Hujan akhirnya mereda tepat saat langit berubah warna menjadi kelabu pucat, seperti kertas yang sudah terlalu sering diremas. Kantin hampir kosong ketika Nayla menyadari ia tidak membawa payung—lagi.
Ia mengemasi barang-barangnya perlahan, berharap hujan benar-benar berhenti, meskipun ia tahu Yogyakarta jarang memberikan keajaiban dua kali dalam sehari.
Ketika ia berdiri, Tutur juga berdiri.96Please respect copyright.PENANAUWVant07UM
Kebetulankah?96Please respect copyright.PENANAAnkSOQFoxl
Ia tidak yakin.
Tutur mengunci bukunya, memasukkannya ke dalam tas, lalu menatap ke luar jendela.
“Hujannya belum benar-benar selesai,” katanya.
Nada suaranya datar seperti biasa, tapi ada sedikit sesuatu di ujung kata-katanya—sebuah ajakan yang tidak diucapkan.
Nayla berdiri dengan canggung.96Please respect copyright.PENANAuvRNhg4Kwq
“Kayaknya aku harus nekat pulang.”
Tutur mengerutkan dahi tipis.96Please respect copyright.PENANAVRK00AHtFV
“Kamu sendirian?”
Nayla hanya mengangguk sambil merapikan tas. Jawaban sederhana itu membuat Tutur menghela napas pelan, seperti orang yang sedang menimbang sesuatu yang sudah jelas hasilnya.
“Kalau kamu mau,” ia berkata akhirnya, “kita jalan bareng.”
Nayla terdiam satu detik.96Please respect copyright.PENANAfMZmawL0jO
Lalu dua detik.96Please respect copyright.PENANAIZF98gCpN7
Hatinya berdebar terlalu keras untuk ukuran keputusan yang terdengar begitu sederhana.
“Boleh,” jawabnya.
Hanya satu kata.96Please respect copyright.PENANAUykjbwsqYx
Tapi cukup membuat ruang kantin terasa berbeda.
Udara luar dingin, lembap, dan masih beraroma tanah basah. Trotoar masih menyimpan genangan kecil yang memantulkan lampu jalan seperti serpihan cahaya yang patah.
Tutur berjalan di sisi kiri, Nayla di kanan.96Please respect copyright.PENANAzQdl7Wh9Cs
Ada jarak di antara mereka.96Please respect copyright.PENANADv27HmFPnj
Jarak aman—tapi rapuh.
Keduanya tidak langsung bicara.96Please respect copyright.PENANAbkn3axxkd6
Keheningan itu… bukan canggung.96Please respect copyright.PENANA1S1kfv0tkv
Lebih seperti mereka sedang menyesuaikan panjang langkah satu sama lain.
Di tikungan dekat taman kampus, Tutur akhirnya angkat bicara.
“Kamu selalu pulang jam segini?”
Nayla menggeleng. “Enggak. Biasanya lebih cepat. Cuma tadi… entahlah. Rasanya ingin duduk lebih lama.”
Tutur menatapnya sekilas, seperti memahami sesuatu yang tidak diucapkan.
“Kamu sering merasa sendirian?” tanya Tutur tiba-tiba.
Pertanyaan itu membuat Nayla menahan langkah.96Please respect copyright.PENANARtAyCuFtkt
Bukan karena kaget—tapi karena jarang ada orang bertanya begitu jujur.
“Sering,” jawabnya pelan.96Please respect copyright.PENANAH7RyNAEipu
“Tapi aku sudah terbiasa.”
Tutur memperlambat langkah.96Please respect copyright.PENANAogOLt3tt6d
“Kebiasaan bukan berarti itu baik.”
Nayla mengangkat bahu. “Aku tahu. Tapi… aku tidak selalu punya pilihan.”
Tutur tidak segera menjawab.96Please respect copyright.PENANAEcFMLTILH1
Ia hanya menatap jalan di depan mereka, seolah sedang mencari kata yang tidak biasa ia gunakan.
“Kamu bisa… nggak selalu sendirian,” katanya lirih.
Nayla menoleh.96Please respect copyright.PENANAXthcXtUBPu
“Dengan siapa?”
Ada jeda.96Please respect copyright.PENANAAZwBxp7fSv
Jeda itu panjang, seperti Tutur memaksa dirinya membuka pintu yang lama sekali tertutup.
“Dengan aku,” katanya akhirnya.
Kata-katanya sederhana.96Please respect copyright.PENANA2V00e9dfPR
Tapi terasa seperti pintu yang terbuka setengah—cukup untuk masuk, tapi tidak cukup untuk melihat semua yang ada di dalamnya.
Nayla menatapnya lama.96Please respect copyright.PENANAow1uBOwISZ
“Kenapa kamu ngomong gitu?”
Tutur mengehela napas dalam.96Please respect copyright.PENANADjs5Z16ySM
“Aku… nggak pandai jelasin. Tapi sejak kita ngobrol kemarin…” ia mengusap tengkuknya, “…aku ngerasa lebih… hadir.”
Kata itu membuat Nayla merasakan sesuatu yang perih tapi manis.
“Punya seseorang yang bikin kamu pengen hadir,” ia menimpali, “itu bukan hal kecil.”
Tutur menatapnya.96Please respect copyright.PENANAEMcd7r5HVg
Kali ini lebih lama, lebih dalam.96Please respect copyright.PENANApkSzTBLURu
Tatapan yang tidak melukai, tapi menelanjangi pelan-pelan.
“Aku belum ngerti semua perasaan ini,” katanya. “Tapi… aku takut kehilangan sesuatu yang belum aku miliki.”
Nayla nyaris berhenti berjalan.96Please respect copyright.PENANAv7lMosT5E0
Kalimat itu seperti menyentuh bagian dirinya yang paling sunyi.
“Tutur…”96Please respect copyright.PENANAlq7EvIspqw
Ia berbisik.96Please respect copyright.PENANAdq3ewah477
“Aku juga.”
Tutur menoleh cepat, seolah jawaban Nayla lebih mengejutkan daripada hujan yang turun tiba-tiba.
“Kamu juga apa?”
“Aku juga… takut kamu hilang.”
Angin lewat pelan, membawa aroma hujan dan dedaunan basah.96Please respect copyright.PENANADYMhXNxVUE
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka kenal, Tutur mendekat sedikit.96Please respect copyright.PENANAlSkDhF78cT
Tidak banyak—hanya satu langkah kecil, tapi itu cukup untuk membuat jarak aman itu menghilang.
“Kalau aku boleh,” Tutur berkata pelan, “aku pengen tetap ada.”
Nayla menatapnya.96Please respect copyright.PENANAr83TMOEimK
Wajahnya sendu, tapi ada keberanian kecil yang menerobos dari tatapannya.
“Kalau kamu tetap ada,” Nayla berkata lembut, “aku nggak akan lari.”
Untuk beberapa detik, waktu berhenti.96Please respect copyright.PENANAHJHu4rI9RJ
Lampu jalan, sisa hujan, suara motor jauh—semuanya memudar.
Yang tersisa hanyalah dua orang yang sama-sama takut…96Please respect copyright.PENANAi4D9R1RKaS
tapi tetap memilih berjalan bersebelahan.
Tanpa rencana, tanpa kepastian, tanpa janji besar.96Please respect copyright.PENANANCyzjbGVrS
Hanya langkah pelan di jalan pulang yang lembap.
Tapi itu cukup.96Please respect copyright.PENANAAi9aSh3H4L
Lebih dari cukup.
Karena di sinilah semuanya mulai berubah:96Please respect copyright.PENANAfn6ZaX1kNL
mereka tidak lagi sekadar duduk di kantin bersama.96Please respect copyright.PENANA1poweIQNdc
Mereka kini berjalan menuju arah yang sama—meski belum tahu apa yang akan ditemui di ujung jalan.


