Hujan turun lagi sore itu—lebih halus, seperti tirai tipis yang menutupi langit Yogyakarta. Ruangan kelas sudah hampir kosong ketika Nayla merapikan bukunya. Teman-temannya pulang duluan, meninggalkannya sendirian di kursi paling belakang.
Ia tahu seharusnya ia ikut keluar bersama keramaian, tetapi tubuhnya terasa berat.87Please respect copyright.PENANASYb80LqEZG
Hari itu dosennya membahas tentang trauma psikologis—tentang bagaimana tubuh sering mengingat lebih dulu daripada pikiran.
Kalimat itu menghunjam Nayla dengan cara yang tak ia harapkan.
Saat ia menarik resleting tas, suara dentuman pintu kelas yang tertutup keras membuatnya tersentak.
Dan tiba-tiba, semuanya kembali.
Hampir seketika.
Teriakan ayahnya.87Please respect copyright.PENANACDzgd16wBS
Pecahan gelas.87Please respect copyright.PENANA79TctoVU8f
Langkah marah mendekat.87Please respect copyright.PENANAWFhearoZIU
Napasnya sendiri yang kacau.
Nayla menggenggam lengan kursinya erat—terlalu erat—hingga jari-jarinya memutih. Ruang kelas yang tadinya terang perlahan menyempit; suara hujan berubah menjadi gema tatapan masa lalu.
Ia menutup mata.
“Sudah berapa kali kubilang jangan—!!”
Bayangan itu muncul begitu jelas, begitu hidup, seakan waktu memutar dirinya sendiri tanpa izin.
Napas Nayla mulai pendek.87Please respect copyright.PENANAKOEqAxjPko
Dingin merayapi punggungnya.87Please respect copyright.PENANAPPyYZBCWXn
Tenggorokannya tercekat, dan ia bahkan tidak sadar ia mulai gemetar.
Tidak.87Please respect copyright.PENANALy2dQjjVTS
Tidak lagi.87Please respect copyright.PENANAHUNfBq0uY8
Aku sudah bukan anak kecil.87Please respect copyright.PENANA0vRupsQ2Y6
Aku sudah bukan…—
Tapi bayangan itu tidak peduli.
“Nay?”
Sebuah suara muncul pelan.
Nayla tidak langsung sadar itu suara nyata.87Please respect copyright.PENANA7UwehY2zzs
Ia masih terperangkap.
“Nayla.”
Seseorang menyentuh bahunya—ringan, tapi tegas.87Please respect copyright.PENANA50kH1kSPpI
Tubuhnya spontan menghindar. Nafasnya makin cepat, seperti dinding-dinding ruang kelas semakin menutup.
“Nay, lihat aku.”
Kali ini suaranya lebih dekat.87Please respect copyright.PENANACPKiXPs6AP
Lebih hangat.87Please respect copyright.PENANAPiAsQ0FwfY
Lebih… nyata.
Nayla membuka mata tiba-tiba.
Tutur ada di depannya.87Please respect copyright.PENANA0PBosOi4Uy
Berjongkok, menatapnya tanpa berkedip.87Please respect copyright.PENANAjY24knkkP6
Matanya bukan penuh panik, bukan belas kasihan—melainkan ketenangan yang seperti jangkar.
“Kamu bisa dengar aku?” Tutur bertanya pelan.
Nayla menelan napas yang tidak stabil.87Please respect copyright.PENANALObgjVyKzP
“I—aku… iya…”
Tangannya masih gemetar.87Please respect copyright.PENANAN6Z0kdMCtt
Tutur melihatnya, tapi tidak menyentuh sembarangan.
“Napas kamu cepat,” kata Tutur lembut. “Ikuti aku, pelan.”
Ia mengangkat satu tangan, menaruhnya di udara—di depan dada Nayla, tanpa menyentuh.87Please respect copyright.PENANAVpuYX4Xr0w
“Tarik napas… satu…”87Please respect copyright.PENANAIMUW0dMwJn
Ia sendiri menarik napas perlahan.87Please respect copyright.PENANAg62745e0va
Nayla mencoba mengikuti.87Please respect copyright.PENANApxoXmw7VXl
“…hempus… dua.”
Butuh beberapa siklus sampai tubuh Nayla mulai mereda. Meski matanya panas, ia tidak menangis. Namun Tutur bisa melihat apa yang baru terjadi—dengan terlalu jelas.
“Ada yang… kepanggil, ya?” Tutur bertanya.
Nayla menunduk.87Please respect copyright.PENANAYzEueXEnML
“Maaf.”
Tutur menggeleng cepat.87Please respect copyright.PENANAPOfx4iS5lT
“Kamu nggak salah apa-apa.”
Hening sebentar.87Please respect copyright.PENANAuRxIZKpMn0
Hanya suara hujan yang menjadi latar.
“Aku benci… kalau tubuhku masih reaksi kayak gitu,” bisik Nayla.87Please respect copyright.PENANATXjjuhUYmO
“Aku udah jauh dari semua itu, tapi… rasanya masih kejar-kejaran sama bayangan.”
Tutur duduk di kursi sebelahnya.87Please respect copyright.PENANAbv19RQVqI1
Tidak mendekat langsung—memberi ruang, tapi tetap ada.
Ia menatap meja kosong di depan mereka sebelum bicara.
“Tubuh kamu nggak salah,” katanya pelan.87Please respect copyright.PENANAYJGKrz0qgJ
“Yang salah adalah orang-orang yang bikin tubuh kamu belajar takut.”
Nayla menutup wajahnya dengan satu tangan, mencoba menahan sesuatu yang lama tidak ingin ia akui.
“Aku capek, Tur,” katanya dengan suara kecil.87Please respect copyright.PENANALfwTNxmCBx
“Aku capek sama ketakutan yang muncul tiba-tiba. Aku capek merasa kecil.”
Kata “kecil” itu membuat wajah Tutur berubah.87Please respect copyright.PENANArut0tlJRiu
Ada sesuatu yang lembut—hampir menyakitkan—muncul di matanya.
“Kamu nggak kecil,” ucap Tutur.87Please respect copyright.PENANAqb7t77199k
“Sama sekali nggak.”
Nayla menggeleng lemah.87Please respect copyright.PENANAwS9osCAdkH
“Kamu yang bilang semua orang punya sisi kecil.”
“Iya,” Tutur menjawab, “tapi kamu salah satu yang paling berani untuk ngakuin.”
Nayla terdiam.87Please respect copyright.PENANA842vtItVE0
Ucapan itu… entah kenapa membuat dada Nayla terasa hangat.
Tutur menunduk sedikit, suaranya turun menjadi lebih rendah—lebih jujur.
“Nay,” katanya.87Please respect copyright.PENANA3HwYkEGJl4
“Kalau kamu ngerasa takut atau kepanggil masa lalu lagi… kamu nggak harus lawan sendirian.”
Nayla menatapnya.87Please respect copyright.PENANAMqstsaJNAN
Mata Tutur tidak bergetar, tidak ragu.87Please respect copyright.PENANAAQA4BeMWsh
Justru sebaliknya—ia terlihat sangat yakin.
“Aku ada di sini,” Tambahnya.
Perlahan, Nayla menyadari sesuatu yang membingungkan:87Please respect copyright.PENANAgpWkUUBpZg
Tutur sedang mencoba masuk lebih jauh dari zona aman yang biasanya ia jaga mati-matian.
“Kenapa kamu ada?” tanya Nayla lirih.87Please respect copyright.PENANAzMZx7oj4vz
“Kenapa kamu… mau ada?”
Tutur terdiam cukup lama.87Please respect copyright.PENANAfKxBWSfgKW
Ia menatap meja, lalu Nayla, lalu hujan di luar.87Please respect copyright.PENANA8kDqNrHnzM
Ada banyak jawaban yang melintas di wajahnya, tapi hanya satu yang akhirnya ia pilih.
“Karena aku nggak suka lihat kamu ketakutan sendirian,” jawabnya.87Please respect copyright.PENANAuHK0EDcVqF
“Itu aja udah cukup.”
Nayla menahan napas.87Please respect copyright.PENANAIYtErnPFKS
Itu bukan kalimat romantis.87Please respect copyright.PENANAi5V0DlRIni
Bukan pengakuan dramatis.
Tapi itu nyata.87Please respect copyright.PENANA7BuOCHLAI5
Dan untuk pertama kalinya, Nayla tidak merasa malu karena gemetar.87Please respect copyright.PENANA0iwkdASdhU
Ia merasa… terlihat.
Ketika mereka keluar kelas, hujan berubah rintik.87Please respect copyright.PENANAaSyo87xF9b
Tutur menahan pintu, lalu berjalan di sisi Nayla tanpa banyak bicara.
Tidak perlu.
Kehadirannya saja sudah terasa seperti ruang aman kecil—ruang yang tidak pernah ia miliki saat kecil.
Dan Nayla tahu:87Please respect copyright.PENANATBCsKyNPhl
hari ini, sesuatu dalam hubungan mereka berubah arah.87Please respect copyright.PENANAZf3oytveoO
Bukan besar, bukan tiba-tiba, tapi… menguat.
Seperti luka lama yang akhirnya menemukan seseorang yang tidak mau menutupnya—melainkan menemani sampai perlahan sembuh.
ns216.73.216.64da2


