Matahari baru saja nongol setengah badan, sinarnya masih malu-malu menyapa kota Semarang yang pelan tapi pasti mulai terasa gerah. Di teras rumahku, Iqbal sudah nangkring manis di atas jok motor Yamaha FizR dengan wajah tanpa dosa, seolah tragedi semalam hanyalah angin lalu.
Ritual pagi dimulai.2972Please respect copyright.PENANAo0mGrIZRYG
Aku yang menjulang tinggi mengambil alih kemudi stang, sementara si mungil Iqbal duduk anteng di belakang.
Tapi pagi ini, beda.2972Please respect copyright.PENANA4swo2bh8RB
Konsentrasiku ambyar total. Tangan Iqbal yang sesekali nyasar berpegangan di pinggangku tak lagi memancing tawa atau makian bercanda dariku. Pikiranku cuma satu, terus berputar-putar seperti kaset kusut.2972Please respect copyright.PENANA8ssXf8UWYq
MMC 128 MB jahanam itu.
“Ya Tuhan… kalau sampai si Bayu nggak sengaja buka folder 'Private', aku mau ditaruh di mana ini muka? Apa aku pindah sekolah aja ke Kutub Utara bareng beruang es?” Batinku merana sepanjang jalan.
Aku membayangkan foto-foto "koleksi pribadi" itu jadi konsumsi umum anak-anak cowok. Belum lagi foto konyol si Iqbal yang lagi… ah, ya sudahlah, memikirkannya saja membuat perutku mulas. Bisa-bisa satu sekolah heboh dan menjadikanku legenda sekolah dengan reputasi paling hancur seangkatan.
“Tom, kok bengong?! Awas itu di depan ada lubang!” Teriak Iqbal menyentak lamunanku. Tangannya mencengkeram pundakku erat.
“Diem kamu, Gel! Lagi pusing mikirin nasib ini!” Balasku ketus sambil banting setir sedikit menghindari lubang, lalu menggeber motor melewati gerbang sekolah dengan perasaan was-was tingkat dewa.
Begitu sampai di kelas, firasat burukku langsung terbukti nyata. Di pojok belakang kelas, Bayu dan Rizki sedang berkerumun. Begitu mata mereka menangkap sosokku dan Iqbal yang baru melangkah masuk pintu, tawa mereka meledak seketika. Bukan tawa renyah menyapa teman, tapi tawa yang sarat akan rahasia, kejahilan, dan ejekan tingkat tinggi.
Bayu langsung meremas kertas buram di mejanya menjadi gumpalan dan melemparnya tepat mengenai jidat Iqbal.
Tuk!
“Kenyang bener kamu ya, Bal? Wedus tenan kamu, diam-diam menghanyutkan! Menang banyak bos kita satu ini!” Ledek Bayu sambil tertawa kegirangan sampai memukul-mukul meja.
Rizki di sebelahnya ikut senyum-senyum penuh arti sambil menggelengkan kepala menatap Iqbal.
Iqbal, bocah kurang ajar yang memang sudah kutelpon dan kuomeli habis-habisan semalam, bukannya menunduk malu atau membelaku. Dia malah ikut tertawa terbahak-bahak, lalu dengan gaya sok misterius menaruh jari telunjuk di bibirnya.
“Husst! Pelan-pelan mulutmu, Bay! Jangan sampai bocor ke anak-anak lain, ini barang langka!” Bisik Iqbal sok polos, yang sukses membuatku ingin meremas kepalanya jadi adonan donat.
Untungnya, sebelum interogasi yang menyudutkan itu berlanjut, Bu Slamet sudah muncul di ambang pintu. Guru matematika legendaris itu punya aura mistis yang bisa bikin seisi kelas mendadak terasa sedingin kulkas. Ruangan yang tadinya riuh layaknya pasar malam langsung sunyi senyap, sesunyi kuburan di malam Jumat kliwon.
Aku buru-buru duduk di samping Fitriani, sahabatku yang wajahnya terlihat sangat polos hari ini. Dia sibuk menyiapkan buku LKS, sama sekali tidak sadar kalau teman sebangkunya ini sedang berada di ambang jurang kehancuran reputasi.
Sepanjang jam pelajaran, angka-angka di papan tulis tampak seperti huruf hijaiyah yang tak bisa kubaca. Jam istirahat hari ini adalah momen yang paling kutunggu sekaligus paling kutakuti dalam hidupku.
Begitu bel surga itu berbunyi Tet... Tot... Tet... Tot..., Bu Slamet belum genap keluar kelas, tapi Bayu dan Rizki sudah melesat dari bangku mereka, memblokir jalanku.
“Lin, ikut kita ke parkiran bentar. Penting. Banget!” Ajak Bayu. Nadanya rendah, serius, dan sama sekali tidak bisa dibantah.
Jantungku rasanya mau copot. Aku menurut, berjalan pasrah di antara mereka berdua menyusuri lorong sekolah menuju area parkir yang sepi. Hanya ada barisan motor yang kepanasan dan pohon kersen tua yang daunnya bergoyang pelan ditiup angin Semarang yang sumuk.
Begitu sampai di sudut paling pojok, di dekat tembok pembatas yang berlumut, langkah kami berhenti. Rizki, cowok yang selama ini kukira paling anteng, kalem, dan suci dari pikiran aneh-aneh, langsung buka suara. Wajahnya berubah jadi penuh rasa penasaran yang nakal.
“Lin, sumpah... serius tanya. Yang di folder tersembunyi memori itu beneran kamu?” Tanya Rizki, matanya menatapku lekat-lekat seolah minta konfirmasi dari dunia gaib. “Yang foto... ehem, telanjang itu? Terus yang… foto sama Iqbal pose begitu... itu asli?”
Wajahku rasanya panas mendidih. Tapi di saat krisis seperti ini, insting bertahan hidup dan jiwa rebel-ku malah keluar. Daripada mati kutu, mending serang balik. Aku memasang muka kaget yang dibuat-buat, memadukan setengah akting sinetron dan setengah kepanikan jujur.
“Eh, i-iya Riz… kok kamu tahu? Wah, kalian kurang ajar ya! Bayu, kamu beneran buka foldernya?!” Jawabku dengan nada sengaja ditinggikan, meski ujungnya sedikit cengengesan menutupi rasa malu.
“Loh, aku nggak bohong kan, Ki? Koleksinya premium abis! Folder rahasia masa nggak dibuka, rugi dong!” Timpal Bayu sambil mengangkat kedua tangannya seolah dia baru saja menemukan harta karun VOC yang terpendam.
Aku melipat tangan di dada, menarik napas panjang, mencoba tetap terlihat galak dan berwibawa meski dalam hati rasanya ingin menjerit. “Terus sekarang maunya apa kalian bawa aku ke mari? Mau disebarin satu sekolahan? Mau bikin aku malu? Sok, sebarin aja kalau berani!” Gertakku bermodal nekat.
Mereka berdua seketika saling lirik. Ada jeda panjang, mata mereka beradu, seakan sedang bertelepati merencanakan sesuatu. Sampai akhirnya Rizki berdeham. Dengan nada yang agak gugup tapi lugas, dia melontarkan kalimat yang membuat otakku ngehang sedetik.
“Lin… eh, kalau misal... aku minta… eh, 'jatah' kayak Iqbal kemarin... gimana?” Tanyanya pelan tapi mantap.
Aku tertegun, mataku mengerjap beberapa kali. “Hah? S-serius ini kalian?”
Bayu yang daritadi senyum-senyum mesum nggak mau kalah. “Iya Lin, aku juga mau dong! Masa cuma si cebol Iqbal aja yang dapet? Kita kan juga bestie, Lin!”
Otakku yang tadinya buntu karena panik, mendadak berputar secepat prosesor Pentium 4. Fakta bahwa mereka percaya pose konyol Iqbal itu beneran "jatah" saja sudah konyol. Dan sekarang mereka mau ikutan?
“Enak aja! Gila ya kalian?!” Balasku judes. “Emangnya aku apaan? Kalo aku nggak mau, terus kalian mau nyebar foto itu? Basi ancamannya!”
Melihat reaksiku yang menolak keras, mereka berdua malah terlihat panik. Bayu buru-buru merogoh saku celana abu-abunya, lalu menarik keluar lipatan uang. Dua lembar uang seratus ribuan berwarna merah yang masih kaku dan rapi, khas uang baru.
“Eh, bukan gitu maksudnya, Lin! Jangan salah paham dulu,” potong Bayu cepat. “Gini Lin, tadi pagi aku sama Rizki sudah sepakat. Kami patungan dua ratus ribu. Nih! Buat kamu jajan kek, buat beli pulsa, buat beli seblak segerobak, apa aja deh. Mau ya? Kita janji sumpah mati, ini rahasia kita bertiga! Iqbal nggak usah tahu!”
Aku menunduk, menatap lekat-lekat dua lembar uang merah di tangan Bayu. Pikiranku mendadak terang benderang bak disorot lampu tembak.
Wah, ini orang berdua otaknya pindah ke dengkul apa gimana? Mereka bukannya ngancem meras aku gara-gara foto aib, malah nawarin duit? Dua ratus ribu di tahun 2008?! Gila, ini duit gede banget! Bisa buat makan enak di kantin, beli pulsa, plus bisa beli makeup!
Jiwa bandarku meronta-ronta. Namun, untuk menjaga harga diri, aku memasang muka cemberut parah, sok-sokan tersinggung berat.
“Eh, mulut dijaga ya! Emangnya aku lonte apa?! Bayar-bayar segala! Kalian pikir harga diriku cuma dua ratus ribu?!” Omelku galak.
“Bukan gitu, Lin… aduh, jangan marah dong.” Rayu Rizki sambil memasang muka melas yang, jujur saja, agak imut kalau dilihat dari dekat. “Ini murni tanda persahabatan saja dari kita. Plis… sekali aja, Lin.”
Aku pura-pura menimbang-nimbang. Menghela napas panjang dan berlagak dramatis, seolah-olah aku baru saja dipaksa mengambil keputusan paling berat dan memilukan dalam hidupku. Mataku melirik lagi ke arah uang merah itu.
“Ya sudah deh…” Desahku pelan. “Karena kita sahabatan dari lama, aku mau. Tapi awas ya, cuma sekali! Dan... duitnya harus dikasih ke aku sekarang juga di depan!”
Spontan, raut wajah mereka berdua langsung cerah ceria kegirangan kayak anak balita yang baru dibelikan Tamiya model terbaru. Mereka sampai loncat-loncat kecil kegirangan di antara jejeran motor parkiran.
Bayu dengan semangat empat lima langsung menyelipkan uang dua ratus ribu itu ke tanganku. Aku cuma bisa tersenyum simpul sambil geleng-geleng kepala dalam hati. Cowok kalau sudah dikuasai hormon dan rasa penasaran, ternyata gampang banget dikibulin mentah-mentah! Entah 'jatah' fiktif macam apa yang bakal kuberikan nanti, yang penting duit merah ini sudah masuk kantong.
Bayu kemudian merogoh saku kemejanya dan menyerahkan kartu memoriku kembali dengan senyum lebar. “Nih, MMC-mu. Sudah aku isi video koleksi baru juga buat kamu. Biar kamu nggak bosen nunggu ‘jadwal main’ kita.”
Tepat saat aku mengantongi memori dan uang itu, bel masuk berbunyi nyaring.
Kami bertiga kembali berjalan menuju kelas dengan langkah tegap, tapi ada senyum yang tidak bisa disembunyikan di wajah kami masing-masing. Bayu dan Rizki tersenyum karena imajinasi liar mereka, sementara aku berjalan di tengah, merangkul bahu kedua temanku yang kelewat polos ini.
Dalam hati, aku tertawa miris sekaligus menang telak. Ini hari apa sih sebenarnya? Pagi tadi aku mikir mau mati bunuh diri karena malu setengah mati, eh siangnya aku malah dapet duit dua ratus ribu mentah-mentah plus dua 'pasien' baru yang siap kukerjain.
ns216.73.216.250da2


