Eiran perlahan membuka mata. Pandangannya buram, dan yang pertama ia lihat bukanlah langit atau pepohonan hutan—melainkan langit-langit berwarna hijau lembut, seolah terbuat dari dedaunan yang menyatu.
Ia terlonjak kecil.
“Di… mana ini?”
Ia menoleh ke kiri dan kanan. Ruangan itu—bukan ruangan biasa. Dindingnya bukan kayu yang dipahat, tetapi akar hidup yang melengkung membentuk dinding alami. Cahaya kehijauan memancar dari butiran kristal kecil di sela daun.
“Aku… tidak ingat dibawa ke sini…”
Tubuhnya juga terasa ringan dan hangat, berbeda dari sebelumnya. Saat ia mencoba bangkit, sebuah suara halus terdengar dari pintu.75Please respect copyright.PENANA5J9eFiZmiF
“Syukurlah, kau sudah sadar.”
Eiran menoleh cepat.
Di ambang pintu berdirilah seorang perempuan berambut panjang hijau-perak, telinga runcing, dan wajah yang begitu indah hingga terasa seperti ilusi.
“E-el… elf?” Eiran menelan ludah.
Perempuan itu tersenyum lembut.
“Nama ku Lyrinella. Penjaga gerbang Aelthwyn.”
“A-Aelthwyn…? Negara Elf…?”
Eiran membelalakkan mata. “Bagaimana aku bisa di sini? Terakhir aku… dikepung dire wolf, lalu… Fenrir…”
Lyrinella melangkah masuk, merapikan jubahnya.
“Kau ditemukan pingsan di dalam hutan. Fenrir sendiri yang mengantarkanmu ke gerbang kami.”
“F-Fenrir…”75Please respect copyright.PENANAfDrkLaLZs4
Eiran gemetar. Ia ingat sinar mata biru itu. Ketakutan. Kemunculan makhluk mitos. Lalu gelap.
“Kau beruntung masih hidup,” tambah Lyrinella. “Siapa pun yang dibawa Fenrir… pasti memiliki sesuatu yang istimewa.”
Eiran menunduk tak percaya.
“Sesuatu… istimewa?”
Lyrinella melanjutkan, “Raja dan para Elder ingin bertemu denganmu. Mereka juga mengizinkanmu tinggal di Aelthwyn untuk sementara.”
Eiran mengangguk—antara bingung, takut, dan sedikit lega.
“Bisakah aku… bertemu Fenrir?”
Lyrinella tersenyum tipis. “Kau bisa melihatnya sekarang. Dia menunggumu di luar.”
Eiran keluar dari rumah pohon kecil itu. Angin hutan menyapa wajahnya, membawa aroma segar bunga liar. Begitu langkahnya mencapai tanah, ia melihat sosok besar berbulu perak berdiri di bawah pohon tua raksasa.
Fenrir.
Tubuh Eiran otomatis menegang.
“K-kau…”
—Tidak perlu takut.
Suara itu memenuhi kepalanya lagi—tenang, menyelimuti, namun kuat seperti angin utara.
Eiran memegang dadanya.
“Jadi… kau benar-benar bicara denganku…”
Lyrinella di belakangnya menenangkan, “Dia tidak akan melukaimu. Jika dia berniat jahat, seluruh hutan sudah porak-poranda.”
Eiran menelan ludah dan mendekat.
“Terima kasih… karena menyelamatkanku.”
Fenrir menundukkan kepala sedikit, bulu peraknya berkilau.
—Kau sudah menunjukkan keberanian. Itu cukup bagiku.
Sebelum Eiran bisa bertanya lebih jauh, sebuah suara dari jauh memanggil Lyrinella.
“Lyrinella! Raja memanggil kalian!”
Di dalam kastil besar yang terbentuk dari akar pohon dunia Yggdrasil, Raja Thalrien dan para elder menuruni tangga berlapis cahaya hijau. Mereka berjalan perlahan, wajah mereka serius.
Salah satu elder berhenti sejenak, melihat ke luar melalui jendela akar.
“Yang Mulia… lihat.”
Di kejauhan, terlihat jelas seorang anak manusia—berdiri di hadapan seekor Fenrir. Dan Fenrir itu…
Tunduk.
Thalrien menghela napas panjang.
“…Jadi ini… benar-benar terjadi.”
Para elder saling pandang, lalu mereka semua bergegas menuju ruang rapat.
“Ritual kuno harus dipertimbangkan kembali… Untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.”
Lyrinella mengajak Eiran berjalan menyusuri desa. Rumah-rumah pohon, jembatan akar yang melayang, serta roh-roh kecil menyambut mereka.
Para elf berhenti dan menatap Eiran.
“Anak manusia?”
“Kenapa dia bersama kapten?”75Please respect copyright.PENANAJrZElyN8lb
“Apa penyebab hebohnya Fenrir tadi… dia?”
Eiran menunduk sedikit. “A-ah… permisi…”
Namun Lyrinella hanya tersenyum. “Mereka hanya penasaran.”
Setelah perjalanan panjang, mereka tiba di depan kastil besar dari akar pohon dunia. Pintu raksasa seperti ukiran daun membuka dengan sendirinya.
“Tolong jangan kaget,” bisik Lyrinella. “Para petinggi elf jarang menerima manusia.”
Aula itu luas, diterangi cahaya hijau lembut. Di tengahnya berdiri seorang elf berwibawa, rambut perak mengalir, mata biru jernih yang memancarkan kebijaksanaan.
“Selamat datang, anak manusia,” ucapnya dengan suara hangat namun agung.
“Aku Thalrien Aelthwyn, Raja dari negeri ini dan seoranh High Elf.”
Eiran menunduk keras hingga bahunya gemetar.
“N-nama saya… Eiran…”
“Tenanglah,” ujar Aerendyl. “Kami tidak memakan manusia.”
Beberapa elder terkekeh kecil.
Aerendyl kemudian memandangnya lebih dalam.
“Eiran… apakah kau ingin menjadi lebih kuat?”
Eiran menggigit bibir.
“Ya… aku ingin. Aku ingin menghentikan rasa takutku…”
“Baik,” jawab sang raja. “Karena kau… memiliki kekuatan yang hilang dari dunia.”
Eiran mengangkat kepalanya cepat.
“A-apa…?! Tidak mungkin… aku hanya—”
“Kau adalah Tamer.”
Aerendyl menjelaskan, “Hanya Tamer yang mampu berbicara dengan makhluk mitos dan membuat mereka tunduk. Dan Fenrir memilihmu.”
Eiran terdiam. Wajahnya pucat. Semua rasa tidak percaya bertumpuk.
“Tapi… aku tidak…”
“Kau meragukannya karena kau belum mengendalikannya,” potong Aerendyl. “Tamer adalah anugerah yang lahir dari jiwa, bukan ritual.”
Eiran tidak mampu berkata apa-apa.
Aerendyl berdiri dan memutuskan,
“Eiran. Tinggallah di Aelthwyn selama dua tahun. Kami akan melatihmu mengendalikan kekuatanmu.”
Ia menatap Lyrinella.
“Lyrinella, mulai hari ini kau menjadi pengawas dan pembimbingnya.”
Lyrinella membungkuk. “Dengan senang hati, Yang Mulia.”
Eiran menunduk dalam-dalam.
“T-terima kasih… aku akan berusaha.”
Saat mereka keluar kastil, suara dedaunan bergerak pelan. Fenrir muncul dari balik bayangan—seolah sudah menunggu.
Eiran mendekat perlahan.
“Tadi… Raja dan para elder bilang aku adalah… Tamer.”
—Itu benar.
Eiran terdiam.
“Lalu… apa yang harus kulakukan?”
Fenrir menatapnya dalam-dalam, kemudian menundukkan kepala.
—Aku melihat kau memiliki aura yang mirip dengan Tamer Sebelumnya. Mulai hari ini, nasib kita terikat.
Fenrir memancarkan cahaya biru pucat.
—Eiran… mari buat kontrak.
Dan saat tangan kecil Eiran menyentuh bulu perak Fenrir, dunia seolah berhenti—
Kontrak Tamer akhirnya lahir kembali.
Bonus Act
Senja telah berlalu. Asterheim diterangi lampu-lampu sihir yang mulai menyala di sepanjang jalan, namun suasana di dalam guild lebih gelap daripada biasanya. Garruk berdiri di depan papan misi, tangan kekarnya mengepal. Sejak pagi tadi, ia tak melihat tanda-tanda Eiran kembali.
“Ini sudah terlalu lama…” gumamnya dengan wajah mengeras.
Suara langkah tergesa terdengar. Karla mendekat sambil membawa buku laporan.
“Garruk, tim pencari sudah siap. Guild Master memberi izin untuk mengerahkan unit penyelamatan kelas C dan D.”
Garruk mengangguk berat, lalu menurunkan kapaknya ke bahunya.
“Baik. Aku akan memimpin barisan depan.”
Beberapa petualang lain berkumpul: pemanah, mage, warrior. Semua membawa perlengkapan malam.
“Target kita: bocah manusia berusia sepuluh tahun. Rambut hitam, membawa pedang kayu.”
“Itu bukan misi biasa,” celetuk seorang mage. “Kalau dia terseret ke bagian dalam Hutan Aelwyn, kita mungkin cuma akan menemukan—”
Garruk menoleh tajam, tatapannya menusuk.
“Jangan selesaikan kalimat itu.”
Mage itu langsung diam.
Karla mendekat, wajahnya penuh kecemasan.
“Aku… merasa bersalah. Seharusnya aku tidak membiarkan dia keluar sendirian.”
Garruk mengibaskan tangan.
“Bukan salahmu. Bocah itu hanya ingin bertahan hidup.”
Ia melangkah ke pintu guild, namun berhenti sejenak sebelum keluar.
“Tapi kalau sesuatu terjadi padanya…” Suara berat itu terdengar seperti hembusan badai yang menahan amarah. “…aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.”
Kepala unit penyelamat mengangkat tangan.
“SEMUA UNIT, BERSIAP!”
Petualang lain menjawab serempak, senjata mereka berkilau dalam cahaya malam. Garruk menatap ke arah barat—arah Hutan Aelwyn yang sudah diselimuti kabut.
“Tunggu di sana, Bocah. Kami datang.”
Tim penyelamat bergerak meninggalkan guild, memasuki kegelapan malam, lampu sihir berwarna biru berderet seperti garis harapan tipis yang mengarah ke hutan.
Namun…
Begitu mereka mendekati batas hutan, angin dingin tiba-tiba bertiup. Daun-daun bergetar. Roh-roh kecil melintas seperti kilatan cahaya. Seorang pemanah bergidik.
“Hutan terasa… berbeda. Seolah ada sesuatu yang bangkit.”
Garruk merasakan hal yang sama, namun ia tidak berhenti. Semakin ia melangkah, semakin hatinya terasa gelisah—campuran firasat buruk dan sesuatu yang tak ia mengerti.
“Mau tak mau kita tetap harus masuk,” katanya.
Dan dengan itu, unit penyelamat pun menembus batas hutan yang gelap.
Hanya cahaya biru lampu sihir yang menjadi petunjuk mereka—
Tanpa ada satu pun yang tahu bahwa bocah yang mereka cari… telah memasuki wilayah terlarang para Elf dan sedang membentuk kontrak dengan makhluk mitos.
Sudah tujuh hari sejak Eiran menghilang. Di dalam hutan Aelwyn, udara terasa berat. Angin hampir tidak bertiup. Sunyi… tidak wajar. Tim investigasi yang dikirim oleh Guild Asterheim—dipimpin oleh Garruk, bersama Karla dan beberapa petualang—melangkah semakin dalam.
“Tidak ada jejak apa pun…” gumam salah satu petualang sambil menyibak semak.
Mereka sudah mencari:
- Tidak ada jenazah,
- Tidak ada bekas pertarungan,
- Tidak ada barang Eiran seperti kantong kecilnya atau botol airnya.
Bahkan jejak langkahnya pun tak terlihat, seolah Eiran menghilang dari dunia.
Karla menelan ludah. “Ini… terlalu sunyi. Bahkan monster pun tak terlihat.”
Garruk berdiri diam. Tangan kasarnya menggenggam gagang kapaknya erat.
“…Ini tidak normal.”
Atmosfer berubah semakin menekan semakin dalam mereka masuk. Rasanya seperti hutan sedang mengawasi mereka.
Salah satu petualang—yang sejak awal tampak pesimis—menghela napas berat sambil menendang ranting.
“Kapten… sudah tujuh hari. Tidak mungkin bocah 10 tahun bertahan sejauh ini. Kita bahkan tidak menemukan—”
BRUK!
Garruk menampar dada petualang itu dengan tangan penuh ototnya, mendorongnya mundur satu langkah.
“Jangan remehkan anak itu!!”
Suara Garruk menggema, membuat semua petualang terdiam.
Karla memandang Garruk, terkejut melihat kemarahannya.
Garruk meremas rahangnya, berusaha menahan suara gemetar.
“…Dia bukan bocah yang mudah mati.”
Namun di balik kata-kata itu— Ada ketakutan.
Ketakutan yang ia sembunyikan agar timnya tidak runtuh.
Saat mereka melanjutkan perjalanan, salah satu anggota tim memanggil.
“Kapten! Di sini!”
Garruk segera berlari.
Di bawah akar pohon besar yang menjulur seperti jari-jari raksasa… terdapat potongan kecil kayu, patah di ujungnya.
Garruk memungutnya perlahan.
“…Ini… pedang kayunya.”
Potongan itu retak… dan patah bersih. Seolah dihancurkan oleh kekuatan besar.
Tangan Garruk bergetar.
“Kita terlambat…?”
Suaranya pecah. “Tidak… tidak mungkin… Eiran…”
Karla menutup mulutnya, wajahnya pucat.
Tim investigasi menunduk.
Hutan tetap sunyi… seolah menyembunyikan sesuatu.
Saat mereka hendak mundur dan kembali ke kota, salah satu mage berhenti mendadak.
“Ka… Kapten! Apakah kau dengar itu!!”
Garruk mencoba mendengarkan ke sekelilingnya.
ROAAARRRR!!!
Garruk merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Suara itu… bukan suara monster biasanya!”
Karla jatuh terduduk lemas gemetar.
Garruk membuat perintah
“Kita harus segera kembali. Monster tersebut bukanlah tandingan kita”
Ia menggenggam potongan pedang kayu Eiran erat-erat sambil berjalan balik ke arah Asterheim.
“Eiran… Apa yang terjadi dengan mu…”
Para petualang mengikuti perintah Garruk dan segera mengikuti Garruk kembali ke Asterheim.
Garruk sambil menatap ke arah tengah hutan berbicara dalam hatinya.
“Aku akan mencarimu kembali setelah aku menjadi kuat.... Eiran!”
Garruk tidak mengetahui bahwa Eiran saat itu dilindungi oleh seekor hewan mitos yang telah lama tidak terlihat.
ns216.73.216.133da2


