Chapter 3. Mungkin Mamah bisa coba laki-laki lain.
13216Please respect copyright.PENANAjWw7GvIWZn
Esok harinya, aku berusaha melupakan masalah ranjang antara aku dan Marwan dengan menyelami keriangan dunia kecil di PAUD Al-Firdaus. Sinar matahari pagi menyapu sisa-sisa keheningan rumah, menggantikannya dengan celoteh riang anak-anak yang seperti nyanyian pagi bagi jiwaku yang resah.
13216Please respect copyright.PENANATUuDQHfV4u
"Ustadzah Nayla! Ustadzah Nayla!" tangan-tangan mungil itu berebutan memelukku begitu aku melangkah masuk. Harapan dan keceriaan mereka adalah obat paling manjur untuk kegalauan hati.
13216Please respect copyright.PENANAbWBpFDoBw5
Hari itu, kami akan belajar tentang warna. Aku mengeluarkan kertas gambar dan cat air dengan warna-warna cerah. "Siapa yang tahu nama warna ini?" tanyaku sambil mengangkat botol cat berwarna jingga terang.
13216Please respect copyright.PENANAJy2nqdiHH9
"Itu warna jeruk, Ustadzah!" seru Fira, gadis kecil dengan kuncir dua yang selalu antusias.
13216Please respect copyright.PENANAvrRKklRByD
"Benar sekali, Sayang. Ini warna jingga."
13216Please respect copyright.PENANAcCvuDodnH6
Aku memperhatikan mereka satu per satu saat mereka asyik mencampur warna, bereksperimen dengan jari-jari mungil yang penuh rasa ingin tahu. Ada sesuatu yang menyentuh hatiku melihat polosnya ekspresi mereka ketika menemukan warna baru dari percampuran dua warna yang berbeda.
13216Please respect copyright.PENANApmWczmjegb
Sambil membimbing tangan Adi yang masih kikuk memegang kuas, pikiranku melayang kepada percakapan semalam. Marwan dan warna-warna dalam pernikahan kami. Jika hubungan kami adalah sebuah lukisan, mungkin warnanya terlalu monokrom—aman, harmonis, namun kurang variasi. Kurang warna-warna berani seperti jingga yang semangat, atau merah yang penuh gairah.
13216Please respect copyright.PENANAjrFdJJAzXt
"Ustadzah, lihat! Aku bikin warna baru!" seru Baim, menunjuk ke kertasnya dimana biru dan kuning bertemu menjadi hijau yang segar.
13216Please respect copyright.PENANAyA1ZvwX00u
"Wah, indah sekali, Baim. Terkadang ketika dua warna yang berbeda bertemu, justru tercipta keindahan baru," kataku, tersenyum. Kalimat itu terasa seperti teguran halus untuk diriku sendiri.
13216Please respect copyright.PENANADBd8mSkGCQ
Jam istirahat tiba. Sambil duduk di bangku taman kecil, menikmati teh hangat dan melihat anak-anak berlarian. Pelajaran di pagi hari ini terasa lebih dalam dari sekadar mengajarkan warna kepada anak-anak. Aku merasa justru akulah yang sedang belajar—belajar tentang kesabaran, tentang seni berkomunikasi, dan tentang seni mencintai.
13216Please respect copyright.PENANAA0QbFKvg7f
Saat bel pulang berbunyi, aku memeluk setiap anak dengan perasaan baru. Mungkin masalah dalam pernikahanku dengan Marwan tidak akan selesai dalam satu malam, tapi setidaknya hari ini aku belajar bahwa setiap hubungan butuh proses, seperti setiap lukisan butuh lapisan cat yang bertahap.
13216Please respect copyright.PENANAoQutpdZI1q
Di perjalanan pulang, sementara Aisya tertidur lelap di gendongan, aku memandangi langit yang mulai berwarna jingga. Aku tersenyum kecil, bertekad untuk membawa pulang sedikit warna itu untuk rumahku, untuk pernikahanku. Mungkin malam nanti, aku akan mulai dengan percakapan yang lebih lembut, dengan kesabaran yang lebih besar, seperti kesabaran yang kupunya saat mengajari anak-anak mengenal warna-warna baru.
13216Please respect copyright.PENANAel3C672jlS
Hidup, seperti seni, butuh keseimbangan warna. Dan hari ini, di antara celoteh anak-anak dan coretan warna-warni mereka, aku menemukan sedikit keberanian untuk mulai menambahkan warna-warna baru dalam kanvas pernikahanku.
***
13216Please respect copyright.PENANA1Ky5ZVCYj0
Malam itu, langit Jakarta dihiasi bintang-bintang yang seolah berkedip sinis menyaksikan drama kecil dalam kehidupan kami. Setelah Aisya tertidur pulas dengan boneka beruang kesayangannya, suasana kamar kami dipenuhi keheningan yang tegang. Udara terasa berat, seolah membawa beban percakapan kemarin yang belum tuntas.
13216Please respect copyright.PENANAfnkbOFK5jM
Saat Marwan menyentuh bahuku aku membiarkan diriku terbawa, berharap mungkin malam ini akan berbeda. Aku menutup mata, berusaha menikmati setiap belaian, setiap ciuman lembut yang ditaburkannya di kulitku. Untuk sesaat, aku membiarkan harapan itu tumbuh - mungkin kali ini dia akan mencoba lebih baik setelah kejujuranku malam sebelumnya.
13216Please respect copyright.PENANAvYtyknv8Ag
Tapi seperti film yang sudah terlalu sering kutonton ulang, segalanya berjalan dengan skenario yang sama. Saat aku baru saja mulai merasakan gelombang kenikmatan, saat gerbang itu sudah di depan mata, dia sudah mencapai kepuaannya sendirian. Aku terbaring di sampingnya, merasa hampa.
13216Please respect copyright.PENANAvzfc2t0bXy
"Papah, ini tidak adil!" protesku, suara bergetar antara kecewa dan marah. "Papah kok gak berusaha untuk lebih kuat. Papah kok gak mau nunggu mamah sih!"
13216Please respect copyright.PENANAXwkdpMYnsA
Dia menghela napas panjang. Dalam cahaya remang-remang, kulihat bayangan kesedihan di wajahnya. "Sayang, papah rasa papah udah berusaha maksimal." bisiknya, suaranya parau dan datar, seolah-olah setiap kata itu dicabutnya dari dalam diri dengan susah payah. "Tapi kalau Mamah merasa gak cukup. Papah bisa apa. Papah hanya bisa menyerah."
“Kok menyerah. Payah banget sih.” Ucapku makin kesal.
13216Please respect copyright.PENANA3AKnTFwWLW
"Kalau Mamah pengen puas... mungkin Mamah bisa coba dengan laki-laki lain."
13216Please respect copyright.PENANAlS20dMaKDZ
Kata-kata yang keluar dari mulut suamiku itu sangat membuat aku kaget luar biasa. Detak jantungku bergemuruh di telinga sendiri, mengalahkan semua suara lain. Perlahan, seperti dalam gerak slow motion, aku membalikkan badan. Mataku menatapnya tak percaya, mencoba mencari tanda-tanda bahwa ini hanya lelucon buruk.
13216Please respect copyright.PENANAf8nH680q2L
"Papah... udah gila ya?" Ucapku dengan nada keras, suaraku nyaris tak kukenali sendiri. Rasanya seperti ditampar keras-keras. "Aku memang pengen puas tapi dengan papah. Emang mamah tau Papah udah berusaha tapi belum bisa, ya usaha lagi buat lebih baik. Kita cari solusi bersama. Bukan... bukan dengan nyuruh Mamah nyoba laki-laki lain!"
13216Please respect copyright.PENANAAcaaLyhnHI
Suaraku semakin meninggi, dipenuhi rasa sakit dan kemarahan yang selama ini kupendam. "Emang Mamah perempuan apaan? Pelacur?!"
13216Please respect copyright.PENANAk7Z8OIQ01D
Marwan tetap terdiam, wajahnya pucat pasi. Matanya yang biasanya berbinar kini kosong menatap langit-langit. Aku bangkit dari tempat tidur, tubuhku gemetar. Air mata mulai mengalir deras, menghapus semua sisa kehangatan yang tersisa.
13216Please respect copyright.PENANAWZEKQvlItJ
"Papah pikir dengan ngomong gitu, Papah udah jadi pahlawan? Mau mengorbankan diri?" hardikku, suara tertahan oleh isak tangis. "Atau... atau jangan-jangan Papah sendiri yang mau coba perempuan lain? Jadi nyuruh mamah dulu biar nggak merasa bersalah?"
13216Please respect copyright.PENANAVyzWUDhgqf
Dia akhirnya bergerak, duduk di tepi tempat tidur. "Mah, jangan dibalik-balik. Papah cuma... cuma nggak tahan liat mamah nggak pernah bisa puas selama ini. Makanya papah merasa gagal. Gagal jadi suami yang baik untuk mamah. Jadi papah kepikiran terus. Jadi munculah ide itu karena papah gak tau lagi mau gimana."
13216Please respect copyright.PENANAETq9OWXUZH
"Jadi papah pikir solusinya dengan menawarkan istrimu ini pada laki-laki lain?" tangisku semakin menjadi. "Papah tidak paham sama sekali! Aku mau kita berdua yang memperbaiki ini, bukan... bukan cari jalan pintas yang menghancurkan harga diri kita berdua!"
13216Please respect copyright.PENANAoDmxKeCWCz
Aku mengambil selimut dan berjalan ke pintu. "Mamah tidur di kamar tamu malam ini. Papah pikir baik-baik apa yang baru saja Papah ucapkan. Dan pikirkan juga, apakah perkawinan kita hanya seharga itu bagi Papah?"
13216Please respect copyright.PENANAK9V7ovlctw
Pintu kututup pelan, tapi dalam hatiku, rasanya seperti ada yang pecah. Lebih dari sekadar masalah seksual, malam ini kami telah menyentuh lubang terdalam dalam pernikahan kami - rasa saling percaya yang mulai retak, dan harga diri yang tercabik-cabik.
13216Please respect copyright.PENANA6gwY0tE2gy
Di kamar tamu, aku tersedu-sedu pelan. Dalam kesendirian itu, aku bertanya-tanya: apakah cinta kami cukup kuat untuk melewati badai yang kali ini tidak datang dari luar, tapi justru dari dalam rumah kami sendiri?
13216Please respect copyright.PENANANtiNQOlxr1
***
Keesokan harinya, bekas tangisan masih tersisa di kelopak mataku yang sembap. Setelah mengantar Aisya ke rumah mertua dengan wajah dipaksakan tersenyum, aku tak kuasa menahan gejolak dalam hati. Aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai ustadzah di PAUD “Al Firdaus” seperti biasa. Saat jam pulang aku menelepon Farida, sahabatku sejak SMP yang hingga kini masih sangat dekat denganku dan kadang jadi tempat aku curhat. Dia menikah setahun lebih dulu dariku.
13216Please respect copyright.PENANAxMjhGCqqo4
"Far, aku butuh ketemu sekarang," suaraku parau.
Aku juga menelpon mertuaku bahwa aku masih ada kegiatan jadi Aisya baru akan aku jemput jam 3 atau jam 4 sore.
Sejam kemudian, aku dan Farida sudah duduk di sebuah kafe sepi di sudut kota. Dengan suara bergetar, aku menceritakan semuanya. Tentang ruang hampa yang kurasakan, tentang percakapan demi percakapan yang mentok, hingga ledakan kemarin malam yang berakhir dengan kata-kata paling menyakitkan yang pernah diucapkan Marwan padaku.
13216Please respect copyright.PENANAg98nuZKpkI
Farida mendengarkan dengan serius, matanya tak lepas dariku. Ketika aku selesai, dia menghela napas panjang.
13216Please respect copyright.PENANAe7vZGZSZUE
"Aku nggak mau bilang 'sudah kuduga', tapi... ini bukan hal aneh, Nay," ujarnya, suaranya rendah.
13216Please respect copyright.PENANAH5m4q8KAbG
Aku mengerutkan kening. "Hah? Bukan hal yang aneh? Nyuruh istri mencoba laki-laki lain itu bukan hal aneh?"
“Ini memang bukan hal biasa tapi ada yang seperti itu. Jadi aku bilang bukan hal yang aneh.” Sahut Farida.
“Aku masih gak ngerti.”
13216Please respect copyright.PENANArXWOlVj8EW
"Dunia pernikahan itu lebih luas dan kompleks dari yang kita bayangkan. Ada berbagai tipe suami dengan preferensi yang... berbeda." Farida meminum seteguk kopinya. "Aku pernah baca tentang ini. Memang ada tipe lelaki seperti Marwan—yang tidak keberatan, bahkan mungkin menginginkan, istrinya mencari kepuasan dengan lelaki lain."
13216Please respect copyright.PENANAI5teuYS0XQ
"Kamu baca di mana? Gak percaya aku kalau beneran ada yang kayak gitu. Gak masuk akal!" Sahut aku sangat tidak menerima pendapat seperti itu.
13216Please respect copyright.PENANAcmJxvxXZmJ
"Ssst, tenang," Farida menenangkanku. "Dengar dulu. Ini beneran dada Nay. Bahkan ada suami yang mampu bikin puas istrinya tapi tetap merasa terangsang membayangkan dan berharap istrinya disetubuhi lelaki lain."
13216Please respect copyright.PENANAmIhyokSrI6
Perutku mual mendengarnya. "Itu sakit jiwa!"
13216Please respect copyright.PENANAYtGvgV2Hrf
"Mungkin kayak gitu, Nay. Tapi dalam kehidupan sehari-hari orangnya normal-normal saja kok. Orang kayak gitu biasa disebut cuckold," Farida menjelaskan dengan tenang, meski matanya menunjukkan concern. "Aku sarankan kamu cari tahu sendiri tentang istilah itu di internet. Pelajari, dan lihat apakah ciri-cirinya cocok dengan yang kamu alami dengan Marwan."
13216Please respect copyright.PENANAKiRgYrWQha
Sepanjang perjalanan pulang, kepalaku pusing. Kata "cuckold" terngiang-ngiang bagaikan mantra jahat. Aku menjemput Aisya di rumah mertua dan lanjjut pulang ke rumah. Sesampai di rumah, dengan tangan gemetar, aku membuka laptop dan mengetik kata itu di mesin pencari.
13216Please respect copyright.PENANAcl0fPQp08y
Yang muncul membuat napasku tersendat.
13216Please respect copyright.PENANAT0cHf1X2mU
Artikel demi artikel menjelaskan tentang fetish dimana seorang suami mendapatkan kepuasan seksual dari mengetahui atau melihat istrinya berhubungan dengan pria lain. Ada yang menyebutnya sebagai bentuk ekshibisionisme terbalik, ada yang menggolongkannya sebagai variasi dari masokisme—dimana seseorang merasa terangsang justru ketika dihina atau direndahkan.
13216Please respect copyright.PENANAxCgy6XQBns
Aku membaca dengan mata semakin membelalak. Deskripsi tentang "bull"—pria ketiga yang biasanya lebih perkasa—dan "hotwife"—istri yang diidamkan banyak pria—terasa seperti skenario film porno, bukan seperti kehidupan normal atau kehidupan pernikahanku yang sederhana.
13216Please respect copyright.PENANAV9049lU05l
Tapi yang paling membuatku terguncang adalah ketika aku membaca tentang motivasi di baliknya. Rasa rendah diri, perasaan tidak cukup maskulin, kebutuhan untuk dihukum secara psikologis... Apakah ini yang selama ini tersembunyi di balik sikap tenang Marwan?
13216Please respect copyright.PENANAUyLMZho2Rj
Saat aku terduduk lemas, telepon berdering. Dari layar terpampang nama "Marwan". Aku membiarkannya berdering. Bagaimana aku harus menyikapi semua informasi baruku ini? Apakah selama ini aku menikah dengan seorang lelaki yang memiliki fetish aneh? Atau... apakah cerita Farida dan apa yang aku baca di internet telah membuatku overthinking?
13216Please respect copyright.PENANAMrrCcbp0gt
Yang jelas, malam ini ketika Marwan pulang aku merasa seperti memasuki sebuah dunia yang sama sekali asing dan menakutkan bagiku. Dan yang paling membuatku takut adalah pertanyaan: apakah aku sanggup menerima kenyataan ini, jika ternyata memang benar?
13216Please respect copyright.PENANA1ym5Gb1pC1
Bersambung
ns216.73.216.253da2


