka dan Riki. Pengen ngobrol sama keluargamu dulu, baru kita berdua.” Aku langsung senyum baca pesannya. Ini pertama kalinya Rizki main ke rumah secara resmi, bukan cuma anterin atau lewat depan gang. Aku bilang ke Mbak Haryanah, dia langsung excited. “Wah, calon adik ipar nih! Aku masak apa ya?” katanya sambil ketawa menggodaku.
Jam 7 malam, suara motor Rizki terdengar di depan rumah. Aku buru-buru buka pintu. Dia turun dari motor, bawa dua kotak martabak besar (satu keju, satu kacang coklat) dan tas kresek berisi mainan. Mobil-mobilan kecil buat Riki dan set Lego mini buat Raka. Wajahnya agak tegang, tapi senyumnya hangat pas liat aku.
“Lin… ini buat keluarga,” katanya sambil menyodorkan kotak martabak. “Aku takut mereka nggak suka, jadi aku bawa dua rasa.”
Aku ketawa kecil. “Mereka pasti suka. Masuk yuk.”
Di ruang tamu, Mbak Haryanah dan Mas Suryanto lagi duduk nonton TV bareng Raka dan Riki yang lagi main balok. Pas Rizki masuk, Riki langsung lari ke arahnya. “Om! Om!” Raka ikut-ikutan, malu-malu.
Rizki jongkok, kasih tas mainan. “Ini buat kalian berdua. Main bareng ya, jangan rebutan.” Riki langsung buka tas, seneng banget liat mobil-mobilan. Raka peluk kaki Rizki sebentar, terus lari ke Mbak Haryanah.
Mbak Haryanah senyum lebar. “Wah, Rizki! Duduk dulu, nak. Makasih ya martabaknya. Lin, tolong ambilin piring.”
Kami duduk melingkar di karpet, buka martabak. Aroma keju meleleh langsung nyebar. Mbak Haryanah potong-potong, kasih ke semua orang.
Obrolan mulai mengalir santai. Mbak Haryanah nanya soal sekolah, kuliah nanti, orang tua Rizki di Jakarta. Rizki jawab jujur, tanpa gengsi. “Orang tua saya sibuk dengan kerjanya, Mbak. Saya tinggal sendiri di rumah. Makanya seneng kalau bisa ke sini, rasanya kayak punya keluarga tambahan.”
Mas Suryanto mengangguk pelan. “Bagus kalau kamu mikir gitu. Keluarga nggak harus sedarah, tapi yang saling jaga. Lina anak baik, Rizki. Kami percaya kamu jagain dia.”
Rizki tatap aku sebentar, lalu balik ke Mas Suryanto. “Saya janji, Mas. Saya serius sama Lina. Saya nggak mau main-main.”
Mbak Haryanah senyum, tapi matanya berkaca-kaca sedikit. “Kalian berdua cocok. Lina sering cerita soal kamu, dari dulu. Aku tau kamu baik dari cara kamu perhatiin dia.”
Pipiku langsung merah, pura-pura sibuk makan martabak. Raka dan Riki udah main di pojok, ketawa-ketawa rebutan mobil.
Setelah martabak habis, Mbak Haryanah dan Mas Suryanto pamit ke dapur cuci piring, kasih kami ruang berdua di teras depan. Kami duduk di kursi kayu, angin malam sepoi-sepoi. Rizki pegang tanganku pelan.
“Lin… makasih udah izinin aku ke sini. Aku deg-degan banget tadi, takut Mbak Haryanah atau Mas Suryanto nggak setuju.”
Aku geleng kepala. “Mereka suka kamu, Riz. Dari cara kamu main sama Raka dan Riki, dari cara kamu ngobrol jujur. Aku seneng banget malam ini.”
Dia senyum, tarik aku lebih dekat. “Aku juga. Rasanya… lengkap. Kamu, keluargamu, martabaknya enak, semuanya.”
Kami diem sebentar, cuma denger suara jangkrik dan TV dari dalam rumah. Rizki mau bilang sesuatu lagi, tapi tiba-tiba suara motor berhenti di depan pagar. Lampu depan nyala terang, terus mati. Iqbal turun dari motornya, helm dilepas, mukanya kaget liat kami berdua di teras.
“Eh… Lin? Rizki? Kalian… di sini?” Iqbal bengong, mata bolak-balik ke kami yang lagi pegangan tangan.
Aku langsung lepas tangan Rizki, berdiri. “Bal! Kamu darimana malem-malem begini?”
Iqbal garuk-garuk kepala, nyengir canggung. “Aku lagi bosen di rumah, pengen ajak kamu nongkrong di warung. Tapi… kayaknya aku salah timing ya?”
Rizki ketawa kecil, berdiri juga. “Masuk aja, Bal. Martabaknya masih ada sisa, Mbak Haryanah lagi di dalam.”
Iqbal ragu sebentar, tapi akhirnya masuk. Mbak Haryanah keluar, senyum lebar. “Iqbal! Wah, lengkap nih malam ini. Duduk, Bal. Masih ada martabak.”
Kami balik duduk di ruang tamu. Iqbal ambil potongan martabak, makan sambil tatap kami bergantian. “Jadi… kalian berdua resmi ya sekarang? Aku tau dari Bayu, katanya kalian sering berdua akhir-akhir ini.”
Aku mengangguk pelan. “Iya, Bal. Kami lagi coba serius. Tapi kami nggak mau geng berubah. Kamu tetep sahabat aku, sahabat kita.”
Iqbal diem sebentar, terus senyum lebar. “Aku sih oke-oke aja. Seneng liat kalian berdua. Cuma… jangan lupa aku ya. Kalau kalian pacaran, tetep ajak aku nongkrong. Jangan berduaan mulu.”
Rizki tepuk bahu Iqbal. “Janji. Besok kita ajak Bayu juga, nongkrong bareng. Geng tetep nomor satu.”
Iqbal ketawa, suasana langsung cair lagi. Mbak Haryanah bawa teh hangat, kami ngobrol sampe malam. Iqbal cerita garing soal mimpi anehnya lagi, Rizki ketawa, aku ikut senyum. Malam Minggu yang tadinya cuma rencana sederhana, jadi malam penuh kehangatan keluarga, sahabat, dan orang yang aku sayang semua ada di satu tempat.
Pas Iqbal pamit pulang, dia peluk aku sebentar. “Jaga hati ya, Lin. Kalau Rizki nakal, lapor aku.”
Rizki ketawa. “Aku nggak bakal nakal, Bal.”
Iqbal naik motor, ngacungin jempol. “Selamat malam, calon ipar!”
Aku dan Rizki berdiri di depan pagar, liat motor Iqbal menjauh. Rizki peluk aku dari belakang pelan.
“Malam ini sempurna, Lin.”
Aku balik badan, peluk dia erat. “Iya. Terima kasih udah datang, Riz. Terima kasih udah jadi bagian dari semuanya.”
ns216.73.217.15da2


