[Echoes of the Past: Bagian keenam]
*
AKAR-AKAR menjalari tanah serupa jaring yang membelit pepohonan dan sekitarnya, merambat di sepanjang bebatuan dan menyusup di antara celah-celah tanah. Udara di sekitarku lembab, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang lapuk.
Di tengah belitan akar yang kusut itu, kutangkap sesuatu yang berkilau redup-sebutir batu pualam yang memancarkan cahaya samar, nyaris tertelan oleh lilitan-lilitan yang menyembunyikan eksistensinya di belakangnya. Cahayanya berpendar, seperti bernapas, menyerap sinar rembulan yang menembus melalui pohon-pohon dan memantulkannya di atas permukaan akar yang licin, menarik perhatian seperti bintang yang tersesat di dunia bawah tanah.
Sebenarnya, itu masih belum melupakan fakta bahwa kakiku masih sedikit terlilit di sini.
"Yvaine!" Kupanggil kucing besar itu, segera setelah suara Rochena yang sedaritadi memintaku bantuan menghilang, "bantu Rochena di sana! Aku harus mengerjakan sesuatu di sini."
Samar-samar kudengar suara gadis itu menggerutu keras-syukurlah kalau dia masih bersuara. "Anda mempercayakan seekor kucing untuk membebaskanku?!"
Yvaine tahu apa yang harus ia lakukan. Langkahnya mulai kian lemah di telingaku, meninggalkan bunyi tapak kakinya yang melompat-lompat lincah. Kabar buruknya, lilitan mereka kian merambat, berputar di pergelangan kakiku, nyaris seperti ular, dan naik sampai menyentuh dengkul. Akar-akar kecil memang bisa ditebas dengan satu ayunan kaki, tapi untuk yang besar ini, hal seperti itu sama sekali tidak berarti.
Di tengah-tengah belukar belitan di dekatku itu, kutanggapi lagi sebuah energi dari benda kecil di antara lilitannya. Batu-batu tadi. Kurasakan sinarnya masih berpendar seolah-olah haus perhatian siapapun. Saat akar-akar yang melilit kaki kananku membelah dengan sihir, aku cepat-cepat melangkah lebar untuk berjalan lebih dekat.
Benar, batu-batuan itu memang bukan batu biasa. Tidak mungkin cahaya rembulan memantulkannya sementara pepohonan di atas hampir menutupi tanah darinya-artinya batu ini memang menghasilkan cahayanya sendiri. Cahayanya kian bersinar dan makin terlihat jelas di tempat gelap. Kupunguti satu-persatu batu seukuran genggamanku itu dengan hati-hati, berjalan di atas akar-akar gemuk lainnya yang bergerak perlahan menuju pepohonan besar seperti ular ...
Pepohonan besar.
Benar, itu sumbernya.
"Nyonya, aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya ... " Suara terengah-engah gadis itu kembali menyadarkanku dari lamunan. Langkah beratnya di antara akar-akar gemuk terseret, disertai dengan langkah kaki si Kucing Besar sembari mengeong kasar. "Tapi ada satu hal yang kulihat barusan."
Kukerutkan keningku, "Melihat apa?"
"Ternyata itu gua betulan," Akunya. "Gundukan besar itu ... walaupun terlilit, tapi di ujungnya ada celah besar. Lilitan itu menutupi jalan masuk-atau barangkali, jalan keluar." Suaranya menjeda untuk membuang napas besar-besar, "setelah dilihat-lihat ternyata akar-akar ini tidak bisa masuk ke dalam gua, bahkan hanya melilit pintunya. Entah bagaimana itu bisa terjadi."
Kuulas senyumku tipis. "Bagus itu."
104Please respect copyright.PENANALsRWQrSKtB
104Please respect copyright.PENANAnrKxM7kCxZ
104Please respect copyright.PENANA7POOh7eThq
104Please respect copyright.PENANAaJMzEoAxzb
104Please respect copyright.PENANAApTb7NvQzR
"KALAU sudah beres semua, ayo segera pergi ke guanya."
Kudengar suaranya menggerutu panjang sembari nenyundul sebuah batu dikakinya yang menggema di antara kami. Rochena mendekatiku, tanpa aba-aba mengambil petanya lagi dari tanganku sembari bertanya ketus, "Katakan apa lagi kira-kira yang anda tahu dan aku tidak?"
"Belasan tahun lalu aku pernah mengunjungi ke dalam," aku menunjuk lorong-lorong kosong di depanku sambil tersenyum, "di sana, ada danau yang lumayan dalam, tapi kita tidak perlu menyeberanginya. Seingatku masih ada jalan di pinggir-pinggir danau yang bisa kita pakai."
"Kata 'seingatku' jadi terdengar keramat, ya," entah apa ekspresi yang tertinggal di wajahnya saat ini. "Gua ini ... ada tumpukan batu dan tanah yang menjulang di atasnya. Kalau dilihat-lihat tadi, sepertinya atapnya membentuk jalan dengan tanah; lalu setelahnya adalah tanah rendah. Aku tidak bisa mengambil resiko kalau tiba-tiba ada longsor yang bakal masuk ke dalam."
"Tenang saja, tidak ada hujan selama seminggu ini. Ada banyak burung-burung yang membuat sangkar di dalam, artinya memang gua ini kuat ... barangkali."
Ia menghembuskan napas kesal sekali lagi mendengar jawabanku. "Anda yakin mau meninggalkan Yvaine di luar?"
Aku mengangguk lagi, "Tubuhnya yang besar bisa merepotkan kita. Tugasnya hanyalah menjadi pasukan tambahan selama di hutan tadi. Lagipula kucing tidak suka air, 'kan?"
"Apa akar-akar itu tidak akan melilitnya?"
"Tidak. Yvaine cukup pintar untuk tidak dekat-dekat dengan area tadi. Lagi pula ia menjaga kita dari ancaman dari luar."
Si Gadis muda terdiam sesaat. "Apa aku punya tip tambahan untuk ini?"
"Kalau kau bisa membuatku terkesan," Ku anggukan kepalaku pelan, "yaah, kalau kau bisa."
Lalu, berbekal api yang dibuat Rochena, kami sempurna mendalami isi gua.
Langkahku terendam dalam genangan-genangan air dingin yang berada di tanah, suaranya beriak lembut masuk di telinga. Aroma batu basah dan lumut memenuhi hidungku, bercampur dengan udara yang berat dan hening.
Kuraba dinding gua dengan telapak tanganku, merasakan permukaannya yang kasar dan berlekuk, seperti ada jejak waktu yang terukir di sana. Keheningan membuatku benar-benar lebih fokus menangkap semua suara; tetesan air yang jatuh ke permukaan, hingga desir langkah kami yang menggema, membentuk peta samar yang tergambar secara jelas di pikiranku.
"Tempat ini terlalu gelap, bahkan apiku hanya bisa menerangi beberapa kaki ke depan," suara geratakan api di tangannya membesar dan kian jelas, "nyaris tidak apa apapun yang bisa dilihat di sini."
"Coba rasakan dengan semua inderamu," Jawabku pelan. "Penglihatan memang indera yang paling kita andalkan selama ini, tapi justru itu bisa jadi kelemahan, seperti di saat-saat seperti ini contohnya," Aku melangkah lebih cepat. "Daripada mencoba melihat, cobalah untuk mendengarkan, merasakan. Tajamkan inderamu yang lain. Dengarkan gema langkahmu, rasakan suhu yang berubah saat kau berpindah tempat, sentuh dinding batu, rasakan bentuknya. Bau air, bau jamur. Bahkan bisikan udara di sela celah-celah."
Ia terdiam sesaat, kurasakan apinya kian melemah dan hawa panas yang menjilat berubah menjadi hangat. "Tidak bisa," Ia menggeleng perlahan. "Benar-benar kosong. Aku tidak bisa merasakan apapun."
"Cobalah lebih berkonsentrasi sedikit," Kataku, sedikit menyemangati. "Di dalam kegelapan, aku juga belajar untuk tidak melihat dengan mataku, tapi dengan hatiku."
"Kedengarannya merepotkan ... " ia mendesah kecil. "Jadi... ini yang Nyonya rasakan tiap hari?"
Gagasannya membuat kakiku berhenti entah karena apa.
Suara air masih mengalir jernih dan kian terdengar karena kesunyian rasanya. Dari derunya, ia menahan napas, lalu berbalik menatapku, "sepertinya aku agak-"
"Tidak apa-apa," Kuulum senyumku. "Mungkin lebih gelap ... tapi tidak benar-benar hampa. Dulu saat perang terakhir, aku kehilangan penglihatanku karena sihir ledakan. Retakan cahaya terakhir yang kulihat ... adalah langit yang terbakar."
Tak ku dengar lagi suaranya. Rochena menahan napas, barangkali berpikir apa yang harus ia ucapkan di saat-saat begini.
"Aku kehilangan penglihatanku saat perang besar itu... ketika pasukan dari utara menghancurkan Desa Orlyn. Api, reruntuhan, dan sihir yang meledak di mana-mana. Aku tak sempat lari. Hanya bisa mendengar dunia runtuh di sekitarku ... " Kupejamkan mataku-meski tak ada apapun perbedaan yang dapat kulihat di sana. "Lalu setelahnya adalah kegelapan, seperti kegelapan yang tidak berujung. Aku berteriak pada orang-orang yang menemukanku, meraung marah, bersikeras bahwa ada sesuatu yang menghalangi mataku-bukannya aku tidak bisa lagi. Entahlah, Rochena, setelahnya aku tidak ingat betul. Bahkan saat dunia ini sudah lepas dari cengkeraman para iblis, aku benar-benar tidak bisa melihatnya sama sekali. Dulu rasanya dunia seperti berputar tidak adil padaku."
Kami memang masih terus melangkah, menyibak genangan air yang makin dalam dan sunyi. Api yang berkobar di tangannya mulai kehilangan kehangatannya lamat-lamat, berubah menjadi hawa hangat yang tidak lagi menyengat di pipiku.
"Tapi aku tidak menyesalinya sekarang," lanjutku pelan. "Saat mataku mati, suara dan sentuhan menjadi lebih hidup. Aku belajar bahwa dunia tidak hanya indah untuk dilihat... tapi untuk dirasakan."
Kadang aku lupa bahwa kata-kata itu bukan milikku sepenuhnya.
Kau pernah bilang sendiri dengan mulutmu. Kau pernah bilang dia akan tumbuh menjadi sesuatu yang tak bisa kita ramalkan. Sialnya lagi, baru sekarang aku tahu maksudnya. Ia bukan sinarmu yang lembut dan menyembuhkan, Renesa. Ia adalah bara api kecil yang menyala di tengah dingin, bertahan tanpa tahu siapa yang menyalakannya lebih dulu.
Kadang aku lupa ... betapa kecilnya dia.
"Aku tidak tahu harus bilang apa."
Kugapai puncak kepala gadis itu, rambutnya terasa dingin dan sedikit lembap karena udara gua yang berembus pelan dari dinding batu. Lalu tertawa kecil. "Bilang saja, 'Bibi Seren, ajari aku mendengar dunia sepertimu'."
Rochena mendongak-aku bisa mendengar kain kerahnya berdesir, dan suara napasnya terdengar mengambang di tengah udara dingin.
"Siapa yang dipanggil 'Bibi'?" katanya bersungut-sungut.
"Kau memikirkannya, kan?"
"Asal Nyonya tidak mengajariku dengan cara memeluk batu, sepertinya boleh." Ada gesekan kecil saat ia menepis tanganku-gerakannya cepat, tapi tidak kasar. Gadis ini benar-benar anti disentuh. "Benci mengatakannya, tapi kurasa teknik yang kau berikan tadi lumayan keren."
'Pluk!'
Suara langkahnya menyentuh genangan air, dengan perlahan. Hembusan napas panjang keluar dari hidungnya, terdengar berat. Aku ikut menarik napas pelan. Bau air lembap dan tanah basah semakin pekat. Dari langit-langit, tetesan air jatuh teratur, menggema seperti detik yang menandai waktu.
Rochena mengadahkan kepalanya lebih tinggi lagi-aku bisa merasakannya dari arah napasnya yang berubah. Sembari berdiri, kumiringkan kepalaku juga-ikut mendengarkan lebih saksama. Gema suara kami mulai tenggelam, digantikan oleh suara air yang lebih padat dan berat di kejauhan.
"Tunggu, ada air?"
"Ya ... genangan. Lebih dalam lagi, permukaannya tenang." Jawabanku, nyaris berbisik.
"Tenang?" Api ditangannya mulai lebih membakar. "biasanya itu berarti tidak berbahaya, 'kan?"
"Mungkin tenangnya bukan karena damai... tapi karena sedang menunggu."
Kudengar lagi napas berat yang keluar dari hidungnya. "Kau senang, ya, membuat kalimat yang membuat bulu kudukku berdiri?"
"Dan kau tahu apa?" Balasku lagi, dengan mulut sedikit terangkat untuk menggoda. "Guruku juga sering bilang begitu dulu. Tapi diam-diam dia menikmatinya."
"Semua orang dewasa itu menyebalkan."
Sepertinya gadis itu sudah lelah mendengar tawaku sedaritadi-salah sendiri, dia memang benar-benar objek yang seru untuk dijahili.
"Aku masih heran," suara Rochena memecah keheningan, lagi. Nada suaranya terdengar ringan, walaupun ada kelelahan samar yang menyusup di ujung kata-katanya. "Anda terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja hampir dimangsa serigala."
"Kau juga terlalu santai untuk ukuran gadis yang baru saja mengangkat tubuh seekor kucing besar dengan sihir sembari lari dari kematian."
"Benar juga," dari kibasan angin kecil di sekitarku, aku tahu dia mengangguk perlahan. "Kau tahu, tempat ini seperti perangkap nostalgia. Pantas kau jadi sedikit sentimental, Bibi."
Kuulum senyumku tipis. Ada rasa hangat yang naik pelan di dadaku, "Sentimental adalah keistimewaan usia, Rochena."
"Padahal aku baru mau bilang, kau terlihat seperti anak muda saat tertawa tadi."
"Benarkah?" Kurendahkan kepalaku, "kalau begitu aku bisa menyaingimu?"
"Kalau soal keras kepala? Sudah pasti. Kau bahkan lebih susah diajak pulang daripada Yvaine si kucing." Gadis itu membuang napas ketus lagi. "Tapi tetap saja ... kau terlihat berbeda dari jurnal yang kubaca milik Renesa."
Sekujur tubuhku menegang sepersekian detik, sebelum aku membiarkan diri tersenyum lagi, memberi helaan napas ringan yang hampir tidak terdengar sama sekali, tanpa suara.
Selain fakta bahwa dia ternyata juga menulis jurnal, ternyata gadis ini menyebut namanya seenteng memanggil nama anak tetangga samping rumah.
"Darimana kau ... ?" Merasa gadis itu tidak akan menjawab, aku terkekeh lagi. Kupalingkan wajahku mengadah sedikit lebih tinggi. Udara gua malam ini terasa lebih ringan dari sebelumnya. "Jadi, dia menulis tentangku juga?"
"Beberapa halaman," Angguknya perlahan. "Katanya kau anak paling keras kepala yang pernah ia temui. Suka mengeluh, mudah menyerah, dan-apa ya... oh, ya, 'selalu mencari alasan untuk tidur siang daripada berlatih mantra.'"
Dia menulis tentangku?
Manisnya.
Kubalas ia dengan anggukan kecil sembari tersenyum sumringah, seperti membenarkan, "Yaah... setidaknya aku harus berusaha terlihat dewasa di hadapan seorang anak tujuh belas tahun sepertimu, kan?"
Rochena menoleh sedikit ke arahku, kali ini dengan nada yang lebih ringan. "Tapi, sungguh... aku jadi bertanya-tanya, apa semua murid yang keras kepala bisa tumbuh jadi orang bijak yang menyebalkan seperti ini?"
Kurang ajar, dia. Tapi rasanya aku terlalu tua untuk berdebat dengan anak remaja. Rochena sepertinya terkekeh karena aku tidak berhasil menjawab pertanyaannya, aku bisa merasakan senyuman dari deru napas patah-patah miliknya.
Rasanya aneh, seolah-olah waktu membawaku kembali ke masa-masa lalu dan kembali ke tahun di mana semuanya masih baik-baik saja. Ada rasa hangat yang memenuhi dadaku seolah-olah mengenang rasa menggebu-gebu di masa lalu.
Yaah, waktu memang berjalan cepat. Dia tumbuh, semua orang tumbuh, semua orang pergi menempuh perjalanan masing-masing. Seperti itu, 'kan?
Aku menarik napas pelan, membiarkan kenangan itu membanjiri benakku. Sebelum akhirnya berbisik pelan ke arahnya.
"Renesa mencarimu, tahu."
Gadis itu tampak berhenti terkekeh sejenak.
"Dia mencariku?"
"Tentu," Kuanggukkan kepalaku mafhum, tersenyum. "Dengan caranya sendiri."
Ia menggeleng kecil, menurunkan pandangannya. "Aku yang selama ini mencarinya."
"Kadang dua pencarian bisa saling bertemu di titik yang tak terduga," gumamku. "Dan saat titik tak terduga itu bertemu, kau pasti akan mengerti nanti."
"Kau ... " Suaranya terpenggal untuk menghela napas. "bicara seperti seseorang yang tahu jawabannya."
"Aku hanya menebak," jawabku lirih, "Tapi kadang, tebakan bisa jadi sebuah petunjuk."
"Kalau begitu teruskan tebakannya." Nada gadis itu mengalun ringan.
Kudekap tubuhku dengan kedua lengan tangan, berusaha mengabaikan hawa dingin yang sedaritadi menjalar di tubuhku. "Tebakanku... mungkin dia ingin kau tahu siapa dirimu, bukan siapa dia."
'Pluk!', 'Pluk!'.
Suara langkahnya terdengar makin surut, tetapi gema dari dinding gua membuatnya terdengar jauh. Perlahan, gadis itu memutar-mutar kepalanya, seperti berusaha mengais-ngais apapun yang nyaris tidak bisa ia lihat.
"Tunggu sebentar," gumamnya menghentikan langkah. Ia menunduk. "Kenapa sepatuku... lebih becek?"
Kuhentikan langkahku, menyondongkan kepalaku sedikit. "Kau baru sadar? Aku sudah bilang, 'kan? Kita sudah melewati genangan sedaritadi."
"Genangan? Aku rasa ini bukan genangan," desisnya. Ia menoleh ke belakang, tetapi cahaya dari mulut gua terlalu jauh untuk dilihat. Gemericik air menyentuh lututnya saat ia berjalan lebih maju.
"Nyonya Seren!" panggilnya, kini suaranya sedikit cemas. "Airnya naik. Ini-tunggu, ini bukan cuma air licin dari dinding, ini-"
"Danau..." Kataku. Aku berjongkok perlahan, menyentuh permukaan air dingin. "Kita menemukannya."
Kudengar sebuah riak kecil mengalun di antara air yang tenang, gema yang membuatku langsung mendekatinya tanpa aba-aba. Rochena masih sibuk mengeluh di sana, memanggil-manggil namaku, sementara ku dekati asal suara itu dengan langkah terburu-buru.
Benar, ini benar seperti yang waktu itu. Aku bersumpah mengingat bentuk lekungan kayunya, aku mengingat retak-retakannya, aku mengingat tali tambatannya, gesekan halus dan suara mengeriut menyadarkanku dari lamunan panjang.
Sampan.
Sampan waktu itu.
"Nyonya! Ya Tuhan-" Ia memegangi pundakku dari belakang, tampak sedikit panik. Lalu tercekat melihat barang yang kutemukan. "Anda menemukan itu? Sampan?"
"Benar," Tanganku meraba-raba kayu basah yang mulai diselimuti lumut. Tak kutahan senyumanku yang mengembang lebar. "Sepertinya ini sudah lama."
"Tentu saja," Balasnya. "Sampannya terlihat ... tua dan sedikit kotor."
"Justru karena sudah tua dan kotor," jawabku, "seseorang yang baik hati sepertinya tahu kalau kita akan kembali ke sini. Dia meninggalkan ini untuk kita."
"Tunggu," Kurasakan nada berat menuntut jawaban darinya. "Anda kenal yang punya?"
Memori yang memasuki benakku membuatku tidak langsung menjawabnya. Kuraba lagi dinding kayunya yang basah, membuang lumut-lumut dan bebatuan kecil yang bersemayam di sana.
"Entahlah. Tapi kurasa begitu."104Please respect copyright.PENANAyZ3L7881P0
104Please respect copyright.PENANAXyN0Au5sV1


