Sinar lembut berwarna hijau kekuningan menembus celah-celah daun besar yang membentuk jendela rumah pohon itu. Eiran membuka mata perlahan. Udara pagi Aelthwyn terasa sangat bersih… berbeda sekali dengan udara hutan biasa.
“Hmm…”77Please respect copyright.PENANAtKe00oFFsX
Eiran mengangkat tubuhnya. Aneh—tubuhnya terasa lebih ringan, seperti beban yang selalu menekan bahunya selama ini menghilang.
Apakah ini… efek sihir elf?
Ia masih belum terbiasa tidur di rumah pohon raksasa milik Lyrinella. Lantai dari akar pohon terasa hangat, dan aroma herbal lembut masih menempel di udara.
Tok tok—
Pintu terbuka sedikit, dan kepala Lyrinella menyembul masuk.
“Ah, kau sudah bangun. Bagus. Hari ini adalah hari pertamamu berlatih sebagai Tamer.”
Eiran mengangguk setengah sadar.
“Pagi, Lyrinella…”
Lyrinella masuk sambil membawa sebuah set pakaian yang terlipat rapi.
“Ini pakaian pelatihan. Ringan, tahan ether, dan cocok untuk latihan resonansi jiwa. Cobalah.”
Pakaian itu berupa tunik hijau lembut dengan pola daun perak, celana ringan, dan selendang yang akan mengalirkan ether secara stabil di punggungnya.
Eiran menerimanya dengan mata berbinar.
“Waaah… terlihat keren!”
“Fufu~ syukurlah kau menyukainya. Cepat ganti. Fenrir sudah menunggumu.”
Eiran menelan ludah. Bahkan pagi ini pun terasa menegangkan.
Lapangan latihan kecil terletak di dekat sungai suci yang alirannya berkilauan seperti kaca cair. Burung roh berterbangan rendah, menciptakan suara nyaring namun lembut. Eiran melangkah mendekat… dan di sana, Fenrir duduk dengan tenang. Bulu peraknya berkibar ringan diterpa angin pagi, dan mata biru pucatnya memantulkan keteduhan.
Seperti seorang guru… yang sangat menakutkan.
Eiran menelan ludah.
“P—Pagi Fenrir…”
Fenrir menatapnya sekilas, lalu memejamkan mata kembali.
— “Kau terlambat dua menit.”
“A-Aku minta maaf!!”
— “Hmph… setidaknya kau siap.”
Fenrir bangkit, tubuh raksasanya menggentarkan dedaunan di sekitar.
— “Eiran. Pelatihan Tamer bukan tentang memerintah makhluk. Tamer adalah mereka yang menguasai dirinya terlebih dahulu. Hanya mereka yang stabil dapat menyentuh hati makhluk lain.”
“Dir… diriku sendiri?”
— “Benar. Hari ini kau akan mengetahui betapa sulitnya mendengar ‘jiwa’ makhluk lain… termasuk jiwamu sendiri.”
Fenrir menatap Eiran seperti menembus jantungnya.
Eiran menarik napas panjang. “…Baik.”
Pelatihan Pertama Eiran – Soul Resonance
Fenrir berdiri di tengah lapangan.
— “Duduk.”
Eiran duduk bersila.
— “Tutup mata. Dengarkan. Abaikan angin. Abaikan suara burung. Dengarkan… dirimu.”
Eiran mencoba. Ia mendengar:
- Suara sungai
- Burung roh berkicau
- Daun bergesekan
- Detak jantungnya sendiri
Tapi—
Suara jiwa…? Itu apa?
Fenrir mengirim suara telepati halus.
— “Kau terlalu tegang. Biarkan napasmu mengalir.”
Eiran membuka sedikit matanya. Fenrir terlihat sepenuh fokus padanya.
Ia mencoba lagi.Pikiran Eiran memudar perlahan… seakan dia menenggelamkan dirinya jauh ke dalam dirinya.
Sebuah getaran kecil…Seperti suara lembut yang jauh sekali…
“…di sini…”
Eiran terlonjak. “A-Aku mendengarnya!”
Fenrir membuka mata sedikit.
— “…Hmph. Lumayan.”
Tapi Eiran tahu—Fenrir sedang menahan senyum.
Pelatihan Kedua Eiran – Creature Whisper
Dari semak, seekor Spirit Rabbit melompat, telinganya mengayun dengan cahaya kehijauan. Seekor Sylph Bird hinggap di dahan.
Fenrir mendengus.
— “Makhluk-makhluk kecil ini akan membantumu. Dengarkan mereka.”
Eiran menatap spirit rabbit yang menatap balik dengan mata bulat.
“A—Anu… coba bicara apa saja?”
Yang terdengar:
“Kyuu—kyuuu—!”
Hanya suara biasa.
Fenrir memberi petunjuk:
— “Beast Speak bukan bahasa kata. Itu bahasa emosi. Rasakan apa yang mereka rasakan.”
Eiran memejamkan mata… membiarkan dirinya tenggelam dalam “perasaan”.
Perlahan suara rabbit berubah…
“Dingin… penasaran… sedikit takut… tapi ingin mendekat…”
“Ah..! Aku bisa mengerti!”
Spirit rabbit mendekatinya dan menggosokkan kepala lembutnya di tangan Eiran.
Lyrinella yang mengamati dari jauh menutup mulutnya, kagum.
Pelatihan Ketiga Eiran – Ether Link
Fenrir memanggil seekor Spirit Fox kecil, bulunya seperti awan tipis.
— “Alirkan sedikit Ether-mu padanya. Jangan terlalu banyak.”
Eiran merentangkan tangannya. Kumpulan Ether muncul dari ujung jarinya membentuk bola cahya kecil, seperti percikan cahaya.
“Tolong… terimalah.”
Spirit fox mendekat.
Eiran merasakan Ether-nya mengalir… tapi tubuhnya langsung lemas.
“U-Ugh… ini sulit…”
Fenrir menggeram rendah.
— “Jangan paksa. Atur napasmu.”
Eiran menggigit bibir, menstabilkan tubuhnya… lalu mendorong sedikit Ether lagi.
Spirit fox menyala lembut, bulunya berkedip seperti bintang kecil.
Eiran jatuh terduduk.
“Haa… haa… berhasilkah?”
Fenrir berhenti tepat di depan Eiran.
— “…Ya. Kau membuatnya percaya padamu.”
Meski nada Fenrir datar, bulu ekornya bergerak sedikit—tanda jarang bahwa ia puas.
Lyrinella menangkupkan tangan.
“Eiran… itu luar biasa untuk hari pertama!”
Eiran tersenyum, napasnya masih berat.
“Terima kasih… aku akan terus belajar.”
Fenrir menatapnya dengan mata biru pucat penuh tekanan.
— “Besok akan lebih berat. Bersiaplah.”
Eiran mengangguk.
Hari pertama pelatihan Tamer pun berakhir… dan perjalanan panjangnya baru saja dimulai.
Malam tiba perlahan di Aelthwyn. Cahaya lembut dari bunga-bunga bioluminesensi memantulkan warna biru kehijauan di permukaan rumah pohon. Hutan elf berbisik dengan angin malam, membuat suasananya terasa seperti mimpi.
Eiran duduk di balkon akar, memandangi sungai suci yang berkilauan seperti bintang yang tertumpah.77Please respect copyright.PENANA4nt2nxGO7x
Tubuhnya masih lelah setelah pelatihan, tapi hatinya hangat.
Lyrinella keluar membawa dua cangkir teh herbal.
“Aku tahu kau belum tidur. Kau tampak banyak berpikir.”
Ia duduk di samping Eiran, menyodorkan satu cangkir.
“T-Terima kasih…”
Eiran memegang cangkir dengan dua tangan. Aromanya menenangkan. Beberapa detik hening berlalu sebelum Lyrinella membuka suara.
“Eiran… bolehkah aku bertanya sesuatu?” Suara Lyrinella lembut, tapi penuh ketelitian seorang guru.
“Mm?”
“Apa alasanmu… ingin menjadi kuat?”
Pertanyaan itu menusuk jauh ke dasar hati Eiran.
Napasan Eiran goyah. Ia menunduk, menatap bayangannya di dalam cangkir.
“Aku…”77Please respect copyright.PENANAaafudLlmHE
Ia menggigit bibir bawahnya. “Aku ingin menjadi petualang… tapi bukan hanya itu.”
Lyrinella menunggu dengan sabar.
“Aku kesepian.” Suara Eiran kecil, hampir seperti bisikan.
“Di desaku… semua orang menghindariku. Mereka bilang aku aneh, lemah… dan aku tak pernah tahu kenapa. Aku hanya ingin… diakui.”
Tangannya mengepal pelan di atas lutut.
“Aku ingin melihat dunia. Bertemu orang baru. Bisa membantu seseorang. Bisa berjalan dengan kepala tegak tanpa takut ditertawakan.”
Ia menghela napas panjang, menghapus embun di matanya.
“Jika aku menjadi kuat, mungkin… hidupku akan berubah.”
Lyrinella menatapnya lama. Tatapannya lembut, penuh empati.
“…Kau mengingatkanku pada seseorang.”
Eiran mengangkat wajahnya.“Seseorang…?”
Lyrinella tersenyum sedih.
“Dulu, ada seorang elf muda yang seperti dirimu. Kurang berbakat, sering diremehkan… tapi ia terus melangkah. Ia menjadi salah satu elf paling kuat di generasinya.”
“Wah…” Mata Eiran berbinar. “Siapa dia?”
Lyrinella tersenyum samar. “Itu cerita untuk lain waktu.”
Ia lalu menepuk kepala Eiran dengan lembut.
“Eiran, alasanmu… itu lebih dari cukup. Kekuatan yang datang dari rasa kesepian justru adalah kekuatan yang paling tulus.”
Pagi yang tenang tiba-tiba pecah oleh suara yang memekakkan telinga.
FWOOOOOOOM—!!
Suara Horn of Warning menggema di seluruh Aelthwyn, membuat burung roh beterbangan panik dari pepohonan.77Please respect copyright.PENANAN6Muaf0X2x
Para elf penjaga bergegas menuju sisi timur hutan dengan wajah tegang.
Eiran, yang sedang membersihkan tangan di sungai setelah pelatihan, tersentak kaget.
“A—Apa yang terjadi?!”
Lyrinella yang sedang menyusun ramuan pelatihan langsung berdiri.
“Itu… sinyal bahaya kelas dua. Ada monster yang tidak biasa.”
Beberapa elf melintas cepat, melompat di antara dahan.
“Mutasi?! Di area timur?!”
“Aku melihatnya! Tubuhnya tidak normal—!”
Eiran menelan ludah. Ketegangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya memenuhi udara.
Fenrir muncul tanpa suara dari balik semak, bulu peraknya terangkat sedikit seperti duri.
Mata birunya menyipit tajam.
— “Dark Ether…”
Nada Fenrir lebih berat dari biasanya.
— “Ini… seharusnya tidak bangkit lagi.”
“D-Dark Ether?” Eiran memandangi Fenrir dengan bingung.
Fenrir tak menjawab. Tatapannya terpaku pada arah timur dengan keseriusan yang membuat tubuh Eiran merinding.
Di pusat desa, para Elder muncul satu per satu, dipimpin oleh Elder Araelys yang berambut emas panjang.
“Semua unit penjaga, menuju zona timur! Jangan mendekat terlalu dalam! Observasi terlebih dahulu — hindari kontak langsung!”
Beberapa elf petarung melompat ke atas akar raksasa dan meluncur ke pepohonan secepat kilat.
Eiran ikut melihat dari kejauhan bersama Lyrinella.
Di sela-sela rerimbunan, terlihat sosok mengerikan perlahan bergerak…
“...Itu… apa…?”
Sebuah treant—monster pohon hutan—bangkit dengan tubuh tiga kali ukuran normal.
Namun tubuhnya rusak. Mata treant berubah menjadi hitam pekat seperti tinta mati.77Please respect copyright.PENANAc9xGyroR3r
Akar-akar gelap menjalar dari batangnya, membungkus tubuhnya seperti parasit.
Urat hitam itu berdenyut-denyut.
Treant itu meraung tanpa suara seperti makhluk yang kehilangan akalnya.
Eiran ternganga, tubuhnya gemetar tanpa ia sadari.
“Itu bukan treant biasa…” gumam Lyrinella dengan wajah pucat. “Itu telah terkontaminasi.”
Fenrir berdiri di depan Eiran, menutupi pandangannya.
— “Jangan dekat-dekat. Dark Ether merusak makhluk dari dalam. Bahkan makhluk seperti treant pun bisa berubah menjadi monster.”
Eiran mengangguk, tenggorokannya terasa kering.
Saat para elf fokus mengurung treant bermutasi, suara lain tiba-tiba terdengar dari samping.
GRRRRRRRRRRRR—
Semak-semak di dekat sungai bergerak keras.
Lyrinella segera menoleh.
“Tidak… ada yang lolos!”
Seekor mutated dire wolf melompat keluar, tubuhnya keriput, mata hitamnya mengalirkan darah gelap, dan giginya memanjang tidak normal.
Eiran membeku.
“Dire wolf?! B-Bukan… itu… bukan dire wolf biasa…”
Makhluk itu menatap Eiran seperti hewan lapar yang hanya melihat daging segar.
Lyrinella bersiap menarik Eiran, tetapi monster itu bergerak lebih cepat.
SHHHHHK—!!
Dire wolf melompat langsung ke arah Eiran.
“AA—!!”
Namun sebelum taring itu mencapai wajah Eiran—
GRAAAOOOOOOOOO—!!!
Auman Fenrir mengguncang seluruh hutan.
Angin berputar seperti badai. Dire wolf terhempas jauh, menabrak akar pohon raksasa dan mengerang kesakitan.
Fenrir berdiri di depan Eiran, bulu peraknya berdiri dan aura membunuh menekan seluruh area.
— “Menjauh darinya.”
Dire wolf mengaung, tubuhnya kejang-kejang seperti disiksa dari dalam.77Please respect copyright.PENANA7iyndUNfga
Urat hitam di tubuhnya berdenyut dan membesar.
Eiran menatap dengan ngeri.
“Apa… yang terjadi pada monster itu…?”
Fenrir menjawab dengan nada gelap.
— “Dark Ether memakan jiwa makhluk hidup dan membuatnya kehilangan kendali. Pada akhirnya… tubuh mereka sendiri tidak tahan.”
Dire wolf itu memuntahkan darah hitam, tubuhnya retak seperti kayu kering, dan runtuh menjadi debu kelam.
Eiran terdiam, wajahnya pucat.
Ia baru menyadari—
ini bukan sekadar ‘monster’. Ini penyakit… yang bisa melahap seluruh hutan.
Fenrir menatap Eiran tajam.
— “Eiran.”
Eiran menoleh perlahan.
— “Kekuatanmu… akan dibutuhkan lebih cepat dari yang kau kira.”
Jantung Eiran terhenti sesaat.
Lyrinella memegang bahunya erat.
“Eiran… kami mungkin membutuhkan kemampuan Tamer lebih cepat dari rencana awal. Jangan takut… kami akan bersamamu.”
Eiran menatap kedua tangannya. Masih bergetar.
Namun di balik ketakutannya—
Ada bara kecil yang mulai menyala.
“…Aku akan berusaha,” bisiknya pelan.
“Aku tidak ingin melihat makhluk lain menderita seperti itu.”
Fenrir memejamkan mata, puas dengan jawabannya.
— “Bagus. Persiapkan dirimu… karena ini baru permulaan.”
Tiga hari setelah monster mutase menyerang, Eiran—yang baru selesai melakukan pemanasan—melihat Fenrir duduk di atas batu besar di tepi sungai, bulu peraknya memantulkan cahaya pagi.
Fenrir membuka mata ketika Eiran mendekat.
— “Hari ini, kau tidak akan berlatih fisik.”
“Eh? Lalu… apa yang kulakukan hari ini?”
Fenrir berdiri, tubuh besarnya seperti bayangan raksasa yang menjaga hutan.
— “Pelatihan hari ini adalah inti dari seorang Tamer. Kekuatan yang tidak bisa diajarkan oleh elf… hanya Tamer yang bisa memahaminya.”
Fenrir mengangkat kepalanya ke arah pepohonan.
— “Pertama… Ether Sense.”
Ether Sense
Fenrir menatap Eiran dalam-dalam.
— “Eiran. Tutup matamu. Rasakan aliran energi yang ada di sekitarmu. Makhluk hidup, akar pohon, bahkan udara—semuanya memiliki ether.”
Eiran memejamkan mata perlahan.
Awalnya… hanya gelap. Lalu, Fenrir menjentikkan ekornya ke tanah.
WHUUUM—
Gelombang halus menyapu area itu. Dalam sekejap, dunia gelap di dalam pikiran Eiran berubah menjadi penuh cahaya tipis:
- Roh kecil berkilau seperti bintang
- Akar pohon bercahaya hijau lembut
- Burung roh yang terbang seperti garis cahaya
- Dan Fenrir… bersinar seperti gunung perak
“S-Semua… terlihat…” Eiran bergumam, terpukau.
Fenrir mengangguk.
— “Itu adalah Ether Sense. Kemampuan dasar untuk melihat keadaan ‘hidup’ dari dunia ini.”
Ether Circulation Detection
Cahaya lembut tiba-tiba berubah—menjadi gelap di sudut pandangan Eiran.77Please respect copyright.PENANA5dgeNlTRrD
Akar pohon tertentu tampak kusut, berwarna hitam keunguan.
“A-Apa itu? Mengapa warnanya berbeda…?”
Fenrir mendekat.
— “Itu adalah Dark Ether. Jejak yang sama dengan monster yang kau lihat kemarin.”
Eiran terpaku.
— “Dengan Ether Sense, kau bisa membedakan makhluk yang normal dan yang telah bermutasi sebelum kau mendekat. Ini adalah skill yang menyelamatkan nyawamu… dan nyawa mereka.”
Eiran mengangguk, mencoba menyerap semua informasi.
Namun tiba-tiba—
ZZZTT—!!
Kepala Eiran terasa seperti ditusuk jarum. Pandangan Ether Sense bergetar, lalu padam.
“U-Ugh—!”
WHUMP!
Eiran langsung pingsan, jatuh ke pangkuan rumput selama 10 detik.
Lyrinella yang mengamatinya dari jauh menjerit kecil, “EIRAN!!”
Fenrir mengibaskan ekornya.
— “Tenang. Ini normal.”
10 detik kemudian, Eiran terbangun sambil memegangi kepalanya.
“Aduuuuh… aku merasa seperti dipukul goblin…”
Fenrir menatapnya datar.
— “Untuk pertama kali… kau melakukannya dengan cukup baik.”
Eiran perlahan berdiri, agak malu-malu. “T-terima kasih… kurasa?”
Fenrir sebenarnya tersenyum kecil.
Subjugation Light
Setelah Eiran pulih, Fenrir berdiri di depannya lagi.
— “Skill berikutnya jauh lebih penting. Ini bukan untuk menyerang…”
Fenrir menurunkan kepalanya, mata birunya berkilat lembut.
— “…melainkan untuk menyelamatkan.”
Eiran menelan ludah.
Fenrir memerintah:
— “Rentangkan tanganmu. Fokus pada niatmu untuk menenangkan.”
Eiran mengangkat tangan. Aura lembut putih mulai membentuk cahaya tipis di telapaknya.
Lyrinella menatap, terpukau. “Cahaya itu… itu seperti mantra penyucian elf…”
Fenrir mengangguk.
— “Itu disebut Subjugation Light. Cahaya yang menekan agresi dan ketakutan makhluk liar. Tidak membahayakan mereka… hanya menstabilkan.”
Cahaya di tangan Eiran agak goyah.
“Bisakah aku benar-benar… menenangkan monster?”
— “Coba saja.”
Fenrir memanggil seekor spirit wolf liar tingkat rendah yang telah jinak kepada para elf penjaga.
Dire wolf itu mendekat lambat, tapi terlihat gelisah—mungkin karena aura Eiran yang belum stabil.
Eiran mendekat.
“Ayo… tenang… tidak apa-apa…”
Ia mengulurkan tangannya, tetapi—
GRRRRRR—
Spirit wolf itu mundur, menunjukkan taringnya.
“Ah! Maaf—!”
Eiran mencobanya lagi.
Gagal.
Dan lagi.
Gagal.
Eiran mengatur napasnya. Ia mengingat latihan Soul Resonance, mengintip “perasaan” dire wolf.
Takut… bingung… defensif.
“…Aku tahu kau takut. Aku juga takut… tapi tidak apa-apa. Aku tidak ingin menyakitimu.”
Cahaya di tangannya berubah lembut, lebih stabil.
Perlahan, ia menyentuh kepala dire wolf. Cahaya putih meresap ke tubuh makhluk itu.
Dire wolf berhenti menggeram—
lalu merendahkan tubuhnya dan menjilat tangan Eiran pelan.
Eiran terdiam.
“…Berhasil.”
Lyrinella menutup mulutnya kegirangan.
Fenrir menatap Eiran lama.
— “Skill ini… akan menyelamatkan banyak nyawa.”
Eiran membalas tatapannya.
“…Aku akan menggunakannya sebaik mungkin.”
Fenrir berbalik, melangkah menuju sungai.
— “Bagus. Besok, latihanmu akan lebih berat.”
Eiran menelan ludah dalam-dalam.
“Oh tidak…”
Lyrinella menepuk punggungnya sambil tertawa kecil.
“Kau akan terbiasa~”
Eiran bisa bersumpah bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Malam turun di Aelthwyn, namun di ruang rapat para Elder—yang berada di dalam inti akar Yggdrasil—tidak ada seorang pun yang bisa tidur. Cahaya kristal hijau berdenyut pelan, seolah merasakan ketegangan yang memenuhi ruangan.
Di tengah meja akar melingkar, sebuah peta hutan Aelwyn terbentang. Tiga titik bercahaya ungu gelap terlihat di atasnya.
Elder Araelys menunjuk titik pertama.
“Utara… ditemukan konsentrasi Dark Ether yang merusak slime. Monster yang terlihat lemah namun setelah menyerap Dark Ether, Kekuatan dan ukurannya meningkat 10 kali lipat.”
Ia menggeser jarinya ke titik kedua.
“Timur… tempat mutated Minotaur muncul.”
Dan titik terakhir—
“Timur laut… roh-roh kecil menghilang, dan akar Yggdrasil menunjukkan gejala layu dan terlihat sosok King Orc bersama anak buahnya yang terdampak Dark Ether menjadikan titik ini adalah titik yang paling berbahaya”
Elder lain, Velnarion, mengerutkan alisnya.
“Tiga titik ini… semuanya berada di jalur menuju perbatasan dunia manusia.”
Beberapa elf terdiam. Suasana berubah mencekam.
“Tidak mungkin kebetulan,” gumam seorang Elder wanita berambut perak. “Seseorang… atau sesuatu… membawa Dark Ether masuk dari luar.”
Fenrir berdiri di sudut ruangan, bulu peraknya seperti kabut yang bergerak sendiri. Matanya tetap menatap peta tanpa berkedip.
Thalrien, Raja Elf, akhirnya bicara. Suaranya tenang, namun tekanan magisnya menekan semua yang hadir.
“Kita tidak boleh lupa satu hal.”
Ia melirik pada Fenrir.
“Dua hal aneh terjadi pada hari yang sama—bangkitnya Dark Ether… dan kedatangan seekor Fenrir yang telah lama menghilang.”
Beberapa Elder saling pandang.
“Apakah kedatangan Fenrir… terhubung dengan Dark Ether?”
“Dan anak manusia itu… Eiran. Bagaimana ia ditemukan tepat di wilayah yang kini tercemar?”
Lyrinella yang ikut menghadiri rapat menunduk.
“Saya tidak percaya Eiran adalah ancaman…” katanya pelan. “Tapi… waktu kehadirannya memang mencurigakan.”
Fenrir mengeluarkan auman rendah, bukan ancaman—lebih seperti peringatan.
— “Anak itu tidak membawa Dark Ether. Jika ia melakukannya, aku tidak akan membiarkan dia hidup.”
Ruang rapat sunyi sesaat.
Elder Araelys menghela napas panjang.
“Jika Dark Ether muncul kembali setelah seribu tahun… itu berarti segel lama telah melemah.”
Elder Velnarion menambahkan,
“Dan jika segel itu runtuh, bukan hanya Aelthwyn yang terancam. Dunia ini…”
Raja Thalrien menutup mata. Aura hijau keemasan mengalir dari tubuhnya, menenangkan getaran akar-akar Yggdrasil.
Kemudian ia membuka mata — suaranya berat seperti keputusan yang mengguncang dunia:
“Jika benar… maka dunia ini akan berguncang sekali lagi.”
Kristal-kristal cahaya di ruangan berkedip seolah merespons firasat buruk itu.
Fenrir menatap peta, matanya menyala biru pucat.
— “Waktu kita tidak banyak. Dan anak itu… Eiran… akan menjadi pusat dari semua ini.”
Semua Elder terdiam.
Karena jauh di luar ruangan itu, di bawah bulan hijau Aelthwyn…
Dark Ether kembali berdenyut di dalam hutan.
Seakan menunggu seseorang.
Di ruang rapat inti Aelthwyn, suara ketukan tongkat Raja Aerendyl menghentikan semua percakapan. Para Elder berdiri mengelilingi peta, ekspresi mereka tegang.
“Ada tiga zona mutasi aktif,” ujar Elder Araelys. “Dan penyebarannya semakin cepat.”
“Jika kita tidak bertindak, Dark Ether akan merusak seluruh akar hutan,” tambah Elder lain.
Fenrir berdiri di dekat dinding akar, menatap peta seperti memandang musuh lamanya.
— “Biarkan anak itu menghadapinya.”
Ruangan seketika sunyi.
“Eiran?!”77Please respect copyright.PENANAjoOo7KYqXd
“Dia baru mulai pelatihan!”
Raja Elf mengangkat tangannya, menghentikan keributan.
“Jika Fenrir percaya… maka kita harus mempertimbangkannya. Monster bermutasi akan terus muncul. Kita butuh Tamer untuk menstabilkan mereka.”
Ia menatap seluruh ruangan.
“Ujian mutasi akan dimulai besok. Kita lihat… apakah Eiran layak mengembalikkan keseimbangan dunia.”
Di rumah pohon, Lyrinella membuka pintu dengan wajah serius.
“Eiran.”
Eiran yang sedang menyiapkan pakaian latihan menatapnya bingung.
“Ada apa?”
Lyrinella menelan napas. “Raja memberi perintah baru… Kau harus mengikuti Ujian Melawan Monster Bermutasi.”
Eiran terdiam. Jantungnya berdegup cepat.
“A-Aku? Tapi aku baru—”
“Ini bukan pilihan. Ini… kebutuhan.”
Fenrir muncul dari balik bayangan pohon.
— “Takdir bergerak lebih cepat dari rencanamu, Eiran.”
Mata Eiran bergetar, namun ia akhirnya mengangguk.
“…Baik. Aku akan melakukannya.”
Elf-elf pembantu memberikan perlengkapan:
- Jubah Pelindung Ether, terbuat dari bahan yang hanya ditemukan di Aelthwyn yaitu benang akar pohon dunia Yggdrasil
- Pedang yang terbuat dari ranting pohon dunia Yggdrasil. Pedang ini memiliki durabilitas yang kuat dan mampu menghantarkan Ether dengan stabil
- Herbal penstabil aura, terbuat dari daun pohon dunia Yggdrasil
- Liontin roh untuk sinyal darurat
Lyrinella menggambar sigil pada tangan Eiran.
“Ini akan menguatkan mentalmu. Jangan lepaskan liontin ini.”
Eiran menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Fenrir mendekat dan menyentuh kepala Eiran dengan hidungnya.
— “Aku akan mengawasi dari jarak jauh. Kau tidak sendiri.”
Eiran tersenyum tipis.
“Terima kasih… Fenrir.”
Hari Pertama
Tepi rawa dipenuhi kabut tipis dan aroma tanah busuk. Airnya berwarna kehijauan… dan beberapa tempat tampak berdenyut seperti daging hidup.
Eiran menelan ludah.
“Ini… menakutkan…”
Fenrir berdiri di belakangnya seperti penjaga.
— “Ujian dimulai.”
Gelembung raksasa muncul dari rawa.
BLOOP… BLOOP…
Slime itu sepuluh kali lebih besar dari slime normal dan warnanya hitam-ungu. Urat-urat gelap mengalir di tubuhnya, dan setiap kali bergerak, tanah di bawahnya layu.
Slime itu melesat tiba-tiba.
“Uwah—!!”
Eiran berguling, menghindari cipratan cairan korosif yang menghancurkan batu.
Fenrir memberi perintah telepati:
— “Fokus pada intinya. Tenangkan ethernya sebelum menyerang.”
Eiran mengangkat tangan.
“Subjugation Light—!”
Cahaya lembut menyentuh tubuh slime.
Pergerakannya melambat.
Eiran menembus inti hitam slime menggunakan pedangnya.
SHAAAACK—!!
Slime hancur menjadi kabut hitam.
Eiran terengah-engah.
“…Satu selesai.”
Fenrir menatapnya dengan anggukan kecil.
— “Baik.”
Hari Kedua
Area ini berupa padang hutan rapat dan jalur akar yang tumbang. Aroma besi dan darah memenuhi udara.
Eiran memegang pedangnya erat.
Fenrir berhenti.
— “Hati-hati. Energi besar bergerak di sekitar sini.”
Tanah mulai bergetar.
Eiran mengangkat wajah.
“A-Ada yang datang!”
Dari balik pepohonan, sesosok raksasa muncul. Minotaur dengan tubuh retak-retak, otot gelap, dan tanduk hitam yang memanjang seperti pedang.
ROOOOAAAAARRRR—!!!
Eiran merasakan tubuhnya bergetar hebat.
“Ini… ini terlalu kuat—”
Fenrir mengirimkan suara ke dalam pikirannya.
— “Jika kau takut… kau akan mati. Tenangkan hatimu.”
Minotaur menyerang dengan kapak hitamnya, menghancurkan pohon dengan sekali tebas.
Eiran menghindar, hampir terjatuh.
“Aku… aku harus fokus…!”
Ia mengaktifkan Ether Sense.
Titik hitam di dada Minotaur berdenyut tidak stabil.
“Di situ!”
Eiran memanggil Spirit Wolf yang pernah ia latih.
Spirit Wolf menggigit kaki Minotaur, menciptakan celah.
Eiran berlari, melompat ke depan dada Minotaur, dan menembakkan Subjugation Light.
BUAAAM—!!
Minotaur berteriak, tubuhnya retak, lalu runtuh menjadi debu hitam.
Eiran jatuh terduduk, napas tersengal.
Fenrir mengangkat kepalanya bangga.
— “Pertumbuhanmu cepat.”
Hari Terakhir
Zona terakhir adalah padang gelap yang diisi pohon tumbang dan tanah retak.77Please respect copyright.PENANA1joADWSXRD
Energinya… paling besar dari semuanya.
Fenrir tampak tegang.
— “Di sini… ada lebih dari satu.”
Eiran menelan ludah.
“Berapa?”
Fenrir tidak menjawab. Tapi tanah mulai bergetar hebat.
Dari balik kabut, enam orc bermutasi muncul, tubuh mereka dipenuhi retakan hitam dan luka yang terus menutup sendiri.
Di belakang mereka…
King Orc raksasa muncul.
Tinggi hampir empat meter, tubuh penuh urat hitam, matanya merah menyala seperti batu bara.
“Se… sebanyak ini?!”
Fenrir berdiri tegap.
— “Ini ujian terakhir. Kau tidak boleh mundur.”
Orc bawahan menyerbu duluan.
Eiran menyalakan Ether Sense, melihat titik-titik lemah mereka: di lengan, bahu, dan perut.
Ia mengayunkan pedangnya, dibantu Spirit Wolf dan Subjugation Light.
Satu demi satu roboh.
Tapi King Orc masih berdiri.
Dengan auman keras, King Orc menghantam tanah. Gelombang udara menghantam Eiran hingga terlempar.
“Uaahh—!!”
Fenrir menahan Orc itu dengan aura dingin, tetapi tidak turun tangan.
— “Berdiri! Kau tidak akan lulus jika jatuh di sini!”
Eiran bangkit sambil memegangi dada.
Ia mengingat semua latihan:
- Soul Resonance.
- Creature Whisper.
- Ether Link.
Ia memanggil semua energi yang ia miliki.
Subjugation Light menyala lebih terang dari sebelumnya.
King Orc mengayun kapaknya.
Eiran berlari dan melompat ke arah wajah Orc itu.
“HHHAAAAAA!!!”
Ia menembakkan cahaya itu langsung ke titik hitam di leher Orc.
DOOOOOOM—!!!
Ledakan cahaya menelan raksasa itu.
King Orc runtuh, tubuhnya pecah menjadi partikel hitam.
Eiran jatuh berlutut. Nafasnya hampir habis.
Fenrir akhirnya berjalan mendekat.
— “Kerja bagus… Eiran.”
Sore di Aelthwyn terasa berbeda hari itu. Hembusan angin membawa aroma bunga hutan, namun ada ketegangan yang samar—seperti seluruh hutan menahan napas. Cahaya matahari temaram menyelinap di sela-sela dedaunan, menyinari jejak langkah Eiran dan Fenrir yang kembali dari zona mutasi terakhir.
Eiran berjalan tertatih, tubuhnya penuh luka ringan dan debu hitam yang tersisa dari pertempuran. Nafasnya pendek-pendek, tapi matanya… masih menyala.
“Fiuh… akhirnya selesai…” Eiran tersenyum kecil, walau kakinya terasa seperti ingin roboh.
Fenrir berjalan di sampingnya dengan langkah tenang, bulu peraknya sedikit kusut namun auranya tidak berkurang sedikit pun.
— “Kau melakukan dengan baik.”
Eiran tertawa kecil.
“Jarang kau bilang begitu, Fenrir.”
— “…Hmph.”
Fenrir memalingkan wajah, seolah menolak mengakui pujian itu.77Please respect copyright.PENANAmSU2y8NSaG
Namun Eiran tahu—Fenrir bangga.
Saat mereka keluar dari hutan dan mendekati gerbang akar alami Aelthwyn, beberapa elf penjaga bergegas mendekat.
“Dia kembali… Eiran kembali!”
“Lihat! Dia berhasil kembali hidup!”
“Fenrir juga bersamanya!”
Beberapa elf bersorak pelan namun kagum, seperti menyaksikan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Lyrinella muncul paling depan, matanya membesar ketika melihat keadaan Eiran.
“Eiran! Kau terluka! Duduk cepat!”
Ia berlari sambil membawa ramuan penyembuh.
Eiran tersenyum malu-malu.
“Ah… aku baik-baik saja kok—”
Begitu Fenrir mengibaskan ekornya, Eiran langsung terdorong ke belakang dan duduk paksa.
— “Kau bukan baik-baik saja. Kau hampir mati tiga kali.”
“H-Hey! Jangan bilang itu di depan mereka—!”
Elf-elf yang mendengar tertawa pelan, menghilangkan sebagian ketegangan.
Lyrinella segera memeriksa tubuh Eiran.
“Lelah ekstrim… kerusakan ether ringan… tapi tidak ada luka serius. Ini… tak masuk akal. Untuk anak manusia seusiamu.”
Eiran hanya menggaruk kepala.
“Hahaha… aku hanya melakukan yang bisa kulakukan.”
Fenrir duduk di samping Eiran, mengawasinya seperti penjaga setia.
— “Istirahatlah. Para Elder sedang mempertimbangkan keputusan mereka.”
Eiran menunduk.
“Apakah… aku lulus? Atau gagal…?”
Fenrir menjawab tanpa ragu.
— “Jika itu bukan kelulusan… maka dunia ini telah gila.”
Eiran terkekeh, lalu memandang langit sore yang berubah jingga.
Hatinya berdegup pelan, bukan karena takut—tapi penuh harapan.
Beberapa menit kemudian, seorang elf penjaga datang terburu-buru.
“Eiran! Fenrir! Para Elder memanggil kalian. Upacaranya… akan dimulai.”
Lyrinella tersenyum lembut, menepuk pundak Eiran.
“Pergilah. Langkahmu selanjutnya… sudah menunggu.”
Fenrir berdiri, tubuhnya memancarkan wibawa.
— “Ayo, Eiran.”
Eiran menarik napas panjang. Ia berdiri, menggenggam liontin yang menggantung di lehernya—pemberian Lyrinella, simbol perjalanan barunya.
Ia melangkah menuju kastil akar Yggdrasil, menuju masa depan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
Dan untuk pertama kalinya…Semua elf yang dilewatinya menatapnya bukan sebagai “anak manusia lemah”.
Tapi sebagai seseorang yang telah mengubah takdir.
Di aula besar Yggdrasil, para Elder berdiri melingkar.
Raja Thalrien maju.
“Eiran, murid Fenrir, anak dari dunia manusia… Dengan ini kami mengesahkanmu sebagai…”
Ia mengangkat tongkat akar cahaya.
“TAMER RESMI AELTHWYN. Pewaris selanjutnya dalam 150 tahun.”
Cahaya hijau menyelimuti Eiran.
Elf-elf menunduk memberi salam.
Fenrir berdiri di belakangnya, bangga.
Eiran menggenggam dadanya—matanya bergetar antara lega dan haru.
“Aku… benar-benar berhasil.”
Dan perjalanan barunya sebagai Tamer pun dimulai.
BONUS ACT77Please respect copyright.PENANA63UpPMXtEc
Dua tahun berlalu sejak hari ketika Eiran menghilang di hutan Aelwyn.
Banyak hal berubah.
Guild Asterheim kini memiliki beberapa rising star baru. Namun yang paling mencolok adalah lelaki botak berotot yang kini memakai mantol hitam dengan emblem pedang emas di bahu—tanda petualang Rank A.
Garruk Stonefist.
Dan hari itu, ia kembali ke hutan yang sama… hutan yang terus menghantui tidurnya selama dua tahun.
Daun-daun bergetar seolah mengenali kehadiran manusia.
Roux, beastkin berwajah kucing dengan telinga yang mencuat dari kapuchonnya, mengendus pelan.
“Energinya… masih aneh. Bau gelap ini bukan bau normal hutan.”
Di sampingnya, seorang archer berambut perak mengencangkan busurnya.
Elara, archer berbakat dengan tatapan setajam anak panahnya.
“Aku tidak suka tempat ini… hutan ini seperti sedang memperingatkan kita.”
Garruk berdiri paling depan, memegangi kapak besarnya, wajahnya keras namun dipenuhi tekad.
“Kita masuk.”
Namun Dahlia, perempuan healer berwajah lembut namun tegas, menghentikan langkahnya.
“Kapten… ini sudah dua tahun. Apa kau yakin… dia masih hidup?”
Garruk menoleh tanpa senyum.
“Mungkin dia sudah mati… mungkin juga tidak.”
Ia lalu menarik liontin kecil dari saku dalamnya—potongan kecil pedang kayu Eiran.
“Tapi aku janji padanya… aku tidak akan menyerah sebelum sendiri melihat kebenarannya.”
Party itu saling pandang, lalu mengangguk.
“Baik,” ujar Dahlia.
“Siap, kapten,” ucap Elara.
“Nyawaku taruhannya,” tambah Roux sambil menggerakkan telinga kucingnya.
Mereka pun memasuki hutan Aelwyn yang tampak jauh lebih gelap daripada dua tahun lalu.
Angin mengalir seperti bisikan roh.
Roux berhenti mendadak.
“Tunggu. Ada sesuatu yang besar… bergerak mendekat.”
Elara menaikkan busur.
“Seberapa besar?”
Roux mengedipkan pupil vertikalnya yang memantulkan cahaya samar.
“Tiga kali ukuran dire wolf biasa… dan cepat.”
Dahlia menggenggam tongkatnya erat-erat.
“Dark Ether… masih ada?”
Garruk mengangguk pelan.
“Kemungkinan. Tetap waspada.”
Semak-semak bergerak.
Tanah bergetar.
GGRRRAAAAAAAWWWWL—!!!
Garruk segera memasang kuda-kuda.
“Bersiap!!”
Tiga dire wolf keluar dari bayangan pohon.
Namun tubuh mereka berbeda:
- Mata hitam pekat, bukan kuning alami.
- Cahaya ungu kehitaman merembes dari mulut mereka.
- Urat gelap menjalar di kaki dan punggung.
Dire Wolf Bermutasi.
Elara berkata dengan suara bergetar,
“Ini… tidak normal. Mutasi semutah ini di luar habitat mereka…”
Roux menajamkan kukunya.
“Mereka mengurung kita.”
Garruk mengayunkan kapak dan menghentakkan kakinya.
“Aku akan menghadapi bagian depan! Elara, kanan! Roux, kiri! Dahlia, support!”
Dahlia mengangguk cepat. “Baik!”
Dire wolf terbesar maju duluan, mengaum keras.
GRAOOO—!!
Dan di saat itu, Garruk melihat sesuatu pada mata makhluk itu— sekilas bayangan masa lalu…
Eiran.77Please respect copyright.PENANAPycD56M4w9
Anak kecil yang ia biarkan masuk hutan seorang diri.
Garruk mengatupkan rahangnya keras.
“Kalau aku tidak bisa menyelamatkan satu anak…”
Ia mengangkat kapaknya tinggi.
“Maka apa gunanya aku menjadi Rank A?!”
Dire wolf menerjang.
Garruk menerjang balik.
BAAAM—!!!
Benturan keras mengguncang dedaunan.
Roux melompat ke kanan, Elara melepaskan panah berlapis aura, Dahlia memanggil cahaya suci untuk memperkuat pertahanan Garruk. Pertempuran malam itu… Adalah awal dari takdir besar.
Di tengah bentrokan, Garruk merasakan sesuatu mengamati mereka dari kegelapan hutan. Sesuatu besar. Sesuatu dengan aura… kuno.
Namun sebelum ia sempat mencari—
Dire wolf terbesar melompat lurus ke arahnya.
Garruk menggeram.
“Ayo! Tunjukkan padaku siapa yang masih berani menghalangi!”
Kapak Garruk dan taring dire wolf saling bertemu dalam percikan cahaya ether.77Please respect copyright.PENANAPpSYGfWZE6


