[Echoes of the Past: Bagian ketujuh]
*
BELUM sempat menyadari bahwa tubuhku berpindah tempat, hitam lebih dulu menyambutku seperti kegelapan yang tak berujung kala itu.
Dulu, waktu pertama kali warna itu menelan hidupku, satu-satunya hal yang kupertanyakan hanya mencari eksistensi keadilan di semesta—mempertanyakan mengapa semua ini tertumpah hanya padaku, hanya berpusat padaku.
Semuanya terlihat seperti mimpi buruk tak berujung.
Pandanganku gelap dalam sekejap—udara yang dingin, getaran yang asing, ketidakmampuan ku membaca ruang, tetesan asing yang jatuh ke kepalaku, kepanikan yang mencekik. Dulu, air hujan yang jatuh ke atas ubun-ubunku itu setidaknya terlihat samar, tapi malam itu semuanya runtuh di bawah kakiku dalam kedipan mata. Aku ingat tubuhku menggigil bukan karena kedinginan, tapi karena marah, marah pada suara-suara samar yang tiba-tiba terdengar lebih berisik, marah pada tanah yang terasa asing di atas kaki telanjangku, marah pada dunia yang tiba-tiba berubah di mataku tanpa izin.
Ini konyol ... aku bahkan tidak tahu dimana tempat aku meringkuk.
Ku tendang tanah—ku tendang udara, ku tendang apapun—seolah dengan begitu dapat kupukuli kegelapan yang mencuri separuh hidupku. Ku teriaki udara kosong
Tidak adil, tidak adil, tidak adil tidak adil tidakadiltidakadiltidakadil—
Kenapa cuma aku?!
Aku benci suara hujan hari itu. Aku benci bagaimana semuanya terdengar seolah-olah menghinaku, benci bagaimana aku harus menebak sesuatu yang ada di depan ku. Hitam itu mencekik paru-paruku dengan sangat. Aku tersandung akar pohon berulang-ulang kali saat berlari, jatuh, meraung-raung pada suara orang lain yang menemukanku. Aku menolak semuanya—kalimat semangat yang kosong, pepatah bijak, bantuan, serta rasa iba yang tak kulihat bagaimana wajah mereka, seolah-olah makin mengejekku.
"Kenapa cuma aku?! " Bentak ku ke udara kosong, berteriak lebih keras, "kenapa cuma aku yang harus begini?! Kenapa bukan orang lain?! Kenapa bukan siapapun asal bukan aku?!"
Kudengar Renesa memanggil namaku pelan di antara banyak riuh orang lain, tapi aku tak mau dengar. Aku menepis tangannya yang menyentuh pundakku—hampir memukulnya, "Jangan sentuh aku! Kau tidak tahu rasanya! " raungku lebih marah.
"Nyonya Renesa ... anda paling tahu saya... " Lututku lemas, jatuh terduduk di atas tanah yang basah. Petir yang keras sama sekali tidak menakutkanku lebih dari kenyataan malam itu. "Anda paling tahu saya, saya masih punya masa depan yang panjang. Anda bilang saya bisa menjadi penyihir terkuat di seluruh penjuru dunia. Tapi bagaimana jika keadaannya begini?! Kembalikan mata-ku! Kembalikan! "
"Nyonya, saya takut dengan gelap... " Amarahku surut menjadi hanya sebatas permohonan dan rasa pasrah yang lemah. Air mataku meluncur dengan deras. "Saya takut gelap, saya paling takut dengan gelap.... "
***
"NYONYA YAKIN sampannya tidak akan menenggelamkan kita? "
"Kau sudah bertanya kira-kira tiga kali, tapi akhirnya naik juga, 'kan?" napas pendek dan jelas itu terdengar di telingaku, deru yang terdengar sengaja diseret dan keras. "Jangan marah begitu. Habis ini kita selesai, kok."
Air di bawah sampan kami bergoyang halus saat melaju, namun bukan getaran yang mengancam—lebih seperti danau yang tenang dan lengang. Rochena duduk di depanku, lututnya menekuk, suasana dingin menyentuh kulit kami seperti udara basah selepas hujan.
"Tempat ini... " Gadis itu membuka pembicaraan lagi, "Renesa pernah menyinggung di jurnalnya. Katanya ada makhluk yang menjaga danau ini, bukan begitu?"
"Yah, begitulah," Aku mengangguk. "Kau tahu? Makhluk-makhluk di sini juga tidak suka kejutan."
"Lagi-lagi... " Napasnya terhembus jenuh, lalu menariknya cepat-cepat. "Apa ada sesuatu lagi yang belum aku ketahui?"
"Tidak seru kalau aku beritahu sekarang," Kuberi senyum menggoda padanya. "Bukannya itu tujuan dari petualangan? Mengetahui hal yang belum diketahui dengan menjelajah—seseorang pernah berkata seperti itu padaku."
"Siapa?" Sampannya bergoyang sedikit, disertai suara kayu yang saling bertemu—gadis itu memindahkan posisinya. "Renesa?"
"Kau harus mulai berhenti memanggil langsung namanya begitu," Celutukku. "Ya... dia yang bilang. Katanya bagian dari petualangan adalah rasa penasaran dan kesabaran. Menarik, bukan?"
Gadis itu terdiam sesaat, geratakan halus dari sampan terdengar lebih nyaring dan menggema. Deru napasnya jadi sulit terlacak, mengalahi suara batu-batu kecil berjatuhan yang jauh terdengar di seberang lorong gua lain.
"Ada apa?"
"Hanya membayangkan saja... " Ada jeda singkat di kalimatnya, terpotong oleh napasnya lagi yang keluar dengan perasaan berat. "Aku melihat namanya di antara buku-buku di perpustakaan, atau mendengar namanya di antara para Ahli Sihir lain—semuanya berkata ia sangat hebat, beberapa orang-orang kagum dengannya," tetesan air lagi-lagi memotong kalimatnya sebentar, seolah memberi waktu untuknya memikirkan pertanyaannya. "Tapi hanya aku yang tidak tahu banyak soal dirinya. Maksudku... aku hampir bingung mau mengaguminya dari mana."
Angin kecil mengibarkan sedikit rambutnya—aku bisa mendengar gesekan kecil dari bahunya.
"Hmm... kau tahu?" Ku dekatkan dudukan ku lebih ke depan, hingga lutut kami berdua bertemu. "Tidak semua orang hebat ingin dikenal sebagai orang hebat, dan menurutku dia salah satunya," jawabku ringan. "Barangkali, dia ingin dikenalmu sebagai seseorang yang lain."
Sebagian prespektifku berkata bahwa ia sedang menaikkan sebelah alisnya saking bingungnya—entahlah. Lagipula aku cuma mengutarakan isi hatiku.
"Kalau begitu, dulunya ... memangnya dia ingin kau mengenalnya sebagai siapa?"
"Entahlah, dia itu orang yang sulit ditebak," Kurasakan aroma air dan dinginnya udara yang semakin memeluk tubuhku selama perjalanan semakin jauh. "Tapi aku sendiri tidak mengaguminya sebagai ahli alkimia, biokinesis alam atau apapun itu yang dikatakan orang lain—aku menghormatinya sebagai guru yang luar biasa. Aku telat menyadari bahwa hal yang paling beruntung dalam hidupku adalah mengenal dirinya sekali seumur hidup."
"Aku rasa itu terdengar berlebihan," Hentakan napas kecilnya terdengar sedikit putus-putus—ia tertawa kecil. "Dia bukan Ibumu atau semacamnya, 'kan?"
"Aku menyayanginya lebih dari Ibuku sendiri... yaah, atau barangkali waktu itu aku menganggapnya Ibuku juga—jangan cemburu," Candaku. "Aku tidak mengenal siapa orangtuaku, Rochena. Seolah-olah aku ada begitu saja dan hidupku baru lahir setelah Renesa mengajakku bersamanya," lanjut ku pelan. Sampan kami kembali berayun kecil, ritme air terdengar lebih jelas, seperti ada ruang besar di depan sana yang baru saja membuka telinganya untuk mendengar kami berbicara. "Yaah, begitulah. Barangkali dia ingin kau mengenalnya bukan seperti dirinya di kenal orang lain—dia ingin kejujuranmu saat mengenalnya."
Rochena menghela napas, napas yang terdengar berat dari sebelumnya.
"Aku harap... aku bisa tahu apa yang dia pikirkan," Gumamnya. "Kenapa dia menulis semua itu, kenapa dia pergi ke tempat-tempat seperti ini."
"Bukannya kau juga sedang mencari tahu? Itu satu langkah yang bagus."
Ia tidak menjawab, tapi aku bisa mendengar caranya merapatkan kedua tangan di pangkuan.
Lalu, air di bawah sampan bergetar tipis, beriak bukan biasanya.
Angin tidak bergerak, tapi air bergoyang pelan—secara acak dan tidak teratur. Gelembung-gelembung air pecah dan kurasakan eksistensi lain yang berada diantara kami berdua ... terasa tersembunyi dan sengaja memerhatikan, terdengar perlahan-lahan dan bergerak penuh keraguan.
Lalu, sampan kami berhenti. Berhenti mendadak yang janggal.
Aku yakin tidak ada batu yang menabraknya, atau halangan lain seperti rambatan tanaman atau lainnya. Kurasakan api kecil yang muncul tiba-tiba di telapak tangan si Gadis Muda, serta deru napasnya yang tak teratur dan semakin gusar.
"Apa itu?" Suaranya bergetar sedikit ketakutan, "Rumput air? Akar? "
"Tidak," Jawabku pelan, "Akar tidak bernapas seperti itu."
Tanpa aba-aba, kurasakan gerakan sampan kami mundur.
Dari kedalaman, tangan-tangan basah itu muncul.
ns216.73.217.116da2


