Bangunan Guild Asterheim pagi itu lebih ramai dari biasanya. Deru suara petualang yang berdiskusi, dentingan koin, dan aroma roti panggang dari bar terdekat bercampur menjadi hiruk pikuk yang khas, namun hangat.74Please respect copyright.PENANAOHWtRoF1oF
Di tengah keramaian itu, seorang bocah berambut hitam dengan poni yang menutupi mata kirinya—Eiran—melangkah masuk bersama seorang gadis elf berambut perak panjang dan mata biru kehijauan yang berkilau lembut.
Lyrinella Aelwyn.74Please respect copyright.PENANAOUanH2fmg4
Seorang high elf.
Dan saat ia menjejakkan kaki ke dalam guild, seluruh bangunan membeku.
“...Eh? High elf?”74Please respect copyright.PENANAYLOGs0aXpN
“Serius itu high elf? Di guild ini?”74Please respect copyright.PENANAIbtRU3ivH7
“Aku tidak bermimpi, kan…?”
Bisik-bisik menyebar seperti angin musim dingin. Beberapa petualang yang baru masuk langsung terpaku, sebagian lain bahkan bangkit dari kursi untuk melihat lebih jelas. Wajah Lyrinella memerah panik, telinganya yang runcing bergetar halus.
“E-Erk… aku tidak menyangka reaksinya seperti ini…” gumamnya dengan suara kecil.
Eiran hanya tersenyum canggung, sudah menduga hal ini sejak awal.
“Guild manusia jarang melihat elf, apalagi high elf. Jadi… wajar kalau mereka heboh,” ujarnya pelan sambil menepuk bahu Lyrinella.
Mereka menuju meja resepsionis.74Please respect copyright.PENANAewGZ6MnKzs
Karla, yang sedang memeriksa laporan pagi, terlonjak saat melihat siapa yang berdiri di depannya.
“L-Lyrinella… Elf…! A-Apa Anda ingin mendaftar sebagai petualang…?”74Please respect copyright.PENANAT5mn5Inzqf
“Ya! Aku… ingin menjadi petualang! A-ah, maksudku, aku ingin bergabung sebagai anggota party Eiran.”74Please respect copyright.PENANA9xjHzZ0uJl
Lyrinella menunduk dalam-dalam, terlalu gugup menghadapi sorotan banyak orang.74Please respect copyright.PENANAjdnGkGfFp9
Karla mengangguk cepat, wajahnya bercampur antara gugup dan takjub.
“Tentu! Aku akan memprosesnya segera!”
Sementara Lyrinella dibawa ke ruang registrasi, Eiran menunggu di hall utama sambil mencoba mengabaikan puluhan tatapan penasaran ke arahnya… atau lebih tepatnya, ke elf yang baru saja ia bawa ke guild.74Please respect copyright.PENANABm4HtQu6is
Untuk mengisi waktu, Eiran berjalan menuju Quest Board yang memenuhi setengah dinding kiri guild. Lembaran-lembaran kertas yang ditempel memenuhi papan itu—beberapa lusuh dan berwarna kecoklatan, yang baru tampak lebih bersih dan rapi.
“Hmm… Rank C dan B saja sudah cukup,” gumam Eiran sambil menyisir kertas-kertas itu.
Ia tak lagi membutuhkan quest Rank D atau E; itu terlalu mudah baginya sekarang.
Matanya bergerak cepat:74Please respect copyright.PENANAqHBvlWa3Fe
Quest Rank B74Please respect copyright.PENANAbt051SmwuF
– “Eliminasi 3 Dire Wolf”74Please respect copyright.PENANACDHQamd2vf
– “Berburu 5 Fang Boar” 74Please respect copyright.PENANArZSpcwn2Li
Quest Rank C
– “Penghancuran Goblin Camp” 74Please respect copyright.PENANAlS3j22rxTh
– “Pengawalan pedagang ke utara” 74Please respect copyright.PENANAeXLO2Oa03D
Ia mengusap dagunya, merenung.
“Dire wolf dan fang boar… mungkin ini bagus untuk pemanasan. Goblin camp bisa sekalian.”
Saat ia hendak meraih salah satu lembaran quest Rank B, sebuah tangan besar tiba-tiba menjulur dari samping dan menariknya terlebih dulu.
Eiran menoleh.
Di sebelahnya berdiri seorang pria petualang berotot dengan wajah angkuh, membawa pedang besar di punggung. Senyumnya sombong, tatapan meremehkan.
“Hey bocah…” katanya sambil menepuk-nepuk kertas quest di tangannya.74Please respect copyright.PENANAXRPE7f40nA
“Kau tidak cukup kuat untuk mengambil quest Rank B.”
Suasana guild—yang tadinya ramai—langsung mendingin.
Eiran hanya menatapnya tanpa bicara… namun matanya yang setengah tertutup poni memancarkan kilau tipis, tanda bahwa pagi ini baru saja berubah menarik.74Please respect copyright.PENANASSIX1tegIm
Saat Eiran hendak menarik lembar quest Rank B yang sudah ia incar, sebuah tangan besar tiba-tiba melesat dari samping—menyambar cepat seperti elang yang merebut mangsa.
“Hey, bocah.”
Suara berat itu menggema tepat di telinganya.
Eiran menoleh perlahan.
Di depannya berdiri seorang pria berumur dua puluhan akhir, berotot, berambut pirang kusut, dengan bekas luka tipis di pelipis kiri. Pakaian petualangnya penuh ornamen logam dan mantel gelap kebesaran yang jelas menunjukkan bahwa dia bukan petualang biasa.
Senyum congkaknya jelas tak enak dipandang.
“Quest Rank B itu bukan untuk bocah ingusan yang baru tumbuh gigi,” ujarnya sambil mengibas-ngibaskan kertas quest di tangannya.
Beberapa petualang di sekitar menahan napas.74Please respect copyright.PENANAPZyMgRw2Yb
Guild mulai berbisik-bisik.
“Magnus… petualang Rank B dari kota sebelah, kan?”74Please respect copyright.PENANAsi9DrsA8Pz
“Kudengar dia kuat, tapi temperamennya buruk.”74Please respect copyright.PENANA1sAI0Uoewg
“Anak itu sial… dia pilih lawan yang salah.”
Eiran hanya menatap Magnus, tidak menunjukkan reaksi berlebihan.74Please respect copyright.PENANAIf7IQ7q83H
Poni yang menutupi mata kirinya berkibar sedikit, memperlihatkan tatapan dingin.
“Aku mengambilnya duluan,” kata Eiran singkat.
Magnus tersenyum mengejek. “Dan apa? Bocah sepertimu mau membur—”
Namun kalimatnya terpotong.
Pintu guild terbuka keras.
“Eiran! Hei, ada apa ini?”
Garruk masuk bersama Dahlia, Roux, dan Elara. Begitu melihat Eiran berdiri tegang dan Magnus yang memamerkan senyum menyebalkan, Garruk langsung maju.
“Magnus… jangan bilang kau mencari masalah dengan anak itu.”
Magnus memutar bola matanya. “Anak itu? Kau bilang begitu, tapi kudengar dia Rank B. Jangan membuatku tertawa.”
Garruk menghela napas panjang. “Ya. Dia Rank B. Dan dia pantas mendapatkannya.”
Suasana guild langsung sunyi seperti terdengar mantra pembekuan.
Magnus menatap Eiran dengan keterkejutan singkat, sebelum senyumnya memudar menjadi ekspresi marah.
“…Apa?”
“Dia Rank B,” ulang Garruk, kali ini lebih tegas.
Hening beberapa detik—lalu Magnus menghentakkan kakinya ke lantai.
“Kalau begitu,” katanya sambil menunjuk dada Eiran, “buktikan di sini dan sekarang.”
Ia menggenggam gagang pedangnya.
“Jika kau benar Rank B… buktikan!”
Terjadi desisan kecil di aula guild; sebagian besar petualang mulai mengelilingi keduanya membentuk arena dadakan. Karla bahkan melongo di balik meja resepsionis.
Eiran hanya menghela napas tipis.
“…Baik.”
Fenrir—yang menunggu di luar—mungkin sudah merasakan tensi, namun Eiran tidak berniat membuat keributan panjang.
Duel singkat tidak akan menghancurkan apa pun.74Please respect copyright.PENANAuy8gnVlvOj
— Arena Dadakan, Beberapa Detik Kemudian —74Please respect copyright.PENANAMjoUep2Ujv
Magnus mengayunkan pedang besar dua tangannya ke arah Eiran, gerakannya liar namun bertenaga.
“GRRAAAH—!!”
Serangan itu memecah lantai kayu, mengangkat debu tinggi.74Please respect copyright.PENANAzE1WU0aX8O
Namun tubuh Eiran sudah tidak di sana.
“Cepat sekali…!” gumam Roux, pupil kucingnya menyempit.
Magnus menoleh tepat saat Eiran meluncur dari sisi kanan—menggunakan gerakan ringan yang nyaris tanpa suara.
“Ke—kurang ajar…!”
Eiran mengangkat tangan kirinya.
Subjugation Light — Low Output.74Please respect copyright.PENANAmikNi8YrAs
Cahaya lembut menyambar lengan Magnus, membuatnya kehilangan keseimbangan sepersekian detik.
Dan itu cukup.
Dengan satu gerakan tegas, Eiran memutar badan dan menyapu kaki Magnus dari bawah.
BRAK!
Tubuh Magnus terlempar ke belakang, menghantam lantai dengan keras.74Please respect copyright.PENANAue5EqCBBKR
Arena kecil itu bergemuruh oleh suara jatuhnya.
Hening.
Benar-benar hening.
Para petualang menatap Eiran dengan mata membesar, mulut terbuka, atau wajah kebingungan yang sulit dijelaskan.
“…Apa itu barusan?”74Please respect copyright.PENANAPqXCABb6aW
“Dia masih anak-anak, kan?”74Please respect copyright.PENANA3TTlZAvUSi
“Dia mengalahkan Magnus… tanpa pedang?”
Eiran menepuk celananya, lalu membungkuk sopan.
“Terima kasih atas duelnya.”
Magnus hanya terbaring, wajahnya antara kaget dan dipermalukan.
Di sisi lain, Garruk menepuk bahu Eiran sambil tertawa kecil.
“Haha… kau benar-benar hebat, Nak.”
Dan begitulah, keributan pagi itu berakhir dengan cara yang tidak diharapkan siapa pun.74Please respect copyright.PENANAXZWvnh86Vp
Langkah ringan terdengar dari arah meja resepsionis. Lyrinella—dengan seragam petualang baru yang tampak terlalu mencolok dibanding para petualang lain—berjalan mendekat sambil membawa kartu guild yang baru diterimanya.
Sorakan kecil terdengar dari beberapa orang.
“Elf mendaftar petualang… ini pertama kalinya aku lihat…”74Please respect copyright.PENANAJtguyI5pkm
“Cantik sekali… tapi auranya menakutkan…”74Please respect copyright.PENANAdWxLtw44lx
Lyrinella tampak tidak terpengaruh. Ia tersenyum lembut pada Eiran dan mendekat.
“Eiran, aku sudah selesai mendaftar.”
Eiran menoleh sambil mengangguk. “Bagus. Sekarang kita bisa membentuk party.”
Sementara itu Garruk mendekat, wajahnya masih terkesan setelah melihat duel Eiran.
“Jadi, Eiran,” katanya sambil menggaruk kepala, “kau mau bekerja sama untuk quest hari ini?”
Eiran menatap Lyrinella dahulu—seakan meminta persetujuan.
Lyrinella tersenyum hangat, mata zamrudnya berkilau.
“Tentu, aku tidak keberatan bekerja sama dengan teman-temanmu. Kalian tampak dapat dipercaya.”
Dahlia membungkuk sopan. “Senang bekerja sama denganmu, Lady Elf.”
Lyrinella tertawa kecil. “Panggil saja Lyrinella. Tidak usah terlalu formal.”
Roux melirik Elara. “Ini akan menarik…”74Please respect copyright.PENANAdp3Un8uJxe
Kartu-kartu guild mereka diletakkan di meja resepsionis untuk pengajuan Party Temporary Registration. Karla mencatat semuanya dengan ekspresi bangga dan lega.
“Party ini… luar biasa kuat,” gumamnya sambil menyerahkan kembali kartu dan sertifikat party.
Eiran mengangguk. “Terima kasih, Karla.”74Please respect copyright.PENANAWjDweCVgdy
Mereka berdiri melingkar di depan quest board.
Garruk menunjuk lembaran misi Rank B.74Please respect copyright.PENANAnULVYkwbEo
“Ini cocok untuk keseimbangan kekuatan kita.”
Eiran membaca cepat isinya.
Rank B Hunting Quest
3 Dire Wolf
5 Fang Boar74Please respect copyright.PENANAJ1kjGedO8M
Reward: 25 koin perak
Lalu matanya berpindah pada quest Rank C.
Rank C Subjugation
Basmi Goblin Camp74Please respect copyright.PENANAqLlmqL9KUq
Reward: 10 koin perak
Eiran menoleh pada Lyrinella.74Please respect copyright.PENANA6MEei3PWMc
“Apa menurutmu kita bisa menyelesaikan semuanya hari ini?”
Lyrinella tersenyum percaya diri. “Dengan kemampuan kalian? Tentu saja.”
Garruk menyilangkan tangan. “Kalau begitu, kita ambil semuanya.”
Semua anggota party menyentuh kedua lembar misi. Karla mencatatnya resmi, lalu menyerahkan kembali dengan stempel guild yang hangat.
“Semoga berhasil!”74Please respect copyright.PENANA2wFxQnUF0w
Mereka keluar dari guild bersama-sama. Asterheim sore itu bersinar dengan cahaya keemasan, dan rimbunnya pepohonan yang dijaga elf tampak dari kejauhan.
Fenrir—Eis—yang menunggu di luar, berdiri tegak begitu melihat Eiran keluar.74Please respect copyright.PENANAattpvaVTnj
Para pejalan kaki terpaku melihat makhluk besar itu, tapi Eiran sudah terbiasa dengan perhatian semacam itu.
Garruk menepuk bahu Eiran.74Please respect copyright.PENANA15jgMU87bF
“Hey, Bocah. Hari ini kita berburu sedikit lebih dalam.”74Please respect copyright.PENANAEPLsLttFCh
Eiran tersenyum kecil. “Baik, Kapten.”74Please respect copyright.PENANAogdwRZeiNz
Party gabungan itu melangkah menuju pinggir Hutan Aelwyn—tempat perjalanan dan ujian baru menanti mereka.74Please respect copyright.PENANAyFi2gvS93t
Matahari tengah hari menggantung tinggi di langit Asterheim, memantulkan cahaya keemasan pada atap-atap bangunan dan menimbulkan bayangan pendek di jalan utama. Udara terasa hangat, dipenuhi aroma pasar dan suara keramaian kota.
Di antara hiruk-pikuk itu, Eiran, Lyrinella, Fenrir, dan Party Garruk berjalan mantap keluar dari gerbang guild. Tujuan mereka jelas: menjalankan quest bersama untuk pertama kalinya.
Eiran menatap ke depan sambil tersenyum, matanya memantulkan semangat baru.
“Aku akan bekerja keras hari ini,” katanya.
Lyrinella tersenyum bangga. “Aku akan mengawasi dari dekat.”
Garruk tertawa besar. “Dengan kekuatanmu sekarang, kau malah bisa membuat kami kewalahan.”
Roux dan Elara yang sudah beberapa langkah di depan hanya menoleh sambil mengangguk, sedangkan Dahlia mengikuti dengan langkah anggun. Cahaya matahari membuat armor dan perlengkapan mereka memantulkan kilau seperti permulaan petualangan besar.
Mereka melangkah keluar gerbang kota Asterheim. Jalan berbatu bergetar lembut di bawah langkah Fenrir yang mengiringi Eiran seperti penjaga raksasa.
Di tengah keceriaan siang hari itu…74Please respect copyright.PENANAHcMrC7FGxL
Tak ada satu pun dari mereka yang menengok ke belakang.
Di depan bangunan guild, berdiri seorang pria dengan bayangan pendek menempel di kakinya—Magnus.
Ia menatap kepergian Eiran tanpa berkedip.
Sinar matahari yang terang tidak mampu menghapus gelap di matanya. Tatapannya penuh amarah, malu, dan kebencian yang terpendam.
Tangan Magnus mengepal hingga buku jarinya memutih.
“Bocah itu…” gumamnya pelan.
Eiran semakin jauh…74Please respect copyright.PENANAVgKIBYA02v
dan Magnus tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun.
“Suatu hari… aku akan membalas semuanya.”
Angin siang bertiup lembut, namun udara di sekitar Magnus terasa beku—seolah kegelapan tersembunyi menempel di tubuhnya, mencerminkan isi hatinya.
Meski hari itu cerah dan hangat, bagi Magnus…74Please respect copyright.PENANAWk6vpG8tsC
dunia tampak lebih gelap.
Dan tanpa suara, ancaman yang tak terlihat mulai bergerak.
Petualangan Eiran baru dimulai… tetapi begitu juga kebencian seseorang yang tak bisa menerima kekalahan.74Please respect copyright.PENANAdEBtf4puda


