Hujan turun lebih awal sore itu, seperti seseorang yang tidak sabar menumpahkan isi hatinya. Kantin masih setengah penuh ketika Nayla masuk, tapi rasanya seluruh ruangan mengecil saat ia melihat Tutur di sudut yang sama—dengan posisi tubuh yang sedikit berbeda dari biasanya.
Tidak serapih kemarin.104Please respect copyright.PENANAaVHUINmKIG
Tidak setenang biasanya.
Seolah ada sesuatu yang hilang dari laki-laki itu.
Nayla mendekat tanpa benar-benar memutuskan untuk melangkah. Kakinya bergerak sendiri, seperti gravitasi kecil bernama Tutur menariknya.
“Boleh duduk?” tanya Nayla pelan.
Tutur, yang biasanya hanya mengangguk atau memberi isyarat halus, kali ini menegakkan tubuhnya sedikit.104Please respect copyright.PENANAcYIiVXLjya
Ia menatap Nayla beberapa detik—tatapan yang tidak datar, tapi seperti menimbang sesuatu yang rumit di dalam dirinya sendiri.
Akhirnya, ia menggeser bukunya ke samping.104Please respect copyright.PENANAUJdVhMRFdl
Isyarat yang jauh lebih lembut dari sekadar kata “iya”.
Nayla duduk. Pop Mie belum dipesannya. Mungkin nanti. Ada hal lain yang lebih ia pikirkan.
“Capek?” Nayla bertanya, meski tidak yakin apa benar itu yang ingin ia ucapkan.
Tutur menghela napas, napas yang pelan tapi terdengar berat, seperti ada jarak panjang di belakangnya.
“Aku… tidak tidur,” katanya datar.
Nayla terdiam. Tutur tidak pernah memulai kalimat sepanjang itu sejak mereka pertama bertemu.104Please respect copyright.PENANAVna2m6GGCo
Biasanya ia hanya menjawab seperlunya, tidak pernah memberi pintu terbuka untuk ditanya lebih jauh.
“Kamu kenapa?” Nayla bertanya hati-hati.
Tutur memandang tangannya sendiri sejenak, lalu ke luar jendela. Hujan memantul seperti serpihan cahaya abu-abu.
“Ada mimpi yang kembali,” ujarnya pelan. “Mimpi yang seharusnya sudah lewat.”
Nayla mencondongkan tubuh, tidak memaksa, hanya menunggu. Ia belajar bahwa diam yang tepat bisa lebih membantu daripada seribu pertanyaan.
“Dulu…” Tutur berhenti, mengatur napas, “…ada seseorang yang harusnya bisa kupertahankan. Tapi aku memilih pergi duluan.”
Nayla tidak berkedip.104Please respect copyright.PENANABN08IlapDR
Itu bukan sekadar informasi.104Please respect copyright.PENANATJblJMnGKy
Itu luka masa lalu yang Tutur biarkan keluar dari tempat paling tersembunyi.
“Pergi karena apa?” tanya Nayla lembut.
Tutur menggeleng—bukan menolak menjawab, tapi menolak menyakiti dirinya sendiri lagi.
“Aku tidak siap bersandar pada siapa pun. Dan aku takut membuat orang lain bersandar padaku.”
Senyap tiba-tiba lebih tebal.
Hujan mengetuk kaca seperti jarum-jarum kecil.
Nayla sadar, ini pertama kalinya Tutur bercerita tentang dirinya.104Please respect copyright.PENANAflyMEXAQ8a
Selama ini ia hanya melihat lelaki itu seperti buku tertutup yang ada di meja perpustakaan—menarik, tapi tidak berani disentuh.
Kini, buku itu terbuka. Bahkan hanya satu halaman, itu sudah cukup untuk membuat dada Nayla terasa sesak oleh sesuatu yang hangat dan menakutkan sekaligus.
“Tutur…”104Please respect copyright.PENANAKnW8F3HHSw
Ia menatapnya.104Please respect copyright.PENANAtlPpMrUQQJ
“Semua orang berhak takut.”
Tutur menahan napas sejenak, seolah kalimat itu mengenai tempat yang sangat dalam.
“Termasuk aku?”104Please respect copyright.PENANAQzC9bbimGO
Suara Tutur hampir seperti bisikan.
“Termasuk kamu,” jawab Nayla tanpa ragu.
Untuk pertama kali, mata Tutur melembut. Tidak lagi seperti laut malam, tapi seperti laut saat matahari turun perlahan—tetap gelap, tapi jujur.
“…Aku lebih takut sekarang,” Tutur mengaku pelan.104Please respect copyright.PENANArjtjrIQqRW
“Setiap kali kamu duduk di sini.”
Nayla membeku.
Tutur menunduk sedikit, ekspresinya tidak berubah banyak, tapi kata-katanya memecahkan sesuatu di dalam ruangan itu—dan di dalam dada Nayla.
“Takut?”104Please respect copyright.PENANAlxwEEBVI3Y
Nayla berusaha tersenyum. “Takut kenapa?”
Tutur menggenggam pulpen di tangannya, menggulirkannya, sebelum akhirnya menatap Nayla dengan cara yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Takut kamu jadi penting.”
Nayla tidak bersuara.104Please respect copyright.PENANAbUXv1hdk9h
Tidak bisa.
Tutur menarik napas panjang, seolah semua yang ia katakan barusan adalah keputusan yang membutuhkan keberanian berhari-hari.
“Aku tidak ingin ulang masa lalu,” katanya.104Please respect copyright.PENANAQLpPrrAfVQ
“Tapi aku juga… tidak bisa tidak memperhatikanmu.”
Nayla merasakan sesuatu mengalir ke jantungnya—bukan kejut, tapi pengakuan yang selama ini ia tahan.
Jadi… bukan sepihak.
Bukan ilusi.
“Kalau kamu takut,” Nayla berbisik pelan, “aku juga takut.”
Tutur menoleh cepat, tatapannya berubah sedikit—campuran keterkejutan dan pengertian.
Mereka tidak menyentuh.104Please respect copyright.PENANA7KUM13f19p
Tidak bergerak mendekat.104Please respect copyright.PENANAx2FhNQbfq7
Tapi ada sesuatu yang berpindah di udara.
Sesuatu yang tidak bisa mereka tarik kembali.
Hujan belum berhenti.104Please respect copyright.PENANADHdfJ5f7lu
Dan mungkin tidak harus berhenti—karena untuk pertama kalinya, di antara denting sendok dan dingin yang mengembun di kaca, Nayla merasakan titik awal.
Titik ketika dua orang yang sama-sama rusak mulai membuka tempat dalam diri mereka, perlahan, hati-hati, tapi nyata.
ns216.73.216.134da2


