Chapter 5. Farel adik sepupu yang pemalu.
11306Please respect copyright.PENANASxXAnRbfJq
"Waalaikumsalam, Kak," suaranya terdengar membuat aku merasa senang karena Farel masih bisa aku hubungi.
"Farel, syukur kamu nelpon!" kataku, berusaha menahan agar suaraku tidak terdengar terlalu terburu-buru atau menghakimi.
"Iya, Kak. Maaf, tadi... aku lagi sholat."
11306Please respect copyright.PENANAtrOa0aHWZU
Alasannya membuatku terdiam sejenak. Di tengah kekacauan yang ia alami, ia masih melaksanakan kewajiban untuk mendekat pada Tuhannya. Itu adalah secercah harapan.
11306Please respect copyright.PENANAjF6GlIVB7k
"Farel," mulailah dengan hati-hati, "kenapa kamu minggat dari rumah? Mama kamu nyariin kamu loh. Semua khawatir. Terus apa nomor kamu baru aktif?"
11306Please respect copyright.PENANA0DYlyQ8jGl
Dia menghela napas panjang, dan aku bisa membayangkan dia mengusap wajahnya yang letih. "Cuma Mamah? Papah gak nyariin aku, kan?" suaranya datar, tapi ada luka yang dalam di balik kata-katanya.
11306Please respect copyright.PENANAVIbRnJwYjd
"Jangan gitu, Farel," bujukku lembut. "Mereka pasti cemas sekali kamu menghilang. Tentunya Papa kamu juga, meski mungkin caranya berbeda." Aku memilih untuk tidak menyentuh penyebab dia minggat—insiden mengintip yang masih terasa tidak masuk akal bagiku. Itu adalah ranah yang terlalu sensitif untuk dibuka melalui telepon.
11306Please respect copyright.PENANAYIoVzPBHXl
Diam lagi. Kali ini lebih panjang, lebih berat. Kuberi dia ruang.
11306Please respect copyright.PENANAZi9sO2FnAJ
"Farel," akhirnya kupecahkan keheningan, suaraku serendah dan semerdu mungkin, seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan. "Kamu di mana sekarang? Kalau gimana-gimana, aku jemput kamu. Kamu bisa tinggal sementara di rumah kakak, sampai kamu merasa siap buat pulang ke rumah. Di sini aman."
11306Please respect copyright.PENANAlyKrVH1WOS
Ada desisan napas di seberang sana, seolah-olah pertempuran batin sedang terjadi. Aku menahan napas, berharap.
11306Please respect copyright.PENANA1VO440ldet
"Aku... di masjid dekat terminal, Kak," akhirnya dia menjawab, suaranya lirih, hampir tak terdengar.
11306Please respect copyright.PENANAPa7hPNZcfE
Lega yang begitu besar menyelimutiku. Setidaknya sekarang aku tahu di mana dia, dan dia berada di tempat yang relatif aman.
11306Please respect copyright.PENANArvalP8fCCZ
"Oke, baik. Kakak jemput kamu di sana. Tunggu, ya. Jangan pergi ke mana-mana," kataku, berusaha meyakinkan.
11306Please respect copyright.PENANAsRVjNWuQka
"Oke, Kak. Makasih," bisiknya sebelum telepon ditutup.
11306Please respect copyright.PENANAkXbk64Ox5I
Kubelai lembut pundak Marwan yang tertidur. "Pah, aku mau jemput Farel. Dia di masjid dekat terminal."
11306Please respect copyright.PENANAR8RwdWnHxi
Marwan membuka mata, masih berkabut oleh tidur, tetapi langsung memahami situasinya. Dia mengangguk, lalu duduk. "Aku temani kamu, Mah. Jam segini, sendirian tidak aman."
11306Please respect copyright.PENANALcPde5Utsn
Kami bergegas mempersiapkan diri. Dalam diam, aku berdoa. Doa untuk keselamatan Farel, untuk kekuatan dalam menghadapi situasi yang pelik ini, dan untuk kebijaksanaan untuk mengetahui kata-kata yang tepat untuk diucapkan ketika akhirnya bertemu dengan sepupuku yang tersesat itu.
11306Please respect copyright.PENANAFm2hKpDKEe
Kami pergi dengan dua motor. Aku mengedarai motor yang biasa aku pakai dan Marwan mengenderai motornya. Perjalanan menuju terminal terasa panjang dan sunyi. Kota yang biasanya ramai, kini sepi ditinggal aktivitas. Lampu jalan menjadi saksi bisu perjalanan kami menyusuri jalan yang sepi. Dan di masjid dekat terminal itu, bukan hanya seorang anak laki-laki yang menungguku, tetapi juga sebuah misteri, dan sebuah cerita yang membutuhkan telinga yang sabar untuk mendengarnya.
11306Please respect copyright.PENANAuUk3a91AHC
***
11306Please respect copyright.PENANAe7mN20pAty
Hari bergulir dengan ritme yang berbeda sejak kehadiran Farel di rumah kami. Cara berpakaianku dalam rumah yang sebelumnya bebas cenderung terbuka karena hanya aku, suami dan anak balitaku kini harus lebih tertutup. Karena biar bagaimanapun Farel adalah lelaki.
11306Please respect copyright.PENANAqyhUEzY8DL
Sebenarnya, niatku sudah bulat untuk segera memberi kabar pada Tante Mirna bahwa anaknya telah ditemukan dan berada dalam keadaan selamat. Bayangan wajahnya yang penuh kecemasan di telepon masih jelas dalam ingatanku. Namun, satu permintaan dari Farel yang diucapkan dengan suara bergetar penuh ketakutan, mengurungkan niatku.
11306Please respect copyright.PENANAEnRTqZq6s0
"Kak, tolong... jangan kasih tau Mamah dulu," pintunya suatu pagi saat hanya kami berdua di ruang makan. "Aku... aku takut. Kalau Papah tau aku di sini, dia pasti dateng dan..." Nafasnya tersendat. "...dan hajar aku lagi. Lebih parah."
11306Please respect copyright.PENANAlICscgYr5t
Aku melihat langsung ketakutan itu bersemayam di balik matanya yang bening. Itu bukan ketakutan anak yang dimarahi, tapi trauma mendalam. Terpaksa, dengan berat hati, kubatalkan niatku. Aku hanya bisa berharap Tante Mirna masih diberikan kekuatan dan kesabaran.
11306Please respect copyright.PENANAIYHou3vGqo
Kesempatan untuk mengobrol lebih dalam akhirnya datang pada suatu sore. Marwan belum pulang kantor, dan Farel terlihat sedikit lebih rileks, meski jarinya masih tak henti-hentinya memainkan ujung baju. Suasana santai ini kuanggap sebagai pintu masuk.
11306Please respect copyright.PENANAtDR2owDVHe
"Farel," Aku mulai obrolan dengan suara lembut, sambil menyodorkan segelas teh hangat untuknya. "Kakak boleh tanya sesuatu yang mungkin agak personal?"
11306Please respect copyright.PENANA8Kcr5tpl7A
Dia mengangguk pelan, tanpa menatap.
11306Please respect copyright.PENANAsF4I78KBlP
"Kenapa sih, kamu sampai... ngintip segala?" tanyaku, berusaha menjaga intonasi agar tidak terdengar menghakimi.
11306Please respect copyright.PENANANyXXaps6xA
Dia menghela napas panjang, seperti mengumpulkan keberanian. Beberapa detik berlalu dalam kesunyian sebelum akhirnya dia menjawab dengan suara lirih, "Hmmmm... aku cuma penasaran aja, Kak. Pengen liat doang."
11306Please respect copyright.PENANAzkLBHWm1Pt
Jawabannya sederhana, hampir kekanak-kanakan, tapi justru di situlah letak kepedihannya. Ini memang tentang hasrat yang tak terkendali, tapi ada dalam diri seorang lelaki pemalu..
11306Please respect copyright.PENANAXE132E9sYq
"Rasa penasaran itu hal yang wajar," kataku, mencoba menormalisasi perasaannya. "Tapi caranya yang salah, Dek. Makanya, kenapa gak cari pacar aja? Kamu harus coba untuk lebih berani. Jadi kamu bisa kenal cewek dengan baik, ngobrol, dan nggak perlu penasaran sampai harus... ngintip."
11306Please respect copyright.PENANAfZPF5tNBFZ
Wajahnya langsung memerah padam. Dia menggeleng cepat, malu yang amat sangat menyelimutinya. "Aku malu, Kak. Malu banget. Buat nyari pacar. Kakak sendiri kan tau aku kayak gimana."
11306Please respect copyright.PENANAXkTeeV1STh
Dan di kalimat itulah, seluruh inti permasalahan Farel terbuka. Bukan tentang apa yang dilakukannya, tapi tentang siapa dirinya. Dia adalah seorang remaja lelaki dengan gejolak dalam darahnya, namun terpenjara dalam tembok rasa malu yang begitu tebal. Dunia di luar dirinya adalah medan pertempuran yang menakutkan bagi orang model Farel. Setiap interaksi dengan orang lain adalah potensi rasa malu. Setiap penolakan adalah akhir dari segalanya. Bagaimana mungkin dia bisa mendekati seorang perempuan, sementara untuk sekadar memesan makanan di warung saja jantungnya berdebar kencang?
11306Please respect copyright.PENANAihOzDDOIjP
"Farel," panggilku, mendudukkannya lebih dekat. "Kakak tau kamu pemalu. Tapi rasa malu itu seperti tameng, Dek. Kalau kelewatan rasa malunya, malah memberatkan dan bikin kamu nggak bisa berkembang. Padahal kakak yakin kamu punya kelebihan yang bisa berkembang kalau kamu mulai berani."
11306Please respect copyright.PENANAOPA4v5JiQL
Dia hanya mendengarkan, tapi aku bisa melihat sedikit cahaya di matanya.
11306Please respect copyright.PENANAOatbK9hzW4
"Rasa malu itu bisa dikikis pelan-pelan. Nggak perlu langsung nekat nembak cewek. Mulai aja dari hal kecil. Coba ikut komunitas online yang sesuai hobi kamu, ngobrol lewat chat dulu. Atau, kalau ke mall, coba aja tersenyum sama sales yang lagi melayani. Satu langkah kecil aja setiap hari."
11306Please respect copyright.PENANAEPGhUk8QWi
Aku menyadiri, ini bukan proses yang instan. Luka Farel bukan hanya karena dihajar ayahnya, tapi juga karena bertahun-tahun terkurung dalam penjara perasaan malunya sendiri. Membantunya keluar membutuhkan lebih dari sekadar nasihat. Butuh kesabaran, penerimaan, dan mungkin yang paling penting, memberinya ruang yang aman untuk tumbuh tanpa rasa takut—sesuatu yang, sayangnya, tidak dia dapatkan di rumahnya sendiri.
11306Please respect copyright.PENANAliFRezWEBM
Dan di sore itu, sementara matahari mulai tenggelam, aku hanya berharap kata-kataku bisa menjadi benih kecil yang suatu hari nanti akan tumbuh, membantunya menemukan keberanian untuk tidak hanya melihat dunia dari balik jendela, tapi akhirnya berani membuka pintu dan melangkah keluar.
11306Please respect copyright.PENANAuZDoHQu44s
Setelah dua hari menyimpan rahasia besar ini, beban di pundakku terasa semakin berat. Melihat Tante Mirna menelepon berulang kali dengan suara yang semakin parau dan putus asa, hatiku tidak tega. Di satu sisi, aku ingin menepati janji pada Farel. Di sisi lain, sebagai seorang ibu dan juga keponakan, aku sangat memahami penderitaan Tante Mirna.
11306Please respect copyright.PENANAUYsHu14lED
Pada suatu sore, sementara Farel sedang asyik mengutak-atik laptopnya di kamar tamu rumahku yang sekarang dia tempati, aku memutuskan untuk menelepon Tante Mirna. Aku memilih momen di mana Marwan sudah pulang dan bisa memberiku dukungan moral. Tanganku sedikit gemetar menekan tombol hijau.
11306Please respect copyright.PENANAqCloC44EZl
“Assalamualaiku, Nayla? Ada kabar?” sambut Tante Mirna langsung, penuh harap.
11306Please respect copyright.PENANAI0i7j3R8Oe
“Waalaikumsalam, Tante. Iya aku ada kabar baik. Farel... ada bersama aku.”
11306Please respect copyright.PENANAPNeGqapX3s
Suara jeritan kecil dan tangis melegakan langsung memenuhi telingaku. “Alhamdulillah! Alhamdulillah! Dia baik-baik saja, Nay? Dia tidak kenapa-kenapa?”
11306Please respect copyright.PENANA5Nlo5yujGR
“Dia baik-baik saja, Tante. Sedikit shock dan takut, tapi secara fisik sehat.” Aku mengambil napas dalam. “Tapi, Tante, ada satu hal yang Farel minta, dan aku mohon Tante mengerti.”
11306Please respect copyright.PENANAZhybTypBjL
“Apa itu, Nay?”
11306Please respect copyright.PENANAdSgZxjKY1C
“Dia... dia sangat ketakutan pada papahnya. Dia memohon, untuk sementara agar papahnya tidak tahu bahwa dia ada di sini. Dia trauma, Tante. Trauma dihajar seperti itu.”
11306Please respect copyright.PENANABfZDOiIWPU
Di seberang telepon, Tante Mirna terdiam. Aku bisa mendengar isakannya yang tertahan. “Ayahnya juga sudah menyesal, Nay. Dia kalap waktu itu. Tapi...”
11306Please respect copyright.PENANAO7OTHd09UJ
“Aku tahu, Tante. Tapi ketakutan Farel itu nyata. Dan ini bukan cuma soal dihajar. Ini soal... Farel sendiri.” Aku memilih kata-kata dengan hati-hati. “Aku percaya insiden ngintip itu bukan karena dia anak nakal, Tante. Ini karena dia anak yang labil, sangat pemalu, dan tidak punya cara yang sehat untuk menyalurkan rasa ingin tahunya yang wajar sebagai remaja.”
11306Please respect copyright.PENANAFeF28zNEET
Aku melanjutkan dengan suara yang lembut tapi penuh keyakinan. “Izinkan Farel tinggal sementara di sini bersamaku dan Marwan. Biarkan aku yang menanganinya untuk sementara. Aku akan coba, pelan-pelan, bantu membangun kepercayaan dirinya. Aku akan ajari dia cara berinteraksi yang sehat, caranya memahami perasaannya sendiri. Dia butuh ruang yang aman untuk belajar, Tante. Ruang di mana dia tidak dihakimi atau ditakuti.”
11306Please respect copyright.PENANARgkwl3kleN
“Tapi... bagaimana dengan ayahnya? Aku tidak bisa berbohong pada ayahnya Farel, Nay.”
11306Please respect copyright.PENANA8Atad3hiFC
“Katakan padanya bahwa Farel ada di tempat yang aman, dirawat oleh keluarga, dan sedang dalam proses perbaikan diri. Katakan bahwa untuk sementara, demi kebaikan Farel sendiri, lebih baik mereka tidak bertemu dulu. Bahwa yang Farel butuhkan sekarang bukan hukuman, tapi bimbingan.”
11306Please respect copyright.PENANAlJ5soVf4PG
Terdengar helaan napas panjang dari seberang. “Kamu yakin bisa menanganinya, Nayla? Dia itu anaknya sangat-sangat tertutup.”
11306Please respect copyright.PENANAhTxkg3GmFN
“Aku yakin, Tante. Aku satu dari sedikit orang yang masih dia percayai. Aku tidak akan memaksanya. Aku hanya akan membimbingnya. Beri kami waktu. Sebulan, atau dua bulan. Lihat perkembangannya. Yang penting, Tante tahu dia aman dan kami sedang berusaha membantu dia menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih percaya diri.”
11306Please respect copyright.PENANA45v7VtsZeK
Akhirnya, setelah beberapa saat, Tante Mirna mengeluarkan kata-kata yang kutunggu-tunggu. “Baiklah, Nayla. Aku percaya padamu. Tolong... jaga dia baik-baik. Katakan padanya bahwa Mamah sangat mencintainya dan merindukannya.”
11306Please respect copyright.PENANAFL5zqJJxps
“Akan kusampaikan, Tante. Terima kasih atas kepercayaannya.”
11306Please respect copyright.PENANASFpdcdrSt2
Begitu telepon ditutup, aku merasa beban yang begitu berat terlepas dari pundakku. Marwan memeluk bahuku, “Kamu melakukan hal yang benar, Sayang.”
11306Please respect copyright.PENANALrqUGbo3ZX
Misi pun dimulai. Keesokan harinya, dengan restu dari orang tuanya, aku mulai "proyek percaya diri" untuk Farel. Awalnya kecil-kecilan.
11306Please respect copyright.PENANASQO9dvHwiO
“Farel, tolong bantu kakak beli sayuran di warung depan ya. Ini uangnya,” kataku suatu pagi.
11306Please respect copyright.PENANAe9ZOoBye9N
Dia terlihat panik. “Sendirian, Kak?”
11306Please respect copyright.PENANAoZ2QQ7KdEV
“Iya, sendirian. Kakak lihat dari sini. Gak akan kemana-mana. Kamu cuma perlu bilang mau beli apa dan bayar.”
11306Please respect copyright.PENANARKpIRDKsWI
Dia pergi dengan langkah gontai, dan kembali dengan napas tersengal-sengal, tapi dengan sekantong plastik sayuran di tangannya. Wajanya memerah, tapi ada sedikit kilat kepuasan di matanya.
11306Please respect copyright.PENANAB5BfxD7xfx
“Nah, gampang kan?” kataku, memberi dia high-five yang membuatnya tersenyum kecut.
11306Please respect copyright.PENANAd003ChYZjN
Langkah-langkah kecil itu kukumpulkan setiap hari. Ajak dia jogging pagi di kompleks saat weekend, di mana dia dipaksa untuk melihat orang dan keluar dari zona nyamannya. Ajak dia membantu Marwan memperbaiki motor, sebuah aktivitas yang melibatkan sedikit komunikasi dan banyak kerja tim. Aku juga mulai mengajaknya ngobrol tentang hal-hal remaja, tentang pacaran yang sehat, tentang bagaimana mendekati perempuan dengan sopan dan percaya diri.
11306Please respect copyright.PENANArkTEx2eBLe
Bersambung
ns216.73.216.253da2


