Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Jalan tanah yang membentang di depan Eiran tampak seperti garis takdir yang harus ia tapaki sendirian. Setiap langkah menjauhkan dirinya dari rumah… namun sekaligus membawa dirinya semakin dekat pada dunia yang selalu ia impikan.89Please respect copyright.PENANAS37zYzTFuE
Saat sedang berjalan, sebuah kereta dagang melintas dari arah berlawanan. Seorang pedagang duduk di kursinya sambil mengayuh tali kendali. Eiran menunduk sedikit—sifat pemalunya membuat ia tak berani menyapa—hingga ia kembali melanjutkan perjalanan tanpa berkata apa-apa.
Begitu keluar dari kawasan hutan, sinar matahari menyorot tubuh Eiran yang dipenuhi keringat. Suara aliran sungai terdengar jelas, sementara angin terasa lebih kuat, menyapu rasa letih dari tubuhnya. Ia memutuskan untuk beristirahat di tepi sungai kecil itu, lalu membuka bekal sederhana yang ia bawa dari rumah.
Namun sebelum ia menyantapnya, sebuah suara datang dari belakangnya.
“Boleh aku duduk di sini?”
Eiran menoleh. Ternyata orang itu adalah pedagang yang tadi ia lihat di dalam hutan.
Pedagang tersebut tersenyum ramah dan meminta izin untuk ikut beristirahat. Tanpa menunggu jawaban terlalu lama, ia duduk di samping Eiran.
“Jadi, kau menuju ke mana?” tanya sang pedagang sambil melepas topinya.
“Aku… ingin ke Asterheim untuk mendaftar sebagai petualang.”
Eiran menjawab pelan, sedikit malu.
“Hahaha, tidak usah malu,” ujar pedagang itu hangat. “Kebetulan aku juga menuju Asterheim. Aku berencana memulai bisnis di sana.”
“Begitu, ya…”
Eiran mengangguk sambil melirik ke arah kuda pedagang tersebut. Ada yang janggal. Kuda itu tampak tidak nyaman, terutama di kaki belakangnya.
“Pak, apa aku boleh mendekati kudamu?”
“Tentu saja. Silakan.”
Eiran mendekat perlahan.
“Hiiiih!”89Please respect copyright.PENANAtyMkOsdAaf
Kuda itu meringis kesakitan saat ia mencoba berdiri.
“Ada apa? Apa kakimu sakit?” tanya Eiran dengan suara khawatir.
—Ada yang menusuk… di belakang…
Eiran terdiam sesaat. Kemudian ia kembali kepada pedagang itu.
“Pak, kaki belakang kudanya seperti ada sesuatu yang menusuk.”
“Benarkah? Baiklah, aku periksa dulu.”
Pedagang itu berjongkok, memeriksa telapak kaki kuda tersebut—dan benar saja, ada duri tajam yang menancap di sana.
“Wah! Pantas saja jalanmu tadi tidak benar,” gumamnya.89Please respect copyright.PENANAYQfcCqbFgw
Ia segera mencabut durinya dan memberikan pertolongan medis sederhana.
Pedagang itu kemudian berdiri dan menjabat tangan Eiran kuat-kuat.
“Terima kasih, Nak!”
“Tidak apa-apa, Pak. Hanya kebetulan aku melihatnya.”
“Aku berhutang budi padamu. Bagaimana kalau kau ikut denganku sampai Asterheim?”
“Benarkah?! Terima kasih banyak, Pak!”
Malam mulai turun.
Mereka memutuskan untuk mendirikan tenda agar kuda pedagang itu bisa beristirahat dengan tenang. Eiran makan bekalnya lalu tertidur pulas karena kelelahan. Keesokan paginya, kuda itu sudah jauh lebih baik. Mereka melanjutkan perjalanan sambil sesekali berhenti untuk beristirahat.
Di setiap waktu istirahat, Eiran selalu menggunakan kesempatan itu untuk berlatih pedang—meski hanya ayunan dasar, ia terlihat sangat serius.
Pedagang itu hanya tertawa kecil melihatnya.
“Anak ini sungguh rajin,” gumamnya.
Dua hari kemudian, sebuah tembok raksasa menjulang tinggi di hadapan mereka.
Eiran ternganga melihat antrian panjang di luar gerbang Asterheim.
“M-Mengapa orang-orang itu mengantri?” gumamnya.
“Mereka harus menunjukkan identitas untuk masuk,” jawab sang pedagang.
Eiran langsung panik.
“A-Aku tidak punya identitas!! Apa aku bisa masuk?!”
Pedagang itu menepuk bahunya.
“Tenang, Nak. Serahkan padaku.”
Ketika giliran mereka tiba, seorang penjaga gerbang menatap dengan wajah ketus.
“Kalian dari mana?”
“Aku pedagang dari Varghelm Kingdom,” jawab sang pedagang. “Dan anak di belakangku ingin mendaftar ke guild. Bisakah dibuatkan identitas sementara untuknya?”
“Bisa. Biayanya sepuluh koin tembaga.”
Pedagang itu langsung membayar.
Eiran menunduk dalam-dalam, lega sekaligus terharu.
Tanpa hambatan, mereka pun memasuki Asterheim.
“Terima kasih banyak, Pak! Aku benar-benar berhutang budi,” ucap Eiran.
“Tidak usah begitu,” balas pedagang itu sambil tersenyum. “Aku hanya membalas pertolonganmu pada kudaku.”
Kereta berhenti, dan pedagang itu menurunkan Eiran.
“Semoga berhasil menjadi petualang. Dan jangan sampai mati,” katanya sambil tertawa ringan, sebelum memacu keretanya menjauh.
Eiran menatap punggung kereta itu, menggenggam pedang kayunya erat-erat.
“Terima kasih… aku akan berusaha.”
Eiran berjalan menuju pusat kota, tempat bangunan guild petualang berdiri. Suara ramai petualang yang hilir mudik membuat matanya berbinar. Ia tak bisa menghentikan diri untuk berhenti dan melihat-lihat kota dengan rasa kagum yang terus tumbuh.
Namun semua rasa kagumnya meledak ketika ia melihatnya—bangunan guild yang besar dan megah. Pilar-pilar batu menjulang, bendera guild berkibar, dan petualang keluar masuk sambil membawa hasil buruan dan ekspresi bangga.
Tanpa banyak pikir, Eiran langsung berlari masuk dengan senyum lebar.
Begitu masuk ke dalam, suasana berubah. Petualang-petualang dewasa menoleh dan menatap Eiran dengan heran. Beberapa bahkan mengangkat alis, bingung melihat anak kecil memasuki tempat itu sendirian.
Eiran tidak menyadari tatapan mereka. Ia melihat konter resepsionis, dan dengan langkah cepat—bahkan sedikit jinjit—ia menghampirinya.
“Halo! Aku ingin daftar menjadi petualang!” sapa Eiran dengan senyum polos.
Sunyi sejenak. Lalu—
“HAH?! Bocah ini mau jadi petualang?!”
“Hahaha! Serius kau?!”
Gelak tawa langsung memenuhi ruangan.
Seorang resepsionis perempuan cantik berdiri dari kursinya. Wajahnya ramah meski sedikit bingung. Namanya tertera di papan nama: Karla.
“Ooh, halo. Kamu umur berapa?” tanya Karla lembut, sambil melihat Eiran yang tingginya bahkan belum mencapai tinggi konter.
“Tahun ini aku berumur sepuluh,” jawab Eiran malu-malu.
“Sepuluh?” Petualang lain tertawa lebih keras.
“Kau tidak mungkin jadi petualang! Kau itu masih bocah!”
“Hahahaha! Pulang saja sana!”
Tawa itu menusuk hati Eiran. Ia menunduk, tangan kecilnya mengepal.
“A-apa… apa mereka bilang itu benar?” tanyanya pelan pada Karla.
Karla menghela napas. “Maaf, sayang. Nama saya Karla. Dan… ya, mereka benar.”
Ia berlutut agar sejajar dengan Eiran.
“Untuk menjadi petualang resmi, kau harus berusia dua belas tahun dan sudah melewati Ritual Penentuan Kelas Kekuatan.”
Wajah Eiran berubah cemas. “A-aku tidak punya uang untuk tinggal… dan persediaanku hampir habis. Apa ada pekerjaan yang bisa kulakukan tanpa menjadi petualang?”
Karla tampak berpikir sejenak.
“Jika kau bisa berburu, guild dapat membeli hasil buruanmu. Tapi…”
Ia melirik pedang kayu yang Eiran bawa.
“Dengan itu… akan sulit sekali. Aku sarankan kau mencari petualang yang mau mengajakmu berburu bersama.”
“Baik… terima kasih, Karla.”
Eiran membungkuk dan menjauh dari konter.
Ia mulai melihat-lihat para petualang, berharap ada yang mau membantunya.89Please respect copyright.PENANAF9pOLhMaJb
Namun—
“Aaaah! Aku ke sini untuk berpetualang, bukan mengasuh bocah!”
teriak seorang petualang berambut kribo sambil mengibaskan tangan.
Eiran terdiam. Penghinaan itu menusuk lebih dalam dari yang ia kira.
Dengan langkah gontai, ia keluar dari guild dan duduk di tangga depan bangunan. Kepalanya tertunduk, bahunya gemetar sedikit. Saat itulah seseorang berdiri di dekatnya—seorang petualang berpenampilan sederhana, dengan kepala plontos dan mata yang tampak lebih ramah daripada kebanyakan.
“Hei, bocah,” katanya. “Kalau mau jadi petualang… tunjukkan skillmu dulu.”
Eiran mendongak. “Skill…?”
“Pergilah ke pinggir Hutan Aelwyn,” ujarnya sambil menunjuk arah barat. “Di sana banyak monster level rendah. Kalau kau bisa memburu beberapa, kau bisa mendapatkan uang untuk hidup.”
Eiran berdiri dengan cepat, matanya berbinar kembali.
“Terima kasih banyak!”
“Ya, ya. Tapi ingat—jangan masuk terlalu dalam.”
Petualang itu memperingatkan.
“Hutan Aelwyn bukan tempat bermain.”
Eiran mengangguk penuh semangat. Kemudian, tanpa menunggu satu detik pun lagi, ia langsung bergegas menuju hutan—memulai langkah yang secara tidak sadar akan mengubah seluruh hidupnya.
Berjam-jam telah berlalu. Eiran menyusuri tepi hutan, melihat pepohonan rindang yang seolah membentuk dinding hijau alami. Di sekitarnya tampak monster level rendah—slime yang bergelombang, wild rabbit dengan mata tajam, dan beberapa goblin kecil.
Eiran menghunus pedangnya.
Shfftt—89Please respect copyright.PENANAXFclTCdwGC
Swaaash—
Ayunan pedangnya menebas monster-monster itu dengan bersih, meski tekniknya masih kasar. Setelah sekian lama, Eiran berhasil mengumpulkan: 5 slime, 1 goblin, dan 1 wild rabbit.
Ia menjatuhkan diri di akar pohon besar dan mengelap keringat.
“Aaah… sepertinya ini belum cukup. Masih ada waktu sebelum malam. Masuk beberapa meter lagi mungkin tidak masalah...”
Ia berdiri, menggenggam pedang kayu yang sudah rapuh di ujungnya, lalu melangkah lebih jauh ke dalam Hutan Aelwyn.
Tak terasa satu jam berlalu.
Ketika Eiran hendak memburu goblin di depannya, goblin itu tiba-tiba kabur dengan panik.
“Huh…? Kenapa dia—”
Kabut muncul perlahan, tipis lalu semakin tebal. Cahaya matahari meredup. Suasana berubah menjadi mencekam.
Eiran baru sadar: Ia sudah masuk terlalu dalam.
Telinganya menangkap suara langkah kaki empat. Lalu auman rendah dari segala arah.
“M-mereka… mengitariku…?”
Sepasang mata muncul dari balik kabut. Lalu mata lain. Dan lainnya lagi.
Dire wolf.
Monster berbulu abu-abu, tubuhnya sebesar harimau, dan salah satu predator menengah yang paling berbahaya di Hutan Aelwyn.
Eiran memutar badan, mencari celah untuk kabur. Tidak ada.
“A-aku harus bertahan…”
Seekor dire wolf melompat dengan cakarnya terbentang.
Graaahh—!
Eiran mengangkat pedang kayunya untuk menahan. Tubuhnya terhempas beberapa langkah mundur.
“Khh—!”
Lalu—
Kraak—
Pedang kayunya patah. Eiran jatuh tersungkur.
Dire wolf itu menekan dadanya dengan satu kaki, membuatnya tak bisa bergerak. Dire wolf lain mulai merendahkan tubuh, siap menerkam sekaligus.
“A—Aahhh!! Tolong…! Tolong!! Aku tidak ingin mati!!”
Waktu seolah berhenti.
Lalu sebuah suara berbisik masuk ke dalam telinganya—atau mungkin ke dalam jiwanya.
—Apakah kau takut?
“S-siapa…?” suara Eiran gemetar.
—Apakah kau ingin… hidup?
Suara itu terdengar dari segala arah. Atau dari dalam dirinya sendiri.
Dire wolf yang hendak menerkam tiba-tiba berhenti. Bulu-bulu mereka berdiri. Tubuh mereka gemetar ketakutan.
Tanah bergetar ringan. Hembusan angin dingin muncul entah dari mana.
Kabut terbelah. Dan dari balik kegelapan—
muncul sepasang mata biru pucat.
Pijarnya dingin dan menembus jiwa. Bulu peraknya panjang dan melambai seperti asap.89Please respect copyright.PENANAh1rnJY0lny
Setiap langkahnya seperti memadamkan suara alam.
Fenrir.
Makhluk mitos yang tidak pernah terlihat. Salah satu entitas yang bahkan para petualang kelas S enggan bertemu.
Eiran terpaku. Tubuhnya lemas. Air mata mengalir tanpa ia sadari.
—Anak manusia… Kau memiliki aura yang berbeda.
Suara itu kembali bergema, lebih jelas dari sebelumnya.
—Aku akan melindungimu. Jangan takut… dan tidurlah.
Begitu suara itu menyentuh kesadarannya, rasa lega menyapu tubuh Eiran. Lelah, rasa sakit, ketakutan… semuanya runtuh sekaligus.
Ia pingsan.
Fenrir mengeluarkan auman besar.
AAWOOOOOO—!
Tanah bergetar. Sisa dire wolf melarikan diri seperti cahaya.
Dengan sangat hati-hati, Fenrir mengangkat tubuh Eiran dengan mulutnya lalu menaruhnya di atas punggungnya—seperti membawa sesuatu yang sangat rapuh.
Fenrir menatap jauh ke dalam hutan.
—Aelthwyn… sudah lama sekali.
Makhluk agung itu melangkah, masuk ke wilayah yang bahkan petualang kelas tinggi jarang mendekatinya. Roh-roh kecil bersembunyi, tapi beberapa mengikuti dari kejauhan.
Udara berubah. Aroma bunga malam mengalir. Cahaya hijau dari pepohonan raksasa menuntunnya.
Di kejauhan, dua elf penjaga berdiri di depan gerbang kayu besar. Mata mereka melebar saat sosok perak itu muncul dari kabut.
Fenrir berhenti, lalu menurunkan Eiran dengan lembut.
—Tidurlah. Kau akan membutuhkannya… untuk hari esok.
Ia mengangkat kepalanya, menatap pohon raksasa suci yang menjulang tinggi, tempat tinggal para Elf.
—Anak ini… akhirnya muncul.
Bonus Act89Please respect copyright.PENANAfM95sfWCsA
Di depan gerbang guild, seorang petualang berkepala plontos menatap arah Hutan Aelwyn dengan wajah mengeras. Ia sudah menunggu cukup lama, namun bocah yang ia beri petunjuk tadi… tak kunjung kembali.
“Sudah hampir sore,” gumamnya sambil menggaruk tengkuk.
“Anak itu seharusnya sudah balik paling lambat satu jam lalu.”
Ia menghela napas panjang, kemudian masuk ke dalam guild.
Keramaian guild seperti biasa—petualang yang tertawa keras, bau logam, bau keringat, dan suara peralatan yang berbenturan. Namun pikirannya tidak tenang.
Ia menghampiri konter.
Karla yang sedang mencatat laporan mendongak. “Oh? Ada apa, Garruk?”
Nama petualang itu: Garruk Stonefist—petualang kelas C, keras namun berhati baik.
Garruk menyilangkan tangan. “Itu bocah… yang tadi siang. Yang mau daftar.”
Karla langsung mengingatnya. “Eiran? Kenapa?”
Garruk menghela napas berat.89Please respect copyright.PENANAuOhudxUkwL
“Setelah dia keluar dari sini, aku menyuruhnya berburu di tepi Hutan Aelwyn. Monster level rendah, aman untuk pemula… atau seharusnya begitu.”
Karla menghentikan gerakan tangannya. Tatapannya berubah serius.
“Dia belum kembali?”
“Belum.” Garruk menjawab cepat. “Seharusnya jam segini dia sudah kembali. Minimal dengan luka kecil atau hasil buruan. Tapi… tak ada tanda-tandanya.”
Karla menggigit bibir. “Hutan Aelwyn… Kalau dia masuk terlalu dalam—”
“Ya.” Garruk mengangguk berat. “Itu masalahnya.”
Suasana di sekitar konter mendadak hening. Beberapa petualang yang mendengar pembicaraan mereka ikut melirik penasaran.
Karla menutup bukunya. “Apa yang kau lihat terakhir?”
“Dia terlihat semangat… tapi juga ceroboh.” Garruk mengepalkan tangan. “Aku seharusnya mengawalnya sedikit. Bocah polos itu… dia bahkan tidak punya pedang beneran.”
Karla berdiri.89Please respect copyright.PENANAfg2DYvApwc
“Garruk, apa kita perlu melapor ke petualang lain untuk membuat tim pencari?”
Garruk menatap pintu guild, wajahnya tegang.
“…Jika dia belum kembali sebelum matahari tenggelam, kita lakukan itu.”
Karla menunduk.89Please respect copyright.PENANALSmOTvmAlj
“Aku harap dia baik-baik saja…”
Garruk menghela napas panjang, suaranya rendah namun sarat kecemasan:
“Aku juga… Tapi perasaanku tidak enak. Hutan itu bukan tempat bagi anak kecil tanpa kelas kekuatan.”
Ia kembali menatap hutan di kejauhan, langit mulai berubah jingga.
“Bertahanlah, Bocah...”89Please respect copyright.PENANAamPzVxCb4M


