— Dua tahun setelah Eiran memasuki Hutan Aelwyn —
Udara pagi Aelthwyn selalu lembut… tetapi pagi ini terasa berbeda bagi Eiran.
Cahaya keemasan menembus celah daun pohon-pohon raksasa, menciptakan pantulan hijau yang menari-nari di udara. Roh-roh kecil berkilau seperti kunang-kunang, mengiringi langkah Eiran yang baru selesai melakukan pemanasan pagi.
Tubuhnya berubah. Bahunya kini terlihat lebih tegak, gerakannya lebih ringan, dan tatapan matanya lebih mantap dibandingkan ketika pertama kali tiba dua tahun lalu.
“Huuh…”83Please respect copyright.PENANAxUZ4U09bGm
Eiran menarik napas panjang, membiarkan aroma hutan suci memenuhi paru-parunya. Ia bahkan bisa merasakan aliran ether di udara—sesuatu yang dulu mustahil ia pahami.
Di tepi sungai suci, seekor makhluk agung dengan bulu perak duduk menunggu.83Please respect copyright.PENANARTiLGpfV9f
Mata birunya menyala lembut, menatap Eiran seolah menilai hasil latihan pagi ini.
Fenrir.83Please respect copyright.PENANA82XykujZF8
Makhluk mitos yang pernah membuat seluruh hutan gemetar.
Namun kini, ia menjadi mentor… sekaligus penjaga Eiran.
Eiran tersenyum kecil dan melangkah mendekat.
“Pagi, Fenrir!”
Fenrir mengangkat kepalanya sedikit.
— Kau terlambat lima menit dari biasanya.
“T-tidak mungkin! Aku merasa sudah bangun seperti biasa!”
— Kau merasa. Tapi tubuhmu berbeda pendapat.
Eiran mendengus kecil.
“Fenrir… sebenarnya, sebelum aku pergi…”
Ia berdiri tepat di depan makhluk agung itu, lalu mengumpulkan keberaniannya.
“Aku ingin memberimu sebuah nama panggilan.”
Fenrir menatap seperti baru saja mendengar lelucon paling absurd di dunia.
— Aku sudah memiliki nama. Fenrir.
“Aku tahu, tapi… itu nama agungmu kan? Jadi aku ingin memanggilmu dengan nama yang… lebih hangat. Lebih dekat.”
Fenrir terdiam. Sorot matanya berubah, lebih dalam.
Eiran menunduk sedikit, pipinya memerah.
“Bagaimana kalau aku memanggilmu… Eis?”
Suara air sungai mengalir. Roh-roh kecil berhenti bergerak sejenak, seperti menunggu jawabannya.
Fenrir menyipitkan mata.
— Nama itu terdengar kekanak-kanakan.
“Aku sudah tahu kau akan bilang begitu!”
Eiran mengembungkan pipinya.
Fenrir mendengus, tapi setelah beberapa detik sunyi, ia berkata:
— …Jika itu keinginanmu, panggil saja sesukamu.
Eiran tersenyum lebar.
“Makasih, Eis!”
— Hmph.
Meski pura-pura tidak peduli, ekor Fenrir—atau sekarang, Eis—bergoyang tipis. Hanya sedikit, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia menerimanya.
Itu adalah tanda ikatan mereka benar-benar terbentuk.
Desa Aelthwyn berkumpul di jalan utama.
Elf dewasa memberi salam hormat, anak-anak melihat Eiran dengan kagum dan enggan berpisah. Para penjaga berdiri rapi, armor dedaunan mereka berkilau.
Para Elder, berjubah putih, berdiri di depan. Di belakang mereka, Raja High Elf memandang Eiran dengan senyum hangat.
“Eiran,” ujar Raja Aelthwyn, suaranya bergema lembut di antara akar raksasa Yggdrasil. “Dunia di luar sedang berubah. Gelap mulai merayapi batas-batas tempat ini.”
Ia menaruh tangan di dada.
“Namun angin yang kau bawa… adalah angin harapan. Teruslah berjalan membawa kebaikan itu.”
Eiran membungkuk dalam-dalam.
“Saya… tidak tahu apakah saya pantas menerima semua ini. Tapi saya akan berusaha.”
Warga elf bersorak kecil. Suara lembut, namun penuh ketulusan.
Setelah upacara selesai, Raja memanggil Eiran, Fenrir, dan seorang elf perempuan berambut hijau lembut—Lyrinella.
“Eiran,” kata Raja. “Ada satu permintaan dariku.”
Eiran memiringkan kepala. “Permintaan?”
Raja mengangkat gulungan bersimbol daun dunia.
“Lyrinella akan menemanimu dalam perjalanan. Bukan hanya sebagai pendamping… tapi sebagai diplomat Aelthwyn.”
Lyrinella tersentak.
“S-Saya, Yang Mulia!?”
“Ya. Kau memiliki hati yang lembut dan penilaian yang bijaksana. Aelthwyn perlu membuka hubungan dengan dunia luar kembali.”
Raja menatap jauh ke langit.
“Dunia sedang menghadapi ancaman baru. Kita tidak bisa lagi bersembunyi.”
Lyrinella kemudian melihat Eiran, wajahnya penuh senyum hangat.
“Eiran, aku… aku akan berjalan bersamamu!”
Eiran terkejut, pipinya sedikit merah.
“Benarkah? Tapi… apa aku pantas ditemani oleh seorang elf sepertimu?”
Lyrinella tertawa kecil sambil menepuk bahunya.
“Bukan kau yang ditemani. Kita saling menemani.”
Fenrir mengangkat kepalanya.
— Hmph. Kalian ini terlalu berisik di pagi hari.
“Hey! Eis!” Eiran memprotes.
Lyrinella terkejut. “E-Eis? Kau memberi Fenrir nama panggilan!?”
Fenrir mendelik seperti mengatakan jangan mulai kau juga.
Ketiganya berdiri di depan gerbang akar raksasa Aelthwyn.
Eiran menatap desa yang telah menjadi rumahnya selama dua tahun.
“…Aku akan kembali suatu hari nanti.”
Lyrinella mengangguk penuh keyakinan.
Fenrir/Eis berdiri di sisi Eiran, seperti penjaga tak tergoyahkan.
Dengan satu langkah maju—
Perjalanan takdir mereka dimulai.
Udara hutan terasa berbeda ketika seseorang hendak meninggalkan tempat yang ia sebut rumah. Eiran berdiri tepat di depan akar raksasa Yggdrasil, pohon dunia yang menjulang begitu megah hingga puncaknya menghilang di balik awan.
Cahaya hijau lembut mengalir dari batangnya, menari seperti nafas kehidupan.
“…Terima kasih,” bisik Eiran pelan.
Suaranya hampir tenggelam oleh desiran angin.
Selama dua tahun, tempat ini memberinya banyak hal:
- rumah,
- keluarga baru,
- latihan,
- dan… harapan baru.
Ia menundukkan kepala dalam-dalam, seolah memberi salam perpisahan kepada seluruh desa.
Di belakangnya, Fenrir—atau kini Eis—mengikuti langkahnya perlahan. Bulu peraknya memantulkan cahaya matahari pagi, tampak seperti bayangan besar yang selalu menjaga Eiran dari jauh.
— Jika kau menatap lebih lama, kau tidak akan pergi,
gumam Fenrir dengan suara berat.
Eiran tersenyum tipis.
“Aku cuma… ingin mengingat semuanya.”
Di sisi lain, Lyrinella memeriksa perlengkapan:
- peta besar yang digulung rapi,
- kantong herbal,
- surat diplomatik berstempel raja,
- dan beberapa kristal ether untuk cadangan.
“Eiran, semuanya sudah siap,” katanya sambil menatapnya lembut.
“Kalau kita terlalu lama di sini… aku takut kita semua berubah pikiran.”
Eiran mengangguk ragu… lalu menghirup napas panjang.
“Baik… mari kita pergi.”
Untuk pertama kalinya setelah dua tahun, ia melangkah keluar dari batas perlindungan Aelthwyn. Jalan menuju dunia luar tidak lagi asing baginya, namun tetap terasa sunyi. Pepohonan perlahan berubah bentuk: dari rimbun dan bercahaya menjadi lebih liar, lebih gelap, lebih ‘hidup’.
Setelah beberapa jam berjalan, Eiran berhenti mendadak.
“Eiran?” tanya Lyrinella, melihatnya memicingkan mata.
“…Ada sesuatu.”
Sensasinya sangat familiar, namun jauh lebih kuat dari sebelumnya:
- dingin menusuk kulit,
- tekanan halus di dada,
- dan rasa tidak nyaman di tengkuk.
Fenrir mengangkat kepala tinggi, mata birunya menyipit tajam.
— Dark Ether.
“Dark… Ether?” Lyrinella meneguk ludah.
“Di wilayah ini?”
Eiran menajamkan pendengarannya. Di antara suara angin dan gesekan ranting…
BOOM!83Please respect copyright.PENANA60eaGfD8Kv
Suara dentuman keras terdengar dari arah utara.
Lalu disusul teriakan.
“Aaaa—!! Tahan diaaa!!”
Eiran tersentak.
Itu bukan suara monster.
Itu suara manusia.
Fenrir menggeram rendah.
— Kita harus memeriksanya. Tapi kau—
Belum selesai Fenrir bicara, Eiran sudah berlari ke arah suara tersebut.
“Eiran!? Tunggu—!!”
Lyrinella mengejarnya panik, membawa tasnya sambil memanggil roh angin untuk mempercepat langkah.
Fenrir menatap Eiran yang berlari tanpa ragu.
— Anak ini… masih terlalu impulsif.
Namun sosok agung itu segera menghilang dari pandangan, melesat mengikuti Eiran seperti bayangan perak yang menembus pepohonan.
Semakin dekat ke sumber suara, tekanan Dark Ether semakin kuat.
Eiran merasakan hatinya berdegup keras…
tapi tidak karena takut.
“…Aku harus menolong mereka!”
Dengan napas tersengal, ia menembus semak terakhir—
Dan tepat di depannya, ia melihatnya:
Satu kelompok petualang sedang terdesak oleh seekor Dire Wolf bermutasi, bulunya kusam dengan urat hitam yang menjalar, matanya kosong seakan dikuasai sesuatu.
Dan di antara petualang itu… tampak wajah yang familiar diingatan Eiran.
Begitu Eiran menerobos semak lebat terakhir, pandangannya langsung dipenuhi pemandangan kacau. Tanah tergores, akar-akar tercabut dari tanah, dan bau darah samar tercium di udara.
Seekor Dire Wolf bermutasi melompat maju dengan auman berat, tubuhnya dua kali lebih besar dari normal. Bulu abu gelapnya dipenuhi urat hitam yang berdenyut seperti nadi penyakit.
GRAOOOOO—!!
“Roux! Jaga jarak! Dahlia, perisai lagi!” Suara perempuan terdengar panik.
Eiran menatap cepat ke arah tiga petualang yang bertahan:
- seorang beastkin pria dengan telinga kucing,
- seorang healer berwajah lembut,
- dan seorang archer berambut perak.
Dan di depan mereka, menahan serangan wolf itu dengan kapak besi besar—
Pria botak berotot yang pernah memberinya kesempatan dua tahun lalu.
Eiran terpaku sejenak.
Ia tak menyangka takdir akan mempertemukan mereka di sini, dalam keadaan seperti ini.
Dire wolf itu meloncat mendadak, menerjang Garruk.
“Awas!!” Dahlia berteriak.
Namun Garruk tak sempat menghindar.
Itulah momen ketika kaki Eiran bergerak sendiri.
Angin terdorong ke belakang ketika Eiran melesat maju.
Gerakannya bukan lagi gerakan anak kecil—cepat, ringan, dan penuh keyakinan seorang yang telah ditempa dua tahun latihan intens.
Tangannya terangkat.
“Subjugation Light!”
ZWOOM—!!
Cahaya lembut putih-biru meledak dari telapak tangannya, menghantam dire wolf tepat di wajahnya.
Monster itu tersentak.
Aumannya berubah kacau, tubuhnya gemetar hebat.
“Wha—apa itu!?” Elara mundur sambil memasang busur.
“Cahaya… tapi bukan sihir biasa…” Dahlia berbisik ngeri.
Dire wolf menunduk, kehilangan keseimbangannya. Aura gelap yang mengelilinginya bergetar seperti sedang dilemahkan oleh sesuatu yang jauh lebih murni.
Eiran tidak menunggu.
Begitu monster itu goyah, Eiran menghunus pedang pendek elf yang ia dapat dari pelatihan. Kilatan baja hijau memantulkan cahaya forest ether.
Dengan gerakan yang tidak terlihat dari bocah 12 tahun—
SIINNG—!!
Dalam satu langkah cepat, ia menembus jarak.
Dire wolf mencoba bangkit, namun terlambat.
CRAAK—!!
Kepalanya terpenggal bersih.
Tubuh besar itu ambruk ke tanah, debu beterbangan.
Kebisuan melanda hutan.
Party Garruk hanya berdiri mematung, tidak percaya bahwa seorang anak—anak kecil—baru saja menumbangkan mutated dire wolf sendirian.
Roux melongo.
Dahlia menutup mulutnya.
Elara mengerjapkan mata berkali-kali.
Bahkan Garruk… tubuh besarnya tak bergerak seolah membeku.
Dan Eiran hanya mengibaskan darah dari pedangnya sambil menarik napas pelan.
“Berbahaya sekali… monster mutasi ini semakin kuat.”
Eiran berbalik ke arah mereka.
“Kalian tidak apa-apa…?”
“Eh…?”83Please respect copyright.PENANAOa57bXi4ub
Dahlia hanya mampu mengeluarkan suara pendek.
Melihat luka di lengan Garruk dan goresan di pipi Elara, Eiran cepat-cepat merogoh pouch kecilnya.
“Aku punya herbal. Ini bisa mengurangi rasa sakit dan mempercepat pemulihan.”
Ia dengan cekatan mengeluarkan:
- daun biru Aelwyn,
- madu ether elf,
- dan kain perban.
“Silakan duduk sebentar. Aku bantu bersihkan lukanya.”
Roux hanya menatapnya kosong.
“W-wait… bocah ini… siapa sebenarnya?”
Elara menatap herbal itu dan tersentak.
“Itu… bahan dari hutan Aelwyn! Seorang manusia tak seharusnya bisa mengambil itu!”
Dahlia menerima herbalnya dengan tangan bergetar.
“T-terima kasih… ini sangat membantu…”
Garruk belum bergerak sedikit pun.
Ia hanya menatap Eiran, pandangannya dipenuhi keterkejutan… sekaligus keraguan.
Karena wajah anak itu…
“…Tidak mungkin…”
Suara Garruk sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Eiran tersenyum kecil kepadanya, mata hitamnya lembut seperti dulu.
Garruk masih terpaku, mulutnya terbuka sedikit ketika ingin memastikan apa yang baru saja dilihatnya.
Namun sebelum ia sempat bicara, tanah di belakang Eiran bergetar pelan.
Dug… dug… dug…
Roux, yang pendengaran dan penciumannya paling tajam, langsung mengangkat telinganya.
“Tunggu… ada sesuatu besar mendekat… dan baunya—”
“GROOOOH—”
Auman berat menggema, membuat daun-daun berguguran.
Hawa dingin merayap turun sepanjang tulang belakang Garruk dan partynya.
Dari balik pepohonan, muncul bulu perak yang memantulkan cahaya matahari, disusul tubuh raksasa yang bergerak anggun namun mematikan.
Sepasang mata biru pucat menyala seperti cahaya bulan musim dingin.
Fenrir.
Makhluk mitos.
Simbol bencana.
Penjaga purba.
Semua petualang refleks mundur dua-tiga langkah.
Dahlia menjerit kecil.
Elara hampir menjatuhkan busurnya.
Roux langsung meletakkan lutut seperti naluri binatang yang tunduk pada predator tertinggi.
Garruk?83Please respect copyright.PENANAr4v8jx4J8i
Ia berdiri kaku… armor besarnya bahkan bergetar halus.
Mereka memandang Eiran dengan mata gemetar:
“E… Eiran… itu… itu kan…”
Fenrir berhenti tepat di belakang Eiran, menatap party itu dengan tatapan datar namun tajam, seolah sedang menilai apakah kelompok ini pantas hidup.
Aura dominan yang mengalir darinya membuat udara jadi berat.
Suasana mencekam.
Tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Fenrir menundukkan kepala sedikit…
— Jangan sentuh anak itu.
Suara telepatinya menggema seperti badai dingin.
Seluruh party membeku.
“Eh!? Eis…! Tidak apa-apa! Mereka tidak jahat!”
Eiran memutar badan panik, berdiri di antara party dan Fenrir.
Fenrir menatap Eiran sebentar, lalu mendengus.
— Aku tidak menyerang. Aku hanya memperingatkan.
“Tetap saja, aura-mu menakuti mereka!”
Eiran mendorong tubuh Fenrir dengan kedua tangannya—meski jelas itu tidak mempengaruhi Fenrir sedikit pun.
Party Garruk hanya bisa menatap kejadian itu dengan ekspresi ‘apa yang sedang kita saksikan ini’.
Garruk berkata lirih:
“Apakah… kau… memarahi Fenrir…?”
Eiran mengangkat tangan tinggi.
“Tenang semua! Ini Fenrir—eh, maksudku, Eis! Dia tidak berbahaya! Dan juga kenalkan namaku Eiran.”
“…Eis?” Elara berkedip.
“Kau memberi nama panggilan ke Fenrir!?”
Fenrir menatapnya dengan tatapan dingin.
— Anak ini keras kepala. Aku tidak punya pilihan.
“T-tunggu, itu bicara!?” Dahlia hampir pingsan.
Roux memukul pipinya sendiri memastikan ini bukan mimpi.
“Aku… aku akan mati karena stres hari ini…”
Lalu—
“EIRAN!! TUNGGUU!!”
Seseorang menembus semak-semak, terengah-engah sambil memegang lututnya.
Seorang elf perempuan dengan rambut hijau lembut—
Lyrinella.
Roux dan Elara langsung terbelalak.
“Elf…??”
Seru mereka bersamaan.
“Dan ini Lyrinella, seorang elf dan juga yang akan menemaniku dalam berpetualang.”
Garruk hampir menjatuhkan kapaknya untuk kedua kalinya hari itu.
“Tidak mungkin… manusia biasa bahkan jarang melihat elf”
Lyrinella mencoba mengatur napas.
“Eiran… bisakah kau tidak berlari tiba-tiba begitu!? Aku hampir tersesat! Dan Eis hampir kehilanganmu juga!”
Fenrir menatap Lyrinella.
— Aku tidak hampir kehilangan siapa pun.
“Eis! Diam! Kau juga panik tadi!”
Lyrinella balas memprotes.
Fenrir mendengus seperti tersinggung.
Party Garruk hanya bisa menyaksikan pertengkaran—antara anak manusia, elf, dan makhluk mitos—seakan itu adalah hal paling biasa di dunia.
Mereka serempak berpikir:
“APA YANG SUDAH TERJADI DENGAN ANAK INI SELAMA DUA TAHUN!?”
Masih terbata dengan apa yang dilihatnya, Garruk memandang Eiran dengan pupil yang bergetar. Tatapannya perlahan melebar… seolah ia baru sadar bahwa kenyataan yang berdiri di depan matanya bukan sekadar mimpi atau ilusi.
“…E… Eiran…?”
Suaranya rendah, serak, hampir pecah.
Detik berikutnya, tubuh besar Garruk bergerak sebelum pikirannya sempat memproses.
Ia berlari dua langkah…
mengulurkan tangan…
dan langsung memeluk Eiran dengan sangat erat.
“Eiran…! EIRAN!!”
Eiran sempat terhuyung mundur karena kekuatan pelukan itu.83Please respect copyright.PENANAjCPaM69S5a
“Eh—T-terlalu kuat!!”
Namun Garruk tidak bisa menghentikannya.
Air mata besar mengalir di wajah keras dan maskulin itu.
Petualang Rank A, pembasmi ratusan monster, pria yang selalu berdiri paling depan tanpa ragu—83Please respect copyright.PENANASfGIDukA4O
kini menangis seperti anak kecil.
“Aku… aku pikir kau sudah mati…!”
Suaranya pecah.
“Selama dua tahun… dua tahun penuh… kami tidak menemukan apa pun… tidak satu jejak pun…”
Ia memeluk Eiran lebih erat, punggungnya bergetar.
“Aku… aku tidak bisa memaafkan diriku, Nak… aku yang menyuruhmu masuk ke hutan itu… aku yang menjerumuskanmu…”
Eiran terdiam, terkejut melihat pria sebesar itu menangis untuknya.
Lyrinella hanya tersenyum lembut, sementara Fenrir/Eis mendengus pelan—entah karena cemburu atau malu melihat manusia yang terlalu emosional.
Eiran perlahan mengangkat tangannya, memegang punggung Garruk.
“…Aku masih hidup, kan? Itu saja sudah cukup. Oh.. Aku ingat, kau adalah orang yang memberiku saran 2 tahun lalu bukan?”
Garruk menggertakkan gigi, mencoba menahan tangisnya.
“Be..benar.. Tampaknya kau masih mengingatku!”
Namun justru itu membuat air matanya mengalir lebih deras.
Ketiga anggota party Garruk berdiri mematung.
Dahlia menutup mulutnya, matanya sudah berkaca-kaca.
“Kapten… tidak pernah… menangis seperti itu sebelumnya…”
Elara mencubit lengannya sendiri.
“…Ini nyata? Bocah ini benar-benar Eiran? Yang hilang 2 tahun lalu itu!?”
Roux, beastkin yang biasanya tenang, terlihat paling syok.
“Tunggu dulu… jadi anak ini… yang dulu kapten ceritakan setiap minum malam? Bocah yang kapten cari sepanjang waktu!?”
Setelah Garruk berhasil menenangkan diri sedikit, Garruk dan ketiganya sambil duduk memperkenalkan diri.
“Dua tahun lalu aku lupa tidak memperkenalkan diriku. Namaku Garruk, petualang rank A dan pemimpin party ini. Lalu ini Dahlia, healer di party ini”
“Senang bertemu denganmu, Eiran,” kata Dahlia lembut.
“Aku Elara. Archer dari party ini,” ujar Elara singkat, masih agak syok.
Roux mengangkat tangannya.
“Nama ku Roux. Scout dan pencium bau terbaik di tim—eh, kau tahu maksudku.”
Eiran tersenyum malu.
“Senang bertemu kalian juga.”
Fenrir menyempil di belakangnya.
— Jangan terlalu dekat pada anak ini.
Ketiganya langsung mundur serempak.
Setelah mereda, Garruk menarik napas panjang dan berlutut di hadapan Eiran—sesuatu yang membuat seluruh party, termasuk Eiran sendiri, tersentak.
“Apa—Garruk!? Jangan seperti itu!”
Garruk menunduk dalam-dalam.
“Aku yang menyebabkan kau tersesat di hutan Aelwyn. Aku yang membiarkan bocah kecil masuk ke wilayah berbahaya sendirian… Dan aku yang seharusnya mempertanggungjawabkan semuanya.”
Eiran menggigit bibir.
Hatinya hangat… tetapi juga sakit melihat rasa bersalah itu.
“Garruk…” Ia menggeleng pelan.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan.”
Garruk mendongak sedikit.
“Aku sendiri yang memutuskan masuk hutan. Aku sendiri yang berlatih—dan aku masih hidup. Jadi tolong jangan menyalahkan diri sendiri lagi.”
Garruk menatapnya… lalu akhirnya tersenyum, meski matanya masih merah.
“Kau tumbuh… jauh lebih kuat dari yang kubayangkan, Nak.”
Fenrir menyendengkan kepala.
— Tentu saja. Aku yang melatihnya.
“Berhenti menyombongkan diri, Eis!”
Eiran mendorong bulu dadanya.
Setelah suasana lebih tenang, mereka duduk melingkar di bawah naungan pohon besar.83Please respect copyright.PENANAtKbEgvhDwT
Eiran mulai menceritakan apa yang terjadi:
- bagaimana ia diselamatkan Fenrir,
- tinggal di Aelthwyn,
- berlatih sebagai Tamer,
- dan bagaimana ia memutuskan kembali untuk berpetualang.
Ia tidak menjelaskan bagian-bagian rahasia—seperti hubungan langsung dengan para Elder, teknik tingkat tinggi, atau Dark Ether yang lebih dalam.
Tapi itu saja sudah membuat party Garruk menatapnya dengan kebingungan campur takjub.
“Elara,” bisik Dahlia, “anak ini… manusia, kan?”
Elara memelototinya. “Kalau bukan manusia, dia apa? Peri kecil yang berubah jadi manusia?”
Roux bergumam sambil menggaruk telinganya:
“Dua tahun hilang, balik-balik bawa Fenrir dan elf… ini definisi protagonis dunia.”
Fenrir menatap mereka dingin:
— Aku bisa mendengar itu, beastkin.
Roux langsung kaku seperti patung.
Garruk hanya menatap Eiran dengan penuh bangga—dan rasa lega yang tak bisa ia sembunyikan.
“…Selamat kembali, Eiran.”
Eiran menunduk, tersenyum.
“Aku kembali.”
Setelah memastikan tidak ada lagi monster bermutasi di sekitar area itu, Garruk mengangkat kapaknya ke bahu dan menghela napas panjang.
“Kalau begitu… ayo kita kembali ke Asterheim.”
Ia menatap Eiran.
“Kau pasti butuh istirahat dan… registrasi ulang, ya?”
Eiran mengangguk kecil. “Iya. Terima kasih sudah membantuku.”
Party Garruk tersenyum.
Namun beberapa langkah setelah mereka mulai berjalan—
Hening.83Please respect copyright.PENANACv5R0bE6FL
Sangat hening.
Tidak ada suara monster. Tidak ada gemerak ranting. Tidak ada geraman jauh.
Hanya… keheningan magis.
Elara memicingkan mata, merinding.
“Umm… kapten? Kenapa hutan ini kosong sekali?”
Roux menelan ludah.
“Karena… karena makhluk di belakang kita itu, kan?”
Ia menoleh sedikit ke belakang.
Fenrir—Eis—berjalan santai sambil mengibaskan ekor peraknya. Tiap kali kakinya menyentuh tanah, hawa dingin lembut menyebar.
Setiap makhluk yang seharusnya ada di hutan itu… kabur.
— Monster lemah tidak akan mendekati anak ini selama aku ada,
kata Eis dengan tenang.
Garruk mengusap wajahnya.
“Tentu saja… tentu saja… perjalanan paling aman dalam hidupku ternyata datang dari makhluk paling berbahaya.”
Lyrinella tertawa pelan.
“Itu keuntungan besar punya Fenrir di sampingmu.”
Eiran mengangguk setuju.
“Eis sangat baik kalau sudah mengenal seseorang.”
Fenrir mendengus.
— Tidak usah menjelaskan hal yang tidak perlu.
“Kau itu benar-benar pemalu ya…”
Eiran menyikutnya ringan.
Party Garruk hanya bisa menatap interaksi itu dengan ekspresi campuran antara kagum, syok, dan bingung.
Dahlia akhirnya berani bicara.
“Eiran… dua tahun bersamamu sepertinya sangat… berwarna, ya.”
Eiran tersenyum malu.
“Sedikit…”
“SEDIKIT!?”83Please respect copyright.PENANAG2jvpHODGm
Roux dan Elara berteriak bersamaan.
Fenrir menoleh dengan tatapan dingin.
— Berisik.
Keduanya langsung diam seperti ayam disiram air.
Sepanjang perjalanan:
- Lyrinella menjelaskan tujuannya sebagai diplomat.
- Dahlia bertanya banyak tentang ramuan elf.
- Elara penasaran dengan teknik pedang Eiran.
- Roux menanyai Fenrir (dengan sangat hati-hati) tentang monster hutan.
- Dan Garruk… hanya menatap Eiran sambil tersenyum puas.
Dalam waktu beberapa jam, tembok raksasa Asterheim—abu-abu, tinggi, megah—mulai terlihat.
Garruk menghela napas.
“Ahh… akhirnya pulang.”
Namun detik berikutnya, ia teringat sesuatu yang membuat wajahnya memucat sedikit.
“…Oh tidak, para penjaga akan panik.”
Eiran mengedip polos.
“Kenapa?”
Dan tepat saat mereka mencapai gerbang…
Penjaga gerbang yang awalnya santai langsung membeku.
Senjata terjatuh. Dagu bergoyang. Salah satu penjaga bahkan langsung meraba-raba udara seolah mencari dukungan.
“Itu… Itu Fenrir… Fenrir… FENRIR!!”
Penjaga lain langsung bersiap meniup tanduk peringatan tingkat bencana.
“MONSTER KATASTRO—”
“STOP!!!”83Please respect copyright.PENANAvbbL0PpMTZ
Garruk langsung menahan tangannya.
Kedua penjaga menatapnya, terlihat ketakutan seperti kijang disorot cahaya.
“Kapten Garruk!? Apa yang—kenapa ada Fenrir di belakangmu!?”
Garruk bersandar pada gagang kapaknya sambil menahan pusing.
“Tenang, dia jinak.”
Lalu ia menambahkan, pelan tapi jelas:
“…sebagian besar.”
Para penjaga menelan ludah bersamaan.
Fenrir menyipitkan mata.
— Aku bisa mendengar itu.
Garruk mundur setengah langkah.
“Maaf…”
Penjaga akhirnya mengizinkan mereka lewat… sambil tetap menjaga jarak minimal sepuluh langkah dari Fenrir.
Eiran masuk kota sambil menahan tawa kecil.
“Eis cukup populer ya.”
— Popularitas bodoh, gumam Fenrir.
Lyrinella menahan senyum.
“Aku sudah membayangkan ini akan terjadi.”
Begitulah, mereka akhirnya masuk ke kota Asterheim—
kota tempat segalanya akan dimulai kembali.
Clank—83Please respect copyright.PENANAKAnVnurGVT
Suara pintu guild terbuka, disertai aroma minuman, suara tawa, dan hiruk-pikuk biasa para petualang.
Namun semua itu terhenti.
Benar-benar terhenti.
Cangkir berhenti di udara.
Kursi berhenti setengah berputar.
Seorang mage bahkan tersedak tapi tidak sempat batuk.
Karena yang masuk adalah:
- seorang bocah laki-laki berseragam pelatihan elf,
- seorang elf berambut perak yang auranya seperti cahaya bulan,
- dan seekor Fenrir setinggi dada manusia dewasa, berjalan masuk guild seolah itu adalah rumahnya sendiri.
Keheningan pecah oleh satu suara kecil:
“A-Apa itu… Fenrir…?”
“Gila… apa kita akan diserang!?”
“K-Kapten Garruk! Apa ini!?”
Guild yang biasanya ribut seperti pasar mendadak kacau dengan bisik-bisik ketakutan.
“Aku belum mabuk, kan?”
“Kok ada makhluk legenda di lobi guild…”
“Itu Fenrir asli? Yang di legenda!? Yang bisa ngelindes orc king tanpa usaha!?”
Fenrir melirik mereka… dan hanya dengan satu dengusan:
— Hmph.
Seluruh petualang langsung mundur setengah langkah.
Eiran tersenyum canggung.
“E-eh, tenang semua… Eis itu nggak berbahaya kok…”
“‘Eis’!? Kau memberi nama Fenrir!?” Seseorang berteriak sampai kursinya jatuh.
Lyrinella menahan tawa kecil. “Tenanglah. Ia tidak akan menyerang, selama tidak ada yang mengganggu Eiran.”
Itu tidak membantu sama sekali.
Semua orang makin takut.
Garruk menggaruk kepalanya keras-keras.
“Haah… aku sudah menduga reaksi ini.”
Ia mendorong Eiran sedikit. “Ayo, kita ke konter resepsionis sebelum ada yang pingsan.”
Eiran mengangguk—dan mendekati meja resepsionis.
Di sana, seorang perempuan berambut oranye cerah masih sibuk menulis laporan, tidak memperhatikan keributan sekitar.
Namanya… Karla.
“Permisi…”83Please respect copyright.PENANAIpH5zyWtH6
Eiran berkata pelan.
Karla mengangkat wajahnya.
“…Iya? Ada yang bisa—”
Kalimat itu terpotong.
Mata Karla membesar. Pulpen terjatuh dari tangannya. Kertas laporan jatuh menimpa lantai.
“…Tidak… tidak mungkin…”
Ia menutup mulut dengan tangan bergetar. Mata yang lelah itu perlahan dipenuhi air mata.
“E… Eiran…?” Suaranya nyaris seperti bisikan.
Eiran tersenyum lembut.
“Halo, Karla. Aku… kembali.”
Karla tidak berpikir panjang.
Ia berlari dari balik meja, meraih Eiran ke dalam pelukan erat.
Sangat erat—seperti seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang sudah lama hilang.
“Kau hidup… kau benar-benar hidup…!”
Suaranya pecah menjadi isakan.
Eiran membalas pelukannya dengan pelan. “Maaf… aku membuat banyak orang khawatir.”
“Bodoh… anak bodoh…” Karla mencubit pipinya, masih sambil menangis.
“Kau pikir aku lupa wajahmu begitu saja!?”
Para petualang di belakang mereka membisu.
Semua sekarang mengerti:
Anak kecil yang dulu hilang…
yang dicari oleh beberapa petualang…
yang sempat dianggap mati…
telah kembali.
Fenrir mengalihkan tatapan.
— Manusia memang terlalu emosional…
Namun ekornya berkibas pelan—pertanda dia tidak terganggu.
Lyrinella tersenyum hangat, seperti seorang kakak yang bangga.
Garruk berdiri tidak jauh, hanya menundukkan kepala dalam campuran lega dan rasa bersalah.
Momen itu… adalah salah satu yang paling hangat dalam seluruh guild.
Setelah tangis Karla mereda—meski matanya masih merah—ia menarik napas dalam-dalam dan mencoba kembali profesional.
“Baik… hik… mari kita mulai proses pendaftarannya.”
Ia menyeka air matanya, lalu mengambil sebuah kartu kristal transparan dari laci.
“Letakkan tanganmu di sini dan alirkan auramu sedikit.”
Ia menunjuk permukaan kristal berbentuk persegi panjang itu.
Eiran menatapnya gugup. “Seperti latihan Ether Link… ya?”
“Betul. Hanya sedikit saja.” Karla tersenyum menenangkan.
Fenrir—atau Eis—duduk di belakang Eiran, menatap langsung ke kristal seolah ingin mengawasinya.83Please respect copyright.PENANArozPRVPBP8
Guild mendadak sunyi, semua menahan napas.
Eiran meletakkan tangannya.
Duum…
Kristal itu bergetar… lalu menyala.
Cahaya hijau terang memancar. Garis-garis eter membentuk simbol seperti siluet serigala raksasa dengan mahkota aura.
“A-Apa… simbol apa itu!?” Seorang petualang hampir tersungkur.
“Tidak mungkin… itu kelas Mythic!?”
“Guild belum pernah melihat itu sebelumnya!”
Cahaya makin kuat, membuat rambut Eiran berkibar.
Pada kartunya, tulisan muncul:
【Class: Tamer – Mythic】
【Beast Affinity: SSS】
【Spiritual Link Detected: Fenrir-Class Entity】
Karla membeku.
Lalu—
“AAAH!? M-M-MYTHIC!? Fenrir-Class Entity!?”
Ia langsung panik, wajah memucat.
Tanpa pikir panjang ia berteriak:
“Guild M-Master! GUILD MASTER! KAMI BUTUH ANDA SEGERA!!”
Semua petualang memandang Eiran seperti melihat dewa turun ke dunia.
Eiran hanya berdiri bingung.
“…E-eh? Apa aku membuat masalah…?”
Fenrir menghela napas.
— Manusia selalu berlebihan.
Tidak lama kemudian, pintu lantai dua terbuka keras.
Seorang pria besar berjas panjang, dengan bekas luka yang menunjukkan ia veteran medan perang, turun.
Dialah Guild Master Asterheim – Varden Stroud.
Ia menatap Eiran…
lalu menatap Fenrir…
dan akhirnya menghela napas seperti kepala keluarga yang anaknya membawa naga masuk rumah.
“…Ikuti aku. Yang lain, kembali bekerja.”
Tidak ada yang kembali bekerja.
Tapi mereka pura-pura memalingkan wajah.
Karla, Lyrinella, Eiran, dan Fenrir menuju ruangan guild master.
Di dalam, Varden duduk.
Aura tekanannya sangat kuat—bahkan Lyrinella tampak sedikit waspada.
“Baik. Jelaskan.”
Varden menatap Eiran tajam.
Namun Lyrinella berdiri satu langkah ke depan.
“Sebelum itu… ini.”
Ia mengeluarkan surat bersegel daun perak—lambang Raja High Elf Aelthwyn.
Varden membacanya perlahan.
Saat mencapai paragraf kedua, alisnya terangkat.
Saat mencapai paragraf ketiga, rahangnya mengeras.
Saat selesai membaca…
“…Jadi begitu. Anak ini… murid Fenrir dan titisan Tamer kuno.”
Napasnya berat, tapi bukan takut—lebih seperti memproses sesuatu yang besar.
Fenrir hanya duduk angkuh, seakan berkata:
Baru sadar sekarang?
Varden menyilangkan tangan.
“Baiklah, Eiran. Aku ingin mendengar langsung darimu.”
Eiran duduk tegak, gugup.
“S-Siapa saya duluan, Pak?”
“Tentu. Mulai dari asal-usulmu.”
Eiran menjelaskan:
- ia berasal dari desa kecil,
- pergi dari rumah,
- masuk hutan Aelwyn karena saran Garruk,
- diselamatkan Fenrir,
- berlatih dua tahun bersama elf.
Varden mengangguk perlahan.
“Aku paham…”
Lalu ia mencondongkan tubuh.
“Berikutnya: apa tujuanmu menjadi petualang?”
Eiran mengepalkan tangan kecilnya.
“Aku ingin menjadi kuat… agar aku bisa melindungi orang lain seperti yang selama ini kulihat dilakukan orang-orang hebat. Aku tidak ingin lagi hanya menjadi beban.”
Varden menatapnya lama.
“…Bagus.”
Pertanyaan berikutnya:
“Fenrir. Apakah makhluk itu stabil? Aman untuk berada di dalam kota?”
Fenrir menjawab sebelum Eiran sempat bicara.
— Jika seseorang menyerang Eiran, aku akan membunuhnya. Tapi selama itu tidak terjadi, aku tidak peduli dengan manusia lain.
Semua orang di ruangan langsung tegang.
Eiran buru-buru menambahkan, “Tapi Eis tidak akan menyakiti siapa pun! Dia… dia partnerku!”
Fenrir melirik Eiran… dan tidak membantah.
Varden memijat pelipisnya.
“…Bocah ini membawa masalah kelas dunia.”
Namun pada akhirnya ia mengangguk.
“Baik. Aku sudah mendapat gambarannya.”
Ia berdiri dan mengulurkan tangan.
“Selamat datang kembali, Eiran. Kau akan menjadi petualang Asterheim.”
Eiran menatap tangan itu, lalu tersenyum haru dan menyambutnya.
Fenrir mengangkat kepala bangga.
Lyrinella menepuk pundaknya dengan lembut.
Guild Master Varden mengambil sebuah kartu dari laci khusus. Kartu itu berbeda dari yang pernah Eiran lihat—lebih tebal, dengan pola sihir berbentuk lingkaran ganda di tengahnya.
“Eiran.”83Please respect copyright.PENANAQED4b03XWi
Suaranya dalam, mengandung wibawa seorang petualang veteran.
“Kau akan mendapatkan… Rank B.”
Eiran membelalakkan mata.
“L-Langsung Rank B!? Tapi—tapi aku baru—”
Varden mengangkat tangan, menghentikannya.
“Dengan kelas Mythic Tamer, partner seperti Fenrir, dan dukungan langsung dari Aelthwyn, kau tidak bisa ditempatkan di rank F atau E. Itu hanya akan mengundang masalah, iri hati, atau bahkan pemburuan.”
Ia menatap Eiran lurus-lurus.
“Di rank rendah, akan ada terlalu banyak mata yang mengincar. Tapi rank B… orang-orang akan menjaga jarak. Bahkan menghormatimu.”
Kartu itu diletakkan di atas meja.
Cahaya biru mengalir mengikuti alur lingkaran sihir.
Varden menambahkan:
“Jangan salah mengerti, ini bukan hadiah. Ini adalah pelindung identitas. Kau harus mengisi kemampuanmu agar sepadan dengan rank ini.”
Eiran mengangguk kuat, mata bersinar.
“Aku… aku siap.”
Fenrir mendengus kecil, seolah berkata tentu saja kau siap.
Lyrinella tersenyum bangga.
Varden menggeser kartu itu ke arahnya.
“Dengan ini… kau resmi menjadi anggota Adventurer Guild Asterheim. Selamat datang kembali, Eiran.”
Eiran mengambil kartu itu dengan kedua tangan, merasakan kehangatannya.83Please respect copyright.PENANATnd0gfWIqH
Nama itu terukir jelas di sana:
Eiran Crestholm – Rank B
Class: Mythic Tamer
Partner: Eis (Fenrir)
Untuk sesaat, Eiran merasa seperti bermimpi.
Pintu guild terbuka.
Angin sore menyapa wajah Eiran dengan lembut saat ia melangkah keluar. Di belakangnya, Lyrinella mengikuti dengan langkah anggun khas elf, sementara Fenrir berjalan dengan wibawa yang membuat semua orang di jalan menepi otomatis.
Eiran menatap kartu petualangnya sekali lagi di bawah cahaya matahari yang mulai temaram.
Dulu, ketika pertama datang ke kota ini…
ia ditertawakan.
Dipandang rendah.
Bahkan nyaris tidak dianggap sebagai calon petualang.
Tapi sekarang…
Ia berdiri tegak, ditemani makhluk mitos yang dipercaya legenda, bersama seorang elf dari bangsa yang tertutup, dan membawa kelas yang telah hilang selama ratusan tahun.
Langkah pertamanya terasa ringan, tapi sekaligus penuh makna.
Fenrir menoleh ke arahnya.
— Ke mana tujuanmu selanjutnya, bocah?
Eiran tersenyum lebar.
“Ke mana pun takdir membawaku… aku akan berjalan di sana.”
Lyrinella ikut tersenyum.
“Baiklah, Petualang Eiran. Saatnya dunia mengenalmu.”
Eiran menggenggam kartu itu erat. Dunia luas terbentang di hadapannya. Bahaya menunggu. Petualangan baru akan dimulai. Dan di antara desir angin, seakan terdengar suara lembut pohon dunia… merestui langkah awal sang tamer muda.
“Beginilah langkah pertama seorang Tamer yang telah dinantikan dunia.”
—Volume 1 berakhir —83Please respect copyright.PENANAYcEiKcj0RS


