Sabtu pagi, aku bangun dengan perut mules. Tadi malam di rumah Rizki kami sudah sepakat, hari ini kita bilang ke Iqbal dan Bayu. Nggak ada lagi sembunyi-sembunyi.
Dan siangnya, matahari Semarang rasanya lebih menyengat dari biasanya, atau mungkin cuma perasaanku saja yang sedang kebakaran karena grogi. Hari ini adalah harinya. Hari di mana aku dan Rizki sepakat untuk meletakkan semua kartu di atas meja. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi senyum-senyum sembunyi di balik HP.
Begitu bel pulang berbunyi, aku melirik Rizki. Dia mengangguk pelan, memberikan kode lewat matanya yang tenang, seolah-olah bilang, “Tenang, Lin. Semua bakal baik-baik saja.”
Kami berempat akhirnya berkumpul di "singgasana" kami. Meja kayu panjang di bawah pohon asem dekat kantin yang sudah mulai sepi. Iqbal sudah siap dengan es jeruknya, sementara Bayu asyik memutar-mutar kunci motor di jarinya.
“Tumben nih kumpul formal banget. Mau bagi-bagi warisan apa gimana?” Celetuk Iqbal sambil menyedot es jeruknya sampai bunyi srak-sruk.
Rizki menarik napas panjang. Dia tidak duduk di seberangku seperti biasanya, tapi dia memilih duduk tepat di sampingku. Tangannya di bawah meja sempat meremas jariku sebentar sebelum dia memulai bicara.
“Bal, Yuk... aku sama Lina mau ngomong sesuatu. Penting!!!”
Bayu berhenti memutar kunci motornya. Matanya yang tajam langsung beralih ke tangan Rizki yang (aku yakin mereka tahu) sedang ada di dekatku. Iqbal pun mendadak berhenti menyedot es jeruk. Suasana yang tadinya bising oleh suara anak-anak di kejauhan, mendadak jadi hening di meja kami.
“Jujur, kita berdua nggak mau ada rahasia di antara kita berempat,” lanjut Rizki, suaranya tetap rendah tapi tegas. “Aku sama Lina... kita sudah sepakat buat jalan bareng. Lebih dari sekadar sahabat. Kita sudah jadian.”
Aku menahan napas. Aku sudah siap kalau Iqbal bakal kecewa karena merasa dikhianati, atau Bayu yang bakal pergi karena merasa geng ini bakal bubar. Aku menunduk, menatap retakan di meja kayu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
“YEEEEEEEELAAAHHHH!!” Iqbal tiba-tiba menggebrak meja sampai es jeruknya hampir tumpah. “CUMA ITU?!”
Aku tersentak kaget. Bayu malah tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala.
“Riz, Riz... kamu pikir kita buta?” Bayu menyeringai sinis. “Dari cara kamu kasih es teh kurang manis setiap pagi saja, orang sekampung juga tahu kamu sudah 'nyemplung' ke Lina. Kita cuma nunggu kapan kalian berdua punya nyali buat ngaku.”
Iqbal ikut menyambar, “Iya! Kita mah nggak keberatan, Lin. Malah seneng kalau si Rizki yang dapet kamu. Daripada dapet cowok luar yang nggak jelas, mending sama 'aset' dalem negeri sendiri, kan?”
Rasa sesak di dadaku seketika menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa sampai aku ingin menangis sekaligus tertawa. Ternyata ketakutanku semalam di atas atap itu benar-benar tidak terbukti. Mereka jauh lebih dewasa dari yang kubayangkan.
Tapi, tentu saja, bukan Iqbal namanya kalau tidak ada "udang di balik bakwan".
“Tapi ya itu... ada syaratnya!” Iqbal mengangkat telunjuknya ke udara dengan gaya sok serius.
Rizki menaikkan alisnya. “Apa?”
“Pajak jadian!” Seru Iqbal semangat.
“Berhubung kamu sudah resmi memiliki 'primadona' kita, kamu harus tanggung makan siang kita di kantin sampai... hmm, sampai lulus!” Tambahnya.
Bayu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu Rizki. “Nah, itu setuju! Minimal seminggu tiga kali lah kita harus dapet asupan gizi gratis sebagai kompensasi karena sekarang kita bakal sering jadi nyamuk.”
Rizki tertawa lepas, sesuatu yang jarang dia lakukan dengan begitu bebas. Dia merangkul bahu Iqbal dan Bayu bergantian. “Beres! Dari kelas satu juga siapa yang traktir kalian terus? Nggak masalah, asal kalian jangan bosen ya kalau nanti sering aku tinggal mojok sama Lina.”
“Huuuuuu! Dasar bucin!” Teriak mereka berbarengan.
Aku hanya bisa tertawa lebar, menutup wajah dengan tangan karena malu tapi sangat bahagia. Di bawah bayangan pohon asam itu, aku menyadari satu hal: cinta memang indah, tapi persahabatan yang menerima apa adanya adalah segalanya.
Restu mereka bukan cuma soal traktiran soto atau es teh, tapi soal mereka yang tidak ingin kehilangan momen kebersamaan kami.
Rizki melirikku, matanya berbinar penuh rasa syukur. Sore itu, Semarang terasa tidak begitu panas lagi. Semuanya terasa pas. Geng Koplak masih utuh, bahkan sekarang makin lengkap dengan status baru kami.
Meskipun status kami sudah resmi di depan para sahabat, aku dan Rizki sepakat untuk tetap menjaga jarak yang sopan di dalam sekolah. Kami tidak ingin hubungan ini menjadi tontonan, atau lebih buruk lagi, mengundang teguran dari guru BK.
Biarlah dunia luar melihat kami sebagai sahabat yang solid, sementara di balik itu, cinta kami sedang mekar-mekarnya. Setiap pesan singkat, setiap curi-curi pandang di kelas, hingga rencana besar yang mulai disusun Rizki.
Termasuk sebuah rahasia besar yang belum kuceritakan pada siapa pun: Rizki mengajakku ke Jakarta.
Dia ingin mengenalkanku dengan orang tuanya. Sebuah langkah yang membuat kakiku lemas sekaligus hatiku penuh. Dan ternyata? Mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Tapi, tahan dulu... aku nggak akan cerita semuanya sekarang. Biarkan bagian itu menjadi kejutan di bab berikutnya.
ns216.73.217.15da2


