Begitu sampai di area parkiran sekolah yang aspalnya sudah banyak terkelupas dan berdebu, aku melihat gerombolan teman-teman sekelasku masih asyik nongkrong di atas motor masing-masing. Entah mereka memang baru nyampe atau memang sengaja telat berjamaah demi menghindari piket.
Aku menarik tuas gas sedikit, lalu menekan klakson panjang tepat di belakang punggung mereka.
"Tiiiittt...!"
“Asem! Opo sih, Lin! Kupingku meh pecah astaga!” Seru Mubaeni sambil melompat kaget dan menutup telinga, wajahnya cemberut maksimal. Tangannya nyaris menjatuhkan ponsel Sony Ericsson yang sedari tadi dipegangnya.
Aku turun dari motor sambil tertawa puas, sementara Iqbal di belakangku ikut cengengesan tak berdosa. “Lagian pagi-pagi bukannya masuk kelas, malah sudah ngrumpi di parkiran kayak ibu-ibu arisan. Lagi ngapain sih serius amat bentukannya?”
Ternyata oh ternyata, mereka lagi khusyuk melakukan ritual anak sekolah (zaman 2008) transfer video lewat Bluetooth. Bayu, Rizki, dan Mubaeni sedang mendekatkan ponsel mereka masing-masing hingga nyaris bersentuhan, seolah kalau hapenya berjarak satu senti saja sinyalnya bakal hilang tertiup angin.
“Minta dong! Video apa itu? Kayaknya seru banget sampai mukanya pada tegang gitu.” Tanyaku dengan nada manja yang sengaja dibuat-buat, sambil menyikut lengan Bayu keras-keras.
“Eh, eh, jangan disenggol! Putus nanti koneksinya! Ini sudah 80 persen dari tadi nggak jalan-jalan!” Sungut Bayu panik. Nanti pas istirahat saja, Lin. Ini sudah mau bel jam pertama.” Lanjutnya buru-buru memasukkan ponselnya ke saku celana abu-abunya dengan raut wajah sok misterius.
Dia melirikku dari atas sampai bawah lalu nyengir jail. “Tenang aja, koleksiku kali ini formatnya 3gp jernih, dijamin bikin kamu nggak bisa tidur tiga hari tiga malam.”
“Alah, gaya tok kamu, Bay! Paling juga video orang berantem di warnet atau video hantu joget yang kualitasnya buram kayak masa depanmu.” Ledek Iqbal yang langsung disambut tawa berderai dari Rizki dan Mubaeni.
Bayu cuma mendengus. "Liat aja nanti, Bal. Jangan sampai kamu yang paling depan minta dikirimin."
Kami berlima akhirnya melenggang menuju kelas. Di dalam kelas, suasana masih super kacau. Jam pertama kebetulan gurunya belum datang. Ada yang kejar-kejaran pakai sapu, ada yang tiduran di meja, dan ada beberapa anak cowok yang masih asyik menghabiskan jajan di depan pintu kelas.
Begitu masuk, aku langsung menuju bangkuku. Tapi, baru saja pantatku menyentuh kursi, aku merasa ada sepasang mata yang mengikutiku dari kejauhan.
Aku memutar kepala pelan, melirik ke pojok belakang kelas.3277Please respect copyright.PENANAzAFyOGYa1P
Di sana ada dia.3277Please respect copyright.PENANAKvok4zROBY
Sosok cowok pendiam, yang jarang bicara tapi anehnya selalu ada.3277Please respect copyright.PENANAff7P1fWtBo
Namanya Reno.3277Please respect copyright.PENANA8IP49cZ0M5
Sejak kelas satu, dia punya kebiasaan aneh setiap kali aku masuk kelas. Menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bukan tatapan mupeng bin mesum seperti cowok-cowok lain kalau lagi curi-curi pandang melihat ukuran dadaku. Tatapan Reno itu… dalam dan tenang. Seolah dia sedang mengamati sebuah lukisan abstrak dan berusaha mencari makna tersembunyi di dalamnya, sesuatu yang berharga yang orang lain nggak lihat.
“Dia suka aku ya? Atau jangan-jangan dia cuma bengong karena takjub lihat pesona kecantikanku yang kian hari kian paripurna? Hehe…” Batinku narsis.
Tapi aneh juga. Kalau memang dia naksir, kenapa dia nggak pernah nyapa duluan? Boro-boro ngajak ngobrol, nawarin permen karet seharga seratus perak pun nggak pernah. Kenapa dia cuma diam di pojok sana seperti patung bernyawa penjaga kelas?
Lamunanku tentang Reno buyar seketika saat teman sebangkuku datang.3277Please respect copyright.PENANAlVU9Ec6fHg
Fitriani.3277Please respect copyright.PENANAN8u16Af7oP
Makhluk paling update seangkatan. Kalau ada gosip baru yang umurnya baru tiga detik, dia sudah tahu detailnya sejak detik pertama.
Fitriani langsung berdiri di sebelah mejaku sambil melambaikan tangan heboh, menunjuk-nunjuk bagian bawah seragamku. “Ya Allah, Gusti Pangeran! Lin… itu rok sekolah apa tenda pengungsian korban banjir? Longgar banget! Nggak ada niatan dikecilin dikit apa biar kelihatan bentuk badannya?”
Aku berdiri, menunduk melihat rok abu-abuku yang memang gombrong, lalu menatap Fitriani dengan wajah datar. “Daripada rokmu. Ketat banget kayak pembungkus lontong, tinggal dikasih tusuk gigi aja di atasnya.”
Iqbal yang duduk di meja depanku langsung batuk-batuk menahan tawa sampai wajahnya merah.
“Ih, jahat banget mulutnya, Lin!”
“Tapi kenyataan kan?” Sahutku santai sambil cengengesan dan mengeluarkan buku tulis lecek dari dalam tas. “Lagian ngapain pakai rok ketat-ketat, mau sekolah apa mau dangdutan?”
Fitriani tidak mempedulikan ledekanku. Ia malah mendekat, lalu langsung menggandeng tanganku sambil menatapku dengan tatapan menyelidik. “Eh tapi serius, Lin. Aku perhatiin kamu makin hari kok makin tinggi aja sih perasaan?”
Aku mengernyitkan dahi. “Maksudnya gimana?”
“Iya, sumpah! Perasaan tiap hari Senin, kamu tambah jangkung. Padahal kita makannya juga sama-sama nasi kan. Kok aku segini-segini aja?” Tambahnya dengan nada setengah iri.
Iqbal yang sedari tadi nguping langsung nyeletuk santai, “Dia nggak cuma makan nasi, Fit. Tiap malam dia minum pupuk NPK sama Urea cair sebelum tidur."
Mendengar itu, aku refleks menggulung buku LKS di atas meja dan memukulkannya ke kepala Iqbal.
Pletak!
“Aduh! Sakit, woi! Kasar banget sih jadi cewek!” Protes Iqbal sambil mengusap-usap kepalanya yang tertutup rambut berantakan.
“Biar kamu tambah pendek, Gel! Biar nyusut sekalian seukuran kurcaci!” Balasku sebal, yang lagi-lagi hanya dijawab tawa renyah olehnya.
Jam istirahat akhirnya tiba, momen yang paling ditunggu-tunggu.
Seperti biasa, kantin sekolah adalah markas utama kami. Aku, Bayu, Iqbal, dan Rizki sudah booking tempat di pojok kantin yang hawanya agak pengap karena dekat tempat penggorengan. Kami berempat cuma pesan es teh manis seharga seribu perak. Murah, dingin, dan ampuh menghilangkan haus setelah dihajar pelajaran Matematika.
“Mana janjimu tadi pagi, Yuk? Mana videonya? Katanya mau dikirim!” Tagihku tak sabar, langsung menodongkan Nokia 3230 kesayanganku ke wajahnya.
Bayu tersenyum santai, lalu melirik hapeku. “Eh, bentar dulu. Memori hape-mu sisa berapa, Lin? Cukup nggak? Filenya agak gede ini, sekitar 30 MB. Kualitas tinggi soalnya.”
Aku langsung membusungkan dada dengan bangga. Merasa paling upgrade di antara mereka. “Gede dong! Jangan meremehkan! Memori kartuku kapasitasnya 128 MB, tahu!”
Bayu tertawa meremehkan. Rizki di sebelahnya ikut senyum-senyum ngeledek. “Yaelah, 128 MB mah kecil, Lin. Ukuran segitu buat nyimpen video satu juga langsung penuh. Coba cek dulu, itu sudah penuh belum storagenya?”
Aku mendengus kesal dan mengecek folder galeri. Jari-jariku menekan tombol File Manager. Dan benar saja, di layar kecil itu muncul kotak dialog pop-up ‘Memory Full’.
Aku langsung panik kecil. Gengsiku lumayan turun. “Asem, bentar-bentar!” Jariku dengan cepat menari di atas tombol-tombol keypad yang kerasnya minta ampun itu, buru-buru menghapus beberapa file lagu MP3 yang sudah bosan kudengar.
“Heh, hapus lagu Kangen Band yang 'Yolanda' aja, itu lagu bikin galau tok.” Usul Iqbal sambil ngintip layar hapeku.
“Ini lagi ngapus lagunya Peterpan! Sabar!” Balasku sewot. “Nah! Sudah! Sudah ada space nih 35 MB! Cepetan nyalain Bluetooth-mu, Yuk!”
Proses pairing Bluetooth pun dimulai. Ikon dua panah saling berhadapan berkedip-kedip di ujung layar hapeku. Kami menunggu dengan tegang, menjaga agar kedua ponsel tetap berdekatan di atas meja bak sedang melakukan ritual pemanggilan arwah, sambil tangan kami sibuk main kartu remi yang dibawa Rizki.
Loading bar baru berjalan perlahan. Sepuluh persen... dua puluh persen... rasanya lama sekali. Baru dapat setengah jalan, tiba-tiba terdengar suara horor yang membelah seantero sekolah.
“TET… TOT… TET… TOT!”
Bel tanda masuk berbunyi nyaring.3277Please respect copyright.PENANAwfAg9ywKp7
Sialan.
“Yah, failed! Tuh kan, gagal! Gara-gara gerak-gerak terus sih hapenya kena tanganmu pas ngocok kartu!” Protes Bayu sambil menghela napas kecewa. Notifikasi 'Connection Lost' terpampang nyata di layarnya.
“Loh, kok nyalahin aku?! Bluetooth kan nggak masalah gerak-gerak, yang penting jaraknya nggak kejauhan, Bayuk! Hape mu aja yang sinyalnya lemah!” Sanggahku tak mau disalahkan.
“Udah, udah, taruh hapenya, nanti diamuk Pak Bambang kita telat masuk kelas.” Potong Rizki sambil menenggak habis es tehnya dalam sekali tarikan.
Kami berempat berjalan kembali ke kelas dengan langkah gontai, kecewa berat karena gagal dapat "koleksi" baru dari Bayu. Sepanjang sisa pelajaran, kepalaku masih kepikiran video apa sebenarnya yang mau dikirim bocah itu.
Sampai akhirnya, jam pulang sekolah tiba. Saat aku sedang asyik memanaskan mesin motor Yamaha Iqbal di parkiran, Bayu nyamperin aku lagi.
“Lin,” panggil Bayu sambil mengusap keringat di dahinya. “Daripada kita gagal terus nyoba lewat Bluetooth, ngabisin baterai doang, mending gini aja. Kartu memori hape-mu aku bawa pulang saja hari ini.”
Aku menautkan alis. “Dibawa pulang gimana maksudnya?”
“Iya, di rumahku kan kebetulan ada komputer sama card reader! Lebih cepet kirim-kirim file kalau lewat PC, hitungan detik langsung copy-paste beres.” Usul Bayu dengan nada sok meyakinkan layaknya teknisi IT.
Mendengar kata komputer dan card reader, mataku langsung berbinar. Tanpa pikir panjang (ini adalah kesalahan paling fatal dalam hidupku) aku langsung mencopot tutup belakang ponselku. Kucabut baterainya, lalu menarik kartu memori (MMC) berukuran kecil itu dari slotnya, dan menyerahkannya ke tangan Bayu.
“Nih! Tolong isiin yang banyak sekalian ya kalau ada lagu-lagu baru. Tapi awas lho, jangan sampai hilang atau rusak kena virus!” Ancamku menunjuk hidungnya.
Bayu menyeringai lebar, menyimpannya di saku kemejanya. “Tenang, Lin. Aman di tanganku. Kalau sampai rusak, aku ganti sepuluh biji pake duit jajanku sebulan!” Jawabnya sombong sambil mengangkat jempol tinggi-tinggi.
Selesai urusan transfer-menransfer, aku dan Iqbal bersiap pulang. Di jalanan yang membelah kawasan Bangetayu, terik matahari siang bolong rasanya sanggup membakar kulit. Aku ngeboncengin Iqbal seperti biasa, melaju kencang menyalip angkot-angkot yang ngetem sembarangan.
Tiba-tiba, di tengah asyiknya mengobrol ngalor-ngidul, tangan Iqbal dengan santainya merayap dari belakang, melingkar dan memegang erat pinggangku. Aku cuma tertawa kecil dan membiarkannya. Sudah terbiasa dengan keisengan dan sifat manja sahabat semeter kotorku ini. Dia memang sering cari posisi nyaman kalau lagi dibonceng.
Tapi Rizki, yang kebetulan mengendarai motornya sejajar dengan kami, tidak terima. Dia langsung membuka kaca helm dan melotot ke arah Iqbal.
“Woi, asu kamu Bal! Curi-curi kesempatan terus mentang-mentang bonceng cewek!” Teriak Rizki sambil tertawa kencang menembus suara bising knalpot.
Iqbal malah makin sengaja mempererat pelukannya di pinggangku. "Biarin! Iri bilang bos! Makanya cari boncengan, jangan jok belakang kosong melulu kayak hatimu!" Balas Iqbal meledek.
Aku cuma tertawa geli lalu menjulurkan lidah ke arah Rizki, membuat mereka berdua makin ngakak dan berbalas makian bercanda di sepanjang jalan raya Bangetayu yang berdebu dan panas.
Begitu sampai di rumah, suasana kebetulan sedang sepi. Mbak Har sepertinya sedang ke warung depan. Aku masuk kamar, melepas sepatu sembarangan, lalu langsung menghempaskan tubuhku yang lengket karena keringat ke atas kasur kapuk kesayanganku.
Sambil rebahan telentang, tanganku refleks meraba saku rok, mengambil hape. Niatnya mau main game Space Impact sambil nunggu kipas angin mendinginkan badan… sampai akhirnya mataku tertuju pada layar home screen.
Tidak ada ikon kartu memori di sudut atas. Hapeku kosong tanpa memori karena sedang dibawa Bayu.
Detik itu juga, nafasku tercekat. Jantungku yang tadinya berdetak normal, rasanya tiba-tiba berhenti berdetak selama tiga detik penuh. Mataku membelalak lebar menatap langit-langit kamar.
“Tunggu… di kartu memori itu…” Gumamku dengan suara bergetar.
Darahku mendesir hebat. Sensasi dingin merayap dari ujung kaki hingga ke tengkuk. Wajahku yang tadinya merah karena kepanasan, kuyakin sekarang langsung pucat pasi seperti mayat.
Aku baru ingat! Di dalam MMC itu… bukan cuma foto-foto alayku. Di dalam sana, tepatnya di sebuah folder tersembunyi yang namanya sengaja kusamarkan, ada puluhan foto-foto sangat pribadiku.
Bukan cuma sekadar selfie alay, tapi foto-foto yang sama sekali nggak seharusnya dilihat oleh mata siapapun di dunia ini! Ada beberapa foto di mana aku cuma pakai bra yang iseng kuambil di depan cermin kamar mandi karena penasaran dengan bentuk badanku sendiri.
Dan yang paling parah, yang paling membuatku ingin menggali tanah dan mengubur diriku hidup-hidup saat ini juga… ada foto kejadian gila itu. Foto saat aku dan Iqbal lagi bercanda kelewat batas, saat kami lagi gila-gilaan berdua kapan hari, dan entah kerasukan setan dari mana, dia dengan wajah konyolnya berpose "nenen" di dadaku sambil nyengir ke arah kamera.
“GILA! MATI AKU! MATI BENERAN INI!” Teriakku histeris di dalam kamar yang sepi, sambil menjambak rambutku sendiri.
Dengan tangan yang gemetar hebat bak orang kena Parkinson, aku buru-buru memasang kembali baterai hapeku yang sempat kulepas, lalu menyalakannya. Aku langsung mencari nomor telepon Iqbal dari kontak memori telepon dengan sisa pulsa yang cuma tinggal beberapa ribu perak.
Tuut... Tuut...
“Angkat, Gel… angkat bajingan!” Rutukku sambil menggigit kuku.
Klik.
“Halo, opo Tom? Kok tumben nelpon? Kangen tah baru juga pisah lima menit?” Suara Iqbal di seberang sana terdengar santai, diselingi suara kunyahan kerupuk. Sepertinya dia lagi tiduran sambil makan.
“Gel! Halo, Gel! Bahaya, Gel! Kiamat sudah dekat!” Suaraku melengking nyaris menangis.
“Heh, santai! Kesurupan kamu? Kiamat apanya? Ada utang panci Mbak Har belum dibayar tah?” Balasnya masih bercanda.
“Bukan! Di memori MMC yang tadi aku kasih ke Bayu… di dalamnya ada folder rahasia, Gel!” Aku menarik napas panjang dengan susah payah. “Di situ ada foto-foto bugilku! Dan… dan ada foto kita juga yang pas kamu pose gila nempel di dadaku itu, Gel!”
Hening.
Tidak ada suara kunyahan kerupuk lagi. Aku bisa mendengar suara televisi di latar belakang rumah Iqbal mendadak kalah oleh kesunyian yang mencekam. Suara tarikan napas Iqbal terdengar putus-putus. Nada suaranya yang tadinya santai, berubah seratus delapan puluh derajat menjadi kaku dan pelan.
“Tom… kamu… kamu nggak lagi nge-prank, kan?” Suaranya bergetar ngeri. “Kamu beneran kasih kartu memori itu ke Bayu dalam keadaan utuh?!”
“Iyaaa!! Tadi siang aku lupa belum hapus foldernya, Gel! Pikiranku nge-blank gara-gara ngomongin card reader! Aduh, gimana ini?! Hidupku hancur, Gel!” Aku mulai merengek sambil mukul-mukul kasur.
Iqbal menghela napas panjang. “Ya mau gimana lagi, sudah di tangan Bayu. Berdoa saja si Bayu nggak kepo buka-buka folder galeri. Dia kan cuma mau isi video.”3277Please respect copyright.PENANAhvEEoRSg7l
“Mudah-mudahan ya Tuhan… mudah-mudahan aman,” bisikku lemas.3277Please respect copyright.PENANATQrj1JPVHu
Setelah telepon kututup, aku cuma bisa meringkuk di kasur. Kepalaku pening membayangkan apa yang akan terjadi besok pagi di sekolah. Kalau sampai Bayu melihat foto-foto itu, habis sudah reputasiku. Aku bakal jadi legenda sekolah, tapi legenda yang buruk.3277Please respect copyright.PENANAxT2AwFmCRq
Aku memeluk guling erat-erat, menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk. “Ya Tuhan… kenapa hidupku selalu penuh drama begini sih?”
ns216.73.216.250da2


