“Tok… Tok… Tok!! JEDARR!”
Pintu kayu kamarku yang sudah mulai lapuk itu dipukul seolah-olah ada penagih utang yang mau merobohkan rumah. Suaranya sukses membelah keheningan pagi, dan yang paling parah, menghancurkan mimpi indahku berkeping-keping.
Padahal, di dalam sana, aku baru saja mulai berpose di pinggir pantai. Rambutku terbang tertiup angin laut, wajahku disinari cahaya matahari pagi yang malu-malu, dan aku sedang memegang sebuah sabun mandi dengan penuh penghayatan. Ya, aku mimpi jadi model iklan sabun. Sangat tidak estetik memang, tapi di mimpi itu aku merasa cantik luar biasa.
“Lin! Bangun! Ini sudah siang, kamu mau sekolah atau mau jadi juragan kasur?!”
Suara Mbak Har menggelegar dari balik pintu. Tajam, galak, tapi aku tahu ada nada khawatir di sana. Mbak Har itu sudah kayak alarm cadangan bermesin canggih yang nggak punya tombol snooze.
“Iya, Mbak… ini sudah melek kok…” Jawabku dengan suara yang lebih mirip beruang lagi hibernasi.3929Please respect copyright.PENANAcYSTDPbiRi
Serak-serak becek.
Aku memaksakan diri duduk. Kasur kapukku mengeluarkan bunyi kretek yang seakan ikut protes menahan berat badanku. Mataku melirik jam dinding plastik bergambar karakter kartun yang warnanya sudah pudar dimakan usia.
06:05.
“Masih aman,” gumamku. Tapi rasa malas yang hinggap di pundakku ini rasanya sudah seberat dosa-dosa masa kecil. Hari Senin memang musuh bebuyutan umat manusia.
Aku menyeret kakiku menuju kamar mandi. Rumah kami lumayan luas, tapi entah kenapa kamar mandinya kecil sekali. Ukuran 2×1 meter, kalau aku mandi sambil merentangkan tangan, pasti sudah menabrak tembok kiri-kanan. Rasanya lebih sempit dari hati orang yang hobinya pamer tapi pelitnya minta ampun.
Begitu air dingin dari bak mandi menyentuh kulitku, aku langsung bergidik. “Aduh, ini air apa es batu cair sih?!” Keluhku sambil mengguyur badan secepat kilat.
Di depan cermin buram yang tergantung di dekat bak, aku menyempatkan diri melihat pantulanku.3929Please respect copyright.PENANAxh4vKLsZ58
Namaku Karlina. Lina, panggil saja begitu. Anak ketiga dari empat bersaudara. Bapakku selalu bilang aku cantik, tetangga-tetangga juga bilang begitu, meski yang sirik paling cuma nyeletuk, “Ya, lumayan lah kalau dilihat dari lubang kunci.”
Posturku tinggi semampai, 176 cm. Lumayan bongsor untuk ukuran cewek. Dengan berat 50 kg, aku kadang merasa terlihat seperti tiang listrik yang dipakaikan seragam. Dan ya, ada satu bagian tubuh yang paling sering jadi bahan gosip satu sekolah, ukuran dadaku.
Bangga? Kadang. Tapi lebih sering minder karena kegedean. Kalau ada yang protes atau mau nyinyir, ya silakan antre di belakang, jangan lupa bawa nomor urut.
Keluargaku biasa saja.3929Please respect copyright.PENANAZrtRKz1nXr
Bapak bekerja jadi tukang kaca di sebuah toko besar di Semarang. Ibuku? Beliau sudah berpulang tiga tahun lalu, tepat saat melahirkan adik cowokku yang bungsu. Itulah kenapa aku sekarang tinggal bareng Mbak Har, suaminya yang sabar, anaknya yang rewel, dan adikku yang hobi utamanya ngupil lalu menempelkan hasilnya di bawah meja.
Selesai berpakaian, aku menyambar Nokia 3230 kesayanganku. Ponsel yang layarnya sudah penuh baret tapi suaranya paling kencang sekampung.
“Telolelet… telolelet…!!”
Suara notifikasinya panik kayak orang lagi asma, ada pesan masuk dari Iqbal.
“Woi Tom! Gece (gerak cepat)! Aku udah di depan!”
Aku tertawa kecil, tanganku lincah menekan tombol keypad yang kerasnya minta ampun itu untuk membalas.
“Sabar, Gel! Aku baru selesai sarapan. Tunggu dua menit, jangan cerewet!”
Aku menyambar piring berisi lauk seadanya yang dimasak Mbak Har. Rasanya tetap juara, meski masakan sederhana. Sambil mengunyah cepat bak mesin giling, aku berteriak pamit ke Mbak Har yang lagi sibuk di dapur.
“Mbak, Lina berangkat ya!”
“Jangan ngebut! Inget, nyawamu itu cuma satu, nggak kayak kucing yang punya sembilan!” Balasnya tak kalah kencang.
Pas aku buka pintu depan, sosok pendek itu sudah nongkrong manis di atas motor Yamaha FizR-nya. Namanya Kais Syafiq Ulul Iqbal. Sahabat dari zaman ingusan, zaman di mana kami belum tahu caranya cebok dengan benar. Tingginya cuma 150-an cm. Kalau kami berdiri bersandingan, aku merasa seperti kakak SMA yang lagi menjemput adiknya pulang TK.
“Lama banget sih, Tom! Mau sekolah apa mau nungguin nasinya jadi bubur?” Iqbal cengengesan.
“Berisik kamu, Gel! Kamu juga baru nyampe kan? Ngaku!” Serangku sambil mendekat.
“Aku sudah lima menit di sini sampai lumutan,” katanya sambil menepuk-nepuk jok motor. “Ayo, aku yang nyetir?”
Aku mendengus keras. “Enggak, enggak. Kalau kamu yang nyetir, motormu malah jemping nanti kena angin. Sini, aku yang bawa!”
Ini sudah jadi semacam ritual tidak tertulis. Aku yang menjulang tinggi ini jadi "sopir" resminya, dan si mungil itu duduk manis di belakang. Aku naik ke jok depan, memegang stang motor dengan mantap. Iqbal naik ke belakang, dan tangannya otomatis berpegangan di ujung jok.
“Pegangan yang kencang, ya! Valentino Rossi mau beraksi!” Kataku sambil menggeber motor.
Tren... ten... ten... tren...
Bukannya berpegangan di belakang, Iqbal malah memajukan tangannya ke pundakku, lalu menjalar naik ke kepalaku, dan menutup mataku dengan kedua telapak tangannya sambil tertawa puas.
“Heh... asu!! Iqbal, mata aku ketutupan tangan kamu, woi!” Teriakku panik bercampur tawa ngakak. Motor seketika oleng sedikit ke arah selokan, tapi Iqbal malah makin kencang tertawa.
“Biar kamu fokus, Lin! Jangan lihat-lihat cowok lain di jalan!” Balasnya di sela tawa.
Kami membelah jalanan desa yang masih sepi. Angin pagi yang segar menerpa wajah. Di tengah perjalanan, karena aku sengaja sedikit meliuk-liuk, tangan Iqbal akhirnya menyerah dan berpegang erat di pinggangku, takut terbang sepertinya.
“Eh, copot-copot! Tiati Lin, lubangnya banyak, jangan ngebut-ngebut!” Katanya sambil menahan tawa, tangannya tanpa sadar memeluk pinggangku makin erat.
“Halah, alasan! Lubangnya kecil gitu dibilang dalam. Modus kamu ya, Gel!” Makiku tapi tetap sambil tersenyum. Aku nggak beneran marah. Kami memang sudah sedekat itu. Dari zaman SD selalu bareng, satu desa, cuma beda empat rumah.
Motor melaju konstan menuju SMA. Di sebuah tikungan yang agak sepi, Iqbal tiba-tiba mencondongkan badannya ke depan, mendekatkan mulutnya ke telingaku.
“Lin…” Panggilnya. Suaranya tiba-tiba jadi pelan, sok-sok manja kayak penyiar radio curhat.
“Apa?”
“Kalau suatu hari nanti aku tiba-tiba tumbuh gede, tingginya melebihi kamu… kamu masih mau nggak boncengin aku begini?” Katanya lirih.
Aku nyengir lebar, lalu sedikit berteriak agar suaraku tidak kalah dengan deru angin dan suara knalpot. “Nggak mau! Kalau kamu sudah gede, kamu yang harus nyetir. Aku mau duduk manja di belakang.”
"Halah, sok manja!" Ledek Iqbal. "Palingan juga sadel motorku ambles kalau kamu yang duduk di belakang."
"Heh, sembarangan! Gini-gini badanku proporsional ya! Kamu tuh yang harusnya banyakin minum susu kalsium, biar nggak dikira anak SD nyasar ke SMA!" Balasku sengit.
Iqbal malah tertawa makin kencang. "Biarin! Biarpun cebol, pesonaku ini bikin adek-adek kelas pada klepek-klepek. Mereka cuma nggak berani aja deketin, soalnya pawangku galaknya ngalahin satpol PP."
"Pawang gundulmu! Aku ini bidadari Pringgondani, asal kamu tahu!" Balasku tak mau kalah, sambil sengaja menggoyangkan stang motor sedikit ke kiri dan ke kanan.
"Waaah! Bidadari kok ngajak nyungsep ke sawah!! Ampun, Tom, ampun!!" Teriaknya panik sambil memeluk pinggangku erat-erat. Kami tertawa sampai perut rasanya kram. Pagi itu terasa sempurna. Aku, Karlina, cewek yang sering dicap tomboy dan blak-blakan, merasa sangat nyaman di duniaku ini.
Gerbang sekolah sudah terlihat di depan mata. Pak Satpam sudah berdiri tegak, bersiap mendorong pagar besi.
“Ayo Rossi, gaspol!!” Teriak Iqbal sambil menepuk-nepuk pundakku kayak kernet angkot lagi ngejar setoran.
“Diam, Gel! Ini motor bukan pesawat tempur!” Balasku sambil memuntir gas.
Motor Yamaha FizR itu langsung meraung dengan suara yang kalau didengar saksama, mirip bapak-bapak yang ngos-ngosan habis naik tangga tiga lantai.
Ngeeengg… ngeeengg… ngek.. ngek.. ngiiiing…
“Motormu kenapa bunyinya kayak orang masuk angin, sih?” Tanyaku heran.
Iqbal malah membusungkan dada di belakang. “Itu karakter, Lin. Motor bagus itu punya suara khas. Iya, khas penderitaan.”
Kami ketawa lagi.3929Please respect copyright.PENANAqy8IHEeDAM
Gerbang sekolah tinggal beberapa meter. Pak Satpam sudah mulai menggeser pagar besi dengan muka serius, seolah lagi nutup portal neraka.
“Pakkk! Sedikit lagi, Pak!” Teriak Iqbal sambil melambai-lambaikan tangan dengan lebay.
Pak Satpam melotot. “Sedikit lagi apanya?! Dari kemarin juga alasannya sedikit lagi!”
Begitu ban depan motor nyaris mencium pagar...
“STOP!” Pak satpam mengangkat tangan kanan tinggi-tinggi.
Aku refleks menarik tuas rem mendadak. Iqbal yang di belakang tidak siap, alhasil jidatnya langsung menyundul punggungku.
BUK!
Aku tersentak maju. “Aduh! Kepala kamu keras banget sih, Gel!”
“Kepala aku mahal tahu!” Sungutnya sambil mengelus-elus jidat.
Pak satpam mendekat perlahan sambil menyipitkan mata. “Kalian lagi. Kalian lagi,” katanya pelan, tapi nadanya persis Polantas lagi gelar razia.
Aku nyengir sopan. “Pagi, Pak.”
Iqbal ikut nyengir dari belakang punggungku. “Kabarku baik-baik aja hari ini kok, Pak.”
Mata Pak Satpam makin melotot. “Jangan ngelawak. Jam berapa ini?”
Aku melirik jam tangan murahan warna pink-ku yang kacanya sudah baret-baret. “Eh… kurang lima menit, Pak.”
“Kan belum bel berarti, Pak.” Sahut Iqbal cepat mencari pembelaan.
Pak satpam menghela napas panjang. Napas berat seorang pria paruh baya yang tiap hari diuji kesabarannya oleh murid-murid model kami. Ia memejamkan mata sebentar, sepertinya sedang berusaha berdamai dengan takdir hidupnya.
“Masuk sana, sebelum saya minta pensiun mendadak.”
“Siap, komandan!” Jawab kami serempak.
Tanpa aba-aba, aku langsung mengegas motor melesat masuk ke area parkir. Kami selamat dari hukuman hari ini.
ns216.73.217.128da2


