Pagi di distrik pedagang Asterheim selalu ramai, namun hari itu tampak lebih hidup dari biasanya. Suara pedagang menawarkan barang, aroma rempah dan roti panggang, dan langkah ratusan orang memenuhi jalanan berbatu. Bangunan-bangunan kayu berderet rapi, dihias kain warna-warni yang berayun diterpa angin.87Please respect copyright.PENANAcSCBlSTGba
Di tengah hiruk pikuk itu, tiga sosok kecil bergerak bersama: seorang anak lelaki, seorang elf berambut perak, dan seekor serigala raksasa bermantel putih keperakan.87Please respect copyright.PENANAtNmZfQAcg3
“Wow… ramai sekali,” gumam Eiran dengan mata berbinar.
Lyrinella menoleh dengan senyum lembut. “Distrik ini memang selalu ramai. Para elf jarang datang ke tempat seperti ini… jadi menarik melihatnya dari dekat.”
Fenrir hanya melangkah pelan sambil menikmati tatapan-tatapan kagum warga. Anak-anak kecil menunjuk-serigala itu dengan mata membesar, sementara beberapa pedagang memandang dengan sedikit takut.
Eiran berhenti di depan sebuah toko besar dengan papan bergambar bulu merah. Kerumunan petualang memenuhi depan toko.
“Toko ini… ramai sekali,” bisik Eiran.87Please respect copyright.PENANA7xV2rh3SjO
Pintu terbuka creak—dan muncul seorang pria berambut coklat kusut namun bermata tajam jenaka.
“Heh? Kau… bocah kecil dari dua tahun lalu!”
“Quill!!” Eiran hampir berlari memeluknya.
Pedagang itu tertawa keras. “Hahaha! Kau tumbuh pesat, huh? Dan… oh?”87Please respect copyright.PENANAzO9q7YvY4w
Ia melirik Fenrir.87Please respect copyright.PENANAh1Ba0T0gGG
“Kau sekarang punya partner yang luar biasa.”
Fenrir menegakkan badan dengan bangga seolah mengerti pujian itu.87Please respect copyright.PENANAhgrRMcxvs8
Keduanya memasuki toko. Barang-barang sihir tertata rapi—tongkat, potions, senjata ringan, dan berbagai alat petualang.
Eiran langsung menunjuk sebuah kantong hitam elegan di etalase kaca.
“Magic Bag… aku butuh itu!”
Quill tersenyum licik. “Harga asli sepuluh gold. Tapi… untukmu, bocah, lima gold saja.”
Lyrinella menelan ludah. “Lima… gold…”
“Jangan khawatir.”87Please respect copyright.PENANAcJFDprpi3R
Quill mengangkat jari.87Please respect copyright.PENANAucqdvpRjLn
“Ada syaratnya. Bantu aku mencari barang.”
Ia menuliskan daftar:
— 5 Kulit Fang Boar87Please respect copyright.PENANAI3bVLRF2aJ
— 3 Mandrake herbal
Eiran mengangkat alis. “Mandrake… itu yang bisa bikin orang pingsan kalau dicabut, kan?”
Quill mengangguk puas. “Betul! Selamat mencoba.”87Please respect copyright.PENANAhpX78fiFvd
Tujuh hari berikutnya menjadi perjalanan kecil tersendiri.87Please respect copyright.PENANAwJeucYuqdl
Pagi, siang, malam—mereka menjalankan berbagai quest.
Eiran menghitung koin di tangan. “617 perak… lumayan!”
Lyrinella menoleh sambil tertawa kecil. “Kau benar-benar rajin, Eiran.”87Please respect copyright.PENANAfJlDJF7bHY
Fenrir mengangguk—tapi tatapannya mengatakan: Aku juga bekerja keras, kau tahu?
— Adegan Mandrake —87Please respect copyright.PENANAHaddPCQr0y
Di dalam hutan, Eiran berlutut di depan sebuah tanaman berdaun ungu.
“Siap… Mandrake ini bisa bikin kita pingsan kalau salah tarik.”
Lyrinella bersiap, menutup telinganya. “Aku sudah siap.”
Fenrir bahkan sudah mundur lima langkah.
Eiran menempelkan tangan ke tanah. “Creature Whisper…”
Cahaya biru lembut merembes ke akar tanaman.
Tanaman itu mengeluarkan suara kecil. Kuu…
“Tidur ya… tidur.”87Please respect copyright.PENANApoP11jc4S1
Eiran mencabutnya perlahan.
Tidak ada teriakan. Tidak ada suara nyaring.
Lyrinella membeku. “E… Eiran… itu luar biasa…”
Fenrir mendekat dan menjilat kepala Mandrake itu, membuat Eiran tertawa keras.87Please respect copyright.PENANADAgI2XPFVq
Quill menerima bahan-bahan itu dengan ekspresi puas.
“Bagus! Bagus sekali! Ini jarang ada yang bisa melakukan ini tanpa pingsan.”
Ia menyerahkan Magic Bag ke Eiran.
Eiran menatapnya dengan mata berbinar. “Waaaah… terima kasih!”
Lyrinella tersenyum, ikut senang. Eiran kemudian melihat dua kalung di etalase—perak halus dengan batu sihir kecil di tengahnya.
“Dua itu… aku ambil.”
Ia memberikan salah satunya kepada Lyrinella tanpa banyak bicara.
Lyrinella terpaku, wajahnya memerah.87Please respect copyright.PENANAaQsnxl18OS
“…E-Eiran… ini… terlalu berharga…”
“Tapi aku ingin kau punya itu,” jawab Eiran sambil tersenyum.
Fenrir memiringkan kepala, seakan berkata: Hmm, romantis.87Please respect copyright.PENANA1XVFSQJhoS
Saat mereka keluar toko, matahari senja mulai turun.87Please respect copyright.PENANAFWHmJG3XzI
Langit oranye kemerahan membuat bayangan memanjang di jalanan.
Fenrir tiba-tiba berhenti.87Please respect copyright.PENANALbMmwd6wAz
Bulu lehernya berdiri.87Please respect copyright.PENANA3AFAbrREzp
Ia menggeram pelan.
“Fen… ada apa?” tanya Eiran.
Lalu…87Please respect copyright.PENANAoLWBSKbkc8
sebuah rasa dingin merayap di tubuhnya.87Please respect copyright.PENANAM35m7JtMs7
Ether Sense-nya bergetar—tajam, menusuk, dan asing.
“Ada aura gelap…” bisiknya.
Mereka menoleh.
Di sebuah gang sempit, dua sosok berdiri.
Satu adalah pria berjubah hitam… auranya dingin dan pekat.
Satu lagi…87Please respect copyright.PENANAhjJG5uTYSY
Eiran mengepalkan tangan.
“Magnus…?”
Magnus berdiri dengan wajah kusut, mata gelisah—seolah sedang mendengarkan sesuatu yang tak boleh didengar orang lain.
Jubah hitam itu mendekat lebih dekat padanya… berbahaya.
Fenrir menggeram lebih keras.
Lyrinella menyentuh bahu Eiran.87Please respect copyright.PENANAu82jJktiTg
“Jangan mendekat… ini bukan waktu yang tepat.”
Eiran menggigit bibirnya, matanya tidak lepas dari dua sosok itu.
“Siapa itu… sebenarnya?”87Please respect copyright.PENANADPQfnwAlMI
Senja berubah kelam.87Please respect copyright.PENANAA1glhByska
Gang sempit itu terasa bagai mulut kegelapan yang siap menelan apa saja.
Dan tepat saat sosok berjubah hitam menoleh sedikit… seolah sadar ada yang mengamati…
Eiran menahan napas.
Bayangan itu menghilang dalam sekejap seperti asap hitam tertiup angin.
Magnus ikut lenyap.
Fenrir menunduk, bulu punggungnya tetap berdiri.
Lyrinella menggenggam tangan Eiran.
Eiran menelan ludah, jantungnya berdegup keras.
“…Rasanya… sesuatu yang besar akan terjadi.”
Dan sejak hari itu—roda takdir mulai berputar kembali.87Please respect copyright.PENANAo3EbF16KHf


