Sore itu, di tepi hutan yang menghadap hamparan ladang gandum luas, Eiran bersandar di bawah sebuah pohon yang besar. Di atasnya, seekor burung kecil berkicau, dan Eiran menjawabnya seolah mereka sedang bercakap-cakap. Langkah-langkah kecil terdengar dari arah jalan setapak. Anak-anak desa lewat dan berhenti ketika melihat Eiran berbicara pada burung.
“Hei, itu Eiran lagi! Lihat, dia ngomong sama burung!”
“Sungguh aneh”
“Gak usah didekati, ayo kita lanjut pulang aja!”
Mereka melihat Eiran seolah-olah bukan bagian dari mereka. Beberapa waktu kemudian ayah Eiran datang menjemput seusai bekerja di ladang.
“Eiran, kau di sini rupanya.”
“Ayo pulang. Ibu menunggu makan malam.”
“Baik yah! Aku pulang dulu ya burung..”
“Apa kau mengerti apa yang burung itu katakan?”
“Aku mengerti yah, mereka sangat seru untuk diajak bicara. Aku tidak bosan berbicara dengan mereka!”
“Mereka?”
Senja perlahan tenggelam, dan malam pun menyelimuti desa. Di meja makan kecil keluarga itu, ayah Eiran bercerita tentang masa mudanya sebagai petualang. Mata Eiran berbinar, seolah dunia luar yang jauh itu tiba-tiba terasa dekat.
“Ayah, apakah aku bisa menjadi seorang petualang?”
“Tentu saja… bisa.” Jawab ayah Eiran dengan memasang senyum yang tampak sedih
“Kalau begitu bisakah ayah mengajarkanku cara menggunakan pedang?”
“Kalau ayah ada waktu, ayah pasti ajarkan.”
“Benarkah?!”
Saat Eiran terlihat telah tidur di kamarnya, orang tua Eiran berdiskusi bagaimana Nasib anaknya kedepannya karena Eiran memiliki nilai Ether yang sangat rendah dibanding anak-anak seusianya.
“Sayang… bagaimana nanti masa depan Eiran?”
“Nilai Ether-nya terlalu rendah. Lima tahun lagi… aku takut dia tidak mendapat Kelas Kekuatan.”
“Aku tahu.” Ayah Eiran menggenggam tangan istrinya.
“Tapi aku akan melakukan apa pun untuk masa depannya. Kita harus tetap percaya.”
Malam telah berlalu dan terbitlah matahari pagi.
“Eiran!”
“Eiran!”
“Eiraan!”
Ayah Eiran mencoba membangunkan Eiran.
“Hmmm?? Ada apa ayah?”
“Kamu mau diajarkan berpedang?”
“Iyaa, aku mau yaahh!!”
“Cepat bangun dan basuh mukamu. Aku tunggu di halaman depan rumah”
“Oke yaah!!”
Eiran bergegas bangun dan membasuh mukanya secepat kilat. Embun masih menempel di rumput ketika Eiran mengangkat pedang kayunya.
Tangan kecilnya bergetar. Pedang itu terasa lebih berat hari ini.
“Jangan pakai lenganmu saja.” Suara ayahnya rendah namun tegas.
“Putar pinggulmu. Tarik napas… dan hembuskan saat mengayun.”
Eiran menelan ludah, lalu mencoba mengikuti.
Pedang kayu itu bergerak membentuk busur di udara—
shffft!
Suara tipis itu membuat dada Eiran bergetar. Pegangannya hampir lepas.
“Bahu terlalu tegang.” Ayahnya menyentuh pundak Eiran.
“Turunkan sedikit. Biarkan tubuhmu mengalir.”
Eiran mengangguk dan mencoba lagi.
Shffft!—thap!
Kali ini pedang kayu menghantam batang kayu yang ditancapkan. Getarannya mengalir ke lengan, membuat jari-jarinya mati rasa seketika.
“A-akh…”
“Kau baik-baik saja?” tanya ayahnya.
“B-baik…” Eiran mengangkat lagi pedangnya, walaupun telapak tangannya terasa terbakar.
Ayahnya tersenyum kecil. “Bagus. Coba dua puluh kali lagi.”
“D-dua puluh… lagi…?”
“Monster tidak akan berhenti ketika kau lelah.”
Eiran menggigit bibirnya. Nafasnya pendek. Bahunya panas.
Namun ia mengangkat pedang kayunya kembali.
Shffft!113Please respect copyright.PENANANLNDtBmYgw
Satu.
Shffft!113Please respect copyright.PENANAPg8gNvSQIm
Dua.
Thap!113Please respect copyright.PENANAQg58WqNBc4
Tiga. Tangannya berdenyut.
Namun setiap ayunan membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan—
seakan rasa sakit itu adalah bukti bahwa ia bergerak maju, walau sedikit. Ketika ayunan ke dua puluh akhirnya selesai, Eiran jatuh berlutut, napas terengah dan keringat menetes ke tanah.
Ayahnya menepuk kepala Eiran pelan.
“Bagus. Kau makin kuat.”
Dan untuk pertama kalinya, Eiran benar-benar percaya sedikit pada kata-kata itu.
Sudah tiga bulan sejak ayahnya mulai mengajarinya dasar-dasar pedang. Kini, Eiran berlatih sendiri di tempat favoritnya—di bawah pohon besar tempat ia dulu sering bersandar sambil bicara dengan burung-burung.
Udara sore lembut. Daun bergoyang pelan. Burung-burung berkicau di sekelilingnya, seakan menyemangati setiap ayunan.
Shffft.113Please respect copyright.PENANA93YAo5wujL
Pedang kayu itu membelah udara.
Namun ketenangan itu tak bertahan lama.
“Eiran! Hei, lihat!”
“Dia latihan lagi! Seperti itu mau jadi apa?”
“Kau tetap lemah walau latihan tiap hari, tahu?! Hahaha!Tawa mereka menusuk telinganya. Tapi Eiran tidak berhenti. Ia menggenggam pedang kayunya lebih erat, menahan sakit di telapak tangannya. Ayunan berikutnya sedikit melenceng.
“Haah…”
Ia menarik napas panjang. Burung-burung kecil masih mengawasinya, kepala mereka miring ke kanan dan kiri. Lalu sebuah ide konyol melintas di pikirannya.
“…Hei, burung. Bisa… patuk mereka sedikit?”
Anak-anak desa langsung meledak dalam tawa.
“Hahaha! Dia bicara sama burung lagi!”
“Kau pikir burung akan—”
Tck! Tck! Tck! Tck!
“A—AW!!”
“H-hei! Sakit!!”
“Kenapa burung itu—?!”
“Ini pasti kebetulan!! Ayo kabur!!!”
Mereka lari terbirit-birit sambil menutupi kepala mereka.
Eiran terdiam sejenak, lalu menghela napas.
“…Terima kasih,” bisiknya pelan.
Burung itu berkicau satu kali, seakan menjawab.
Ia kembali mengangkat pedangnya.
Shffft.
Latihan pun berlanjut.
Tiga tahun berlalu. Pagi itu sunyi. Kabut tipis masih menggantung di atas ladang gandum ketika Eiran berdiri di depan rumah kecilnya. Pedang kayu tergantung di pinggangnya, dan ransel lusuh tersampir di bahunya.Ia menoleh sekali lagi ke arah rumah—
tempat tawa, tempat luka, tempat ia tumbuh.
Ayah dan ibu masih terlelap. Surat yang ia tinggalkan di meja makan menjadi satu-satunya salam perpisahan
Langkah pertamanya terasa berat. Namun setiap langkah berikutnya menjadi lebih ringan, seakan dunia di depannya memanggil. Burung-burung di pohon besar berkicau, terbang mengitari Eiran seperti memberi dorongan terakhir. Meski sudut matanya panas, senyum kecil muncul di wajahnya.
“Aku… pasti kembali.”
Dengan itu, Eiran memulai perjalanan yang akan mengubah seluruh dunia.
Bonus Act113Please respect copyright.PENANAypyvfra8F4
Pagi itu, rumah sederhana keluarga Eiran terasa lebih sunyi dari biasanya.
Lyria, ibu Eiran, turun dari kamar sambil mengikat rambutnya.113Please respect copyright.PENANAr4AAni5rj0
“Aku kira Eiran sudah bangun… biasanya dia sudah berlatih sejak subuh.”
Ia tersenyum kecil, mengingat betapa kerasnya Eiran beberapa bulan terakhir.113Please respect copyright.PENANAgwrc18iIcT
Namun ketika melangkah ke dapur, senyum itu perlahan pudar.
Meja makan tertata rapi.113Please respect copyright.PENANAgpvCoYMRR9
Piring kosong.113Please respect copyright.PENANAmSg8OyqR0M
Dan di tengah meja… selembar surat terlipat rapi.
“A… surat?”113Please respect copyright.PENANAWu4DWr7p3m
Lyria mengerutkan alis lalu mengambilnya dengan tangan yang tiba-tiba bergetar.
Elmar, ayah Eiran, muncul dari belakang sambil menyarungkan pedangnya.113Please respect copyright.PENANA3gudnqc1lo
“Pagi. Mana Eiran? Sudah siap untuk latihan hari ini?”
Lyria tidak menjawab. Ia hanya menyerahkan surat itu.
Elmar meraihnya, alisnya mengernyit saat membaca tulisan kecil Eiran—tulisan yang sedikit bergetar, seakan anak itu menahan tangis saat menulisnya.
Surat Eiran
Ayah, Ibu.
Maaf karena aku pergi tanpa berpamitan langsung. Aku takut kalau aku melihat wajah kalian, aku tidak akan bisa pergi.
Terima kasih karena selalu merawatku… meski aku sering membuat kalian cemas.
Aku ingin pergi dan menjadi lebih kuat.113Please respect copyright.PENANAePK7DB5BOX
Aku ingin menjadi petualang seperti ayah, dan menemukan tempat di mana aku tidak lagi mengganggu siapa pun.
Jangan khawatir, aku baik-baik saja.113Please respect copyright.PENANARJh2QfUfAg
Aku akan makan dengan benar dan berlatih lebih keras lagi.
Saat nanti aku kembali… aku ingin kalian bangga padaku.
—Eiran
Surat itu bergetar di tangan Elmar.
Lyria menutupi mulutnya, air matanya langsung jatuh.113Please respect copyright.PENANAB3o7U7xRLT
“Eiran… anak itu… kenapa tidak bilang apa pun…”
Elmar mengepalkan surat itu, namun tidak merusaknya.113Please respect copyright.PENANA7WpeuhclLh
Ia memalingkan wajah, menyembunyikan mata yang mulai memerah.
“…Anak bodoh.”113Please respect copyright.PENANAE9SrkPivWf
Suara itu pecah sedikit.
Lyria menyentuh meja, tubuhnya gemetar.113Please respect copyright.PENANAdZbGyytdV4
“Dia pasti merasa… sangat sendiri. Kita… apa kita tidak pernah menyadarinya?”
Elmar menarik napas panjang, lalu meraih pundak istrinya.
“Tidak. Dia kuat… terlalu kuat untuk umurnya. Aku yang seharusnya sadar lebih cepat.”
Ia menatap keluar jendela—ke arah jalan kecil yang menuju hutan.
“Dia memilih jalannya. Seperti aku dulu.”
Lyria mengusap air matanya.113Please respect copyright.PENANAqTcOtph48E
“…Kau tidak marah padanya?”
Elmar menggeleng pelan.113Please respect copyright.PENANAUHSXBZHyF3
“Marah? Tidak. Tapi aku akan… memilih percaya.”
Ia menatap langit pagi yang baru menyala.
“Jika dia ingin menjadi petualang… maka yang bisa kita lakukan adalah menunggu dia kembali.”
Lyria menggenggam surat itu erat, membawanya ke dada.
“Eiran… hati-hati, ya…”
Di luar, angin bertiup lembut, seakan membawa doa kedua orang tuanya mengikuti langkah Eiran yang semakin jauh.
ns216.73.216.133da2


