Chapter 4. Masalah Baru
Matahari pagi menyapa dengan malu-malu, menyelinap melalui celah tirai jendela kamarku. Aku bangkit dari tempat tidur dengan tubuh serasa berat dipenuhi beban. Bekas percakapan dengan Farida dan segala yang kubaca tentang "cuckold" masih membekas dalam benak, seperti noda hitam yang tak bisa kuhapus. Tapi hari ini, aku memutuskan untuk mengubur semua itu dalam-dalam. Aku harus tetap berdiri, untuk Aisya, untuk anak-anak di PAUD, untuk diriku sendiri.
12676Please respect copyright.PENANAgAIW9Fuv4G
Setelah shalat Subuh dengan khusyuk, kuraih kekuatan dari setiap doa yang kupanjatkan. Air wudhu yang dingin seperti menyadarkanku bahwa hidup harus terus berjalan, terlepas dari segala kerumitan yang melingkupinya.
12676Please respect copyright.PENANAUkbYmW0SO6
Di depan cermin, kuatur senyum. "Kamu kuat, Nayla," bisikku pada bayanganku sendiri. Hari ini, aku memilih untuk menjadi batu karang yang tak tergoyahkan ombak.
12676Please respect copyright.PENANAoVM1ThILGb
Seperti biasa, rutinitas pagi berjalan dengan lancar. Memandikan Aisya yang kini semakin aktif bermain air, menyuapinya bubur hangat sambil menyanyikan lagu anak-anak, lalu bersiap ke rumah mertua. Kali ini, aku memeluk Aisya sedikit lebih lama, menciumi rambutnya yang wangi, merasakan betapa dia adalah anugerah terindah dalam hidupku.
12676Please respect copyright.PENANAvvUpqxt2jc
"Assalamualaikum. Aisya sayang," sambut ibu mertua seperti biasa, tapi matanya menatapku lebih dalam. Sepertinya dia bisa merasakan ada yang tak beres.
12676Please respect copyright.PENANALqgepv8jWh
"Waalaikum salam Bu. Aisya sudah makan dan ganti popok," kataku berusaha normal. "Aku jemput sebelum zuhur ya."
12676Please respect copyright.PENANAcgU5slhyhF
Perjalanan ke PAUD kulalui dengan musik klasik yang menenangkan. Kuhirup dalam-dalam udara pagi yang segar, berusaha menyapu semua pikiran negatif tentang Marwan. Hari ini, aku memilih untuk fokus pada hal-hal yang bisa kukendalikan: menjadi guru yang baik untuk anak-anak didikku.
12676Please respect copyright.PENANAZHE7syBc4D
Sesampainya di PAUD, keriangan anak-anak langsung menyambut. "Ustadzah Nayla! Ustadzah Nayla!" teriak mereka berebutan memelukku. Desy dengan kuncir gembungnya, Farel yang selalu cericit, dan Baim yang polos - mereka semua adalah penawar terbaik untuk kegalauan hatiku.
12676Please respect copyright.PENANAD74wHjtdzm
Hari ini, kami belajar tentang alam. Aku membawa mereka ke taman kecil di belakang sekolah, memperkenalkan berbagai jenis daun dan bunga. Melihat antusiasme mereka mengumpulkan daun-daun kering, bertanya tentang setiap serangga yang mereka temui, hatiku yang sempat beku mulai mencair.
12676Please respect copyright.PENANAhLHxLDOUYC
"Ustadzah, lihat! Aku nemu bunga kuning!" seru Desy dengan bangga.
12676Please respect copyright.PENANAH3E2rlW6sU
"Wah, cantik sekali, Sayang. Itu bunga kana," jelasku sambil membelai rambutnya.
12676Please respect copyright.PENANA0peEpLfgRs
Di tengah kegembiraan mereka, aku menemukan kedamaian. Dunia anak-anak yang polos dan penuh keajaiban ini seperti oase di tengah gurun masalah pernikahanku. Saat Baim bertanya kenapa daun berubah warna, aku tersenyum. "Karena Allah SWT ingin menunjukkan kepada kita bahwa perubahan itu indah, Sayang."
12676Please respect copyright.PENANAyvF16EUrSZ
Kalimat itu terasa seperti teguran halus untuk diriku sendiri. Mungkin masalah dalam pernikahanku dengan Marwan adalah bagian dari perubahan yang harus kuhadapi dengan bijak, bukan dengan kepanikan.
12676Please respect copyright.PENANAV0DoDX60oX
Pelajaran hari diisi dengan membuat kolase dari daun-daun kering yang mereka kumpulkan. Aku memperhatikan setiap anak dengan penuh perhatian, membantu mereka menempelkan daun-daun itu dengan lem yang aman. Karya mereka mungkin sederhana, tapi penuh makna.
12676Please respect copyright.PENANAiiFXZUaXoU
12676Please respect copyright.PENANAZJ3pJSWXTv
12676Please respect copyright.PENANAcqq0539lWH
"Ustadzah Naylaaa, aku mau pipis!" teriak Rania, suaranya melengking di atas keriuhan kelas. Gadis kecil berponi itu sudah berdiri di dekatku dengan mata membelalak, kedua tangannya menutupi celana, tubuhnya bergoyang-goyang tak sabar.
12676Please respect copyright.PENANApLDpIDoBb9
Aku tersenyum. "Ayo, sayang. Tapi jalan ya, jangan lari-lari. Nanti jatuh lagi seperti kemarin."
12676Please respect copyright.PENANADR8WDa3H6a
Kubimbing Rania ke pintu, melewati bocah-bocah lain yang sedang sibuk dengan dunianya masing-masing. Ada yang asyik menyusun balok kayu, yang lain berebut pensil warna, sementara kelompok di dekat jendela sudah mulai melantunkan "Al-Fatihah" dengan suara yang masih tertatih-tatih namun menggemaskan.
12676Please respect copyright.PENANAz173nLo3Kr
Dari ruang sebelah, suara Bu Sari, ustadzah lainnya, terdengar membimbing anak-anak untuk tahsin. "Ba.. a.. baa," ujarnya pelan, diikuti oleh suara kecil-kecil yang serentak menirukan.
12676Please respect copyright.PENANAld2nrQohTw
Di tengah semua aktivitas ini, ada perasaan damai yang sulit kujelaskan. Mungkin inilah yang disebut berkah. Melihat tawa polos mereka, mendengar celoteh mereka yang kadang tak masuk akal, semua beban dan kegelisahan di hatiku seolah tersapu bersih. Di sini, aku bukan lagi Nayla dengan segala konflik batin, tapi Ustadzah Nayla yang dicintai dan dibutuhkan.
12676Please respect copyright.PENANAZbOKfSlZmT
Kadang aku berpikir, mungkin inilah jalan yang dipilihkan Allah untukku. Bukan jalan yang bebas dan liar penuh dosa, tapi jalan yang membuat aku lebih dekat dengan agama. Di antara crayon yang patah, lembaran Iqra' yang lecek, dan jilbabku yang keriting ditarik-tarik anak-anak, aku belajar setiap hari tentang makna cinta yang sebenarnya. Cinta yang tak mengharapkan balasan, yang rela berbagi, dan yang tulus tanpa syarat.
12676Please respect copyright.PENANAuIVZzRHnez
Hari bergulir dengan cepat. Setelah jam pulang aku menuju rumah mertua untuk menjemput Aisya. Begitu kakiku melangkah di teras rumah mereka, sudah terdengar celoteh riang putri kecilku dari dalam.
12676Please respect copyright.PENANA8cKdDnKnb3
"Assalamualakum…Aisya, sayang, Ibu datang," panggilku.
“Waalaikumsalam.” Sahut ibu mertuaku.
"Daaa... daaa!" Celoteh Aisya sambil merangkak cepat ke arahku, kedua tangan mungilnya terangkat tinggi. Wajahnya bersinar, dua giginya yang baru tumbuh terlihat saat ia tersenyum lebar.
"Tadi main air di ember, Nay. Sudah ibu ganti bajunya. Habis itu makan bubur lumayan banyak, lalu tidur sampai baru bangun sepuluh menit yang lalu." Ucap ibu Mertuaku.
"Wah, aktif sekali ya hari ini. Terima kasih, Bu," ucapku sambil mengangkat Aisya dan mencium pipinya yang montok. Aroma khas bayi - campuran susu, bedak, dan sedikit keringat - selalu berhasil membuat hatiku lembut.
Perjalanan pulang ke rumah kami yang sederhana di ujung kampung terasa berbeda ketika Aisya ada di pelukan. Dia terus saja berceloteh dalam bahasanya yang hanya dia dan Tuhan yang mengerti, jari-jari mungilnya memainkan kalungku, matanya yang bulat dan hitam mengamati sekeliling dengan takjub.
Rumah kami masih sepi ketika kami tiba. Seperti biasa, Marwan belum pulang. Sebagai PNS di Kementerian Agama, jam kerjanya tentu berbeda dengan aku yang mengajar di PAUD, dia baru bisa pulang sekitar pukul lima sore. Aku membayangkannya masih duduk di meja kerjanya yang rapi, menyelesaikan berkas-berkas terakhir sebelum jam pulang kantor. Aku sampai lupa hari ini dia ada lembur.
12676Please respect copyright.PENANACZrVHyjkZR
Dengan Aisya bermain di box-nya, aku mulai menyiapkan makan malam. Dapur kecil kami perlahan-lahan dipenuhi aroma bawang putih dan bumbu lainnya. Ada semacam kepuasan tersendiri dalam rutinitas ini - memotong sayuran, menumis bumbu, sambil sesekali melirik Aisya yang asyik dengan mainan barunya.
12676Please respect copyright.PENANAzFnLS2KH4l
Senyum kecil mengembang di bibirku ketika teringat tingkah polah anak-anak PAUD tadi pagi. Rania yang hampir ngompol, Hafid yang jatuh dari ayunan lalu bangun dengan tawa, dan kelompok tahsin yang bersaing menyanyikan huruf hijaiyah dengan suara terkeras. Di tengah semua itu, ada sebuah kedamaian yang pelan-pelan menyembuhkan luka lama di hatiku.
Hidup ini terlalu berharga untuk dikubur dalam satu masalah, sebesar apapun itu.
Pukul delapan malam lewat seperempat, suara motor familiar akhirnya terdengar. Marwan pulang dengan seragam PNS-nya yang sudah tak rapi lagi, tas laptop di pundak. Wajahnya tampak lelah tapi tenang.
"Assalamualaikum. Papah pulang!" sapanya singkat sambil meletakkan tas.
"Waalaikumsalam.” Sahut aku.
“Aisya mana?” Tanya Marwan.
“Dia sudah tidur, tadi main air sampai basah di rumah Ibu," jawabku sambil menyambutnya dengan segelas teh hangat.
12676Please respect copyright.PENANAunnIBYVNAR
Aku kembali berkomunikasi dengan Marwan setelah beberapa hari nyaris tak saling bicara. Saat jam menunjukan pukul sembilan malam kami berbaring di ranjang kamar kami yang remang-remang, hanya diterangi lampu tidur kecil di sudut meja. Marwan kembali bercerita tentang pekerjaannya hari ini, sementara aku menanggapinya dengan selayaknya.
12676Please respect copyright.PENANAFbwtUVj9M7
Tiba-tiba getar ponsel di atas meja memecah keheningan itu. Suara bzzz yang singkat tapi cukup untuk menghentikan tawa kecil kami. Aku menoleh, menatap layar ponsel yang menyala. Nama pengirimnya membuat dada ini terasa aneh—entah kenapa, getaran kecil itu seperti membawa sesuatu yang akan mengubah malam kami.
Aku melihat nama yang terpampang: Tante Mirna. Ada sesuatu dalam naluri yang berbisik, ini bukan panggilan rutin.
12676Please respect copyright.PENANAIYhsIcqZcI
"Assalamualaikum, Nay," suara Tante Mirna terdengar parau, dihiasi desisan napas yang tak rata.
12676Please respect copyright.PENANAoRG4EF7lve
"Waalaikumsalam, Tante. Ada apa?" balasku, sementara Marwan menatapku penuh perhatian.
12676Please respect copyright.PENANA4691bOJ3a7
"Nayla, apa Farel pergi ke rumah kamu?" tanyanya langsung ke inti persoalan, tanpa basa-basi.
12676Please respect copyright.PENANA3lM6yJFlbX
"Gak ada, Tante. Emang kenapa sama dia?" tanyaku, duduk semakin tegak. Marwan merasakan keteganganku dan melepaskan genggamannya, mengalihkan posisi untuk mendengarkan.
12676Please respect copyright.PENANAO3gDW7kPt3
"Dia... dia minggat dari rumah, Nay," suara Tante Mirna tercekat. "Dihajar habis-habisan sama ayahnya semalam."
12676Please respect copyright.PENANA7buNBpeDpR
"HAH?!" teriakku nyaris tanpa suara. "Kenapa sampai dihajar, Tante? Alasannya apa yang sampai segitunya?"
12676Please respect copyright.PENANAdyZClZBowi
"Dia... dia ketangkep basah, Nay. Lagi ngintip anak tetangga, si Rina itu, lagi mandi. Ayahnya yang nemuin, langsung kalap."
12676Please respect copyright.PENANAQXK7W1fRkz
Seketika itu pula, dadaku sesak. Farel? Sepupuku yang pemalu itu? Yang jika diajak bicara sedikit saja sudah menunduk dan wajahnya memerah?
12676Please respect copyright.PENANASyofLhSiZd
"Tante udah coba telpon dia?" tanyaku, berusaha tenang.
12676Please respect copyright.PENANAa4X21rtPrt
"Udah, Nay. Nomornya tidak aktfi. Aku udah coba WA, juga gak dibalas." Ucap tante Mirna dengan perasaan kecewa.
"Apa udah dicek ke teman-teman deketnya, Tante?" usulku, meski tahu itu jalan buntu.
12676Please respect copyright.PENANAFWxUVZYLEe
"Udah. Teman dekatnya kan bisa dihitung jari, dan mereka semua pada bilang gak tau. Aku pikir, siapa tau dia lari ke kamu. Kan kamu sepupunya yang masih bisa bikin dia mau ngobrol. Dia respect banget sama kamu."
12676Please respect copyright.PENANAJrOD0bVrtb
"Oke, Tante. Aku coba cari tau, ya. Tenang aja dulu. Dia pasti baik-baik aja di suatu tempat," kataku, berusaha menghibur meski hatiku sendiri dilanda kecemasan.
12676Please respect copyright.PENANAVvDM1FPCjv
"Makasih, Nayla." Telepon pun berakhir dengan beban berat yang kini berpindah ke pundakku.
12676Please respect copyright.PENANAn2NfrITePP
Aku menatap kosong ke arah langit-langit kamar. Marwan menghela napas pelan. "Pah, kasihan banget si Farel," bisikku, suara bergetar. "Dia kabur dari rumah. Entah ke mana. Udah dua hari, kata Tante Mirna."
12676Please respect copyright.PENANAeaodMf06sj
Bayanganku langsung melayang kepada Farel. Anak bungsu Tante Mirna, penyendiri sejati. Berbeda dengan dua kakak perempuannya Faizah dan Farah yang supel dan penuh percaya diri, Farel sebalinya begitu pemalu dan introvert. Baru saja ia lulus SMA, dan keputusan untuk tidak melanjutkan kuliah membuat seluruh keluarga bingung. Bukan karena tidak mampu, tapi karena rasa malunya yang begitu akut, hampir seperti penyakit. Saat mendaftar SMA dulu, Tante Mirna harus menemaninya ke sekolah. Kini, di usia yang seharusnya lebih mandiri, ketika Tante Mirna ibunya mencoba mengurus pendaftaran kuliahnya, Farel justru malu. Dia merasa sudah dewasa, harus bisa melakukan semuanya sendiri, tapi ketakutannya pada dunia luar dan interaksi sosial yang begitu minim membuat dia tidak berani menginjakan kaki di kampus manapun.
12676Please respect copyright.PENANAL4P1XjUfIp
Ayah dan ibunya tentu sudah berusaha mendorong dia tapi apa daya anaknya sangat pemalu dan tidak bisa dipaksa untuk berani mendaftar kuliah.
12676Please respect copyright.PENANA4HLuRAXZOS
"Pemalu banget sih, ya, dia. Tapi kok bisa-bisanya ngintip orang mandi?" gumam Marwan, mengernyitkan dahi. Logikanya tak sejalan dengan karakter yang selama ini kami kenal.
12676Please respect copyright.PENANAsr8cXaM75C
"Itu yang bikin aku khawatir, Pah," jawabku pelan, menatap suamiku. "Ada yang gak beres. Farel itu tipe orang yang pemalu. Bahkan di suruh ke warung saja dia malu."
12676Please respect copyright.PENANA9MePbGIIRd
Ketenangan malam kami telah digantikan oleh kekhawatiran akan nasib sepupu aku yang pemalu. Entah di mana Farel bersembunyi. Dia mungkin sangat terluka oleh hukuman fisik ayahnya dan, yang mungkin lebih menyakitkan, oleh rasa malu yang menghancurkan dunianya yang sudah rapuh.
12676Please respect copyright.PENANAyfXlYfyCbH
Aku mengambil ponsel dan menekan nomor Farel. Aku hampir tak menyangka ketika dering panjang terdengar—satu, dua, tiga kali. Nomornya ternyata masih aktif! Namun, harapan itu sedikit memudar ketika deringan terus berlanjut tanpa ada jawaban. Kucoba lagi, dan lagi, hasilnya sama. Suara mailbox yang menyatakan pelanggan tidak dapat dihubungi terasa seperti pintu yang ditutup mentah-mentah di hadapanku.
12676Please respect copyright.PENANAsRBBH0zXSP
Putus asa mulai merayap. Mungkin lebih baik mengirim pesan WA saja, pikirku. Jariku sudah bersiap menari di atas layar, menyusun kata-kata yang tepat, ketika tiba-tiba ponsel bergetar dan menyala. Nama "Farel" terpampang di layar ponselku. Jantungku berdebar kencang, hampir tersedak.
12676Please respect copyright.PENANAmRTnN9tl8B
Kusambar ponsel itu. "Assalamualaikum?"
12676Please respect copyright.PENANAt6G6TbIWVl
Bersambung
ns216.73.216.253da2


