Keesokan harinya, suasana kampus terasa berbeda bagi Nayla. Mungkin karena semalam ia terlalu lama memikirkan kalimat Tutur di jalan pulang. Atau mungkin karena ia tidak terbiasa dengan seseorang yang mendekat secara perlahan… tapi pasti.
Ia memasuki kantin seperti biasa, menunggu aroma Pop Mie menyambutnya. Tapi tidak seperti kemarin, mejanya terasa terlalu kosong.93Please respect copyright.PENANA3j2lpH806i
Tutur tidak ada.
Nayla menekan perasaan aneh yang muncul.93Please respect copyright.PENANAm6ERaSXAmk
Ia tidak ingin terlihat bodoh hanya karena seseorang tidak muncul di tempat yang sama dua hari berturut-turut.
Ia mengambil Pop Mie, duduk di sudut dekat kaca.93Please respect copyright.PENANAT7eo7MqAz5
Harusnya ini biasa—rutinitas.93Please respect copyright.PENANAthakpnlYNQ
Tapi sore itu terasa seperti salah satu puzzle hilang tanpa permisi.
Ketika ia mengaduk mie, seseorang muncul di sampingnya.
“Tadi aku telat keluar kelas.”
Nayla hampir menjatuhkan sendok.93Please respect copyright.PENANAW28kU9NOBm
Tutur berdiri di sebelah meja, wajahnya tenang seperti biasa, tapi ada sedikit kelelahan di mata.
“Oh.”93Please respect copyright.PENANALSRmxXGG5W
Jawaban Nayla terdengar datar.93Please respect copyright.PENANAnHBZxaMAns
Terlalu datar.
Tutur menatapnya.93Please respect copyright.PENANA4ZQgK9KFpX
“Kamu nungguin?”
Pertanyaan itu menghantamnya lebih keras dari seharusnya.
“Aku cuma… duduk,” jawab Nayla cepat.93Please respect copyright.PENANAwEhxpGJWe1
“Kebiasaan.”
Tutur mengangguk, tetapi sorot matanya berubah.93Please respect copyright.PENANAI0Gvfu9wvN
Ada sesuatu yang merenggang, tipis, hampir tak terlihat, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka jadi aneh.
Ia duduk. Tapi tidak seperti sebelumnya, ia duduk sedikit lebih jauh.93Please respect copyright.PENANAuRAileAS18
Nayla merasakannya.93Please respect copyright.PENANAKpK6lVbxDr
Dan ia membenci betapa ia menyadarinya.
Beberapa menit berlalu dalam diam.93Please respect copyright.PENANA1Qfs60QxSO
Biasanya diam di antara mereka nyaman.93Please respect copyright.PENANA1dMD5smdKk
Tapi hari itu diamnya punya sudut tajam.
Tutur menatap meja.93Please respect copyright.PENANAiKUZNPFFnj
“Kamu kayaknya marah.”
“Aku enggak marah,” jawab Nayla cepat.93Please respect copyright.PENANAufcI1kP6LA
Terlalu cepat.
Tutur mengerutkan alis sedikit.93Please respect copyright.PENANA6HTfETMcCL
“Kalau bukan marah, kenapa nada kamu beda?”
Nayla menahan napas.93Please respect copyright.PENANACk5L8AMOmh
Ia ingin bilang ia tidak apa-apa.93Please respect copyright.PENANARwomUk28o1
Tapi tiba-tiba, Pop Mie yang mendadak hambar itu terlihat menyedihkan di hadapannya.
“Aku cuma… bingung,” bisiknya.
“Bingung soal apa?”
Nayla mengangkat kepala.93Please respect copyright.PENANA7B48CbF8Hs
Tatapan Tutur kosong, tapi jujur.93Please respect copyright.PENANATyHv87bshS
Dan kadang itu lebih menakutkan daripada tatapan penuh emosi.
“Kemarin kita… dekat,” katanya pelan.93Please respect copyright.PENANAqvisYbhyHU
“Terus hari ini kamu nggak ada. Aku kira… entahlah. Mungkin aku berharap terlalu banyak.”
Tutur terdiam.93Please respect copyright.PENANAhaN028i5v4
Raut wajahnya berubah sedikit—bukan marah, bukan bingung, tapi… bersalah.
“Aku nggak mau kamu berharap sesuatu yang bikin kamu kecewa,” katanya.
Kalimat itu mestinya membuat Nayla mundur.93Please respect copyright.PENANAjfWYjkZnYC
Tapi entah kenapa, dadanya justru terasa sesak.
“Oh,” Nayla menunduk.93Please respect copyright.PENANAvtJklEfv7u
“Jadi kedekatan kemarin cuma… kebetulan?”
Tutur menatapnya cepat.93Please respect copyright.PENANArRa32UisWR
“Bukan. Aku nggak bilang gitu.”
“Terus apa?”
Ada jeda panjang.93Please respect copyright.PENANArbTSzcN7xB
Tutur memejamkan mata sejenak, seperti seseorang yang sedang melawan dirinya sendiri.
“Aku… belum tahu harus dekat sejauh apa,” katanya lirih.93Please respect copyright.PENANAizh0AAMQq0
“Aku takut bikin kamu salah paham.”
Nayla merasakan sesuatu panas di tenggorokannya.93Please respect copyright.PENANAIntMGF9E80
“Kalau kamu takut, kenapa kamu bilang nggak mau aku sendirian?”
Tutur menunduk.93Please respect copyright.PENANAn2iD9EF5xi
“Karena itu yang aku rasain waktu itu.”
“Terus sekarang beda?”
Bukan suara tinggi.93Please respect copyright.PENANAeLALyJNG6w
Bukan emosi meledak.93Please respect copyright.PENANANd9wLJx9SL
Tapi kalimat itu jatuh seperti jarum, kecil tapi menusuk.
Tutur menyandarkan siku di meja.93Please respect copyright.PENANAbjPLA03jpX
“Aku lagi takut. Bukan sama kamu. Sama diriku sendiri.”
“Kamu takut apa?”
“Takut… aku bikin kamu jatuh ke tempat yang aku nggak bisa jaga.”
Kalimat itu menggantung lama.93Please respect copyright.PENANAaottb78sn8
Nayla terdiam.93Please respect copyright.PENANARineFGbdZe
Mata Tutur tidak menatapnya, tetapi Nadanya—itu jujur, mentah, dan… menyakitkan.
Untuk pertama kalinya, Nayla merasakan jarak yang bukan berasal dari rasa dingin Tutur, tapi dari ketakutan yang membungkusnya rapat-rapat.
“Aku ngerti,” kata Nayla akhirnya.93Please respect copyright.PENANAG01IF8Y5bm
“Tapi kalau kamu terus narik-dorong gini… aku yang jatuh duluan.”
Keheningan lain turun.93Please respect copyright.PENANAGPaELVeEfw
Tapi yang ini berat.
Tutur akhirnya mendongak.93Please respect copyright.PENANA60nj3lYyrH
Matanya pelan-pelan mencari wajahnya.
“Nay…”93Please respect copyright.PENANATsqEZ8IiPS
Suaranya lebih lembut dari biasanya.93Please respect copyright.PENANAFeKCfUnvwc
“Aku nggak bermaksud bikin kamu ngerasa sendirian lagi.”
Nayla menelan napas.93Please respect copyright.PENANAgA8TRIpMfe
“Kamu cuma… bikin aku bingung.”
Tutur mengangguk kecil—pengakuan tanpa pembelaan.93Please respect copyright.PENANA19y8eKvpxz
“Aku akan coba lebih jelas,” katanya pelan.93Please respect copyright.PENANAiNsiNOGYoD
“Tapi jangan pergi dulu.”
Entah kenapa kalimat itu membuat hati Nayla mengendur.
“Ya,” bisiknya.93Please respect copyright.PENANANxCW11yR7D
“Aku nggak pergi.”
Tutur mengembuskan napas, seolah itu jawaban yang ia takutkan tapi harapkan.
Ketika mereka keluar dari kantin, jaraknya sedikit mengecil.93Please respect copyright.PENANA5MgNNV1I51
Tidak sedekat kemarin.93Please respect copyright.PENANAtwu1Y54fzZ
Tidak sejauh menit yang barusan.
Hanya… cukup.
Dan kadang, untuk dua orang yang sama-sama takut, cukup adalah satu-satunya cara untuk bertahan.
ns216.73.217.114da2


