Chapter 6. Ide yang gila dari suamiku.
10981Please respect copyright.PENANAf8e4mWFhom
Perubahannya tidak instan. Butuh waktu berminggu-minggu sebelum dia bisa memesan makanan tanpa suaranya bergetar. Butuh usaha ekstra untuk membuatnya berani menatap mata lawan bicara. Tapi, benih itu mulai tumbuh. Senyumnya mulai lebih sering muncul. Bahkan, suatu hari, dia bercerita bahwa dia sudah mulai berani berkomentar di forum online tentang programming.
10981Please respect copyright.PENANAJOpGnC8Bze
Aku tahu perjalanan ini masih panjang. Tapi, dengan komunikasi yang terjaga dengan Tante Mirna dan kesabaran yang tidak putus, aku percaya Farel perlahan-lahan akan menemukan sayapnya. Dia akan belajar bahwa dunia di luar tembok malunya tidak semenakutkan yang dia kira, dan bahwa dirinya sendiri memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada yang pernah dia duga.
10981Please respect copyright.PENANA80llx6h5s3
Dua minggu telah berlalu sejak Farel tinggal bersama kami. Meski sudah ada kemajuan kecil—seperti sudah berani memesan kopi sendiri atau menyapa satpam—dia tetap seperti kuncup bunga yang enggan mekar sepenuhnya. Suatu malam, setelah memastikan Farel sudah tertidur di kamarnya, aku dan Marwan punya kesempatan untuk berdiskusi serius di teras belakang, ditemani secangkir teh dan gemericik air mancur kecil.
10981Please respect copyright.PENANAl1bCoUjd0G
***
10981Please respect copyright.PENANApGTzpbSl8P
"Gimana progress si Farel, Sayang?" tanya Marwan, matanya yang bijak menatapku penuh perhatian.
10981Please respect copyright.PENANAYdLrXB25vL
"Masih susah merubah sifat dia. Kayaknya dia udah nyaman banget di zona amannya sebagai orang pemalu. Aku bingung gimana caranya bikin dia lebih berani, terutama sama cewek. Itu akar masalahnya kan?"
10981Please respect copyright.PENANAxOKQM954bv
Marwan mengangguk, jari-jarinya mengetuk-ngetuk gagang cangkir. "Aku ada ide. Coba kita kenalin dia sama cewek-cewek yang easygoing, yang gampang akrab sama orang. Mungkin ada cewek seumuran farel yang kamu kenal? Biar dia belajar interaksi biasa dulu."
10981Please respect copyright.PENANAAlAdnKwLFB
Aku langsung menggeleng, hampir tanpa pikir panjang. "Mana bisa, Mas! Lihat cewek aja dari jauh dia udah meringis malu, mukanya merah kayak paprika. Dikenalin langsung? Bisa-bisa dia pingsan atau kabur lewat jendela."
10981Please respect copyright.PENANAI2mcLkyVC4
Tapi Marwan tersenyum kecil, seperti punya kartu as. "Tapi dia suka sama cewek, kan? Buktinya dia sampe ngintip."
10981Please respect copyright.PENANAcFEzgk5LrQ
"Ya, iya. Tapi itu dia lakukan diam-diam, Pah. Dalam persembunyian. Itu justru dia lakuin karena dia nggak punya keberanian untuk mengenal cewek secara langsung."
10981Please respect copyright.PENANAMYdnmKqaGt
Udara malam yang sejuk tiba-tiba terasa panas oleh keheningan yang mengikuti. Marwan mengambil napas dalam, sepertinya sedang mempertimbangkan untuk mengungkapkan sesuatu yang sudah dipikirkannya.
10981Please respect copyright.PENANAljGshwxR6U
"Kalau gitu..." katanya, suaranya sengaja dibuat rendah agar hanya kami berdua yang mendengar, "...gimana kalau kamu yang 'memberi dia pelajaran' secara diam-diam juga biar dia berani dan percaya diri?"
10981Please respect copyright.PENANA7oZJyLkePh
Aku mengerutkan kening, tidak mengerti. "Udah mas tapi sejauh ini masih gak ada perubahan."
10981Please respect copyright.PENANACATl2R0jax
"Kita bisa coba cara yang lain. Aku ada ide. Dia kan tinggal serumah sama kita. Kamu bisa... ya, kasih dia liat sedikit-sedikit. Tubuh kamu. Misal, lagi pakai daster agak tipis tanpa daleman." Marwan menungkapkan idenya dengan santai seolah sebuah ide yang masuk akal.
"Papah! Gila kamu! Emang cara aneh gitu bikin dia jadi percaya diri!" bisikku keras, rasa tidak percaya dan sedikit jijik membelenggu pikiranku.
10981Please respect copyright.PENANArq1v1odXmr
"Dengar dulu, Nay," Marwan membalas, tangannya mengisyaratkan tenang. "Tujuannya emang buat bangkitin nafsu dia, tapi ini dengan perlahan membuat dia mulai pengen dan akhirnya dia berani mengungkapkan keinginannya itu ke kamu. Kalau dia belum mau ungkapkan, kamu bisa ajak dia ngobrol. Bilang aja, 'Farel, tadi kan kamu liat kakak. Gimana menarik kan? Itu wajar. Tapi jangan di pendam, ngomong aja. Gak usah malu-malu untuk bilang. Kalau suka sama cewek, ya belajar cara deketin yang bener, bukan ngintip. Kalau perempuan nyaman dia bisa kasih apa yang kamu pengen.”
10981Please respect copyright.PENANAXxPYnIUcvf
“Hmmmm mamah ngerti papah ngomong gini karena punya tujuan lain?” Kataku langsung menebak arah bicara Marwan.
“Tujuan lain gimana sih mah?” tanya Marwan.
“Jangan pura-pura bodoh. Papah pasti masih kepikiran buat ngasih mamah ke laki-laki lain dan kebetulan ada Farel jadi pikiran gila papah makin menjadi.”
“Astaga papah malah gak kepikiran sampai kesana. Eh tapi kalau pikiran mamah gitu ya boleh juga di coba.”
‘Apaan sih pah. Gila aja mamah mikir kesitu.”
“Lah tadi nuduh papah gitu pasti pikirannya kesitu kan?”
“Dasar papah gila.” Ucapku karena tidak tahu lagi harus ngomong apa.
"Tapi ide ini boleh dipikirkan Mah. Tapi papah gak maksa juga sih. Ini hanya usul.”
10981Please respect copyright.PENANABgzC4X2KoL
Malam itu, aku tidak bisa tidur. Pikiranku dipenuhi oleh ide Marwan yang aneh tapi entah kenapa aku merasa perlu mempertimbangkannya. Tapi aku masih berpkir apakah ini cara yang tepat? Atau apakah ini justru awal dari masalah lain yang akan berdampak bagi kehidupanku? Aku juga berpikir ide Marwan muncul dari hasrat dia yang ingin aku mencoba lelaki lain dan mencari kepuasan dari lelaki lain. Anehnya aku mulai melunak dengan soal itu. Di kegelapan, aku hanya bisa berharap jawabannya akan datang dengan sendirinya di pagi hari.
10981Please respect copyright.PENANAdZeg9kbYFY
10981Please respect copyright.PENANA5DS6z56FV5
10981Please respect copyright.PENANAtjpcl3zQXg
10981Please respect copyright.PENANACxXrR7u2uw
***
10981Please respect copyright.PENANAWIWIH5mxXQ
Beberapa hari berlalu setelah percakapan aku dan suamiku itu. Aku mengamati Farel dengan lebih cermat. Meski sudah ada kemajuan dalam hal berinteraksi dengan orang lain, rasa takutnya terhadap perempuan masih sangat terasa. Setiap kali ada perempuan seusianya lewat di depan rumah, dia akan cepat-cepat menunduk atau pura-pura sibuk dengan ponselnya.
Suatu sore ketika Marwan mengatakan akan pulang malam karena sedang keluar kota untuk urusan kerja, aku berpikir untuk mencoba ide suamiku itu. Farel sedang asyik dengan laptopnya di ruang tamu sementara aku baru saja selesai mandi. Dengan jantung berdebar kencang, aku memutuskan untuk mencoba saran Marwan.
Aku mengambil daster tipis dan pendek dari dalam lemari. Pakaian rumahan yang sejak kedatangan Farel di rumah tak lagi aku kenakan. Kini aku aku akan pakai daster itu lagi. Aku belum berani untuk tidak memakai BH dan celana dalam. Tapi daster in I cukup menantang. Dadaku bergemuruh memulai sesuatu yang adalah ide Marwan suamiku.
Saat aku melintas di depan Farel. Aku diam-diam memperhatikan. Matanya, yang biasanya selalu menunduk atau menghindar, kini mencuri-curi pandang. Aku menangkapnya beberapa kali—pandangan singkat yang cepat, penuh rasa ingin tahu , sebelum dia buru-buru menunduk lagi, telinganya memerah. Aku pura-pura tidak tahu. Aku melanjutkan aktivitas seperti biasa, beres-beres rumah atau menyiram tanaman, seolah-olah tidak ada yang aneh dengan penampilanku.
10981Please respect copyright.PENANAWFWSnIekZf
Tapi kemudian, sesuatu dalam diriku mulai bergeser. Apa yang aku lakukan untuk Farel itu membuatku merasakan adanya semacam kepuasan aneh saat melihatnya tersipu dan gelisah karena terangsang. Perhatiannya, meski disembunyikan, terasa nyata. Dan untuk seseorang seperti Farel yang begitu tertutup, keberanian dia untuk sesekali menatapku tanpa menunduk adalah sebuah peningkatan.
10981Please respect copyright.PENANAF7i9yYwQsb
Aku mulai makin bergairah. Aku memilih daster yang lebih mengikuti lekuk tubuhku. Aku mulai lebih sering membungkuk di dekatnya saat mengambil sesuatu, sadar betul bahwa garis leher dasterku akan terbuka lebar.
10981Please respect copyright.PENANAhqH60AHFU1
Ada dorongan aneh dalam diriku, sebuah kebutuhan untuk "menyenangkan" Farel, untuk menjadi kunci yang membuka sangkar ketakutannya. Usulan Marwan yang awalnya aku anggap sebuah tindakan tak bermoral kini malah menjadi semacam tantangan yang menggoda bagiku. Aku mulai menikmati daya tarik yang kumiliki atasnya. Setiap kali matanya mencuri pandang, setiap kali dia gagap menjawab pertanyaanku karena terganggu, ada rasa validasi yang mengalir dalam diriku. Rasanya seperti aku memegang kendali penuh, bukan hanya atas situasi, tapi juga atas emosi dan perasaan seorang lelaki.
10981Please respect copyright.PENANAFRoJK8mcM4
Hingga akhirnya aku sampai pada ide yang lebih liar. Aku sedang ada di dalam kamar mandi. Sengaja hanya memakai handuk yang dililit longgar di tubuh, dan meminta Farel mengambil shampo yang aku pura-pura lupa di meja makan. Lewat pintu kamar mandi yang sengaja kubuka sedikit aku bicara kepada Farel.
"Farel, tolong ambilkan shampo, kakak kelupaan. Ada di meja makan," panggilku dengan suara yang berusaha senormal mungkin.
Tak lama datanglah dia dengan langkah tergopoh-gopoh membawa shampo dan mengetuk pintu kamar madi. Saat aku membuka pintu kamar mandi dan tanganku terjulur ke arah Farel hendak menerima botol shampo, handukku "tak sengaja" terbuka dan jatuh hingga aku telanjang bulat di hadapannya. Wajahnya langsung memerah padam, matanya membelalak, tapi—dan ini yang mengejutkanku—dia tidak langsung kabur. Dia terdiam sejenak, terpana, sebelum buru-buru memberikan botol shampo dan menutup pintu kembali.
10981Please respect copyright.PENANApKfknf5ZBT
Entah kenapa kejadian itu membangkitkan gairah aneh dalam diriku. Aku sangat terangsang mengetahui tubuh telanjangku di lihat Farel. Tapi aku menahan diri untuk tidak bertindak lebih jauh. Aku masih berusaha mengendalikan diri dan berpikir apa yang aku lakukan semata untuk membangkitkan keberanian dalam diri Farel.
10981Please respect copyright.PENANAirDL6gmJWz
***
10981Please respect copyright.PENANALWRF1lXygT
Suatu sore, aku sengaja duduk di sofa bersamanya, kakiku menyilang, membuat daster pendekku naik lebih tinggi. Aku melihat dari sudut matanya yang terpaku pada pahaku selama beberapa detik sebelum dia tersedak air minum dan batuk-batuk.
10981Please respect copyright.PENANAE4wlZO6eac
"Kamu baik-baik saja, Farel?" tanyaku, dengan suara yang sengaja kubuat lembut dan merdu.
10981Please respect copyright.PENANAOPiOQ8FgFY
Dia mengangguk cepat, wajahnya merah padam, tapi dia muali berani menatapku meski tidak begitu lama. Aku melihat tonjolan di celananya.
10981Please respect copyright.PENANAZD65hGhhK9
Di dalam diriku ada kepuasan yang menggelora. Ini bekerja, pikirku. Dia mulai berani menatap lawan bicaranya dalam momen yang seharunya dia sangat malu karena sedang curi-curi pandang melihat tubuhku.
10981Please respect copyright.PENANAdzddlExNqy
Tapi di balik kepuasan itu, suara hati kecilku berbisik. Ini salah. Ini sangat salah. Aku bukan lagi seorang kakak yang membantu sepupunya. Aku sedang memainkan api, dan Farel yang rapuh adalah bahan bakarnya. Kebutuhan untuk merasa diingini dan berkuasa mulai mengaburkan niat awalku untuk memancing keberanian Farel melawan rasa malu.
10981Please respect copyright.PENANAbrmGSrn7X0
Aku tidak lagi hanya ingin membantunya menjadi berani; tanpa sepenuhnya kusadari, aku mulai tergila-gila pada efek yang kulakukan padanya, pada rasa berkuasa yang diberikan oleh pandangan curi-curi yang penuh dosa itu.
10981Please respect copyright.PENANA5gaGIm0vd6
Bersambung
ns216.73.216.253da2


